Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Penyesalan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Rianti terus melebarkan senyum membuat Bella yang sejak tadi bergelut dengan pemikirannya tentang permintaan Avan untuk menjadi kandidat cintanya langsung memfokuskan diri pada sang mertua.


"Ma, aku lihat Mama sangat bahagia? Ada apa?" tanya Bella.


"Tidak ada apa apa, Mama hanya bahagia saja," jawab Rianti.


"Ma—"


Rianti langsung meraih tangan Bella lalu berkata, "Sayang, Mama tau apa yang kau pikirkan. Sekali lagi Mama minta maaf karena Mama memberitahu Avan masalah operasi itu. Jujur saja meskipun Mama mendukung setiap langkahmu tapi Mama tidak ingin kau berpisah dengan Avan. Mama yakin kok Avan itu sebenarnya menyukaimu hanya saja dia belum sadar akan perasaannya."


"Ma, aku sungguh tidak ingin memaksakan perasaan siapapun untuk bisa menyukaiku. Jadi aku mohon Mama jangan melakukan ini lagi," ucap Bella dengan raut wajahnya memohon.


"Tapi kalau Avan sendiri yang mengejar dirimu bagaimana?" tanya Rianti yang masih ingin Bella mempertimbangkan perasaannya untuk sang anak.


"Itu tidak mungkin. Karena aku tau Kak Avan menyukai Kak Laudya," jawab Bella dengan tatapan kosong.


"Apa kau percaya, jika hubungan dilandasi dengan kebohongan dan balas budi tidak ada yang namanya cinta sejati?"


Rianti melihat Bella hanya diam saja ia berkata kembali, "Mama yakin Laudya akan melakukan satu kesalahan fatal."


"Maksud Mama?"


Rianti menaik turunkan kedua alisnya lalu kembali melebarkan senyum sembari menepuk-nepuk punggung tangan sang menantu.


"Ma, jangan bilang Mama memberitahu Kak Avan tentang Laudya," tebak Bella.


"Tentu saja tidak Sayang. Apa kau pikir Mama tidak mempertimbangkan perasaan anak Mama? Mama hanya memberitahu Laudya tentang rahasianya."


"Jadi maksud Mama—"


"Iya, jika Laudya sendiri yang memberitahu kebohongannya meskipun sakit tapi Avan tentu bisa menerima itu semua. Biarkan Avan merenungi setiap fakta yang ia dapatkan. Mama yakin dia akan kembali padamu nanti," papar Rianti.

__ADS_1


Bella sama sekali tidak tahu apa yang kini harus ia lakukan. Benaknya menolak untuk bisa kembali pada Avan, tapi hati dan perasaannya justru berkata sebaliknya.


***


Satu minggu berlalu sejak kejadian Avan memutuskan hubungan dengan Laudya. Lelaki itu kini hanya terdiam sendiri di rumah, tidak banyak yang dilakukannya hanya kadang ia mengirim pesan untuk Bella. Namun, sayangnya pesan itu dibaca seperti koran.


Avan menghembuskan napas gusar ditengah tubuhnya yang lemah, memikirkan bagaimana hubungannya dengan Bella untuk kedepannya.


"Apa ini karma untukku?" tanya Avan pada dirinya sendiri. Dalam hidup lelaki itu saat ini hanya ada sebuah penyesalan, dulu ia menyia-nyiakan orang yang begitu mencintainya bahkan menutup mata jika gadis itu ada di dekatnya.


Tatapan lelaki itu kembali kosong saat mengingat ia memohon pada Bella. Kadang Avan membetulkan sikap Bella saat itu, ketika dirinya meminta maaf dan ingin kembali merajut mahligai pernikahan yang langsung ditolak. Mengingat akan fakta itu Avan kembali menarik napasnya dalam-dalam agar hatinya bisa tenang.


Di menit berikutnya Avan langsung meraih ponsel lalu menekan tombol aktif, lelaki itu menatap lembut wajah yang kini ia jadikan wallpaper, "Bel, beri aku tanda jika memang aku boleh mengejarmu kembali. Jangan seperti ini, Bel."


"Bella," suara paru Avan memanggil nama itu lagi. Rasanya lelaki itu merasakan sesak di dadanya.


"Bodoh kau, Van. Bodoh!" Avan memukul-mukul kecil dahinya sebagai tanda pelampiasan.


"Van, sampai kapan kau akan begini? Aku sudah katakan padamu cinta itu perlu dikejar, bukan untuk ditunggu," peringat Samuel.


"Tapi jika Bella menolakku bagaimana, Sam? Dia pasti membenciku jika aku terus mengejarnya!"


Samuel berjalan menuju ke arah Avan yang masih merebahkan tubuhnya di atas ranjang, perlahan-lahan tangan Samuel terulur memegang pundak sang sahabat.


"Apa kau ingat bagaimana dulu Bella mengejarmu? Kau bahkan menganggap dia sebagai parasit yang harus segera kau singkirkan. Tapi gadis itu tak berhenti, dia terus berjalan ke arahmu dengan segala tingkah konyalnya kan?" Samuel mencoba untuk mengingatkan Avan kembali bagaimana dulu Bella mengejar lelaki yang mungkin tidak pernah akan membuka hati untuknya.


Sementara benak Avan mencari-cari potongan-potongan ingatan tentang Bella yang terus menerus mengejarnya. Namun, sayangnya apapun yang dilakukan Bella sama sekali tidak masuk ke dalam memorinya. Hal yang hanya diingat Avan saat dirinya menolong gadis itu, selebihnya tidak ada yang lebih baik lagi.


"Mungkin aku terlalu kejam padanya. Aku sama sekali tidak ingat apapun kenangan indah atau lucu tentangnya. Aku selalu menganggap apa yang ia lakukan hanya untuk menghancurkan kebahagiaanku," terang Avan membuat Samuel menggelengkan kepalanya.


"Jika hanya itu yang kau ingat. Kenapa kau tidak mengukir kenangan dari nol dengannya. Kejar dia Van sebelum lelaki lain mengejarnya," ucap Samuel.

__ADS_1


Jantung Avan seperti diremas kuat saat mendengar lelaki lain yang akan mengejar Bella. Ia sama sekali tidak terima akan hal itu.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan siapapun mendekati atau menyakitinya," tegas Avan menolak.


"Maka jadilah perisai yang selalu di sampingnya," sahut Samuel.


Avan langsung bangkit dari tempat tidur meskipun kepalanya berdenyut nyeri sebab sudah beberapa hari tidak makan dan hanya rebahan saja.


"Van kau tidak apa apa?" tanya Samuel saat melihat Avan memegang kepala.


"Aku tidak apa apa. Aku akan menemui Bella," jawab Avan penuh semangat.


"Kau yakin mau bertemu Bella dengan penampilan seperti ini?" Samuel menggelengkan kepalanya saat melihat penampilan Avan. Rambut yang sedikit panjang dan acak-acakan, belum lagi bulu hitam yang memenuhi dagu dan sekitar mulutnya.


"Apa aku harus ke salon terlebih dahulu?" tanya Avan sembari memegang dagu sembari merasakan bulu-bulu hitam itu.


"Aku tidak percaya seorang Avan Mahendra bisa berpikir konyol seperti itu."


Avan tertawa geli saat mendengar ucapan Samuel, ia pun berkata, "Apa dulu Bella juga seperti ini?"


"Mungkin, karena dia selalu cantik dengan make up naturalnya." Seketika itu sendal Avan melayang ke tubuh Samuel.


"Kau bilang aku harus menjadi perisainya kan? Jangan coba coba memujinya saat ada aku!" ketus Avan membuat Samuel tidak bisa menahan tawanya.


"Kau tertawa?" Avan berkacak pinggang.


"Kau lucu kalau sedang cemburu. Sudahlah sana bersihkan dirimu lalu aku akan mengantarmu bertemu dengannya," perintah Samuel yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Avan. Namun, sebelum Avan benar-benar pergi dari tempat itu menuju kamar mandi ia kembali melayangkan sendal sebelah ke tubuh Samuel.


"Avan!"


"Bonus akhir tahun, Sam!" seru Avan langsung masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Sial!" Tentu saja umpatan itu tidak didengar Avan. Setelah benar-benar memastikan Avan pergi, Samuel langsung mengambil benda pintarnya guna menghubungi seseorang di seberang sana.


__ADS_2