MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 13


__ADS_3

BAB 13


Cici masih tertidur di atas rajangnya dengan keadaan tubuh ditutupi dengan selimut tebal, dan suhu tubuh Cici sudah mulai berangsur turun. Rasa dingin yang sebelumya dia rasakan juga sudah mulai berangsur hilang.


Klek


pintu kamar Cici dibuka oleh seorang wanita paruh baya. Wanita tersebut membawakan nampan berisi satu mangkok bubur beserta satu gelas air putih. Ya wanita itu adalah ibu mertua Cici. Dengan angun wanita itu membawakan makanan untuk menantunya.


"Sayang, ayo bangun! makan dulu yuk?. Biar tubuh kamu bisa fresh lagi," ajak Nini dengan halus pada sang menantu.


Cici berusaha untuk bangun dengan di bantu Nini, sang ibu mertua. Tak butuh waktu laka Cici sudah duduk di depan Nini. Nini menyuapi bubur tersebut kepada Cici dengan hati-hati, agar tak ada yang tumpah. Berharap besok pagi menantunya itu sudah kembali sehat seperti semula dan bisa menjalani aktivitas belajarnya.


Cici menerima suapan dari mertuanya dengan senang hati. Kenapa tidak, seorang mertua seperti Nini pasti akan di dambakan oleh setiap menantu pastinya. Karena memiliki kelembutan, dan kasih sayang yang tulus kepada menantunya. Bukan berarti karena Nini memiliki satu orang putra saja dia akan melakukan hal demikian, tapi percayalah jika saja Allah memberinya banyak keturunan, Nini tetap melakukan hal yang sama. Tidak akan pernah membedakan menantu yang satu dengan yang lainnya. Namun, Allah hanya memberinya satu orang anak saja. Tapi tak apa, yang terpenting bersyukur.


Sedangkan di sekolah, jam istirahat sudah tiba. Lili langsung pergi ke ruangan Putra, seperti yang di sampaikan laki-laki itu tadi pagi. Lili masuk keruangan itu dan duduk di kursi yang tadi pagi dia duduki.


Sedangkan Putra, masih menandatangani kertas di dalam map pagi tadi, soalnya ia tadi juga ngajar di kelas XII IPS tiga.


"Tunggu sebentar Li, saya tanda tangani ini dulu ya? cuman tiga lembar lagi kok," ujar Putra kepada sang murid itu, dan di angguki oleh Lili.


Sekarang, Putra telah selesai menanda-tangani kertas tersebut. Putra keluar dari ruangannya untuk pergi ke ruang kepsek untuk mengantarkan map itu. Putra menyuruh Lili untuk menunggunya di dalam ruangannya. Tidak mungkin laki-laki itu mengajak Lili untuk ikut dengan dirinya.


Tak lama setelah itu, Putra kembali ke dalam ruangannya, dan duduk di kursi tempat semula ia duduk.


"Yaudah, sekarang kita masuk saja pada intinya ya?" ujar Putra sambil melirik kearah Lili.

__ADS_1


Lili hanya menggubris ucapan Putra dengan menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya saya dengan Cici sudah menikah beberapa minggu yang lalu," jelas Putra.


"Apa? Ba... pak sudah menikah dengan Cici?" tanya Lili dengan kanget. Tak menyangka jika hubungan sahabatnya dengan guru yang kini berada di depannya sudah sejauh itu. Sungguh suatu berita yang membuat Lili memegang dadanya, lantaran terlalu kanget.


"Iya, saya memang sudah menikahi sahabat kamu," jelas Putra dengan santai. "kamu ingat dengan janji kamu bukan? jangan sampai orang lain tau masalah ini. Jika ada yang tahu jangan salahkan saya jika melakukan sesuatu yang mungkin saja tak pernah kamu bayangkan." Putra menatap mata anak didiknya itu dengan tajam.


"I--iya Pak, saya tidak akan memberitahu siapapun," jawab Lili dengan sedikit gugup. Lagian dia juga takut akan ancaman yang putra beritakan. Jika saja itu terjadi mungkin dia tidak akan lulus dari sekolah ini. Bahkan orang-tuanya pasti akan malu karena ulahnya. Mendingan dia tutup mulut, yang akan membuat dia aman sentosa.


Tring... Tring... Tring...


Tak berapa lama bel masuk kembali berbunyi. Padahal baru saja rasanya istirahat, namun bell itu sudah memerintahkan jika waktu istirahat telah usai.


"Yaudah Pak, saya masuk dulu. Bel sudah bunyi. Assalamu'alaikum," pamit Lili dan langsung keluar dari ruangan Putra.


Lili masuk ke dalam kelasnya dengan terburu-buru. Takutnya guru sudah dulu masuk ke dalam kelasnya, yang akan membuat dirinya kena marah. Apalagi guru yang akan mengajar di kelasnya ini terkenal dengan kedisiplinan yang ketat. Telat satu menit saja sudah langsung diusir keluar dari kelas itu tanpa mau mendengarkan penjelasan dari muridnya. Kejam menang, tapi itulah kenyataan guru itu.


Rumah


Sekarang Cici sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan gawainya. Cici melihat berbagai contoh soal untuk ujian nasional karena, beberapa bulan lagi ia akan mengikuti ujian nasional.


"Hufffff, laper banget nih," ucap Cici sambil memegang perutnya dan melirik jam yang terletak di atas nakas di samping ranjangnya. Melirik jam yang sudah menunjukkan pukul satu siang.


Cici menuruni ranjangnya, dan meletakkan gawainya di atas nakas lalu, keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil makanan.

__ADS_1


"Sayang, cari apa?" tanya Nini yang baru datang dari arah ruang tamu untuk mengambil air minum.


"Aku laper Ma, tapi kok ngak ada makanan ya?" tanya Cici sambil memegang perutnya yang sudah sangat keroncongan.


"Hmmm, semua makanan sudah habis Sayang, yaudah kamu duduk aja gih? biar Mama buatin kamu nasi goreng dulu," pinta Nini kepada menantunya itu. Langsung saja wanita paruh baya itu mengambil bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat masi goreng.


Sekitar sepuluh menit, masi goreng yang dibuat Nini akhirnya selesai. Menyendoknya ke atas piring kalu, menaruh dihadapan sang menantu yang tengah menunggu nasi goreng tersebut.


"Silahkan dimakan Sayang, kalau ada yang kurang ngomong sama mama ya," punya animu kepada Cici.


"Nggak ada yang kurang kok Ma, semuanya sesuai. Rasanya juga sangat enak. Terimkasih Ma," Cici mencicipi nasi goreng itu sebelum memberikan komentar kepada sang Mama. Lagian tak ada yang kurang, bahkan selama Cici di rumah mertuanya tidak pernah sekalipun Cici merasakan masakan mertuanya ada yang kurang. Bahkan bisa di bilang selalu enak dan cocok di lidahnya.


Sekolah


Akhirnya pelajaran terakhir sudah selesai. Seluruh murid sudah mulai ke luar dari kelas mereka masing-masing. Ada yang menuju wc sebelum pulang, adapun yang langsung menuju parkiran dimana mereka memarkirkan kendaraan yang mereka bawa. Bahkan banyak yang langsung keluar dari pekarangan sekolah, karena tidak memiliki kendaraan yang bisa dibawa. Yang otomatis akan pulang dengan taksi, angkot, dan bahkan naik ojol.


Di tempat parkiran Putra belum juga mengendarai mobilnya. Rencana dia akan menunggu Lili terlebih dahulu. Ntah untuk apa laki-laki itu menunggu anak didiknya.


"Lili...." panggil Putra dengan suara keras karena, jarak mereka lumayan jauh.


Lili yang mendengar panggilan tersebut langsung saja mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Melihat lambaian tangan Putra membuat Lili melangkah menuju mobil sang guru.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Lili saat sudah sampai di dekat mobil milik gurunya itu.


"Saya hanya mengingatkan sekali lagi sama kamu, jangan pernah memberitahukan hubungan saya dengan Cici." tegas Putra dengan lirikan mata yang tajam.

__ADS_1


"Iya Pak, saya janji tidak akan memberitahu kepada siapapun," balas Cici sedikit takut. "yasudah, saya pergi dulu ya Pak," pamit Lili dan langsung saja meninggalkan mobil putra.


TBC


__ADS_2