
Bella tersenyum samar setelah menutup pintu dan melihat kedua orang bermuka dua itu meninggalkan rumahnya. Gadis itu ingat betul bagaimana cara Yudha dan Laudya berinteraksi hingga terbesit dalam benaknya mencurigai keduanya. Entah bagaimana ceritanya kedua orang itu kini terlihat bekerja sama, intinya ia harus berhati-hati untuk saat ini.
"Bel, intinya aku tidak akan mengizinkan kau bersama kedua kakakmu untuk menghabiskan waktu bersama, kecuali kau mengajakku!" ungkap Avan saat ekor mata lelaki itu menemukan Bella yang sudah selesai mengantar sang kakak berdiri di depan pintu.
Avan sudah memikirkan semuanya, meskipun ia sangat marah dan kesal karena Bella tak meminta pendapatnya terlebih dahulu, tapi lelaki itu tetap tidak ingin terjadi sesuatu pada sang istri.
Bella berjalan mendekati Avan yang kini berjarak beberapa meter darinya.
"Aku tau Kakak khawatir padaku. Tapi jika aku tidak mengikuti keinginan mereka, aku tidak akan pernah sampai pada tujuanku," jawab Bella.
"Bel, bisakah kau berhenti? Ayolah kita bisa hidup dengan apa yang aku miliki saat ini. Kau tidak harus terperangkap dengan masa lalu terus menerus!"
"Kakak sadar dengan apa yang barusan Kakak katakan?" Bella menatap Avan dengan tatapan dingin. Gadis itu benar-benar tidak terima dengan apa yang barusan dikatakan Avan, apa lelaki itu tidak pernah berpikir apa yang tengah ia alami sampai detik ini? Kenapa bibir itu dengan mudah meminta padanya agar berhenti?
"Bel, tidak pernahkah kau melihat ketulusanku untuk membina keluarga bahagia denganmu?"
"Ck, setelah beberapa minggu kita berumahtangga baru kali ini Kakak berbicara seolah kita suami istri sesungguhnya. Apa Kakak sadar aku mau tinggal di sini kembali karena Kakak berusaha meyakinkan aku agar memulai dari nol. Dan seharusnya jika Kakak bersungguh sungguh terima saja diriku yang baru," Bella berlalu begitu saja dari Avan menuju ke kamarnya.
"Bel, Bella, tunggu!" teriak Avan dengan nada frustasi. Lelaki itu bingung harus berbuat apa agar bisa menghentikan Bella. Tanpa banyak berpikir panjang Avan langsung mengejar Bella masuk ke dalam kamar.
"Kakak mau apa?" tanya Bella.
Avan tidak menjawab pertanyaan Bella lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang.
"Kak Avan!" pekik Bella yang tidak terima.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kak, jangan berpikir aku mau tinggal lagi bersama, kakak bisa bertingkah seenaknya!" cetus Bella.
Avan menarik sudut bibirnya lalu berkata, "Tapi Bel, meski bagaimanapun aku tetap suamimu kan? Jika kau tinggal bersama denganku itu tandanya aku berhak bertingkah seenaknya! Dan itu bukan hanya sekedar ucapan."
Rasanya Bella pernah mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Avan. Jika ia ingat-ingat kembali kalimat itu hampir persis dengan yang pernah ia lontarkan. Apa sekarang Avan seperti dirinya yang dulu? Akan melakukan apapun demi membuat orang yang dipuja bisa hidup bersama? Harusnya Bella senang dengan semua itu, tapi kenapa justru kini terasa hampa?
"Terserah Kakak saja. Awas aku mau tidur!" putus Bella yang kini langsung ikut merebahkan tubuhnya di samping Avan.
"Selamat malam istriku," ucap Avan sebelum mereka menyelami alam bawah sadar masing-masing. Meskipun Bella tidak menjawab ucapannya, tetapi lelaki itu cukup senang karena Bella tidak menolaknya.
***
Kendaraan roda empat berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota. Ketiga orang di dalam mobil itu terlihat begitu bahagia.
"Aku pikir Bella cukup pintar, tapi nyatanya ia masih seorang gadis polos yang merindukan kasih sayang," ucap Arga memecah keheningan karena pemikirannya masing-masing.
"Kalian terlihat begitu senang. Apa kalian tidak sadar jika ada pepatah yang mengatakan air tenang menghanyutkan?" cetus Laudya.
Kedua lelaki itu kini melihat Laudya yang duduk di samping pengemudi. Bukankah sejak tadi Laudya juga ikut senang dan tertawa mengolok-olok kebodohan Bella, tapi kenapa saat ini ucapannya seperti peringatan?
"Apa maksudmu?" tanya Arga.
"Aku jadi berpikir jika Bella hanya sedang bersandiwara." Laudya menjeda kalimatnya ia langsung menoleh ke arah Yudha yang duduk di belakang, "tadi apa kita tidak terlalu mencolok saat berinteraksi? Aku pikir Bella tau akan hal itu."
Yudha mengingat kejadian barusan saat berada di rumah Bella. Saat Laudya tiba-tiba berdiri tegap di depannya dan Bella dengan memperlihatkan ekspresi terkejut, hingga dirinya berusaha agar Laudya mengendalikan diri.
"Si ... Siapa ini?" Pertanyaan Yudha sukses bisa mengendalikan Laudya dari keterkejutannya, padangan Laudya juga langsung tersorot ke arah Yudha guna meminta sebuah petunjuk tentang apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Melihat Yudha yang memberikan kedipan mata padanya dengan sikap tenang Laudya langsung menjawab, "Aku? Kau bisa tanya pada wanita ini siapa aku! Aku datang kesini ingin mengatakan jika aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Avan kembali."
Yudha melihat Bella hanya diam sembari menatap Laudya, ia pun langsung bertindak, "Kau pergi dari sini dan jangan ganggu adikku dan suaminya!" Tangan kekar Yudha langsung menarik tangan Laudya membawa wanita itu langsung pergi dari hadapan Bella. Setelah melihat Bella melambaikan tangan dan menutup pintu ia langsung memasukkan Laudya ke dalam mobil.
"Apa yang Kakak pikirkan?" tanya Arga yang kini mampu membuat Yudha tersadar dari bayangan kejadian bersama dengan Bella.
"Tidak. Aku rasa Laudya ada benarnya, kita tidak bisa menganggap enteng Bella. Sepertinya kita juga harus merubah rencana, aku tidak ingin langsung menyingkirkan Bella. Kita buat dia percaya pada kita lagi," ungkap Yudha.
"Kau yakin? Bukankah itu akan sangat lama?" tanya Laudya.
"Lebih baik lama tapi rencana berjalan mulus. Dari pada cepat cepat yang ada kita hanya akan mengalami kegagalan," sahut Yudha kembali.
"Tapi—"
"Aku setuju dengan Kak Yudha, kita perlu mengambil hati Bella dulu agar dia tidak banyak perlawanan," sahut Arga memotong ucapan Laudya.
"Weekend nanti kesempatan kita untuk bisa mendapatkan hatinya. Aku pikir kau juga bisa mendekati Avan saat Bella bersama dengan kami," usul Yudha yang ditunjukkan pada Laudya.
"Sepakat!"
Setelah perbicangan itu, ketiganya langsung memutuskan untuk pulang ke rumah. Butuh 1 jam agar Yudha dan Arga bisa kembali ke kediaman Drajat. Saat kedua lelaki tampan itu masuk ke dalam rumah, di sana lelaki paru baya yang tak lain Drajat sudah berdiri tegap dengan tangan bertautan di belakang, seperti menunggu kedatangan kedua anaknya.
"Ayah," kedua lelaki itu memanggil sang ayah secara bersamaan.
Drajat berjalan mendekati kedua anaknya yang berjarak beberapa meter darinya, tatapan mata tua lelaki tua itu seperti pedang yang siap menghunus jantung sang anak.
"Apa yang kalian rencanakan?"
__ADS_1