
BAB 12
Sedangkan Lili, ia duduk di dekat pintu kaca restoran sambil melihat kepergian mobil Putra. Setelah mobil Putra keluar dari perkarangan restoran, dia kembali keluar dari restoran untuk mencari taksi untuk pulang ke rumahnya. Tak mungkin rasanya dia akan mengikuti kembali mobil yang membawa Putra serta Cici. Yang ada nanti dia yang dalam masalah.
Sekarang Putra dan Cici sudah sampai di rumah mereka. Putra dan Cici langsung keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah untuk menuju kamar mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Putra dan Cici sedang duduk di balkon kamar sambil memakan cemilan yang di bawa Cici setelah makan malam.
"Mas, gimana caranya aku menjawab pertanyaan Lili besok pagi?" tanya Cici yang merasa binggung.
"Kamu tenang saja, biar Mas yang akan ngurus semuanya," ujar Putra sambil merangkul bahu istrinya.
Cici hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti dengan ucapan Suaminya. Mereka kembali ke dalam kamar karena hari sudah semakin larut, dan juga Putra dan Cici sudah merasa kantuk yang telah menyerang mereka.
Sekitar jam setengah lima pagi Putra sudah terbangun, ia berusaha membangunkan Istrinya, tetapi Cici tak merespon ucapan darinya. Putra turun dari ranjang menuju kamar mandi, dan ia akan membangunkan Cici selesai mengambil air wuduk.
Tak lama setelah itu, Putra keluar dari kamar mandi dan ia langsung menuju ke arah Cici yang masih tidur nyenyak diatas ranjang empuk milik mereka. Putra kembali membangunkan Cici, tapi hasilnya tetap sama seperti pertama. Biasanya Cici tidak pernah sesulit ini untuk di bangunkan. Putra memegang kening Cici, laki-laki itu kaget karena suhu tubuh istrinya sangat panas.
"Ci bangun," ucap Putra sambil mengangkat kepala Cici ke pangkuannya.
"Mas, dingin banget." ujar Cici dengan suara gemetar. Padahal tubuhnya terasa sangat panas.
Putra kembali meletakkan kepala Cici di atas bantal dan keluar dari dalam kamar menuju dapur, untuk mengambil air dan juga kain untuk mengompres kening Cici agar suhu tubuhnya bisa berkurang. Putra mengambil air panas dan juga ember kecil untuk dibawanya ke dalam kamar.
Dengan tergesa-gesa laki-laki itu melangkahkan kakinya menaiki tangga. Sedangkan Nini dari habis dari depan melihat putranya melangkah tak biasa. Seperti ada sesuatu yang terjadi. Terlebih ada sebuah ember kecil yang dibawa sang putra.
"Sayang, kenapa jalannya cepat-cepat begitu.nanti jatuh. Dan buat apa bawa ember itu?" tanya Nini penasaran.
"Buat Cici Ma, suhu tubuhnya panas sekali." jawab Putra dan berlalu meninggalkan Nini. Tanpa mendengar ucapan wanita paruh baya itu terlebih dahulu.
Sampai di dalam kamar, Putra langsung menuju ke arah Cici yang tanpak gemetaran, karena kedinginan. Putra mulai mengompres kening istrinya itu dengan hati-hati.
__ADS_1
Putra yang melihat istrinya masih gemetaran langsung memeluk tubuh itu untuk memberi kehangatan kepada sang istri.
\*\*\*
Jam delapan pagi, Putra sudah berangkat ke sekolah tanpa adanya Cici. Panas pada tubuhnya masih saja belum turun. Ingin rasanya Putra ikut libur, namun tanggung jawabnya di sekolah tak bisa ia tunda. Apalagi hari ini jadwal mengajarnya full.
Sampai di sekolah, Putra membuat surat izin sakit dari Cici, dan ia memberikannya kepada salah satu teman sekelas Cici.
Lili yang baru datang langsung di panggil oleh Putra. Putra membawa Lili ke dalam ruangannya.
Menutup pintu ruangannya dengan rapat. Takut jika ada orang yang akan mendengar ucapan mereka nantinya. Apalagi jika pintu itu terbuka, maka bisa saja suara mereka akan terdengar keluar. Putra tidak mau mengambil resiko hanya karena itu. Apalagi istrinya sekarang sudah kelas tiga. Rasanya sangat sia-sia jika istrinya harus di DO, lantaran sudah menikah.
"Ada apa Bapak bawa saya kesini?" tanya Lili yang merasa agak takut lantaran karena dia mengikuti gurunya itu serta Cici. Lili bahkan sangat yakin, jika guru yang berada di depannya ini tau jika dia mengikuti dirinya kemaren.
"Lebih baik kamu duduk dulu, dan saya mau nanya sesuatu sama kamu?" tanya Putra, dan Lili langsung duduk di kursi di depan meja Putra.
Putra menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu, menariknya kembali dengan perlahan agar nafasnya bisa teratur seperti semula.
"Kamu nanya sama Cici ada hubungan apa saya dengan dia? Dan Cici belum menjawab pertanyaan dari kamu kan?" tanya Putra pada intinya. Lagian Putra tidak mau berbasa-basi.
Deg
Seketika jantung Lili berdetak lebih kencang dari sebelumnya, pasalnya dia tidak tau kalau Cici sudah memberi tahu kan semuanya pada Putra.
"Mak... sud Ba--"
"Saya sudah tau semuanya dari Cici, jadi jangan ngelak dari pertanyaan saya," jelas Putra yang memotong ucapan Lili.
Lili yang saat ini merasa sangat tegang, dan ia tak tau harus menjawab apa kepada sang guru. Lili takut kepada Putra yang terkenal sangat tegas dan jangan lupakan laki-laki itu tidak akan memberi ampun, jika saja apapun yang berhubungan dengan dirinya tersebar, apalagi itu juga bersifar pribadi. Bahkan Putra berani memberi nilai jelek kepada seluruh siswanya bahkan lebih dari itu jika ada yang berani ikut campur dengan urusan pribadinya.
__ADS_1
"I... ya Pak, soalnya beberapa hari yang lalu saya denger Bapak manggil Cici dengan sebutan Sayang, dan saya penasaran kenapa Bapak manggil dia Sayang. Yaaa, kerena saya penasaran saya tanya langsung sama Cici Pak" jelas Lili dengan sedikit takut. Takut jika gurunya itu akan marah. Apalagi ini bersifat pribadi. Yang tidak ada ranahnya di dalamnya.
Putra mulai berfikir bagaimana caranya menjelaskan kepada sang murid. Tapi dia juga takut jika Lili akan membocorkan semuanya sama yang lain. Bisa-bisa Cici dikeluarkan dari sekolah kerena, sudah menikah. Bukan tak menampik kemungkinan dengan itu.
"Saya akan menjelaskannya, dan kamu harus janji sama saya dan juga Cuci bahwa kamu tidak akan pernah memberitahu siapapun. Jika kamu beritahu makan nilai akhir kamu akan saya kasih nol. Dan jangan lupakan bahkan saya bisa melakukan lebih dari itu!" ancam Putra dengan sorot mata tajam.
Lili yang mendengar ucapan Putra, langsung merinding, bisa-bisa ia tidak akan lulus dari sekolahnya. Dan bahkan ia pasti merasa sangat malu terhadap orang tuanya, dan juga kepada teman-teman di sekolah.
Lili memang bukan tipe sahabat yang suka menceritakan aib sahabatnya sendiri kepada orang lain, tetapi ia seorang sahabat yang selalu menyimpan rahasia sahabatnya. Meskipun mereka bertengkar, Lili tetap tidak akan mengumbar rahasia sahabatnya begitupun sebaliknya. Maka dari itu dia lebih nyaman berteman dengan Cici.
Lili hanya penasaran terhadap Cici, pasalnya sejak ia menikah dengan Putra, Cici tidak pernah lagi curhat kepadanya, dan itu membuat Lili semakin penasaran ada apa dengan Cici sebenarnya. Di tambah lagi kejadian beberapa hati lalu.
"Iya Pak, saya janji," jawab Lili dengan menundulkan kepalanya.
"Baiklah, saya akan pegang janji kamu. Saya sama Cici sudah...
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaikum Pak," ucap Bella membuka pintu ruangan Putra dan di tangan guru itu ada map bewarna biru.
"Wa'alaikumsalam," jawab Putra dan Lili bersamaan. Menatap kepada Bella yang kini tengah melangkah ke arah mereka.
"Maaf saya menganggu Bapak, ini ada beberapa lembar kertas di dalam map ini yang harus Bapak tanda tangani, dan setelah itu Bapak harus antar ke ruang Kepsek," jelas Bella sambil menyodorkan map warna biru tersebut. Lalu, keluar dari ruangan Putra. Tak lupa Bella me yup rapat pintu tersebut seperti semula.
Putra menerima map itu, dan melihat berapa lembar yang harus ia tanda tangani, ternyata setelah ia hitung jumlahnya ada dua puluh lembar.
"Maaf ya Li, nanti pas jam istirahat saya jelasin semuanya, dan kamu harus datang pas jam istirahat keruangan saya. Oh ya ini tolong bawain surat izin Cici." ujar Putra dan di angguki Lili. Karena bell masuk sudah berbunyi, tak mungkin rasanya dia akan menjelaskan kepada Lili ada hubungan apa antara dirinya dan Cici.
Lili keluar dari ruangan Putra untuk menuju kelasnya. Sampai di kelas Lili melihat surat yang di berikan oleh Putra. Lili melihat surat tersebut. Ternyata di kertas kecil itu bertulisan tulisan SAKIT.
"Perasaan Cici kemaren baik-baik saja deh, kok sekarang malah sakit ya? Hufff, jangan souzon dong Li," ujar Lili pada dirinya sendiri.
__ADS_1