Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Rencana Jahat


__ADS_3

Laudya yang tadinya kesal ia langsung menuju ke kafe yang terletak disalah satu sudut ibu kota. Amarah wanita itu belum kunjung reda meskipun ia sudah menengguk dua gelas jus favoritnya.


Sesekali wanita itu menghembuskan napasnya berharap gumpalan batu yang memenuhi dadanya segera mencair. Namun, nyatanya semua nampak percuma saja.


"Bella, aku bersumpah tidak akan membiarkan kau bahagia, apalagi hidup bersama dengan Avan!" seru Laudya berbicara sendiri seperti orang gila.


"Ingat Bella!" ulang Laudya lagi mengancam seolah lawan yang ia panggil dengan nama Bella itu berada di depannya.


Laudya yang kini terlihat sang frustasi ia langsung meletakkan kepalanya ke meja dan kakinya menendang bangku yang berada di depannya sebagai bentuk pelampiasan. Ia sama sekali tidak peduli meskipun sekarang banyak mata yang tertuju padanya.


Hingga kini gendang telinganya mendengar suara kedua lelaki yang tengah berbicara membicarakan nama yang sejak tadi ia sebut.


"Intinya aku tidak ingin apa yang direncanakan Bella berhasil! Jika sampai itu terjadi maka posisi kita tidak akan pernah tenang," ucap lelaki berparas tampan dengan rambut panjang.


"Aku tidak percaya kau sekarang memikirkan hal ini juga. Bukankah sejak awal kau terlihat begitu tenang saat Bella menempati posisi wakil direktur?" tanya lelaki dengan pakaian rapi berambut pendek terbelah dua.


"Arga, aku bersikap tenang karena aku ingin melihat situasi. Tapi kau selalu memancing emosinya," protes Yudha.


"Jika aku tidak bersikap seperti itu, dia akan semakin semena-mena, Kak. Aku tidak habis pikir kenapa Bunda dan Ayah juga tidak bertindak," ungkap Arga.


"Kau sangat tau Bunda dan Ayah masih terjebak di masa lalu, mereka tidak akan bertindak selagi apa yang mereka ingin kan masih berada di tahap aman," ujar Yudha.


Arga mengangguk-anggukan kepalanya, sedikit paha dangan apa yang dikatakan oleh sang kakak.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Arga.


"Apalagi? Jika dengan cara halus tidak bisa membuat ia mundur makan lenyap adalah jalan satu-satunya," ucap Yudha dengan nada tegas membuat Arga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar sebab setahu lelaki itu sang kakak tipe orang yang hobi bercanda.


"Kau yakin?" tanya Arga meyakinkan apa yang ia dengar tidak salah.


"Jika kau tidak takut hidup melarat kau boleh saja mundur," sahut Yudha.

__ADS_1


Arga tidak tahu apa yang harus ia perbuat, meskipun dirinya tipe lelaki yang serius tetapi jika sudah berurusan dengan nyawa tentu saja ia takut.


Sementara itu, Laudya yang sejak tadi menguping pembicaraan kedua lelaki itu menarik sudut bibirnya. Tubuh ramping itu langsung bangkit lalu menghampiri Yudha dan Arga.


"Hallo," Laudya melambaikan tangannya guna menyapa Yudha dan Arga. Namun, sapaan wanita itu nampak diacuhkan begitu saja oleh kedua lelaki yang nampak tenang duduk di bangku.


Laudya menurunkan tangannya, ia sadar jika mungkin kedatangannya sangat menggangu kedua lelaki itu sebab tidak saling mengenal, "Aku Laudya. Kalian tentu tidak mengenalku, tapi berbicara musuh kita memiliki musuh yang sama, Bella, Arabella!"


Mendengar nama Arabella kedua lelaki itu yang awalnya acuh tak acuh langsung memfokuskan pandangannya ke arah wanita bertubuh ramping yang kini berdiri menjulang tinggi.


"Musuh kita sama? Kau yakin?" tanya Yudha.


"Tentu, aku bisa membantu kalian guna menyingkirkan gadis itu!" sahut Laudya dengan percaya diri. Wanita itu juga duduk dengan sendirinya tanpa harus diperintah.


"Kau pikir aku akan begitu saja mempercayaimu? Lagipula keuntungan apa yang kau dapatkan jika membantu kami?" tanya Arga.


"Avan, aku ingin mendapatkan Avan kembali. Aku jamin, jika kita kerjasama pasti akan menguntungkan, dan aku bisa melihat jika Bella sekarang dilindungi oleh keluarga Mahendra kan? Jika kalian tidak memiliki rencana matang tentu semua, TAMAT!"


***


Matahari saat ini berubah warna menjadi kuning keemasan, pertanda jika waktu tengah berubah menjadi sore. Bella yang sejak tadi sudah berada di rumah Avan terus menyibukkan diri dengan benda elektronik miliknya, jarinya tak henti bergerak menekan-nekan tombol pada benda itu.


"Em ... Bel, istirahat dulu aku sudah membuat makan. Ayo, kita makan dulu," ucap Avan dengan ragu-ragu.


Bella yang mendengar suara Avan langsung mengarahkan pandangannya pada lelaki yang kini berdiri di belakangnya, tubuh Avan memang tak terlihat semuanya sebab tertutup sofa.


"Nanti saja aku harus menyelesaikan proposal ini," jawab Bella.


"Aku lihat sejak tadi pekerjaan kau tidak berkembang, masih di situ-situ saja. Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Avan yang sekilas melihat isi dalam layar leptop Bella.


Bella menatap Avan. Sungguh sejak tadi memang pekerjaannya tidak ada perkembangan dan hal itu tentu saja bukan tanpa sebab. Iya, bagaimana gadis itu bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya jika sejak tadi Avan selalu mondar-mandir di sekelilingnya, ditambah Avan melakukan kegiatan yang memperlihatkan sisi kerennya.

__ADS_1


Sungguh hati Bella tersentuh sejak ia masuk ke dalam rumah di mana Avan dengan lihai mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan membiarkan dirinya duduk manis di sofa.


"Jika kau bisa diam mungkin saja aku sudah selesai sejak tadi," ketus Bella.


"Sungguh? Baiklah aku akan diam dan duduk di sampingmu." Avan melompati sofa dan dalam sekejap tubuh itu sudah berpindah di samping Bella.


Bola mata Bella membulat sempurna, detak jantung gadis itu memburu. Bella mengutuki tubuhnya saat ini yang tidak bisa mengendalikan diri hanya dengan Avan duduk di sampingnya.


"Kakak bisa sedikit lebih jauh? Aku rasa bau tubuh Kakak sedikit membuatku mual," ucap Bella mencari alasan.


"Benarkah?" Avan langsung mengendus-endus bau dirinya dimulai dari ketiak kanan lalu di ketiak kirinya, "Bel, apa kau tau kata orang jaman dulu hal yang akan selalu dirindukan seorang istri adalah ketiak suaminya. Apa kau tidak begitu?"


Bella melongo mendengar ucapan Avan, tak berapa lama ia langsung meletakkan leptonya di meja. Kedua tangan Bella bertautan sedangkan matanya menatap Avan penuh tanda tanya.


"Kau tidak percaya?" tanya Avan.


"Kakak hidup di jaman apa memangnya? Siapa juga yang mau merindukan bau ketiak!" Bella langsung membuang muka setelah menyatakan kalimat itu.


Sementara Avan tersenyum licik dalam benak lelaki itu timbul ide untuk menggoda sang istri. Avan langsung melancarkan idenya, tangan kanan ia masukkan ke dalam ketiak setelah itu ia raup kan ke hidung Bella lalu diratakan ke wajah, tanpa berbasa-basi lagi lelaki itu mengambil langkah seribu guna lari dari Bella.


"Kak Avan!" teriak Bella ia pun langsung mengambil bantal sofa dan dilempar ke arah sang suami.


"Biar kau selalu merindukan bau ketiak ku!" balas Avan sembari menangkis bantal yang dilempar ke arahnya.


Bella tidak terima saat lemparannya justru dengan mudah ditangkis Avan, sembari mengacungkan jari telunjuknya ia berkata, "Awas kau!"


"Wekk ... Tidak takut!" Avan menjulurkan lidahnya lalu lari dan menghindar saat Bella hampir saja menangkap dirinya.


Sungguh kedua manusia berlawanan jenis itu kini seperti anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran, keduanya seperti melupakan beberapa masalah yang awalnya membuat keadaan canggung.


Hingga keadaan kembali canggung saat Bella berlari mengejar Avan justru ia tersandung dan kini tubuhnya berada di atas tubuh Avan.

__ADS_1


__ADS_2