
Dua hari berlalu sejak Bella mengetahui fakta tentangnya, ia langsung pergi dari rumah.
Gadis itu kini seperti kehilangan semangat untuk hidup. Apa lagi saat ia
berulang kali melirik ke arah ponsel tidak ada tanda-tanda sang suami menghubungi dirinya.
"Bel, sampai kapan kau akan tetap begini?" tanya Livia.
Iya, Bella dua hari ini menginap di apartemen milik Livia, menurut Bella tidak ada tempat lagi yang bisa ia kunjungi selain tempat tinggal sahabatnya itu.
Bella tidak menggubris pertanyaan Livia yang kini mendekati dirinya sembari membawa segelas minuman. Gadis itu justru tertarik untuk memegang ponselnya, lalu bertingkah seperti orang yang sedang mencari sinyal.
"Liv, apartemen ini masih di dalam ibu kota kan? Bukan di pedalaman kan?" tanya Bella.
"Kau pikir?"
Bella langsung memanyunkan bibir dan menurunkan tangannya yang tadi berada di atas kepalanya sembari memegang ponsel.
"Mungkin hapeku sedang bermasalah. Banyak virusnya tolong benerin, Liv," perintah Bella.
Livia menghela napas panjang lalu ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Bella. Hal itu tentu saja membuat Bella langsung senang, ia berpikir itu telepon dari Avan. Namun, ia kembali memasang ekspresi muram.
"Bagaimana, apa masih banyak virus itu hape?" tanya Livia menyeringai lebar.
Bella langsung meletakkan ponselnya kembali di atas meja. Mengambil minuman yang dipegang Livia.
"Kira kira Kak Avan lagi apa ya? Apa dia bahagia saat aku tidak menggangunya?" gumam Bella sembari menenggak minuman itu.
"Em ... Aku rasa mereka sedang memadu kasih dan sebentar lagi surat cerai kalian akan datang," cetus Livia membuat Bella langsung menyemburkan minuman tepat di muka Livia.
"Arabella!"
"Syukurin!" sahut Bella sama sekali tidak merasa bersalah.
Livia ingin sekali membalas perbuatan Bella, tapi dengan kondisi sang sahabat saat ini tentu saja ia tidak akan berani, "Bel, kalau belum yakin kau bisa menemui Laudya kan. Lagi pula wanita itu hanya butuh uang untuk menghidupi kekasih dan adiknya. Bukankah kau bisa menggunakan itu sebagai senjata?"
"Liv, kau pikir aku akan tega?"
__ADS_1
"Itulah kau, mau jadi jahat tapi nanggung. Kebanyakan mikir kau tentu akan kalah," peringat Livia.
Bella sejenak memikirkan semua perkataan Livia, haruskah ia menjadi seorang yang licik hanya demi mendapatkan pujaan hatinya? Lalu jika ia sudah mendapatkannya apa ia akan bahagia?
"Baiklah aku akan menemui Kak Laudya," putus Bella.
"Kau yakin mau melakukannya?" tanya Livia meyakinkan.
"Iya, aku akan melakukannya. Ini pengorbananku untuk yang terakhir kali agar aku bisa hidup," ucap Bella dengan sendu.
"Kau berkata seperti itu seperti malaikat. Padahal mau jadi—" Livia memotong ucapannya ia kini buru-buru mencari alasan agar tidak mendapatkan amukan dari Bella, "perutku mulas aku ke kamar mandi. Jika kau butuh bantuan hubungi aku."
Di sisi lain, Avan seperti robot berjalan. Hidupnya dua hari ini ia habiskan untuk bekerja dan menjaga Laudya. Namun, ia sama sekali tidak senang rasanya ada yang hilang.
"Van, tim IT bilang belum bisa menyelesaikan program baru kita. Karena program itu Bella yang menghadel," ucap Samuel memberikan laporannya.
Avan yang tadi berkonsentrasi dengan dokumen ia langsung melempar dokumen itu. "Lalu apa yang mereka kerjakan selama dua hari ini? Apa mereka akan menunggu Bella kembali? Jika mereka tidak bisa bekerja lebih baik kau pecat saja!"
Samuel hanya bisa tersenyum ia paham dengan sikap bosnya ini jika sedang dalam masalah atau tekanan memang sifatnya akan berubah 180 derajat.
"Jika kita memecat mereka semua. Apa kita harus bekerja lembur?" ucap Samuel menambah beban masalah.
Samuel langsung menjentikkan jarinya, "Kalau begitu hubungi Bella suruh dia masuk dan jangan melibatkan masalah pribadi dalam pekerjaan."
"Kau berbicara seperti itu apa sedang menyindir? Anak manja itu yang melibatkan masalah pribadi kepekerjaan," sahut Avan.
"Aku tidak bilang begitu? Ini sangat aneh kapan aku menyindirmu?"
Avan terbatuk-batuk saat Samuel mengucapkan kalimat itu. Bodohnya ia kenapa harus berkata demikian, "Sudahlah biarkan anak manja itu bersikap sesuka hatinya. Lebih baik kita segera mencari solusi. Tapi aku ke rumah sakit dulu, hari ini Laudya sudah bisa pulang."
"Kau pergi lagi?" tanya Samuel tapi tidak mendapatkan respon dari Avan. Lelaki itu terus melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan.
"Bos sinting! Tau gitu aku tidak perlu pura pura polos!" Samuel mengepalkan tangannya ke udara.
***
Bella baru saja sampai di rumah sakit. Kaki jenjang gadis itu langsung melangkah menuju ruang di mana Laudya dirawat.
__ADS_1
Bella langsung membuka ruangan itu dan melihat Laudya sedang sibuk dengan benda pintar miliknya.
Sementara Laudya langsung meletakkan ponselnya saat melihat Bella berjalan ke arahnya, "Wah, dua hari menghilang kau terlihat sangat kurus!"
Bella tersenyum mendengar ucapan Laudya yang seperti menyindir dirinya. Gadis itu dengan sikap tenang duduk di bangku samping kanan Laudya.
"Aku rasa Kakak sudah sehat. Kapan bisa pulang?" tanya Bella mengalihkan topik pembicaraan.
"Kau bertanya seperti itu seolah olah peduli denganku, tapi aku akan mengatakannya. Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang dan ini semua berkat Avan suami sementara kau yang sudah merawatku dengan baik," ucap Laudya.
Gadis itu tersenyum sembari mengamati wanita di hadapannya. Bella terus berpikir kenapa salah satu organ tubuh wanita licik di depannya ini ada padanya? Apa semua tidak bisa ditukar kembali?
Bella ingat tujuannya saat ia datang menemui Laudya. Ia ingin membiarkan wanita itu terus berhubungan dengan Avan dan ia akan mengalah, tapi melihat Laudya tidak akan mudah melepaskan dirinya, Bella memutuskan untuk berperang sekali lagi.
"Kau tersenyum?" tanya Laudya.
Bella menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Aku ada hadiah kecil untuk Kakak."
Melihat Laudya menanti hadiah darinya. Bella langsung mengambil ponsel miliknya lalu menelpon seseorang, tidak membutuhkan waktu lama video call itu kini tersambung.
"Hai, teman. Apa kabar hari ini?" Bella melambaikan tangannya menyapa seseorang di seberang sana.
"Aku baik, di sini cuaca sangat dingin," sahut seorang lelaki dari seberang.
Laudya sangat kenal dengan suara itu, dahi wanita itu mengeluarkan butiran-butiran air, padahal AC dalam ruangan sangat dingin.
"Teman, sesuai janjiku sekarang aku berada di ruangan Kakakmu. Tapi kau tidak perlu khawatir dia sudah membaik hari ini boleh pul—"
Bella belum selesai berbicara Laudya langsung mengambil ponsel itu. Sekilas Laudya melihat wajah dalam ponsel itu yang memang benar adalah adiknya tak lama kemudian ia langsung mematikan sambungan.
"Kok dimatiin Kak? Aku kira Kakak suka dengan hadiah dariku." Sudut bibir Bella tertarik saat melihat wajah Laudya mulai panik.
"Aku peringatkan jangan sentuh dia!"
"Aku mana berani," sahut Bella dengan sikap acuh tak acuh.
Benak Laudya sudah berpikir macam-macam, jika Bella mengetahui tentang adiknya apa ia juga mengetahui tentang rahasianya? Jika ia ini semua tidak bisa dibiarkan. Mau tidak mau Laudya harus cepat bertindak membuat Bella benar-benar berpisah dengan Avan.
__ADS_1
Hal yang dinantikan Laudya datang juga, pintu masuk ruang rawatnya tidak tertutup dan di sana baru saja datang lelaki tampan, Avan. Laudya langsung menarik tangan Bella guna menyentuh pipinya.