
Avan menatap manik mata Bella, berharap gadis itu tak lagi mempermainkan dirinya. Namun, alasan apa yang membuat Avan ingin mendengarkannya bahkan berharap tidak dipermainkan?
Dengan gaya khasnya memasukkan kedua tangan di saku celana Avan berkata, "Dua menit, aku beri kau waktu untuk menjelaskan."
Jantung Bella berdebar dengan kencang seharusnya ini tidak perlu ia katakan, agar cinta di hati Avan untuknya bukan karena rasa terima kasih. Namun, gadis itu juga tidak ingin kehilangan sang suami.
Bella menarik napasnya dalam-dalam lalu berkata, "Aku pergi harus merawat diriku karena sudah memberikan salah satu ginjalku untukmu."
Avan tanpa berekspresi langsung mendekat ke arah Bella. Kedua tangan lelaki itu keluar dari saku lalu mencengkram pundak Bella.
"Aku sama sekali tidak pernah menduga dari semua alasan kenapa kau mengatakan menjadi pendonorku? Apa dengan begitu aku akan langsung memujamu?
"Bel, aku rasa kau harus segera menemui dokter jiwa atau temui seorang lelaki yang bisa membuatmu menghilangkan obsesi mu terhadapku!" kecam Avan.
Bella menahan rasa sakit yang ditimbulkan dari cengkraman itu, dia masih bersikukuh jika apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran, "Aku sama sekali tidak berbohong!"
"Jadi kau pikir rumah sakit yang berbohong?" sahut Avan sembari menambah kekuatan dalam cengkeramannya berharap Bella tidak berbicara lagi.
Dalam kesakitan dan kebingungan dengan apa yang baru saja Bella dengar gadis itu sekali lagi berkata, "Aku tidak berbohong!"
Avan memejamkan matanya sebentar, nalurinya mengatakan Bella tidak berbohong, tapi bukankah itu bertentangan dengan dirinya? Sebab sebelum ia mengklaim Laudya adalah penolongnya ia sudah menyelidiki semuanya termasuk data rumah sakit. Apa ada kesalahan?
"Aku tidak peduli kau berbohong atau tidak, yang ingin aku katakan berhenti bersikap seperti ini karena aku merasa jijik." Avan melepas cengkeramannya lalu menatap Bella dengan tatapan penuh hina.
Bella yang diperlakukan seperti itu kini ia merasa tidak berdaya, lelaki yang ia puja, lelaki yang kini sudah sah menjadi suami nyatanya merasa jijik padanya. Bukankah hatinya harus memutuskan untuk mengakhiri hubungan dan cinta sepihak ini?
__ADS_1
Namun, gadis itu tidak menyerah ia justru bangkit dan akan mencari bukti jika dirinyalah yang pantas berada di sisi Avan bukan Laudya, jika memang cinta Avan karena sebuah balas budi.
"Iya, jika memang bukti rumah sakit menyatakan jika Laudya adalah pendonor itu yang kemungkinan ada kesalahan tentu saja Mama Rianti bisa menjelaskan ini semua," ucap Bella kini memiliki harapan.
Bella yang sejak tadi sudah ditinggal Avan seorang diri kini ia bangkit. Ia sudah tidak mempedulikan waktu yang ia tahu harus segera menemui Rianti malam ini juga.
***
17 Juni 2020, Rumah sakit X.
Dokter dengan jubah biru kini sudah siap untuk melakukan operasi. Ditatapnya tubuh dua pasien secara bergantian.
"Saya Dokter Fauzi, akan melaksanakan operasi cangkok ginjal dengan pasien bernama Avan Mahendra dengan pendonor bernama Arabella, siap untuk memulai," ucap Dokter Fauzi memberitahu pada timnya.
"Semua siap, obat sudah bekerja, tanda-tanda vit-al pasien semua normal."
"Dok, saya lihat keadaan pasien tidak bagus. Selain usianya masih muda terlihat juga ginjal satunya tidak terlalu bagus," ungkap sang asisten.
Namun, dokter itu seperti tidak peduli ia sudah memiliki janji dengan anak dan istrinya untuk segera merayakan ulangtahun sang anak. Baginya operasi cepat selesai akan lebih bagus.
"Kita sudah melakukan pemeriksaan dan semua hasilnya normal. Tidak perlu khawatir, aku akan segera menyelesaikan ini agar sepasang anak adam ini bisa menjadi pasangan dengan umur panjang," ucap sang dokter.
Sang asisten tidak banyak berkomentar ia hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan dokter itu.
Membutuhkan waktu 5 jam akhirnya operasi itu berjalan dengan lancar. Kini Bella dan Avan berada di ruang isolasi. Keadaan Avan berangsur membaik, tapi keadaan Bella semakin memburuk. Dokter pun melakukan pemeriksaan ulang dan mendapatkan hasil Bella mengalami infeksi dan perdarahan.
__ADS_1
Dokter pun langsung memberitahu Rianti tentang keadaan Bella yang harus segera mendapatkan pendonor ginjal sebab ginjal Bella sudah rusak.
***
Bella tepat pukul 00.00 wib sampai di rumah Rianti, ia pun langsung menuntut penjelasan dari sang mertua. Beruntung saja sang mertua selalu siap 24 jam untuknya. Saat ini Bella cukup syok dengan fakta yang baru ia ketahui.
"Jadi siapa yang mendonorkan ginjalnya untukku, Ma?" tanya Bella dengan mata berkaca-kaca.
"Laudya Margaretha!"
Sungguh lucu takdir yang kini dijalani Bella. Ia mendonorkan ginjalnya untuk lelaki yang ia puja dan kini hidupnya karena jasa dari kekasih dari lelaki itu. Bella tertawa terbahak-bahak namun matanya tak henti mengeluarkan air bening. Apa ini yang dinamakan kebahagiaan akan sejalan dengan kesedihan?
Rianti memeluk tubuh Bella yang kini melemah, ia tahu sang menantu terpukul dengan keadaan ini.
"Jadi itu alasan kenapa Mama menculiknya saat pernikahanku, tapi penculikan itu Mama justru memberikan dia liburan? Tapi kenapa Mama membencinya?" tanya Bella.
Rianti melepaskan pelukannya ia mengusap sisa air mata di pipi Bella, "Sayang, kau jangan menganggap dia seperti malaikat karena telah memberikan salah satu organnya padamu. Jujur Mama sudah membelinya seharga sepuluh milyar."
"Apa?"
"Iya, saat itu kekasih Laudya kecelakaan dan ia membutuhkan uang untuk operasi dan biaya untuk adiknya," jelas Rianti.
"Tapi kata Kak Avan, Laudya tidak memiliki saudara?"
"Itu yang membuat Mama tidak suka padanya, ia sudah membohongi Avan. Tapi ini semua salah Mama, karena Mama tidak ingin riwayat kesehatanmu dijadikan senjata oleh bunda Mutia agar tidak mendapatkan warisan itu, Mama menyuap petugas rumah sakit dan dokter untuk mencantumkan nama Laudya sebagai pendonornya dan membawamu keluar negeri," jelas Rianti tanpa kebohongan.
__ADS_1
Lagi dan lagi hidup Bella hancur karena ulah dari keluarganya sendiri. Iya, warisan itu kenapa seperti kutukan? Sejak kecil dirinya sudah diberikan rancun dengan setiap hari mengkonsumsi obat tidur. Dia dijadikan seperti putri tidur yang tidak akan pernah bangun, lalu di usianya 13 tahun beberapa pereman hampir saja melecehkan dan membunuhnya, Bella cukup yakin jika itu semua juga ulah dari sang ibu.
Namun, Bella tidak mempermasalahkan semua itu, karena rencana sang ibulah yang membuat ia bertemu dengan Avan yang ia yakini sebagai takdirnya, tapi sekarang? Dia bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Meskipun Laudya memberikan ginjal padanya karena uang, tapi bukankah ia tetep seperti malaikat?