MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
PENGUMUMAN


__ADS_3

Assalam'alaikum buat pecinta novel MENIKAH DENGAN GURUKU. Akhirnya selesai sudah novel ini. maaf jika ada yang kurang dari novel yang author buat. jika ada penggunaan kata atau apapun itu author minta maaf ya.


sebelum itu jangan lupa noir ke novel Ati bot yang lainnya, ceritanya juga tak kalah seru loh,


🍄DICERAIKAN🍄


BAB 1


Yumna Humaira yang biasanya di panggil dengan sebutan Yumna. Seorang wanita berusia hampir genap 29 tahun dan sudah menikah dengan seorang laki-laki tampan dan sangat setia. Bahkan tak pernah ada pertengkaran serius dalam rumah tangga mereka selama mereka membina rumah tangga. Pertengkaran kecil yang memang sudah lumrah dalam sebuah pernikahan itu pasti ada. Tapi tidak tertuju pada hal yang sangat serius. Hanya sebagai bumbu untuk menghiasi pernikahan antara Yumna dan Reyhan.


Rumah tangga yang sudah dibina Yumna dan Reyhan selama tujuh tahun. Rumah tangga yang sangat harmonis tanpa cela sedikitpun. Mertua yang sangat menyayanginya seperti mereka menyayangi Reyhan sebagai anak kandung mereka. Hidup penuh dengan canda tawa, bahkan kehidupan mereka tampak sangat bahagia.


Meski sudah lama menikah namun dalam keluarga kecil Yumna belum dianugerahi seorang malaikat kecil yang membuat rumah itu menjadi tampak ramai. Berbagai cara sudah mereka lakukan. Memeriksa kesuburan pada dokter pun sudah mereka lakukan. Dari hasil pemeriksaan, mereka baik-baik saja tanpa ada yang kurang dari salah satu dari mereka.


Berobat secara alami juga pernah mereka lakukan. Namun belum juga ada tanda-tanda hadirnya malaikat kecil di dalam rahim Yumna. Sedih? sudah pasti Yumna sangat sedih. Bahkan jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat menginginkan hadirnya seseorang di dalam rahimnya. Bahkan dulu sebelum menikah Yumna menginginkan memiliki seorang anak dengan cepat. Namun takdir berkata lain, bahkan sampai kini belum juga dia dikarunia seorang bayi.


Hari-hari di jalani Yumna dengan penuh kebahagiaan. Tak pernah sekalipun Yumna merasakan sedih yang mendalam. Yumna yakin bahwa suatu saat pasti Allah akan menitipkan seseorang di dalam rahimnya. Ya Yumna sangat yakin dengan itu.


Namun demikian, pertanyaan-pertanyaan dari tetangganya yang menanyakan perihal anak kepadanya, membuat Yumna sangat sedih. Bahkan sebagian mereka juga menuduh Yumna wanita ma*d*l. Tapi tak banyak dari mereka juga mengira Yumna memakai alat pencegahan kehamilan.


Perkataan-perkataan tajam itu membuat Yumna kepikiran. Bahkan pernah suatu hari Yumna tidak keluar rumah, karena dirinya sakit memikirkan ucapan tetangganya yang tiada henti menanyakan perihal anak. Mereka tidak pernah tau apa yang sedang dialami Yumna selama ini. Maka dari itu mereka dengan gampangnya berkata demikian tanpa memikirkan jika mereka yang ada di posisi Yumna dan apa yang akan mereka rasakan. Itulah kadang hidup bertetangga. Tidak banyak dari mereka yang memberikan dukungan yang baik. Namun lebih kepada hinaan serta fitnah yang tak mendasar.


Dalam beberapa hari ini mertua Yumna sering mengunjungi dirinya. Menanyakan apakah sekarang dia sudah hamil atau belum. Ntah kenapa Ibu mertuanya itu sekarang sering ke rumah dan menanyakan hal yang sama terus-menerus. Padahal selama ini Ibu mertuanya terlihat biasa saja. Tidak terlalu memaksa atau memberi tekanan pada Yumna.


Mulut yang dulunya sangat lembut kini berubah kasar. Wanita satu-satunya yang sekarang Yumna miliki, karena orang-tuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Namun rasanya sekarang sudah sirna sedikit demi sedikit.


Rasa sakit yang sama didapatkan dari mulut ibu mertuanya. Yumna merasakan sesak di dadanya mendengar ucapan sang mertua. Rasanya tubuhnya seakan tak bertulang mendengar ucapan sang mertua. Apakah seburuk itu dirinya sehingga mertua yang sangat disayanginya berubah dalam sekejap.


"Apa sudah ada tanda-tanda?" Rena melipat kedua tangannya diperut dan menatap sinis menantunya. Biasanya Rena akan bertanya akan memakai embel-embel seperti menyebut nama menantunya atau dengan panggilan Nak. Namun sekarang sudah jarang bahkan bisa dikatakan tidak ada.


"Belum Bu," balas Yumna dengan sedikit menunduk.


"Sampai kapan?"


"Do'ain biar cepat dikasih sama Allah ya, Bu?"


"Kau tau tidak!? ini sudah mau tahun kedelapan. Sudah hampir delapan tahun saya nungguin dengan sabar. Tapi apa yang saya dapat, haaa? Nol!! Ya nol besar yang kau berikan kepada saya!!!"


"Maa--"


"Buat apa kau minta maaf? Seribu kalipun kau minta maaf jika hasilnya nol maka percuma saja!! Atau jangan-jangan kau itu memang ma*d*l!!"


Bagai disambar petir disiang bolong. Dada Yumna terasa berdetak sangat kencang. Jika orang lain yang berkata demikian Yumna tidak merasakan sakit yang teramat seperti saat ini. Tapi ini mertuanya sendiri. Wanita yang sudah di anggap seperti ibu kandungnya.

__ADS_1


"Tidak Bu, kata dokter aku baik-baik saja," sanggah Yumna dengan nada yang sedikit bergetar.


"Jika benar apa yang dokter katakan kenapa sampai sekarang kau belum juga hamil, hmm?!"


Yumna hanya diam mendengar ucapan mertuanya. Rasanya kata-kata kasar yang diucapkan mertuanya masih tergiang-ngiang di kepala Yumna. Sangat sakit, bahkan sangat menyakitkan.


"Kenapa hitam?! nggak bisa jawab?" bentaknya dengan suara yang memekakkan gendang telinga. Setelahnya Rena langsung keluar dari rumah menantunya tanpa berpamitan.


'Astafirullah, astafirullah, astafirullah ya Allah. Kuatkanlah diri hamba dan ikhlaskanlah hamba dalam menerima takdirMu,' batinnya.


Setelah kepergian mertuanya, Yumna beranjak menuju kamarnya untuk melaksanakan ritual mandi. Badannya terasa lengket apalagi ditambah dengan perkataan kasar drakor mertuanya membuat seluruh tubuh Yumna dibasahi keringat. Badannya bergetar dan hatinya menangis.


Hanya beberapa menit akhirnya Yumna telah selesai mandi. Memoles wajahnya dengan bedak serta sedikit liptint agar bibirnya tidak tampak kering.


Malamnya Yumna menyiapkan makan malam dimeja makan. Menunggu suaminya yang mungkin sebentar lagi akan sampai di rumah. Biasanya di jam sekarang ini suaminya sudah dirumah, tapi ntah kenapa hari ini tiba-tiba saja suaminya belum pulang. Padahal sekarang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bahkan waktu sholat isa saja sudah masuk beberapa menit yang lalu. Semua hidangan sudah tertata rapi di meja makan. Tinggal menunggu kepulangan Reyhan dari tempat kerjanya.


Detik terus berganti menit, menit berganti jam. Sudah hampir tiga jam Yumna menunggu suaminya. Namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda sang suami pulang. Sudah ditelpon namun nomor suaminya berada di luar jangkauan.


Rasa cemas menyelimuti Yumna. Tak pernah sekalipun Reyhan po ulang sampai selamat ini. Jikapun ada pasti dia akan memberi kabar pada istrinya.


'Mas, kamu dimana? Kamu sangat mencemaskan kamu Mas,' Yumna meremas tangannya karena merasa sangat cemas akan suaminya. Takut jika suaminya kecelakaan atau apapun yang menimpa suaminya.


Pikiran-pikiran buruk sudah menghantui pikiran Yumna. "Astafirullah Yum, kamu nggak boleh berfikir seperti ini,' Nasehatnya pada dirinya sendiri.


Selesai makan Yumna kembali menghubungi suaminya, namun masih sama. Nomor suaminya diluar jangkauan alias tidak aktif. Yumna mengirimi pesan untuk suaminya. Selanjutnya Yumna memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya karena merasa lelah menunggu. Berharap nanti suaminya akan pulang dan membangunkan dirinya.


TBC


🍄SANGGUPKAH AKU🍄


BAB 1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Aida tengah membersihkan halaman rumah, yang tampak dipenuhi oleh rumput liar yang sudah mulai meninggi. Tidak keseluruhan, karena ada sebagian terdapat tanah yang tidak bisa di tumbuhi rumput. Sedikit lelah, tapi itu harus dilakukan Aida. Menunggu Abi atau Umminya yang akan membersihkan rasanya tidak mungkin. Apalagi menunggu adik perempuan, bahkan itu lebih tidak memungkinkan.


Adiknya yang berada empat tahun dibawahnya. Apalagi gadis itu tengah disibukkan dengan belajar. Sebentar lagi gadis itu akan mengikuti ujian hingga lebih kurang tiga bulanan. Menduduki bangku kelas tiga, membuat gadis itu tidak lagi leluasa sepeti sebelumnya. Hari-harinya di penuhi dengan belajar, belajar dan belajar. Kadang dia juga lelah. Namun, demi mendapatkan beasiswa untuk kuliah dengan hasil keringatnya sendiri adalah suatu yang sangat membahagiakan dirinya. Meski orang-tua mereka mampu menguliahkan dirinya, namun jika hasil dari perjuangannya sendiri, rasanya akan jauh lebih berbeda.


Rasa lelah membuat Aida menghentikan pekerjaannya. Duduk dan mengambil air yang dia bawa keluar menggunakan botol minuman. Meneguk tiga kali tegukan untuk menghilangkan rasa lelah serta haus. Menyeka keringat yang membanjiri wajahnya, terutama bagian hidung serta atas bibir.


Dirasa rasa lelahnya sudah berkurang Aida kembali melanjutkan pekerjaannya yang hanya tinggal seperempat lagi. Mengikat bagian depan hijabnya yang tampak seperti mukenah ke belakang kepalanya, agar memudahkan gadis itu untuk bekerja. Bukan tak ada hijab pendek, hanya saja gadis itu lebih nyaman memakai hijab yang ukurannya sudah melewati ukuran XL.


***

__ADS_1


Meja makan sudah diisi oleh Abi, Ummi serta adiknya. Mereka tengah menyendok makanan kepiring masing-masing. Sedangkan Aida masih menunggu mereka siap terlebih dahulu. Aida kurang suka jika bergantian, yang ada akan terasa lama. Apalagi apa yang dia inginkan sedang di ambil sama yang lain.


Dalam waktu lebih kurang 25 menit akhirya mereka sudah berada di ruang tamu kecuali adiknya yang sudah izin ke kamar untuk belajar. Lantaran gadis itu besok, akan mengadakan simulasi satu.


"Aida," Suara Hasan membuat Aida menoleh ke arah sang abi.


"Iya Bi, ada apa?" Aida ikut menolehkan kepalanya kepada laki-laki, cinta pertamanya.


"Boleh Abi mengatakan sesuatu, Sayang?" Hasan menatap lekat wajah cantik putrinya. Putri yang sebentar lagi tidak akan menjadi miliknya lagi, lantaran dia akan memberikan sang putri kepada laki-laki lain yang akan berstatus seorang suami.


"Boleh Bi. Emang Abi mau ngomong apa? Sepertinya sangat serius?" Aida menatap dengan lekat wajah sang abi. Wajah laki-laki yang tak lagi muda karena termakan usia.


Sedangkan Aisyah, selalu seorang Ibu hanya bisa diam. Menyimak segala sesuatu yang akan di bicarakan kedua anak dan ayah itu. Jika diperlukan, maka dia akan mengeluarkan suaranya. Saat ini yang berhak berbicara hanya suami serta putrinya sulungnya. Belum ada keterlibatan dirinya untuk ikut berbicara.


"Abi mau kamu menikah dengan Husein, Nak" Hasan belum melanjutkan perkataannya. Melihat bagaimana reaksi sang putri saat dia membahas masalah pernikahan.


Aida tampak terkejut dengan apa yang dikatakan Abinya. Tak pernah terfikir oleh Aida, jika Abinya akan membahas hal tersebut. Lantaran selama ini Abinya hanya diam saja tanpa pernah sekalipun membahas masalah pernikahan.


"Husein? Husein mana Bi?" Aida masih tetap berusaha tenang, meski saat ini hatinya tengah kocar-kacir tak menentu. Husein, satu kata yang bahkan tak pernah Aida dengar nama itu selama ini.


Apakah Abinya akan menikahkannya dengan anak seorang Ustad. Atau malah anak dari seorang Kiyai, yang tentunya paham akan agama. Tak akan ada seorang wanita yang tak memimpikan seorang suami yang paham akan agama. Paham apa yang telah diajarkan Rasulullah kepada umatnya. Yang akan membawanya menuju jannahnya Allah secara bersamaan.


"Husein anaknya adik tiri Abi, Sayang," Langsung saja Hasan mengatakan siapa sebenarnya Hussein. Kembali menatap sang putri, saat sebentar dia menatap ke arah televisi yang sengaja volumenya di perkecil.


Aida berusaha mengingat siapa itu Husein. Mana tau waktu kecil dia pernah berteman atau jika tidak bertemu dengan orang yang memiliki nama Husein tersebut. Namun, kepingan-kepingan memori lama, tak membuat Aida ingat siapa gerangan nama tersebut.


"Apakah aku pernah bertemu dengan dia, Bi?" Aida menatap wajah sang abi yang kini juga tengah menatap dirinya.


Hasan menggeleng. "Tidak Sayang. Bahkan selama ini adik tiri abi tinggal jauh dari kita. Jika dia rindu, mereka pasti akan datang kesini seperti tahun kemaren. Tanpa membawa putra mereka, karena kesibukan yang mungkin tak bisa ditinggalkan," jelas Hasan kepada putri sulungnya.


"Emang di mana adik tiri, Abi tinggal?" Aida tampak mengerutkan keningnya. Rasa penasaran membuat gadis itu sedikit kepo. Meski Aida tau jika sang abi memiliki seorang adik tiri. Namun, Aida tidak pernah tau dimana mereka tinggal, bahkan Aida juga tidak tau jika mereka memiliki seorang anak. Aida tidak terlalu ingin tahu akan keluarga Abinya. Jika sang abi bercerita, maka dia akan mendengarkan. Jika tidak, Aida tidak akan menanyakan.


"Mereka tinggal di luar Negeri Sayang, tapi jika nanti kamu menikah dengan putra mereka, mereka akan menatap disini dan akan mengembangkan perusahaan yang ada di sini. Sedangkan perusahaan yang ada di luar Negeri akan mereka serahkan kepada bawahan yang bisa mereka percaya," jelas Hasan dengan hati-hati. Dia sangat tau jika putrinya tidak akan tergiur dengan harta berlimpah. Bahkan jika boleh jujur, keluarga Hasan juga tak kalah kayanya dengan keluarga Husein. Tapi kehidupan yang dijalani Aida sangat sederhana tidak menampakkan betapa kayanya orang-tuanya. Bahkan adiknya juga mengikuti jejaknya yang diajari kedua orang tuanya yang sederhana.


Karena Umminya pernah berkata. "Sebanyak apapun harta yang kita miliki tidak akan ada gunakan jika ajal sudah datang. Bahkan untuk mengambil setitik oksigen yang selalu diberi gratis oleh sang Kuas sudah tidak bisa lagi. Lalu apa yang hendak disombongkan dengan harta berlimpah. Yang nyatanya disanalah hisab yang sangat banyak dia khairat nanti" Lebih kurang itulah kata-kata yang dikatakan Umminya, saat Aida berumur 18 tahun sedangkan adiknya sudah berumur 14 tahun.


Aida mengangguk dengan penjelasan Abinya. "Apa dia termasuk ke dalam kriteria calon suami yang pernah aku katakan dulu, Bi?" Aida mengingat jika dulu, waktu umurnya masih 17san, gadis itu pernah mengatakan bagaimana kriteria calon suami yang akan menjadi suaminya nanti saat dia sudah dewasa.


Tiba-tiba saja wajah Hasan berubah murung. Melihat reaksi itu, Aida jadi berfikir yang tidak-tidak. Apalah calon suami yang dikatakan Abinya tidak sesuai dengan keinginannya. Atau bahkan tidak sama sekali.


"Tidak ada sedikit pun kriteria kamu pada anak itu, Sayang. Bahkan bisa dikatakan dia kurang tahu akan ajaran agama. Jika tahu mungkin hanya sedikit. Dia sudah terlena akan nikmatnya dunia, bahkan sampai lupa akan akhirat tempat yang paling nyata." Hasan menatap wajah sang putri yang tampak pias mendengar ucapannya. Dia tau putrinya pasti kecewa dengan apa yang dia katakan. Sangat jelas terlihat dari raut wajah putrinya yang sudah berubah.


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA MAMPIR YA GUYS, AKU TUNGGU KEDATANGAN KALIAN DI NOVEL ITU, SEE YOU ☺☺🙏


__ADS_2