MENIKAH DENGAN GURUKU

MENIKAH DENGAN GURUKU
BAB 44


__ADS_3

BAB 44


Hamid hanya menganggukkan kepalanya mendengarkan jawaban dari sang kembaran. Rasanya sangat berbeda dengan perubahan sikap sang kembaran hari ini kepada dirinya. Sedih? Pasti ia merasa sangat sedih. Kenapa tidak! Biasanya mereka selalu kompak dalam hal apapun, tapi hari ini? Semuanya sudah sangat jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.


Sikap dingin itu sudah dilihatkan oleh sang kembaran kepadanya.


"Dek? Adek marah ya sama Kakak?" tanya Hamid dengan nada sedih.


"Ngak!" jawab Lathifah yang juga cuek seperti Karim.


"Hmm-hmm, yaudah Kakak ke kamar dulu ya?" pamit Hamid yang langsung di angguki oleh sang kembaran tanpa menoleh sesikitpun ke arahnya.


***


Putra dan Cici sudah selesai membersihkan tubuh mereka, dan mereka pun juga sudah rapi dengan pakaian sehari-hari mereka saat berada di rumah.


Putra dan Cici keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk menemui sang gadis kecil yang memanggil namanya beberapa menit yang lalu.


"Sayang, kenapa wajahnya muram gitu hmm?" tanya Cici yang melihat wajah muram putra sulungnya.


"Aku lagi capek, Bun," jawab Hamid yang langsung di angguki dengan senyuman oleh Cici.


Mereka menuruni anak tangga secara bersamaan layaknya pengantin baru. Senyuman terukir indah di bibir kedua insan ini. Mereka saling pandang untuk sesaat sebelum menuruni anak tangga paling bawah.


Putra melirik ketiga buah hatinya yang sedang menonton TV. Tidak ada satupun yang menyadari kedatangan mereka. Putra langsung mencium pipi sang istri dengan lembut. Cici hanya tersenyum manis ke arah sang suami.


"Aulia ...," panggil Cici yang sedang menuju ke arahnya.


"Bunda, Ayah ... Tadi Lia cali kenapa ngak ada? Bunda cama Ayah dali mana?" tanya Aulia menghampiri Bundanya.


"Ada di dalam kamar, Sayang," jawab Cici dengan senyuman sambil menggendong putri bungsunya.


Aulia hanya menganggukkan kepalanya bingung dengan ucapan sang bunda. Pasalnya ia sudah memanggil-manggil, tapi tidak ada sahutan sedikitpun dari kedua orang tuanya.


Cici mengajak sang gadis kecil untuk duduk, dan bergabung dengan kedua kakaknya yang sedang menikmati siaran di layar TV.


***


Hamid duduk di atas ranjang sambil memandangi fotonya bersama kedua kembarannya. Sedih? Tentu ia sangat sedih. Selama ini Hamid tidak pernah merasa sendiri saat bersama kedua kembarannya. Tapi, sekarang ia merasa sendiri tanpa ada sang kembaran yang selalu membuat dirinya merasa terhibur. Baik itu dalam keadaan sedih maupun bahagia.


Hamid juga tak habis pikir, kenapa kedua kembarannya malah mencuekinnya hanya karena tidak mau ngasih tahu tentang apa yang akan ia lakukan hari ini bersama Lisa. Bukankah itu suatu hal yang sepele? Yang tidak perlu di perpanjang dan harus nyuekin dirinya seperti ini.


Dua hari kemudian


Sudah dua hari Karim dan Lathifah mencuekin Hamid. Bahkan untuk berbicara pun mereka merasa engan kepada Hamid. Hamid juga sudah berusaha minta maaf kepada kembarannya jika ia bersalah. Tapi, permintaan maaf Hamid malah tidak di tanggapi oleh Lathifah dan Karim.


"Dek, Kakak minta maaf yah? Kalau kakak ada salah sama kalian." Permintaan maaf Hamid yang sudah kesekian kalinya.


Karim dan Lathifah tidak juga menanggapi permintaan maaf dari sang kakak. Mereka tetap asik berkutik dengan gawai mereka masing-masing.

__ADS_1


Hari demi hari sudah di lewati oleh Hamid dengan kesendirian tanpa kehangatan dari sang kembaran. Bahkan pergi sekolah pun mereka tidak bersamaan. Karim meminjam mobil Putra untuk ia bawa ke sekolah. Putra tidak merasa curiga sedikitpun kepada anaknya.


Di depan kedua orang tua mereka, mereka terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki masalah sedikit pun. Tapi, di belakang kedua orang tuanya, mereka seperti seseorang yang tidak saling mengenal.


"Dek, Kakak minta maaf yah," ujar Hamid di saat sang kembaran berada di dalam kamar Lathifah sambil membaca buku.


"Hmmm," balas Karim dan Lathifah serempak, tanpa melirik ke arah kembaran yang sudah berlinangan air mata.


"Maaf, jika Kakak ngak ngak ngebolehin kalian ikut sama Kakak hari minggu kemaren yah?" ujar Hamid yang berharap kembarannya mau mengerti dengan apa yang sudah terjadi.


"Hmm," Deheman Karim dan Lathifah.


Hamid merasa dicuekin oleh mereka berdua. Hamid keluar dari kamar besar milik Lathifah dengan langkah gontai menuju taman belakang rumahnya.


Hari sudah sangat larut, Hamid masih saja duduk di taman sambil menatap langit malam yang dihiasi dengan bintang yang menerangi kegelapan malam, serta bulan yang menjadikan saksi kesendirian Hamid malam ini.


"Ya Allah, kenapa rasanya sangat sakit dicuekin sama saudara sendiri? Apakah hamba-Mu ini tidak berhak mendapatkan kata maaf dari kembaran hamba? Sedangkan engkau sendiri bisa memberi maaf kepada makhluk ciptaan-Mu yang memiliki salah." Hamid berbicara sambil menatap langit gelap yang dihiasi bintang-bintang yang sangat jelas terangnya.


Tanpa ia undang, air mata itu luruh dari pelupuk mata indah milik Hamid. Sekarang ia benar-benar merasa sendirian. Bahkan memang sendirian tanpa adanya seseorang bersamanya saat ini.


Walaupun ia seorang laki-laki, tidak ada salahnya ia mengeluarkan air matanya. Yang namanya manusia pasti memiliki perasaan. Tidak hanya wanita saja yang boleh menangis, tapi laki-laki juga boleh, dan tidak ada larangan bagi seorang lelaki untuk tidak menangis.


Hari sudah sangat larut. Bahkan jam yang melingkar di pergelangan tangan Hamid sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Hamid tetap saja berada di taman belakang rumahnya sambil menundukkan pandangannya.


Hamid merasa engan untuk memasuki rumah besar milik sang ayah. Tidak akan ada kebahagiaan yang akan ia dapat dari sang kembaran jika ia masuk ke dalam rumah tersebut. Bahkan kembarannya pun sangat enggan untuk menyapa dirinya.


Tepat jam satu dini hari, Hamid melangkahkan kakinya menuju rumah megah nan besar itu dengan langkah gontai. Hamid berjalan menuju kamarnya, dan sebelum itu ia melewati kamar sang kembaran.


Padahal itu semua hanyalah masalah sepele yang tidak perlu diperpanjang. Hal ini sangat jauh berbeda dengan Karim dan Lathifah, mereka harus saling metahui tentang apa yang dilakukan kembaran mereka.


Tidak hanya tentang kembaran mereka, tapi juga dengan diri mereka yang harus membagi setiap kisah yang mereka lewati, baik itu secara bersama maupun bersama seseorang yang spesial di hati mereka.


Hamid tersenyum melihat wajah damai sang kembaran yang sedang tertidur sangat pulas. Tidak ada beban yang terlihat di wajah sang kembaran. Hal ini jauh berbeda dengan dirinya, ia sangat terpukul dalam menghadapi sikap dingin dari sang kembaran.


Ini semua memang salah dirinya. Kenapa ia tidak menceritakan tentang pertemuannya dengan Lisa sebelum ia pergi kepada kembarannya. Hamid juga tidak bisa menyalahkan siapapun. Ini semua terjadi karena ulah dirinya.


Hamid kembali menutup pintu kamar Lathifah dengan perlahan. Hamid menuju kamarnya dan merebahkan tubuh kekarnya di atas ranjang yang empuk tersebut.


Hamid memandangi setiap sisi kamarnya. Sebelumnya terdapat kehangatan yang menghiasi kamar milik dirinya dan Karim. Tapi, sekarang kamar ini terasa sangat sepi, bahkan lebih sepi dari kuburan.


Hamid mulai menutup netranya dengan perlahan. Kedua netranya sudah sangat berat. Kenapa tidak! Jam di dinding kamar Hamid sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Sinar surya sudah menampakkan wujudnya. Hamid masih tertidur dengan nyenyak di atas ranjang milik dirinya. Detik berikutnya, cahaya terik matahari pagi ini menyentuh kulit putih milik dirinya.


Hamid terbangun dari tidurnya. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hanya dalam bebrapa menit, Hamid sudah selesai mandi dan juga memakai pakaiannya.


Hari ini seluruh siswa bahkan pegawai pun lagi libur, karena kalender saat ini sedang merah alias ada sesuatu yang terjadi pada tanggal ini. Baik itu seperti Isra'mikraj, kenaikan Isa Almasih atau sebagainya. Hanya mereka lah yang tahu, karena Author hanya bisa menuliskan saja.


Seluruh keluarga Putra sedang berada di tempat makan. Mereka melangsungkan acara makan pagi bersama dengan sangat santai.

__ADS_1


Aulia menatap ke arah Hamid yang merasa sangat murung. Aulia merasakan ada sesuatu yang tidak baik-baik saja dengan sang abang.


"Abang, cenapa nacinya tidac dimamam?" tanya Aulia yang melihat Hamid hanya melamun.


"Ehh, iya Au," jawab Hamid sambil tersenyum ke arah sang gadis kecil dan memakan sarapan paginya dengan sangat lamban.


Karim dan Lathifah, mereka hanya melirik sebentar ke arah sang kakak. Entah kenapa mereka tidak mau berbicara sedikitpun dengan Hamid. Mereka juga tahu, bahwa masalah itu hanyalah masalah sepele. Tapi, kenapa kembarannya tidak memperbolehkan mereka ikut hari minggu yang lalu? Padahal setiap apa yang terjadi mereka selalu menceritakannya kepada sang kakak. Tapi, kakaknya malah menyembunyikan dari mereka.


Selesai sarapan, Hamid langsung menuju kamarnya tanpa berbicara sedikitpun kepada kedua orang tuanya. Hamid menaiki anak tangga dengan langkah besar.


Hamid berjalan menuju balkon kamar sambil membawa HP di tangan kanannya. Hamid mendudukkan pantatnya disalah satu kursi balkon kamar.


["Sayang, hari ini kamu kemana?" Chat wassap dari Lisa. ]


["Di rumah aja, Lis," jawab Hamid yang tak bersemangat. ]


["Hmmm, gitu ya?" ujar Lisa.]


Via chat pun off.


Hamid meletakkan HPnya di atas meja balkon, dan netranya melihat langit biru yang dihiasi awan-awan yang senantiasa membentuk gambar pada langit cerah ini.


"Abang, pelgi main yuk?" Aulia masuk ke dalam kamar Hamid tanpa sepengetahuannya, dan berdiri disamping Hamid sambil menengadahkan kepalanya pada lengan kekar sang abang.


"Abang lagi capek! Au," balas Hamid sambil mengelus kepala sang gadis kecil dengan sangat lembut.


"Yacudah, Lia main di cini caja cama Abang!" ucap Aulia yang beralih duduk berhadapan dengan sang abang.


Hamid hanya membiarkan apa yang akan dilakukan gadis kecilnya di balkon kamarnya. Hamid kembali menatap langit biru yang beberapa saat lalu terjeda dengan kedatangan sang gadis kecil. Hamid menatap langit dengan tatapan kosong.


Aulia memperhatikan sang abang tanpa berkedip sedikitpun. Ntah kenapa ia merasakan ada sesuatu yang disembuyikan Abangnya.


"Abang, kenapa Abang ngelamun gitu?" tanya Aulia yang berjalan ke arah sang abang. Aulia menyentuh tangan kekar Hamid untuk menyadarkan dirinya.


"Ahhhh, iya Au," Kaget Hamid karena sentuhan sang gadis kecil.


"Kenapa Abang ngelamun cih?" Aulia menaikkan salah satu alisnya untuk mendapatkan jawaban dari Hamid.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Aulia, setetes embun jatuh dari pelupuk mata indah milik Hamid. Air mata itu terus saja mengalir dengan sendirinya, tanpa mau berhenti.


Aulia yang menyaksikan itu langsung menghapus air mata sang abang yang terus mengalir menggunakan kedua tangan mungilnya.


"Abang, jangan nagic, Lia jadi cedih Abang," lirih Aulia yang juga meneteskan air matanya. Ia merasakan apa yang dirasakan HamidHamid saat ini.


"Hiks, Abang jangan nangic lagi ya?" Tangis Aulia yang berusaha membujuk sang abang.


"Iya Au, Abang ngak nangis lagi kok!" jawab Hamid sambil menghapus air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata indahnya. Dengan susah payah Hamid menahan agar air mata itu tidak juga mengalir. Tapi, hasilnya nihil.


"Abang kenapa macih nagic? Abang bilang Abang ngak akan nagic lagi?" lirih Aulia yang memeluk erat tubuh sang Abang dengan sangat tulus.

__ADS_1


TBC


__ADS_2