
BAB 35
"Maaf Pak, silahkan ikut saya masuk," ajak suster wanita yang masih muda tersebut. Lagsung Putra mengangguk tanpa menjawab ucapan suster itu.
Suster membawa Putra ke dalam ruang operasi, dan menyuruh Putra untuk mengazani serta mengiqamahkan Anak-anaknya yang tak jauh dari tempat Cici berada.
Putra mendekat ke arah Cici setelah ia meminta izin kepada sang dokter yang sedang berada di dalam ruang operasi tersebut. Karena Putra telah selesai mengazankan serta mengiqamahkan anak-anaknya, dan dokter mempersilahkan Putra untuk mendekat ke arah Cici.
"Sayang, kamu harus cepat bangun yah? Lihatlah buah hati kita sudah berada di atas dunia Sayang. Dia sangat mirip dengan dirimu, dan juga aku, Sayang," ujar Putra kepada Cici sambil mencium tangan sang istri. Tanpa ia sadari air matanya luruh dari pelupuk matanya yang sudah dia tahan semenjak tadi.
Dalam waktu tiga puluh menit Putra kembali keluar, sedangkan anaknya dipanaskan di dalam inkubator untuk beberapa hari karena, mereka lahir bukan pada waktunya.
Satu jam berlalu, Cici di bawa ke ruang inapnya meskipun sekarang ia masih dalam keadaan koma. Tapi, itu semua permintaan dari Putra agar ia bisa melihat perkembangan yang akan dilalui oleh sang istri.
***
Satu minggu sudah berlalu, tidak ada tanda-tanda akan siuman wanita itu. Putra terus berdo'a agar sang istri cepat sadar dari komanya. Bahkan sudah satu minggu ini selera makan Putra berkurang. Tubuhnya juga sudah kelihatan agak kurus dari yang sebelumnya.
Bayi kembar Putra sudah di keluarkan dari ruang inkubator pemanas bayi. Sekarang mereka sedang berada di dekat Oma mereka. Bayi itu belum di kasih nama oleh Putra meskipun Nini dan Mila sudah menawarkan nama yang bagus untuk sang cucu. Tapi, Putra tidak setuju dengan nama yang di berikan oleh Oma mereka.
"Sayang, lihat nih si kembar lucu-lucu banget," ujar sang mama tapi, tidak ada sahutan dari Putra yang terus menatap wajah pucat pasi sang istri. Putra tak berhenti menangis semenjak Istrinya dinyatakan koma oleh dokter seminggu yang lalu. Bahkan dunianya terasa hancur tampan kehadiran wanita yang selalu cerewet setiap harinya.
"Sayang," Nini yang menyentuh bahu sang anak.
"Ehh, iya Ma, ada apa?" tanya Putra terkejut. Dia tak sadar sang mama sudah memanggilnya sedari tadi. Sungguh dia, tenggelem di dalam pikirannya tentang sang istri yang tak kunjung membuka matanya. Sedih, itulah yang dirasakan laki-laki itu saat ini.
"Lihatlah bayimu Sayang, mereka sangat lucu," ujar Nini kepada Putra. Membawanya ke tempat ranjang bayi yang tak jauh dari keberadaan Cici.
Putra melihat ketiga bayi mungilnya yang sedang menghisap ibu jari mereka masing-masing. Mereka bertiga sedang tidur karena, sudah di beri susu oleh ke-dua Oma mereka.
"Sayang, kamu mau kasih nama siapa buat mereka?" tanya Mila dengan senyuman.
Putra terlihat berfikir, ia juga bingung mau ngasih nama apa buat mereka bertiga. Pasalnya dia tak pernah berfikir jika anak yang lahir dari perut istrinya tiga orang.
"Yang pertama aku akan kasih nama Abdul Hamid Syamil, yang artinya Hamba Allah yang maha terpuji dan menyeluruh. Yang kedua putriku akan aku beri nama Lathifah Mumtazah, yang artinya wanita lembut yang istimewa, sedangkan yang terakhir Abdul Karim Syamil yang artinya Hamba Allah yang maha mulia dan menyeluruh," jawab Putra dengan senyuman sambil menatap ketiga bayi mungil yang sedang tertidur pulas tersebut. Ntah kenapa tiba-tiba saja maka itu terfikir kan oleh Putra. Rasanya nama itu sangat cocok untuk ketiga anaknya.
"Nama-nama yang bagus Sayang," Puji Nini dan Mila serempak sambil tersenyum ke arah sang cucu.
Hari demi hari sudah berganti dengan minggu, bahkan minggu pun sudah berganti dengan bulan. Sudah satu tahun lamanya Cici berada dalam masa komanya, tapi hingga sekarang belum ada tanda-tanda untuk wanita itu siuman.
Cici dirawat di kediaman Putra karena, tidak mungkin jika ia terus-terusan bolak-balik ke rumah sakit. Sedangkan anak kembarnya sudah mulai tumbuh besar. Mereka juga sudah bisa duduk, dan berdiri dengan bantuan dinding, bahkan untuk birbicapun mereka sudah mulai bisa.
__ADS_1
"Sayang sini main sama Oma yuk?" ajak Nini sambil merentangkan tangannya kepada ketiga sang cucu yang sedang berdiri dengan bantuan sofa ruang tamu.
"Mmaa," ujar Lathifah sambil tersenyum kepada sang oma yang setia merentangkan tangannya dengan lebar.
"Ayo sini sama Oma, Sayang," panggil Mila yang baru saja datang.
"Ehhh, ada Oma Mila," ujar Nini sambil menujuk Mila yang baru datang. Wanita itu tampak tersenyum dengan kedatangan besannya.
Hamid, Karim dan Lathifah langsung merangkak untuk menuju sang oma yang baru datang. Mila memang setiap hari datang untuk menjenguk sang putri beserta ketiga cucu mungilnya. Mila tidak pernah absen seharipun untuk tidak datang ke rumah sang menantu, ia tahu bahwa mengasuh tiga orang bayi sekaligus tidak akan gampang. Bahkan kadang kala Mila juga ikut menginap di rumah besannya untuk membantunya menjaga sang cucu pada malam hari.
Mila menggendong Lathifah dan Hamid, sedangkan karim di gendong oleh Nini. Mereka membawa ketiga cucu mereka ke kamar yang berada di lantai dua. Di kamar tersebut terdapat berbagai macam mainan yang dibelikan oleh Putra maupun Nini dan Mila.
"Ni, aku ke kamar Cici sebentar yah?" izin Mila yang langsung di balas anggukan oleh Nini.
Di kamar sang putri, Mila duduk di samping Cici yang sedang terbaring tak berdaya. Wajahnya yang dulu terlihat berdarah sekarang tidak ada darah sedikitpun yang terlihat di wajah mulusnya. Bahkan wajah itu tampak pucat. Seperti mayat hidup.
"Sayang, sampai kapan kamu akan seperti ini? Bangunlah, lihat ketiga buah hatimu sedang merindukan kasih sayang darimu Nak," ujar Mila sambil mencium kening sang anak. Bahkan air mata sudah merembes dari matanya. Sungguh dia tak kuasa melihat putrinya seperti ini.
Setiap Mila melihat putrinya, ia selalu menagis melihat kondisi yang memperihatinkan untuk putri semata wayangnya.
"Semoga cepat sadar ya Nak? Bunda harap kamu mendengarkan ucapan Bunda. Bunda rindu dengan senyuman yang selalu menghiasi bibir mungilmu Nak, hiks hiks," ucap Mila lalu, keluar dari kamar sang putri. Menghampiri jejak-jejak air mata yang keluar.
"Mas, ke rumah Cici yuk? Aku pengen liat keadaanya, dan juga buah hati Cici," ajak Lili sambil mengendong Lisa.
"Iya Sayang, ntar kita perginya jam sepuluh ya?" jawab Gilang yang langsung di angguki oleh Lili.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit, Lili dan Gilang sudah selesai bersiap-siap begitupun dengan bayi mungil nan cantik tersebut.
"Yok Mas," ajak Lili yang sudah berada di ambang pintu.
"Iya Sayang, tunggu sebentar," jawab Gilang yang baru selesai memakai sepatunya.
Sekitar setengah jam, merekapun sampai di kediaman Putra.
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu rumah Putra di ketuk oleh Lili, dan keluarlah seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Nini. Nini baru saja datang dari dapur untuk mengambil susu untuk ketiga cucunya. Mendengar suara ketukan pintu, Nini bergegas membukanya.
"Assalamu'alaikum, Tante," sapa Gilang dan Lili serempal. Mencium punggung tangan wanita itu secara bergantian dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam Nak, ayo masuk?" ajak Nini dengan ramah.
__ADS_1
Gilang dan Lili mengikuti Nini dari belakang. Mereka duduk di ruang tamu, sedangkan Nini pergi ke dapur untuk mengambilkan air beserta cemilan untuk sahabat menantunya.
Susu yang di bawa oleh Nini di letakkan di atas meja ruang tamu. Selang beberapa saat, Nini kembali dengan membawa dua gelas jus beserta satu toples cemilan menggunakan nampan.
"Silahkan minum Nak?" suruh Nini dengan ramah.
"Iya Tante," jawab Lili dengan senyuman pula.
"Sini sama Oma, Sayang," ucap Nini mengambil Lisa dari pangkuan Lili.
Nini membawa Lisa ke kamar si kembar, dan menyisakan Gilang dan Lili di ruang tamu. Di kamar, si kembar sedang bermain sama Oma Mila.
"Sayang, lihat siapa yang datang?" ujar Nini kepada ketiga Cucunya yang asik bermain.
Lathifah merangkak menuju sang Oma yang berdiri di ambang pintu bersama Lisa. Sedangkan Hamid dan Karim, mereka tetap fokus dengan mainan yang mereka pegang.
"Maa ... Maa," panggil Lathifah dengan menarik celana Nini.
Nini mengendong lathifah, dan juga Lisa, mereka tampak begitu senang saat di gendong sang Oma. Tampak kedua bayi itu sangat senang di perlakuan seperti ini.
Ruang tamu
Gilang dan Lili sedang menyeruput jus mereka masing-masing. Sesekali mereka menyuapi cemilan yang ada di depan mereka secara bergantian.
Klek ...
Pintu masuk terbuka, dan tampaklah seorang lelaki yang masih sangat muda, siapa lagi kalau bukan Putra, guru mereka saat masih di SMA.
"Assalamu'alaikum," salam Putra saat melihat Lili dan Gilang.
"Wa'alaikumsalam, Pak," jawab mereka serempak.
Putra ikut bergabung dengan mereka berdua di ruang tamu sambil bercerita. Lima belas menit sudah Putra duduk bersama dengan Lili dan Gilang.
"Mas, Pak saya liat Cici dulu ya?" pamit Lili kepada Gilang dan Putra yang langsung di balas anggukan oleh mereka berdua.
Lili duduk di samping ranjang Cici. Menatap wajah pucat pasi itu. Wajah yang dulu terlihat sangat ceria dan berdarah, tapi sekarang semuanya sudah berubah menjadi pucat. Tak tampak ada garis darah di wajah sahabatnya itu.
"Ci, sampai kapan kamu kayak gini? Apa kamu ngak rindu sama Anak-anak? Bangun dong Ci. Apa kamu juga tidak rindu dengan suami kamu. Lihatlah dia sudah semakin kurus semenjak kamh noona Ci. Tak adakah rasa kasihan kamu kepada suamimu ,Ci. Cepatlah bangun," ujar Lili yang berbicara kepada Cici yang masih koma di atas ranjangnya. Meski dia tau sahabatmu tidak akan menjawab, setidaknya dia tau jika sahabatnya itu bisa mendengar.
TBC
__ADS_1