
"Kalian tidak mau jawab?" ulang Drajat saat kedua anaknya hanya diam saat ditanya.
"Ayah, kau dan aku itu sama. Kenapa harus marah marah dengan hal yang tidak penting? Apa yang aku dan Arga rencanakan tentu untuk masa depan keluarga kita," jawab Yudha dengan santainya.
Drajat langsung mendekati Yudha, tangan yang tadi bertautan langsung terlepas dan melayang tepat di pipi sebelah kanan lelaki itu.
"Kau melakukan hal menjijikkan dan kau bilang ini untuk kelangsungan keluarga? Omong kosong apa yang kau bicarakan!" bentak Drajat.
Yudha mengelus pipinya yang kini terasa kebas. Meskipun Drajat sudah menua tapi tidak bisa ia pungkiri jika kekuatannya masih kuat.
"Ayah, bisa berhenti? Apa salahnya dengan apa yang kita lakukan? Bukankah kau juga menginginkannya?" sahut Arga saat Yudha tak lagi bersuara.
"Kau juga ingin mendapatkan tamparan itu?" tanya Drajat.
"Apa kau juga akan memukulku? Apa yang kita nikmati saat ini sejak awal sudah salah, jadi jangan bersikap seolah apa yang kita lakukan adalah hal yang menjijikkan! Ingat, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya," tutur Arga dengan nada menggebu-gebu membuat Drajat kini hanya diam.
Namun, di menit berikutnya lelaki paru baya itu membuka mulutnya kembali, "Karena hal yang pernah aku lakukan lebih dari kata menjijikkan aku ingin mengakhirinya."
"Dengan mempertaruhkan hidup kita menjadi gembel? Tidak Ayah!" Yudha menolak mentah-mentah keinginan sang ayah. Tanpa ingin berdebat lagi ia langsung mengajak Arga masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
"Yudha, Arga!" Suara Drajat memekik memanggil nama kedua anaknya, tapi tidak seorang pun memperhatikannya.
Kejadian barusan tentu saja tidak luput dari penglihatan Mutia. Wanita itu tersenyum puas dengan apa yang kini dilakukan oleh anak-anaknya. Sesaat kemudian Mutia langsung menuruni anak tangga menghampiri sang suami.
"Apa aku bilang, anak anak tidak akan terima dengan kejadian semua ini. Biarlah semua berjalan sesuai garis takdir," ujar Mutia.
Drajat yang tadinya membelakangi Mutia ia langsung memutar tubuhnya menghadap sang istri.
"Sebagai seorang ibu, bukankah kau seharusnya membimbing anak anak kejalan yang benar? Mereka tidak perlu mengikuti jejak kita. Aku selama ini berjuang keras agar kedua anak lelaki kita mendapatkan pendidikan dan pengalaman pekerjaan agar mereka bisa menjalani kehidupan dengan benar, tapi apa sekarang? Kau justru mendukung perbuatan seperti ini!" ungkap Drajat yang sudah tidak bisa membendung keinginannya sejak dulu.
__ADS_1
Mutia bukannya tersentuh dengan ucapan Drajat, justru kini kedua telapak tangan itu menyatu hingga menimbulkan bunyi tepuk tangan.
"Selama ini aku diam, karena aku tidak ingin banyak berdebat denganmu. Aku juga tau jika selama ini Bella selalu selamat dari ambang kematian karena campur tanganmu. Kau pikir aku tidak tau jika selama ini kau juga menyukai Mawar? Ck, sebagai seorang lelaki kau amat sangat tidak berguna melimpahkan segala sesuatu padaku. Jika sejak dulu Bella sudah tidak ada di dunia ini, anak anak kita tidak akan terjerumus dalam dendam dan konspirasi seperti ini kan? Lalu sekarang siapa yang salah?" Mutia tidak kalah emosi saat mengungkapkan apa yang selama ini ada di dalam hatinya.
Banyak yang memandang rumah tangga Drajat bersama dengan Mutia sebagai panutan karena terlihat begitu harmonis tanpa ada masalah, tapi nyatanya semua itu hanya sebagai sandiwara untuk bisa menutupi luka masing-masing.
"Intinya masih sama, jika kau bisa mengendalikan mereka tanpa mendukung pasti ini semua tidak akan pernah terjadi!" Drajat langsung pergi meninggalkan Mutia yang kini masih terpaku di tempat dengan napas tersengal-sengal.
***
Gedung pencakar langit berdiri menjulang tinggi, sinar mentari pagi terpantul begitu menyilaukan. Avan baru saja sampai di perusahaan yang beberapa saat lalu ia abaikan.
"Aku rasa akan ada hujan badai," celetuk Samuel saat ia mendapati Avan sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Kau tidak suka aku masuk kerja? Atau selama aku tidak peduli dengan perusahaan ini kau melakukan sesuatu di belakangku?"
Samuel bergidik ngeri, hanya satu hari tidak ketemu dengan lelaki itu kenapa sekarang sifat dinginnya kembali lagi? Atau memang alasan Avan masuk kerja karena sedang ada masalah dengan Bella?
"Aku rasa ancaman sebelumnya belum cukup. Apa perlu aku tambah?" ancam Avan kembali.
"Tidak masalah! Lagi pula istrimu siap menampungku," ucap Samuel dengan hati berbunga-bunga. Setidaknya jika ia ditampung Bella bekerja di perusahaan AD grup ia bisa terus bersama dengan Livia.
Avan langsung beranjak dari kursi yang sejak tadi ia duduki, kaki jenjang lelaki itu berjalan ke arah Samuel dengan mata melotot tajam ia bertanya, "Apa kau serius?"
Lemah sudah pertahanan Samuel, ia pun perlahan-lahan duduk di kursi sembari mengangkat kedua tangannya bermaksud untuk menghentikan Avan.
"Sudahlah aku hanya bercanda. Aku hanya tidak menyangka kau datang berkerja sepagi ini, apa ada masalah?" tanya Samuel.
Mendengar pertanyaan Samuel, Avan langsung mengingat tentang Bella. Sang istri dari kemarin hingga pagi ini tidak ingin berbicara padanya. Frustrasi? Tentu saja, kini Avan langsung menyugarkan rambut pendeknya ke belakang, sebagian pantatnya ia dudukan di meja agar lebih dekat dengan Samuel yang kini melihat dirinya.
__ADS_1
"Bella marah padaku," ucap Avan pada akhirnya.
Tawa tertahan terlepas begitu saja dari bibir Samuel, entah mengapa saat melihat Avan seperti ini dunianya seperti surgawi.
"Kau tertawa? Kau pikir lucu?" cecar Avan tidak terima.
"Wajahmu terlihat menyedihkan dan aku suka itu," Samuel tertawa terbahak-bahak.
"Sialan kau!" Satu pukulan kecil langsung mendarat di pundak Samuel.
"Lagian kalau kau ada masalah segera selesaikan bukan datang bekerja seperti ini. Apa kau pikir dengan bekerja kau bisa meluluhkan hati Bella?" sahut Samuel.
"Sam, dia tidak ingin bicara padaku. Bagaimana bisa aku menyelesaikan masalah? Jika aku bicara sama saja aku bicara dengan tembok," ungkap Avan sembari berjalan menuju ke kursinya kembali.
Samuel langsung menjentikkan jari telunjuknya dan ibu jari, "Bagaimana jika kau berikan dia hadiah saja. Bukankah dimana-mana wanita itu sama? Akan luluh jika diberikan hadiah?"
Avan seperti mendapatkan jalan agar bisa berdamai dengan Bella, ia pun langsung merespon ide Samuel, "Lalu apa yang harus aku berikan?"
"Ck, mana aku tau. Kau suaminya kan harusnya kau tau apa yang ia suka dan tidak," ucap Samuel.
"Apa yang dia suka dan tidak?" gumam Avan. Lelaki itu langsung memegang kepalanya yang kini terasa berdenyut nyeri, selama ini ia bahkan tidak tahu apa yang Bella suka, bagaimana bisa ia memberikan hadiah?
"Aku tidak tau apa yang ia suka. Tapi dulu saat bersama dengan Laudya, jika aku memberikan uang bulanan atau perhiasan, meskipun semarah apapun wanita itu dia langsung memaafkan aku," ucap Avan kembali.
Samuel langsung menggelengkan kepalanya, "Itu artinya Laudya wanita matre. Apa sekarang kau pikir Bella sama dengan Laudya?"
"Bukankah katamu wanita sama saja?"
"Iya, tapi selera tentu saja beda. Ah, aku jadi berpikir sepertinya dulu selera Bella sangat rendah, makanya dia dapatkan lelaki seperti dirimu," ejek Samuel.
__ADS_1
"Samuel! Bosan hidup kau!"
Samuel hanya bisa tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi, membuat Avan hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam dan ingin sekali lagi memberikan sebuah tinjauan pada lelaki itu. Namun, keinginan Avan ia urungkan saat seorang wanita kini masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi.