Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Melupakan


__ADS_3

Bella melebarkan senyum saat memandang wajah Avan yang kini terbaring di sampingnya. Cahaya matahari pagi yang menyilaukan mata membuat tubuh Avan yang sebagian tidak tertutup bad cover terlihat begitu indah.


Aku tidak mengira jika semalam bisa menjadi milikmu seutuhnya. Akan kah pernikahan kita juga akan sampai hingga akhir hayat kita? batin Bella seolah-olah ucapan itu ia langit kan agar didengar oleh Sang Pencipta.


Pandangan gadis itu tak sedetikpun lepas dari wajah tampan sang suami. Hingga hembusan napas Bella mampu membuat Avan terbangun dari mimpinya.


Bella langsung menutup mata saat melihat Avan mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya.


Sementara Avan yang sudah membuka mata dan perlahan-lahan menyesuaikan sinar matahari di peluk mata ia langsung dibuat terkejut dengan sosok Bella tengah terbaring di sampingnya.


Avan langsung memposisikan tubuhnya menjadi setengah duduk. Benaknya kembali mengingat kejadian semalam, "Astaga, apa yang kau lakukan, Van. Kau gila? Bagaimana jika Lau tau apa yang sudah kau perbuat?" maki Avan pada dirinya sendiri.


Deg


Bella seperti dijatuhkan di jurang paling dalam, setelah semua ia serahkan namun sepertinya tidak ada arti apapun untuk lelaki itu, bahkan saat mata lelaki itu terbuka yang ada di dalam benaknya hanya sebuah penyesalan yang ditunjukkan untuk sang kekasih, Laudya.


Bella terus berpura-pura tertidur, meskipun demikian tubuh mungil itu kini berubah posisi menjadi memunggungi Avan. Gadis yang kini sudah tidak bisa dibilang gadis lagi hanya berpikir saat ia mulai mengeluarkan air mata Avan tidak akan melihatnya.


Sepintas Avan melihat Bella bergerak ia langsung mengunci mulutnya rapat. Lelaki itu belum siap untuk bisa memberikan penjelasan padanya.


Namun, beberapa menit kemudian lelaki itu memberanikan diri untuk membangunkan sang istri. Dia sudah berpikir matang-matang apa yang ia perbuat harus ia pertanggung jawabkan.


"Bel, Bella," panggil Avan sembari menepuk-nepuk pundak Bella yang kini tanpa sehelai benang.


Bella sendiri yang sejak tadi meratapi nasib berusaha untuk bisa terlihat biasa saja dan seolah tidak terjadi apa-apa. Gadis itu menghirup udara sebanyak mungkin lalu membalik tubuhnya menghadap ke arah Avan.


"Kak Avan," Bella melebarkan senyumnya.


Avan mengusap tengkuk merasa aneh dengan tingkah Bella. Seharusnya Bella terkejut kan saat melihat situasi seperti ini, tapi gadis itu justru bersikap seolah biasa saja. Apa bayangan di benaknya semalam hanya halusinasi?


"Bel, semalam kita, apa kita melakukan hal itu?" tanya Avan dengan ragu-ragu.

__ADS_1


Bella tidak mungkin berbohong apalagi keadaan sudah seperti ini, gadis itu hanya mengangguk malu-malu.


"Bel, selama ini aku tidak pernah berharap sesuatu dari pernikahan ini, apalagi menyentuhmu. Tapi aku minta maaf semalam aku benar benar tidak bisa mengendalikan diriku. Jadi apa kau mau—" Avan bingung dengan kata-katanya sendiri haruskah ia bilang jika ia ingin mengajak Bella untuk memulai dari awal. Lalu bagaimana ia harus menghadapi Laudya?


Bella terus menunggu kelanjutan ucapan Avan. Namun, gadis itu sudah bisa menebak apa yang kini dipikirkan Avan hingga bibir milik lelaki itu tak mampu bergerak lagi.


"Semua ini kesalahan keluargaku. Jadi Kakak tidak perlu berpikir lebih jauh. Aku tau Kakak tidak bisa menerima pernikahan ini dan di hati Kakak hanya ada Kak Laudya. Jadi tidak masalah jika Kakak ingin aku melupakan peristiwa ini, lagi pula Kakak tidak memiliki kenangan semalam kan?" jelas Bella berusaha untuk tegar, gadis itu berpikir dibandingkan Avan yang mengucapkan kata "melupakan" bukankah dirinya yang harus mengatakan terlebih dahulu setidaknya ini untuk melindungi harga dirinya.


Sementara Avan hanya bisa terdiam, bohong saja jika ia tidak memiliki kenangan semalam. Lelaki itu ingat dengan jelas bagaimana rasanya ia mencicipi madu dunia yang begitu nikmat. Namun, dari semua itu janjinya pada Laudya bukankah lebih penting? Meskipun ia melakukan kesalahan satu malam dengan Bella bukankah itu wajar karena sebagai suami istri? Kalaupun nanti Bella mengandung anaknya ia bisa memikirkan hal itu dikemudian hari.


"Iya, aku sama sekali tidak ingat. Maafkan aku," jawab Avan pada akhirnya.


Bella memaksakan bibirnya untuk bisa tetep tersenyum, meskipun hatinya kini memiliki luka menganga yang entah kapan bisa sembuh. Namun, yang lebih membuat ia terluka saat dirinya tidak bisa menyalahkan siapapun.


"Kakak mandi saja dulu. Setelah itu kita pulang," perintah Bella setelah itu ia kembali memunggungi Avan dan mencoba untuk menutup matanya kembali.


Beberapa saat berlalu, Avan sudah selesai membersihkan diri. Lelaki itu kembali menatap tubuh Bella yang masih terbaring di ranjang. Ada rasa penyesalan dalam diri lelaki itu.


Bella langsung membuka kelopak matanya, dengan susah payah ia bangun dari ranjang. Hanya saja saat kedua kaki Bella menginjak lantai ia merasakan nyeri di antara kedua pahanya hingga tidak mampu berdiri tegak, beruntung saja Avan sigap dan langsung meraih tubuh itu.


"Aku bantu ke kamar mandi," Avan langsung membopong tubuh Bella.


"Kak, terima kasih," ucap Bella yang langsung mendapatkan anggukan dari Avan.


Mungkin itu adalah ucapan terakhir sedikit manusiawi yang akan didengar Avan. Entah apa yang kini dipikirkan Bella, raut wajah itu langsung berubah menjadi dingin.


***


Tepat pukul setengah sepuluh, Avan dan Bella baru sampai rumah yang mereka tinggali saat ini. Avan sengaja mengantarkan Bella pulang terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke kantor.


"Bel, kau istirahat, besok baru berangkat kerja. Aku lihat kau masih kesakitan," ucap Avan sedikit canggung.

__ADS_1


Hemm...


Avan tidak tau harus berkata apalagi karena sejak perjalanan dari hotel ke rumah, saat ia memberikan perhatian dan bertanya keadaan Bella, gadis itu hanya menjawab singkat dengan tiga kata andalan yang mampu membuat Avan tak bisa berkata-kata lagi, hemm, iya, dan tidak.


"Bel, bisakah kau tidak bersikap seperti ini? Jika kau tidak suka bisakah kau meluapkannya!"


"Iya," jawab Bella membuat benak Avan penuh tanda tanya.


Di sisi lain, Laudya melihat mobil Avan terparkir di halaman ia langsung membuka pintu dan menghampiri keduanya.


"Sayang kenapa gak turun?" teriak Laudya.


Avan tersentak dari pemikirannya lalu ia turun dari mobil. Awalnya ia tidak mampu untuk bertemu dengan Laudya, tapi semakin menghindar bukankah akan menambah masalah?


"Em ... Aku hanya ingin mengantarkan Bella. Lalu berangkat ke perusahaan," sahut Avan mendekat ke arah Laudya.


"Kau tidak ingin ganti baju dulu? Kau tidak mungkin ke kantor dengan baju kemarin kan?"


"Aku di kantor ada baju ganti dan sudah ditunggu oleh klien," ucap Avan memberikan alasan. Namun, dalam hati lelaki itu terus mengutuki mulutnya yang pandai bersilat lidah.


Saat kedua orang itu sedang berbincang, Bella keluar dari mobil lalu tanpa sepatah katapun ia berjalan memasuki rumah.


Bola mata Laudya dan Avan terus memandang cara berjalan Bella.


Avan tahu jika Bella saat ini sedang menahan rasa sakit karena perbuatannya semalam sedangkan perasaan Laudya menjadi tidak karuan sebab ia pernah mengalami hal itu. Dalam benaknya ia berpikir, apa Bella dan Avan melakukan hubungan suami istri?


Tangan Laudya perlahan-lahan membentuk kepalan, selama beberapa tahun sudah menjalin kasih dengan Avan, ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bisa tidur dengan lelaki itu, tapi Bella yang hanya sebagai istri kontrak berani merayu Avan.


"Ya sudah, kau berangkat kerja sana. Cari uang yang banyak untuk masa depan kita," ucap Laudya mencoba segera mungkin mengusir Avan agar ia bisa bebas memberikan pelajaran pada Bella.


Avan yang sejak tadi memperhatikan Bella pergi tanpa sepatah kata kini ia tersadar saat mendengar suara sang kekasih. Avan langsung menganggukan kepalanya dan bergegas untuk pergi ke perusahaan, ia ingin segera meminta pendapat dari sang asisten pribadi, Samuel.

__ADS_1


__ADS_2