
Avan langsung menarik satu alisnya, sungguh berhadapan dengan anak kecil dengan pemikiran kotor benar-benar membuat ia muak.
Jari telunjuk Avan sebelah kanan mengikuti lekuk wajah Bella, tapi tak menyentuh kulit mulus gadis itu. Di menit berikutnya wajah Avan mendekati wajah Bella.
Jangan ditanya lagi bagaimana kini jantung Bella ingin memberontak karena berdebar kencang. Otak Bella benar-benar sudah membayangkan jika Avan akan mencium dirinya. Namun, sayangnya semua tak sesuai ekspektasi Bella.
Wajah Avan yang tadi mendekat langsung tertuju di telinga Bella.
"Singkirkan pikiran kotor yang berada di otakmu itu, Rubella. Sebagai istri yang baik bukankah kau harus mengemas pakaian suamimu untuk pindah besok?" ucap Avan tepat di telinga Bella lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Bella.
Jemari Bella mengepal sembari meniup poninya, "Akan aku tunjukkan bagaimana pikiran kotorku ini."
Beberapa menit berlalu Avan keluar dari kamar mandi, lelaki itu menundukkan kepalanya agar menyembunyikan senyum licik yang sejak tadi tercetak di bibirnya. Avan sudah membayangkan bagaimana gadis manja itu akan membuat keributan saat mengemas koper.
"Kak Ah ... van."
Gendang telinga Avan merasa geli saat mendengar suara mendayu yang sudah ia pastikan pemiliknya adalah Bella. Kepala lelaki itu langsung terangkat dan tertuju ke arah suara. Bola mata Avan membulat sempurna saat melihat Bella menggunakan dress lingerie berwarna merah muda dengan posisi menggoda di atas ranjangnya.
"Rubella, ganti bajumu!" ucap Avan sembari mendekat ke arah Bella.
Bella menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak perintah Avan. Gadis kecil itu justru memajukan bibirnya guna menggoda Avan dengan ciuman jarak jauh.
"Kau tidak mau ganti baju?" ulang Avan sembari berkacak pinggang.
Bella menarik tangan Avan dan berakhir kini tubuh Avan benar-benar hanya berjarak beberapa centi dari tubuh Bella.
"Kata Kakak tadi mau menikmati malam pertama. Yuk, Bella sudah siap."
Sabar Avan, sabar. Meskipun Bella menggoda ingat masih ada Laudya, batin Avan.
Avan ingin segera mengakhiri tindakan Bella yang sukses memancing hormon libidonya. Lelaki itu kini memberikan senyuman manis pada sang istri. Namun, tangannya menarik bad cover dan langsung menggulung tubuh Bella seperti lemper, beruntung kepala gadis itu masih terlihat.
Bella yang digulung terus memberontak, "Kakak lepas!"
"Jangan sampai pikiran kotormu juga aku gulung di mesin cuci!" Avan mendorong Bella hingga jatuh ke lantai, "malam pertama yang indah kan, Rubella."
__ADS_1
Bella melihat sang suami seperti mendapatkan kemenangan tidak hanya itu Avan justru kini merebahkan tubuhnya dengan rileks di atas ranjang.
"Kakak gak mau ngelepasin aku?" tanya Bella.
Avan yang tadi merebahkan tubuhnya di ranjang kini langsung melihat Bella yang berada di bawah sembari menggelengkan kepalanya.
"Mama, tolong Kak Av—"
Ucapan Bella terhenti sebab Avan langsung melemparkan bantal ke wajahnya.
***
Kaki Bella kini sudah berdiri tegap di halaman rumah yang akan ia tempati bersama dengan Avan selama enam bulan. Gadis kecil itu menarik napasnya dalam-dalam, ia tahu Avan mengajak ia pindah tentu saja ada maksud tersendiri. Hal itu terbukti saat sang mertua menawarkan seorang pembantu untuk bisa mengurus rumah langsung di tolak Avan.
"Bagaimana kau suka dengan rumah yang akan menjadi saksi permainan rumah tangga ini?" tanya Avan.
Avan menatap rumah berlantai dua yang bisa dibilang cukup luas. Harusnya rumah itu menjadi tempat dirinya dan Laudya saat menikah nanti, ia juga sengaja mendesain rumah itu sesuai dengan rumah impian Laudya.
"Cukup bagus. Bella suka," jawab Bella tersenyum sumringah guna bisa melepaskan beban yang sejak tadi ia pikirkan.
"Cerita, tentu saja." Bella menunjukkan ekspresi antusias.
"Rumah ini aku bangun beberapa bulan yang lalu, rumah impian Laudya. Dia dan aku sudah memiliki rencana akan memiliki anak yang cantik dan tampan terus bermain di halaman ini. Lalu di sana." Avan menunjuk ayunan kayu, "aku dan dia akan memperhatikan anak-anak kami."
Bella membeku di tempat, awalnya ia ingin menahan rasa sesak yang kini memenuhi dadanya. Namun, sekuat dirinya menahan rasa sesak justru ia semakin terluka bahkan sangat sulit untuk bernapas.
"Kau terluka? Kau merasa sakit hati? Jika ia lebih baik kau segera mengakhiri," ejek Avan saat melihat mata Bella mulai berkaca-kaca.
Mendengar ucapan Avan, Bella langsung meniup poninya lalu tersenyum manis di hadapan Avan.
"Ya, aku merasa sakit dan sedih hingga membuat mataku berkaca-kaca. Karena cerita Kakak sangat menyedihkan. Astaga, bagaimana ini? Mimpi Kakak itu harus tertahan selama enam bulan. Ah, aku hanya bisa berdoa agar Kakak tidak jatuh cinta padaku, jika ia aku pasti akan meruntuhkan rumah ini lalu mendesain ulang seperti rumah berbie," sahut Bella langsung melangkah ke arah beranda rumah.
Avan yang kesal ia langsung mendahului Bella dan masuk ke dalam rumah. Bella yang berada di belakang terus mengikuti langkah Avan. Namun, saat keduanya sudah berada di dalam, ponsel Avan berbunyi menampilkan nomor sang asisten pribadinya, Samuel.
"Ada apa?" tanya Avan setelah menggeser tombol hijau.
__ADS_1
"Ini aku. Kau, kau, benar benar sudah menikah?"
Rasa kesal Avan saat bersama dengan Bella kini terobati seketika saat mendengar suara Laudya. Namun, hal yang tak bisa ia jawab adalah saat Laudya mempertanyakan tentang pernikahan dirinya.
"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Sekarang kau di mana?"
Setelah mendapatkan informasi keberadaan Laudya, Avan langsung bergegas pergi meninggalkan Bella di rumah itu sendirian.
Bella sama sekali tidak mencegah Avan, ia sangat tahu jika lelaki itu begitu merindukan sang kekasih, meskipun hatinya terus terluka dia mencoba untuk tetep diam dan tenang sembari memegang pinggang sebelah kirinya yang sedikit nyeri.
***
Di sebuah kafe seorang wanita dengan gaun selutut kini duduk dengan anggun menunggu sang kekasih. Iya, beberapa saat yang lalu Laudya baru saja tiba di Indonesia.
Laudya berharap jika Avan masih menunggu dirinya. Namun, saat ia baru tiba dan mencari Samuel justru ia mendapatkan kabar jika Avan sudah resmi menjadi seorang suami.
"Sayang," panggilan itu sukses membuat Laudya mengalihkan perhatian ke sosok lelaki yang kini berada beberapa meter darinya.
"Kau masih memanggilku dengan sebutan sayang. Sedangkan status kau sudah berbuah!" ketus Laudya yang kini kembali memfokuskan pandangannya kearah depan.
Avan langsung memeluk tubuh Laudya dari belakang meskipun terhalang oleh kursi, "Maaf, maafkan aku. Aku janji ini semua tidak akan berlangsung lama. Kita dapat melanjutkan kembali impian kita."
Laudya melepaskan tangan Avan yang melingkar di bahunya, "Apa maksudmu? Kau akan bercerai?"
Avan mengangguk, "Iya, aku akan segera bercerai dengan Bella. Kami sudah membuat keputusan akan bercerai setelah enam bulan."
"Van, apa kau sedang mempermainkan ku? Enam bulan itu waktu yang lama, apa pun bisa terjadi. Lalu jika kau menyentuh wanita itu apa kau akan tetep bercerai?" tanya Laudya dengan kesal.
"Sayang, kau sangat tahu hidupku ini hanya untukmu. Aku tidak mungkin akan menyentuh Bella saat salah satu organ tubuhmu ada padaku," jawab Avan.
Dua tahun yang lalu, setelah Avan keluar dari rumah sakit ia mencari tahu pendonor ginjal untuknya. Ia sama sekali tidak menyangka jika pendonor itu adalah Laudya seorang model papan atas. Akibat dari donor ginjal itu Laudya langsung diberhentikan dari dunia modeling karena bekas luka di tubuhnya. Saat itu juga Avan langsung memutuskan untuk menjaga Laudya.
"Kau yakin?" tanya Laudya.
Melihat Avan dengan tegas mengangguk. Laudya tersenyum sumringah bagi Laudya tidak apa-apa hanya enam bulan saja ia akan membiarkan Avan bersama dengan Bella. Dengan begitu uang bulanan yang diberikan Avan tidak akan pernah berhenti jika ia masih dianggap sebagai kekasih.
__ADS_1