
Bella berjalan dengan susah payah sembari memapah Avan. Sesekali Bella melirik ke wajah Avan yang kini bersemu merah, lelaki itu terlihat seperti orang yang tengah jatuh cinta.
"Kak, sadarlah! Kita pulang," ucap Bella saat keduanya sudah sampai di dekat mobil. Bella menyadari jika ia saat ini tidak memegang kunci.
"Kak di mana kunci mobilnya?" Tidak ada respon Bella langsung merogoh saku celana Avan.
Avan yang kini sudah terpengaruh obat ia merasa sentuhan Bella rasanya sangat dingin dan membuat ia tidak kepanasan lagi. Lelaki itu pun berdiri dengan tegap lalu di menit berikutnya kedua tangannya memegang kedua pipi Bella.
Pandangan Avan terfokus pada bibir tipis berwarna merah muda milik Bella. Hormon libido lelaki itu terus naik pesat, tanpa banyak menunda waktu Avan langsung membungkuk dan menempelkan bibirnya pada bibir Bella.
Bola mata Bella membelalak ia tidak percaya Avan mencium dirinya dengan keadaan seperti ini. Namun, tubuh Bella meskipun diam ia juga menikmatinya, apalagi sedikit banyak ia juga terkena obat itu.
Cukup lama kedua bibir itu menempel hingga Bella yang sadar jika apa yang kini diperbuat tidaklah benar ia langsung mendorong tubuh Avan hingga bersentuhan dengan pintu mobil.
"Kau mendorongku? Apa kau tau aku ingin tetep berada di pelukanmu dan mencium mu!" Avan bangkit lagi dan berlari kearah Bella lalu memeluk tubuh kecil itu, "seperti ini sangat nyaman."
"Kakak jangan bercanda! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bella sembari berusaha melepaskan diri.
"Yang terjadi saat ini aku hanya ingin berada didekatmu dan ingin segera memakanmu," jawab Avan sedikit melantur.
"Obat apa yang sebenarnya Bunda berikan padaku dan Kak Avan? Kenapa dia seperti orang mes-um?" gumam Bella ia pun langsung melepaskan pelukan dan membuka kunci mobil lalu memasukkan Avan ke dalam.
Setelah memastikan Avan sudah duduk dengan nyaman Bella langsung menutup pintu mobil, gadis itu meniup poninya sebab kini ia merasa pusing apalagi setiap sentuhan Avan langsung membuat tubuhnya meremang.
"Apa aku harus menelpon dokter Dika? Tapi nomornya ada pada Kak Avan," gumam Bella putus asa.
Setelah memikirkan semuanya, gadis itu akhirnya menarik napasnya dalam-dalam lebih baik ia membawa Avan pulang mungkin Laudya bisa membantunya.
Namun, di sepanjang jalan Bella yang belum terlalu mahir menyetir dan ditambah Avan selalu menyentuhnya akhirnya membuat ia menyerah. Mobil yang ia kendarai langsung memasuki halaman sebuah hotel.
"Satu kamar, Kak," ucap Bella membuat petugas resepsionis menatap dirinya seperti mencemooh.
__ADS_1
"Kakak tidak perlu khawatir aku istrinya jadi jangan memandangku seperti itu," ucap Bella lagi yang tidak terima. Memang jika sepintas ia seperti gadis remaja yang kini tengah dipesan om-om. Apalagi Avan yang terus membelai wajah dan menghirup aroma tubuhnya.
Avan yang berada di samping Bella melihat petugas itu hanya menatap dirinya dan Bella secara bergantian, dengan sikap dinginnya ia berkata, "Dia istriku, lebih cepat kau memberikan kunci akan lebih baik!"
Setelah mendapatkan kunci, Avan dan Bella langsung menaiki lift. Di dalam lift Avan terus memeluk Bella hingga membuat gadis itu risih.
"Kakak bisa lepas? Kakak sadar apa yang Kakak lakukan sejak tadi!" Bella langsung mendorong Avan hingga terjatuh ke kasur saat keduanya sudah berada di dalam kamar.
Kesadaran Avan perlahan-lahan mulai kembali tidak separah tadi hanya saja ia sama sekali belum bisa menguasai dirinya. Hormon libido lelaki itu benar-benar naik tak terkendali, ia ingin segera mendapatkan pelepasan.
Avan bangkit dari tempat tidur ia pun menarik tangan Bella hingga terjatuh di kasur. Lelaki itu langsung memposisikan tubuhnya berada di atas tubuh Bella, "Kau istriku kan? Maka kau memiliki kewajiban untuk melayaniku! Sejak dulu bukanlah kau selalu menginginkan aku. Dan sekarang kau dan keluargamu merencanakan ini semua. Maka ayo, kita nikmati malam ini!"
Perasaan Bella kini tidak karuan. Sebagai istri ia sedikit paham dengan kewajibannya terlepas dari pernikahan yang hanya akan berlangsung selama enam bulan dan wanita kesayangan sang suami. Lalu apa yang terjadi dengan Avan saat ini juga ulah dari keluarganya, haruskah ia menyerahkan diri pada lelaki yang sudah ia puja selama 8 tahun itu?
Apa salahnya jika aku menyerahkan semuanya. Lagi pula Kak Avan juga sudah mengakui ku sebagai istrinya, pikir Bella.
Avan melihat Bella hanya terdiam ia langsung melancarkan aksinya. Kini dinding ruangan itu sebagai pendengar bisu suara cecapan kedua insan yang kini tengah beradu. Cukup lama ciuman itu berlangsung, Bella yang mendapatkan serangan dadakan ia tidak bisa mengimbangi permainan Avan, terlebih ia juga belum begitu berpengalaman akibatnya Bella kehabisan oksigen.
Meskipun demikian Avan tidak membiarkan Bella bersantai, apalagi Bella sama sekali tidak memberikan penolakan saat Avan mulai membuka pakaiannya, di menit berikutnya Avan yang kini berada di atas tubuh Bella mulai meluncurkan aksinya kembali.
Bella mere-mas ujung baju Avan yang masih menempel dengan sempurna di badan lelaki itu, berbeda dengan dirinya yang kini sudah hampir setengah telan-jang. Bella tidak menduga jika sang suami men-cumbui dirinya dari ujung rambut hingga kaki seperti singa kelaparan. Bella merasa jika cintanya terbalas, tidak bertepuk sebelah tangan lagi.
"Ka— Kak Ah ... Van," suara Bella mendayu-dayu saat memanggil nama sang suami. Membuat pemilik nama itu terus melancarkan aksinya.
Bella sama sekali tidak memungkiri jantungnya memburu saat bibir Avan menjelajahi setiap inci tubuhnya yang kini sudah tidak ada sehelai benang, begitupun dengan Avan lelaki itu yang awalnya terpengaruh obat perlahan-lahan ia mulai mendapatkan kesadarannya, tapi lelaki itu tidak ingin menghentikan aksinya yang kini tengah mencicipi madu dunia.
"Ini sangat indah dan nikmat, Sayang" puji Avan membuat wajah Bella merona.
Kini kedua insan yang sudah sah menjadi suami istri itu untuk pertama kalinya merasakan sebuah kenikmatan ditengah rasa sakit yang sesaat. Geraman dan de-sahan lolos dari bibir mereka berdua, Bella memekik kesakitan ketika mahkotanya direnggut, ia pun memberikan reaksi menggenggam erat tangan Avan yang kini bertautan dengan tangannya.
***
__ADS_1
Kediaman Drajat.
"Bagaimana apa mereka sampai rumah dengan aman?" tanya seorang lelaki pada lawan bicaranya yang kini berada di seberang sana.
"Mereka tidak pulang, Tuan."
"Lalu?"
"Sepertinya mereka akan menghabiskan malam ini di hotel," sahutnya.
Drajat yang kini berada di ruang rahasianya langsung menutup sambungan itu secara sepihak. Lelaki yang kini sudah tidak lagi muda langsung menatap foto almarhum istrinya yang ia pajang di dinding.
"Apa kau sekarang bisa tersenyum seperti itu di surga sana?" tanyanya.
"Aku bukan Ayah jahat seperti yang dipikirkan anak kita kan?" Air mata lelaki itu perlahan mulai jatuh membasahi pipi yang sudah mulai mengendur.
Drajat ingat beberapa waktu lalu saat Bella menatap dirinya penuh kebencian. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Jika dirinya ikut turun tangan tentu saja Mutia tidak akan tinggal diam. Ia juga memerintahkan kedua anaknya untuk diam saja, meskipun Arga memaksa untuk membantu Bella memapah Avan.
"Lelaki pilihan anak kita sebentar lagi pasti bisa menjadi penjaga untuk bisa menghadapi Mutia dan anaknya yang terus ingin merebut harta yang kau tinggalkan. Seperti saat dulu," ucap Drajat.
Drajat tersenyum saat memorinya mengulang kembali kejadian 8 tahun silam.
"Tuan, istri Anda berencana ingin membunuh putri Anda. Apa saya harus turun tangan?"
"Apa? Lalu di mana mereka?"
"Di dekat taman sekolah!"
Drajat yang berada tidak jauh dari tempat yang ditunjukkan anak buahnya ia langsung datang ke taman itu. Kebetulan bola mata lelaki itu melihat Avan sedang latihan beladiri, ia pun langsung meminta pertolongan padanya.
Siapa sangka kejadian itu seperti takdir yang terus mengikat keduanya hingga sekarang bahkan sampai pernikahan.
__ADS_1
"Mawar, aku akan menjaga anak kita dengan baik. Anggap saja ini semua sebagai penebus kesalahanku, jika kau tidak keberatan suatu saat nanti jemput aku jika anak kita sudah bahagia," pinta Drajat dengan ekspresi penuh mengiba.