Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Mencoba berdamai


__ADS_3

Bella melebarkan senyumnya. Gadis itu sama sekali tidak ada rasa takut saat sang suami memanggil namanya dengan intonasi tinggi.


"Yaps, aku datang. Pak Avan mau minum apa? Kopi, teh atau susu?" tawar Bella.


"Lebih baik kau pergi dari sini. Tempat ini bukan taman bermain Bella," ketus Avan.


"Aku tahu kok. Sebagai office girl aku melakukan pekerjaanku dengan baik. Kalian sedang menghadapi masa genting dan aku hanya ingin kalian tetep tenang dengan minuman yang aku bawakan. Salahku di mana?" Bella berucap tanpa jeda.


"Salahmu datang ke perusahaan ini!" cetus Avan lalu meninggalkan ruang tim IT di ikuti Samuel.


Bella menatap punggung sang suami yang kini menghilang. Ia pun langsung meletakkan nampan yang berisi minuman.


"Pak Aldo? Apa bisa aku membantu menangani ini semua?" tanya Bella.


"Maaf, Bu. Anda tahu sendiri bagaimana Pak Avan. Saya tidak bisa membiarkan Anda begitu saja bermain di tempat ini. Kami akan menunggu hacker yang akan di sewa Pak Samuel untuk menangani virus yang menyerang jaringan kami," papar Aldo.


Aldo antara enak dan gak enak mengatakan kalimat tersebut. Semua orang tahu jika Bella adalah istri dari sang bos apalagi pernikahan mewah beberapa hari yang lalu diadakan dan mengundang semua karyawan. Hanya saja mereka tidak mengerti mengapa sang bos justru menjadikan sang istri karyawan di bagian office girl.


"Beri aku satu kesempatan untuk bisa membantu suamiku," ucap Bella memohon.


"Tapi Bu—"


"Aku akan bertanggungjawab jika ada masalah," sahut Bella memotong ucapan Aldo.


Aldo kini hanya bisa mengangguk, ia mempertaruhkan jabatan dan nyawanya hanya untuk mengabulkan permohonan gadis kecil istri dari sang bosnya ini.


Bella langsung mengambil posisi seperti yang dilakukan Avan tadi dengan menekan-nekan tombol keyboard dengan jari kiri dan kanannya. Satu persatu virus itu dibasmi Bella.


Bella sama sekali tidak kesulitan membasahi virus itu, sebab dulu ia sudah pernah melakukannya dan hal inilah yang bisa membuat ia bisa mengenal Livia.


Satu jam berlalu, Bella langsung mengendorkan otot-ototnya yang pegal terutama pada jari-jarinya hingga mengeluarkan suara retakan.


"Argh, akhirnya selesai," ucap Bella lalu menatap ke sekeliling.

__ADS_1


Empat anggota tim IT dibuat tercengang dengan apa yang sudah Bella lakukan apalagi kini monitor mereka sudah berubah dengan tampilan semula. Mall itu kini sudah tidak berisikan kumpulan barang dewasa yang memalukan.


"Apa tadi sebuah ledakan?" tanya Aldo pada anak buahnya.


"Iya seperti bom. Aku tidak percaya virus itu langsung hancur sampai akar-akarnya."


"Segera beritahu Pak Avan dan Pak Samuel," perintah Aldo.


Anak buah Aldo segera bergegas ke ruang Avan. Tak lama kemudian lelaki dengan sikap dingin itu langsung menuju ke ruang IT. Salah satu alis Avan terangkat saat melihat Bella yang kini duduk di kursi menghadap ke dirinya dengan mengangkat jari telunjuk dan tengah dilekatkan di dekat pipi tak hanya itu Bella juga tersenyum lebar.


"Kenapa dia masih di sini?" tanya Avan menunjuk ke arah Bella.


"Maaf Pak, sebenarnya Ibu Bella yang sudah mengatasi virus itu dan membuat tampilan aplikasi mall kembali normal," jelas Aldo.


"Apa?" Avan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Aldo. Jika dipikir-pikir dirinya yang lulusan terbaik universitas ternama tidak bisa menyelesaikan virus tersebut bagaimana bisa seorang Bella yang hanya gadis ingusan lulusan sekolah menengah atas bisa mengatasi masalah itu.


"Benar, Pak. Dan sesuai keinginan Bapak tadi, saya akan mengundurkan diri agar Ibu Bella yang menjadi ketua dari tim IT," ungkap Aldo dengan nada sendu.


"Aku tidak mau! Pak Aldo silahkan kembali ke kursi Bapak. Saya hanya sekedar main main di sini," ucap Bella kini berdiri tegap di samping Aldo berhadapan dengan Avan.


"Tapi, saya—"


"Dia benar, kau tidak perlu mengundurkan diri. Ajak dia masuk kedalam tim mu," sahut Avan memotong ucapan Aldo, lalu pergi begitu saja dari ruangan itu diikuti Samuel.


***


Avan yang baru sampai ruangan kini berjalan mondar-mandir, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Tidak mungkin!"


Samuel yang sejak tadi mengikuti Avan kini ia mendudukkan pantatnya di kursi lalu menatap Avan yang nampak gelisah.


"Sudahlah jangan kau pikirkan. Wajar saja Bella bisa melakukan itu. Meskipun dia lulusan sekolah menengah atas, tapi aku lihat akademiknya bagus. Dan untuk pelajaran komputer dia juga mendapatkan nilai sempurna," papar Samuel.

__ADS_1


Avan langsung melirik ke arah Samuel, "Sesempurnanya nilai pelajaran sekolah menengah atas apa bisa melakukan hal seperti itu? Kau pikir Bella segenis itu?"


Kedua bahu Samuel terangkat sembari berkata, "Mungkin saja."


"Sam, bisakah kau lebih baik lagi dalam menilai?" gerutu Avan.


"Aku pikir dia cukup baik. Pintar meskipun tak terlihat, kau tahu kan pergaulan jaman sekarang? Bisa saja dia mendapatkan ilmu itu secara otodidak," jelas Samuel.


Avan menghembuskan napasnya membenarkan setiap kata yang diucapkan Samuel.


"Sudahlah waktunya kau meminta maaf padanya karena sudah menilai dia buruk. Dia sudah menyelamatkan perusahaan ini," imbuh Samuel mencoba membuat Avan bisa menerima kenyataan dan bisa meminta maaf pada Bella.


"Tidak mungkin aku meminta maaf padanya. Memang apa yang sudah aku lakukan?" Avan kini ikut mendudukkan pantatnya di kursi kebesarannya.


Samuel sama sekali tidak habis pikir dengan pemikiran konyol sahabatnya ini. Sudah tahu perbuatannya tadi membuat harga diri Bella jatuh di depan karyawannya dan kini ia masih berkilah tidak melakukan apa-apa.


"Dia itu istrimu dengan kekayaan yang dia miliki terlebih juga dia pemegang saham perusahaan ini lalu kau menempatkan dia di bagian OG? Tidak hanya itu tadi kau juga membentak dia, tapi dia justru membantu dirimu menyelamatkan perusahaan ini. Kau tidak berpikir sampai kesana?" papar Samuel.


Avan berpikir sejenak benarkah dia sudah sejahat itu? Tapi apa yang ia lakukan bukankah sudah benar? Ia hanya ingin menjauhkan Bella dari sisinya. Namun, saat ini Bella juga sudah berjasa menyelamatkan perusahaannya.


Ayolah Avan tekan egomu untuk saat ini, mungkin berdamai dengannya akan mempermudah dirimu menjalani enam bulan pernikahan. Lagi pula kau juga sudah berhasil menghapus syarat poin nomor dua kan? Batin Avan.


"Untung kau lebih tua. Jadi aku bisa menerima saran dari pak tua ini," ucap Avan lalu meninggalkan Samuel guna menemui Bella.


"Apa pak tua? Avan!" seru Samuel yang tak dihiraukan oleh Avan.


Avan langsung menunjuk ke ruang IT, hanya saja di sana ia sama sekali tidak menemukan Bella.


"Kalian tau di mana Bella?" tanya Avan yang entah tertuju pada siapa.


"Tadi Ibu Bella bilang mau ke toilet, Pak," sahut salah satu orang yang berada di ruangan itu.


Avan hanya merespon acuh tak acuh seperti biasanya lalu pergi menuju toilet. Saat kaki jenjang Avan hampir sampai di toilet langkahnya terhenti saat ia mendengar suara Bella. Tak lama kemudian tangannya mengepal menahan amarah.

__ADS_1


__ADS_2