
Bella terus menatap sang suami yang kini duduk di sampingnya. Perasaan gadis itu menjadi tidak karuan saat Avan melontarkan pernyataan mengakui dirinya sebagai seorang istri. Apa ini artinya Avan sudah mau menerima dirinya? Memikirkan itu semua tak bisa membuat Bella menghentikan senyumannya.
"Hem ... Bel, aku lihat kau bahagia sekali?" celetuk Yudha sang kakak pertama.
"Memangnya tidak boleh?" jawab Bella.
"Boleh saja. Tapi kau harus makan, lihatlah makananmu terus berteriak, kunyah aku, kunyah aku," Yudha memang tipe seorang Kakak yang suka bercanda dibandingkan dengan Agra yang selalu serius dalam setiap hal.
"Kak Yudha bisakah jangan berisik?" sahut Arga.
"Sudahlah ayo, kita segera makan sebelum masakan ini dingin," timpal Mutia yang langsung dijawab dengan anggukan oleh semua orang.
Bella yang duduk dekat sang ayah dan melihatnya tak berselera makan, gadis itu langsung mengambil beberapa makanan penutup, "Puding buah ini bagus untuk kesehatan Ayah. Dan Ayah harus menghindari makan berlemak seperti itu. Ah ... Siapa juga yang masak makan seperti ini akan aku tegur nanti!"
"Tentu saja para pelayan, tidak mungkin kau yang memasak. Aku ingat saat kau menyentuh dapur hampir saja terjadi kebakaran," sahut Yudha.
Avan melepaskan tawanya setelah mendengar ucapan dari sang kakak ipar, apalagi ingatan terakhir kali saat Bella membuat sarapan roti panggang gosong.
"Lihat tu suamimu aja ketawa," ledek Yudha melirik ke arah Avan, "Van bagaimana selama pernikahan apa kau pernah mencicipi masakannya?"
"Em ... Pernah dan rasanya lumayan enak, apalagi cokelat alaminya, ya kan Bel?" sahut Avan.
Bella yang disebut namanya ia langsung menyuapkan sepotong puding buah besar ke mulut Avan, membuat semua yang berada di sana tertawa dengan tingkah Bella kecuali Arga yang menganggap kejadian itu sebuah kekonyolan.
Tidak berlangsung lama makan malam itu telah selesai. Bella merasa kekenyangan ia langsung berpamitan pergi ke kamar. Sementara Avan kini sedang mengobrol dengan kakak dan ayah Bella.
"Van bagaimana bisnismu? Ayah dengar ratingnya bagus, banyak yang download dan memakainya," tanya Drajat memulai pembicaraan setelah beberapa saat hanya terdiam dan fokus pada benda pintar masing-masing.
"Lancar, Yah. Sebentar lagi kami akan meluncurkan fitur baru yang bisa mempermudah para pengguna untuk berbelanja. Mungkin platform kami menyediakan produk yang original jadi banyak pelanggan yang mempercayai kami," papar Avan.
"Bagus itu, Ayah doakan agar selalu berjalan lancar. Jika kau butuh bantuan bicara saja padaku," ucap Drajat yang langsung diberikan anggukan kepala oleh Avan.
"Yah, bagaimana penjualan produk mebel kita bekerjasama dengan platform Avan. Sepertinya akan lebih menguntungkan dan memperluas jaringan," usul Arga ikut menimpali.
"Ide bagus. Tapi Ayah rasa setelah Bella meluncurkan produk baru maka baru bisa bergabung. Untuk produk sekarang penjual offline Ayah rasa statistiknya cukup bagus jadi belum perlu," jawab Drajat memberikan pendapat.
__ADS_1
Arga merasa kecewa dengan pendapat sang ayah. Dirinya ingin memberikan kontribusi terbaik untuk kelangsungan perusahaan, tapi setiap tindakan yang ia jalankan selalu terhalang oleh sang ayah.
"De, jangan terlalu kau pikirkan. Keuntungan yang kita dapatkan saat ini sudah lumayan banyak. Bukankah kita harus sedikit bersantai," ucap Yudha sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Benar juga memang sepertinya aku harus bersantai dan menghabiskan sisa tabunganku." Arga langsung bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan ruangan obrolan itu.
"Sepertinya dia marah," ucap Yudha sembari menatap punggung Arga yang kini mulai menjauh.
"Biarkan saja. Nanti juga dia akan kembali seperti biasanya. Kita minum teh saja," ajak Drajat.
Ketiganya terus berbincang sembari menikmati secangkir teh dan beberapa cemilan. Avan sendiri merasa senang karena sejak dulu ia tidak pernah mendapat suasana seperti ini.
***
Kamar Bella.
Bella baru saja masuk ke dalam kamar, sepintas ia merasa ada yang aneh di dalam kamar itu.
"Kenapa ada bau seperti ini? Apa karena jarang dihuni jadi begini?" gumam Bella.
Tak lama kemudian dua pelayan masuk ke kamar itu.
"Kenapa kita malam malam harus bersihin kamar Nona Bella? Kadang nyonya aneh," gerutu pelayan berambut ikal.
"Udah jangan banyak bicara, selesaikan tugas kita. Lebih cepat selesai kita bisa lebih cepat istirahat," sahut pelayan berusia 30 tahun.
"Tapi bukankah aneh? Lihatlah kita masuk sini disuruh pakai masker. Tadi nyonya dan anaknya juga ke dapur memberikan cairan yang gak tahu apa itu masuk ke dalam minuman Den Avan," bebernya.
"Huss ... Jangan banyak bica—"
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Bella dengan nada cemas. Sejak tadi ia sudah berada di balik pintu kamar mandi dan mendengarkan percakapan dua pelayanan itu. Namun, saat ini keadaannya juga tidak terlalu bagus ia merasa sedikit pusing.
"Non Bella," ucap kedua pelayan itu dengan nada gemetaran. Apalagi Bella yang langsung membuka masker keduanya dan tak perduli apakah masker itu kotor atau tidak justru langsung dipakai Bella.
"Apa yang direncanakan Bunda?" tanya Bella. Namun, kedua pelayan itu hanya diam. Tak ingin terjadi sesuatu dengan Avan gadis itu langsung bergegas pergi menghampiri Avan.
__ADS_1
Bella terus memegang kepalanya yang kini berdenyut nyeri. Bola matanya membelalak saat melihat Avan yang kini duduk di sofa sedang memejamkan mata.
"Ka — Kak Avan," Bella menepuk-nepuk pipi Avan agar lelaki itu membuka matanya. Namun, hasilnya nihil.
"To—tolong," teriak Bella dengan ekspresi cemasnya. Namun, tidak ada satu orangpun yang datang menolongnya.
Tak lama kemudian Mutia berjalan menghampiri Bella yang kini sedang panik.
"Bel, Avan Kenapa? Ayo, segera bawa ke kamarmu," perintah Mutia.
Bella kini dikuasai emosi, lelaki yang ia cintai dibuat seperti ini apa ia harus diam saja? Tidak! Bella langsung menyingkirkan tangan Mutia yang kini memegang Avan.
"Jangan sentuh dia! Aku bisa terima jika kau menyakitiku, tapi setelah kau membuat ibuku meninggal dan sekarang kau menyentuh Kak Avan, aku tidak akan diam!" ucap Bella dengan nada menggebu-gebu.
Mutia terkejut tapi keterkejutannya itu ia balut dengan tawa yang melebar, "Wah, aku tidak percaya jika gadis kecilku ternyata tahu semua. Ahhh ... Jadi aku tidak perlu berpura-pura lagi."
Bella langsung menatap tajam ke arah wanita paru baya dihadapannya itu, sepintas ia juga melihat ke sekeliling di lantai dua ada sang ayah dan kakak hanya diam seperti menonton pertunjukan.
"Iya, kau tidak perlu berpura-pura lagi. Dan bersiaplah hidup sebagai gelandangan!"
Mutia mengulurkan tangannya bermaksud untuk mengusap lembut rambut Bella seperti biasa. Namun, gadis itu langsung menghindar.
"Kau menghindar? Kau tidak rindu dengan kasih sayangku? Aku beritahu, dari pada otak kecilmu itu berpikir untuk membuat kami, keluarga Drajat hidup menjadi gelandangan. Bukankah kau seharusnya lebih mengkhawatirkan lelaki itu?" Mutia memperingatkan Bella akan keadaan Avan.
Bella langsung memfokuskan pandangannya pada Avan yang terlihat sudah lemah, tidak hanya itu wajah lelaki itu juga terlihat merah.
"Kau, apa yang kau lakukan?" tanya Bella.
"Apa yang Bunda lakukan sekarang mungkin akan menjadi jalanmu bisa bersama dengannya selamanya, jadi kau tidak perlu khawatir dengan wanita simpanan Avan yang kini berada di rumah dan pernikahanmu yang hanya berlangsung selama enam bulan. Ingat sayang, jadilah ibu rumah tangga yang baik jangan ikut campur masalah perusahaan. Biarlah perusahaan itu kakakmu yang mengurusnya," jelas Mutia.
Bella terdiam mencerna semua perkataan Mutia. Namun, benaknya sama sekali tidak bisa memikirkan apapun. Apalagi saat ini ia melihat Avan yang gelisah sembari berucap, "Panas, panas, panas!"
"Lihatlah, suamimu sepertinya sudah minta diobati. Kau mau aku bantu membawanya ke kamar dan kalian bisa menikmati malam bersama?" tawar Mutia dengan senyum licik.
Bella mengepalkan tangannya erat, ia tidak menggubris ucapan Mutia. Justru tubuh kecil itu langsung menarik tangan Avan meletakkan di pundak dan mengangkatnya.
__ADS_1
Kau akan mendapatkan balasannya. Akan aku pastikan itu! ancam Bella namun ancaman itu tentu tidak ia lontarkan hanya dikatakan di dalam hatinya.