MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 31


__ADS_3

BAB 31


Tin ... Tin ... Tin ...


Suara klakson mobil membuat Putra dan Cici menoleh ke arah pintu. Cici berdiri dan membuka pintu masuk dan ternyata bunyi klakson tersebut berasal bunyi dari travel yang memnawa mereka ke bandara.


"Apa sudah siap Non?" tanya Pak supir kepada Cici, dan dibalas anggukan dari wanita itu.


"Mas, travelnya sudah datang" ucap Cici di bibir pintu.


Putra yang tadinya asik menonton langsung mematikan siaran TV. Beralih mengangkat semua barang-barang mereka dan di bantu oleh Cici.


Tak butuh waktu lama, semua barang-barang mereka sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Sekarang Cici mengunci pintu rumah Nenek, sedangkan Putra sudah menunggunya di dalam travel.


Selama di dalam travel, Cici menyandarkan kepalanya pada dada bilang sang suami yang tetap setia menerima sandaran dari sang istri tercintanya.


Kini travel yang mereka tumpangi sudah sampai di bandara. Supir dan juga Putra mengeluarkan semua barang bawaan Cici maupun Putra. Sebelum meninggal travel itu, tak lupa Putra memberikan beberapa uang pecahan seratus ribu.


Cici dan Putra memakan roti yang mereka beli sebelum masuk ke dalam pesawat karena, tadi mereka tidak sempat untuk sarapan pagi di rumah.


Lima menit berlalu, penerbangan pun sudah mulai naik sedikit demi sedikit. Wajah Cici yang tadinya terlihat sangat bahagia kini berubah menjadi lesu takkala pesawat sudah mulai naik. Maklumlah Cici sangat takut dengan ketinggian, ya jadinya gini deh.


Putra yang sudah mengetahui akan hal tersebut langsung memeluk tubuh mungil sang istri untuk meredakan rasa takutnya, dan benar saja wajah Cici yang tadinya sudah pucat sekarang sudah terlihat sedikit memerah.


"Jangan takut Sayang. Mas ada disini bersama kamu," ujar Putra memeluk erat tubuh istrinya. Menyalurkan kekuatan agar sang istri tak merasakan takut seperti sebelumya.


"Iya Mas, makasih ya Mas," jawab Cici sambil tersenyum dan menatap setiap inci wajah suaminya yang sangat tampan itu.


"Iya Sayang, sama-sama," balas Putra lalu, mengecup kening Cici sekilas.


Detik sudah berganti menit, dan menit pun sudah berganti dengan jam. Tak terasa kurang dua jam berada di dalam pesawat akhirnya, pesawat tersebut sudah mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.


Semua keluarga Cici dan Putra sudah menunggu mereka di bandara untuk menyambut sang anak dan juga sang menantu tercinta mereka. Cici yang melihat Bundanya dari pintu pesawat langsung berlari dan berhamburan ke pelukan sang bunda.


"Bunda, aku rindu sama Bunda," ujar Cici di pelukan sang bunda. Sungguh wanita itu sangat merindukan sang bunda.


Mila tersenyum sekilas di dalam pelukan sang putri yang sangat ia cintai. "Iya Sayang, Bunda juga rindu sama kamu," jawab Mila dan mengecup pipi putrinya sebentar.


Cici bergantian memeluk keluarganya sampai yang terakhir ia memeluk ayah mertuanya, dan diikuti oleh Putra. Selesai berpelukan di area bandara, mereka semua pun pulang ke rumah.


Tak memakan waktu lama, mereka sudah sampai di kediaman Nini. Mereka memilih duduk di ruang tamu sambil bercerita dengan anak dan menantu kesayangan mereka.


Cici menceritakan pengalaman dia dan Putra selama berada di rumah nenek, mulai dari mereka baru sampai hingga mereka pergi jalan-jalan ke pantai. Tapi tidak dengan masalah pribadi mereka.

__ADS_1


***


Hari sudah berganti minggu dan minggu pun sudah berganti dengan bulan. Ya sekarang sudah satu bulan mereka selesai honeymoon di rumah nenek. Putra juga sudah kembali mengajar di sekolah seperti biasa. Karena, waktu libur telah usai.


Hati ini meruapakan weekend. Yang tentunya membuat Putra tidak datang ke sekolah. Tidak hanya dia, semua murid dan guru pastinya akan libur pada hari ini. Laki-laki itu akan menghabiskan waktu weekend di rumah bersama sang istri.


Cici yang baru ke luar dari kamar mandi, merasakan kepalanya sedikit pusing. Bahan rasa mual yang sangat terasa. Padahal tidak ada yang keluar dari mulut wanita itu. Terasa kering bahkan kentara dengan pahit.


Putra yang baru saja datang dari bawah langsung menghampiri sang istri yang terhuyung. Untung saja laki-laki itu tepat waktu, jika saja tidak mungkin Cici sudah jatuh ke lantai.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Putra dengan panik. Tak biasanya istrinya seperti ini.


"Ke--kepala aku pusing bangat, Mas," jawab Cici dengan nada lemas. Bahkan beberapa kali Cici memegang kepalanya yang memang terasa semakin pusing dari sebelumnya.


"Kita ke rumah sakit saja Sayang. Mas takut terjadi sesuatu sama kamu. Apalagi kamu baru pertama kalinya seperti ini" ajak Putra yang sangat cemas dengan keadaan istrinya. Apalagi wajah wanita itu kini tampak pucat.


"Ngak Mas, mungkin aku hanya kecapean saja," balas Cici sambil tersenyum, yang jelas dipaksakan.


"Tapi Sayang--"


"Tidak apa Mas. Aku hanya lelah saja. Makanya seperti ini," jawab Cici yang menolak ajakan suaminya. Dia yakin jika saat ini hanya lelah saja.


Putra hanya menganggukkan kepalanya pasrah dengan jawaban sang istri, dan membaringkan Cici di atas ranjangnya.


Sekembalinya dari bawah, Putra membawa sarapan beserta air putih menggunakan nampan. Putra duduk di samping Cici lalu, menyuapinya dengan sangat telaten.


Hanya dalam waktu sepuluh menit, sarapan tersebut sudah di habiskan oleh Cici. Sekitar lima menit berlalu Cici merasa mual dan langsung lari ke dalam kamar mandi. Itu membuat Putra merasa cemas akan kesehatan sang istri.


"Sayang, kamu kenapa? Jangan bikin Mas tambah khawatir Sayang," ujar Putra yang kini berada di samping sang istri. Bahkan laki-laki itu meberikan pijitan pada tengkuk sang istri.


"Aku ngak apa-apa kok Mas, mungkin karena masuk angin saja," jawab Cici. Bisa saja dia masuk angin sama lelah. Makanya terjadinya seperti ini.


Huekk huekk


"Sayang, mendingan kita ke rumah sakit saja ya? Mas takut jika kamu kenapa-napa." ajak Putra yang semakin panik dengan keadaan istrinya.


"Ngak usah Mas. Bentar lagi sembuh kok," balas Cici sambil tersenyum.


Putra hanya membalas ucapan Cici dengan senyuman yang terlihat di paksakan karena, ia merasa sangat khawatir dengan keadaan sang istri. Tapi dia juga tidak bisa memaksa istrinya.


Satu jam sudah berlalu, Cici kembali merasa mual. Bergegas wanita itu turun dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Putra yang tadinya duduk di atas sofa kamar, langsung menghampiri sang istri yang terus-terusan muntah di dalam kamar mandi. Wajahnya kembali merasa khawatir dengan kondisi sang istri.


"Sayang, mendingan kita ke rumah sakit. Kamu ngak boleh nolak-nolak lagi Sayang. Aku sangat khawatir dengan keadaan kamu," ujar Putra yang kali ini tidak mau dibantah. Betapa khawatirnya dirinya saat ini melihat sang istri yang tak berhenti muntah sedari tadi.

__ADS_1


"Ngak usa--"


"Jangan ngebantah!" jawab Putra dengan nada sedikit tinggi dan memotong ucapan Istrinya.


Selesai dari kamar mandi, mereka pun pergi ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil kesayangan Putra.


Rumah sakit


Cici di bawa oleh dokter ke dalam ruangannya, dan diikuti oleh Putra. Cici di periksa oleh dokter perempuan paruh baya itu namun, ia masih terlihat cantik.


"Dok, gimana keadaan istri saya? Apa ada sakit serius yang dialami istri saya?" tanya Putra dengan nada khawatir.


"Iya dok, gimana keadaan saya?" tanya Cici yang juga terlihat khawatir.


Dokter itu pun menghela nafasnya dengan perlahan. "Maaf Pak, sebenarnya istri Bapak--"


"Kenapa dengan istri saya dok? Dia baik-baik saja kan dok?" tanya Putra yang memotong ucapan sang dokter. Padahal dokter itu belum selesai berbicara.


"Maaf Pak, ini suatu penyakit yang tidak pernah Bapak bayangkan sebelumnya, dan mungkin Bapak tidak akan bisa membayangkan ini semua bila saya mengatakannya," balas dokter.


"Emang apa penyakit yang diderita istri saya Dok? Tolong jelaskan sama saya Dok?" pinta Putra dengan nada suara yang sudah mulai bergetar. Jujur dia sangat takut jika istrinya sakit.


"Sebernarnya--"


"Sebenarnya sakit apa dok? Jangan bikin saya naik darah karena, Sokter terlalu bertele-tele mengatakannya!!" ujar Putra dengan suara tinggi. Dia merasa dokter itu mempermainkannya.


Dokter menghala nafasnya dengan kasar. Menatap kedua insan ini secara bergantian, dan sudah jelas saat dokter itu melihat Putra bahwa di sudut mata Putra terdapat setitik air mata yang hendak ke luar.


"Istri Bapak tidak sedang sakit. Saya hanya becanda. Ngak perlu nangis juga lah Pak, hahahahhahah," ujar sang dokter dengan serius lalu, tertawa terpingkal-pungkal. Tak menyangka jika laki-laki di depannya ini akan mengeluarkan air mata. Jelas terlihat bertapa laki-laki itu sangat mencintai istrinya.


"Dok, jangan becanda di saat saya serius!" ujar Putra dengan nada membentak karena kesal.


Seketika dokter itu menghentikan tawanya. "Hahahha, iya-iya maaf, saya tadi cuman becanda. Istri Bapak tidak sedang sakit tapi, hal ini sudah biasa di alami oleh ibu hamil," jelas Dokter dengan itu menatap berganti kepada Cici maupun Putra.


"Apa dok? Hamil? Dokter ngak lagi becandain saya lagi kan?" tanya Putra yang menatap Dokter itu dengan sinis. Takutnya ia akan di bohongin lagi oleh sang dokter. Dokter hanya membalas ucapan Putra dengan senyuman.


"Sayang, kamu hamil," ujar Putra memeluk sang istri dengan sangat erat di depan sang dokter. Respon yang di berikan dokter itu membuat Putra amat bahagia.


"Iya Mas, aku bahagia bangat," jawab Cici di pelukan Suaminya.


Tak berselang lama, Putra melepaskan pelukannya. Menghadap ke arah sang dokter yang hanya duduk menyaksikan kebahagiaan mereka berdua. "Terima kasih ya dok? Yasudah kalau gitu kami pulang dulu, assalamu'alaikum," ujar Putra yang menyalami tangan sang dokter.


"Iya sama-sama, wa'alaikumsalam," jawab dokter.

__ADS_1


TBC


__ADS_2