
"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Dika saat keduanya kini berada di salah satu kafe sudut ibu kota.
Bella menatap Dika yang kini duduk di depannya. Dalam hati gadis itu bertanya-tanya, pertanyaan macam apa barusan itu? Hah, berbicara tentang kebahagiaan dalam pernikahannya tentu saja tidak ada kata itu. Apa kini ia harus membuka aib rumah tangganya?
"Bel, Bel!" Saat panggilan ketiga Bella baru tersadar dari lamunannya.
"Maaf Kak, sepertinya jiwaku masih tertinggal di toko tadi. Kakak tanya apa?" Bella berlaga tidak mendengar pertanyaan dari Dika, ia juga berharap jika Dika tidak mengulang pertanyaannya.
Namun, sayangnya Dika tipe lelaki jika belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya ia tidak akan menyerah, "Aku hanya ingin tau, apa kau bahagia dengan pernikahanmu?"
"Pertanyaan macam apa itu Kak? Tentu saja aku bahagia, suamiku adalah pangeran impianku sejak kecil," jawab Bella.
"Kau yakin?"
"Sebenarnya ada apa Kakak bertanya seperti itu?" tanya Bella sedikit curiga dan mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada. Hanya saja aku sedikit merasa ada yang berbeda denganmu."
Bella mengangkat kedua tangannya, dengan maksud ingin mendapatkan penjelasan dari ucapan Dika.
"Iya, lihat saja sekarang kau berpenampilan seperti ini. Belum lagi tadi kau memesan minuman kesukaanmu, kopi hitam. Ini buka Bella yang aku kenal dulu," ungkap Dika.
Bella hanya menyunggingkan senyum, ia sama sekali tidak terkejut dengan pernyataan Dika, sebab Dika bukanlah orang pertama yang mempertanyakan perubahannya.
"Apa Kakak masih berpikir aku gadis berusia tiga belas tahun? Dulu aku memang polos dan lugu, tapi waktu begitu cepat berlalu. Kini aku hampir masuk usia kepala dua, perubahan tentu harus terjadi padaku," papar Bella.
Dika langsung menyenderkan punggungnya di kursi menatap Bella dengan tatapan penuh interogasi, "Beberapa waktu yang lalu saat aku bertemu denganmu, kau tidak seperti ini. Iya, mungkin kau benar perubahan memang harus ada, tapi bisakah kau kembali seperti dulu?"
Bella mendengus pelan, nyatanya menang semua orang belum tentu menyetujui perubahannya. Apakah orang-orang dibelakangnya juga berpikir sama?
"Semua tergantung waktu dan keadaan, jika memang aku bisa kembali seperti dulu tentu akan aku lakukan," ucap Bella pasrah.
"Aku menantikan waktu itu," jawab Dika singkat.
"Aku tidak paham kenapa Kakak berharap aku seperti dulu?" tanya Bella.
__ADS_1
Bel, kenapa bukan kepekaan kau saja yang berubah? Seandainya aku masih punya kesempatan untuk bisa menyatakan perasaanku padamu, hari ini juga pasti akan aku bawakan cicin agar bisa mengikatmu, batin Dika.
Saat Dika bergulat dengan perasaannya, ekor mata lelaki itu bergerilya melihat ke jari-jari Bella yang nampak kosong tanpa ada cincin yang melingkar di sana. Hati lelaki itu seketika berbunga, apa ini tandanya ia masih memiliki harapan?
"Karena aku berharap bisa mengulang masa dulu bersama denganmu," jawab Dika.
Bella membulatkan matanya, apa itu artinya lelaki yang dia anggap sebagai kakak kelas sedang menyatakan perasaannya? Tapi bukankah lelaki itu juga tahu jika ia sudah menikah?
"Kau jangan berpikir macam macam Bel, aku hanya ingin kita seperti saat masih menggunakan seragam putih biru, kau mungkin tidak tau jika aku benar benar mengagumimu saat itu," ucap Dika kembali agar Bella tidak curiga dengan kalimat yang dilontarkan meskipun tujuan lelaki itu agar bisa membuat Bella peka terhadap perasaannya.
"Hem ... Begitu rupanya, tapi Kak—" ucapan Bella langsung terputus saat seorang pelayan membawakan pesanannya.
"Silahkan dinikmati," ucap pelayan setelah menyajikan cemilan dan dua cangkir kopi.
Setelah pelayanan itu pergi Dika yang tak ingin banyak mendengar alasan Bella ia pun langsung bersuara, "Minum Bel, kopi hitam, minuman favoritmu yang baru."
Bella langsung mengambil secangkir kopi miliknya lalu menyesapnya secara perlahan sembari menatap ke arah luar jendela. Kelopak mata gadis itu menyempit saat melihat sosok sang suami masuk ke dalam restoran yang berada di seberang sana.
***
"Van, kau datang?" Laudya yang sejak tadi menunggu Avan langsung angkat bicara saat melihat sosok lelaki itu berjalan menghampirinya.
Avan menarik napasnya dalam-dalam lalu duduk di salah satu kursi. Di mana di sana sudah ada sosok lelaki bertubuh kekar menatap dirinya sinis.
"Berapa hutangnya?" tanya Avan langsung pada intinya membuat Laudya tak lagi bersuara.
Iya, beberapa saat yang lalu setelah Avan menemui Bella. Lelaki itu langsung mendapatkan telepon dari Laudya, awalnya Avan mengabaikan telepon itu, karena ponselnya berdering terus menerus dan mengganggu pekerjaan ia pun memilih untuk mengangkatnya.
Avan sama sekali tidak menyangka jika Laudya menghubungi dirinya karena wanita itu kini dikejar-kejar depkolektor. Seandainya salah satu ginjal Laudya tidak ada pada Bella tentu saja ia sama sekali tidak akan sudi membantu wanita itu.
"Wah, aku suka dengan gaya lelaki kaya seperti dirimu. Langsung pada intinya tanpa ingin berbasa-basi," sahut lelaki bernama Ramon.
"Aku tidak punya banyak waktu langsung katakan saja!"
"Lau, aku tidak percaya kau benar benar memiliki ATM berjalan, jika kau katakan sejak tadi aku tidak akan berbuat kasar padamu," ucap Ramon tanpa peduli pertanyaan Avan, lelaki itu seperti sengaja mengulur waktu.
__ADS_1
Laudya yang duduk di samping Avan ia hanya bisa menunduk dalam.
"Anda tidak perlu banyak mengulur waktu katakan saja!" seru Avan setelah beberapa menit menatap Laudya yang mendapatkan beberapa memar di pergelangan tangannya.
"Kau bisa tanya sendiri pada wanita itu," perintah Ramon.
Avan langsung melirik ke arah Laudya yang kini masih menunduk. Melihat Laudya hanya diam ia langsung mengeluarkan satu cek dan diberikan pada Ramon.
"Kau bisa tulis sendiri berapa uang yang kau butuhkan," perintah Avan. Lelaki itu berpikir dengan uang itu ia tidak lagi berhubungan dengan Laudya.
"Kau sungguh serius?" Ramon mencoba memastikan jika ia tidak salah dengar.
Avan mengangguk, "Setelah ini jangan pernah kau ganggu dia lagi!"
Ramon menarik sudut bibirnya sembari memainkan satu lembar cek yang kini berada di tangannya.
Sementara Laudya yang awalnya tadi menunduk ia langsung mengangkat kepalanya sembari berkata, "Kau jangan licik, tulis sesuai nominal hutangku!"
"Kau bisa diam! Kau pikir jika bukan karenanya kau hari ini tidak akan selamat." Ramon melirik ke arah Avan, "aku pasti akan menulis sesuai hutang plus bunga yang dia pinjam."
Setelah mengatakan kalimat itu Ramon beranjak dari kursi lalu meninggalkan Avan dan Laudya.
"Van, terima kasih kau sudah membantuku," ucap Laudya sembari meringis kesakitan saat memegang pergelangan tangannya yang memar.
"Aku harap ini terakhir kali kau menghubungiku," ujar Avan memperlihatkan ekspresi tidak sukanya pada Laudya.
"Aku mengerti."
Suara Laudya yang lemah saat menjawab ucapannya tentu saja membuat Avan memperhatikan wanita itu. Tidak dipungkiri meskipun Laudya sudah membohongi dirinya tetap saja kenangan manis saat bersama masih terukir indah di dalam benak Avan dan membuat lelaki itu tak tega saat Laudya nampak kesakitan.
"Bangunlah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit," perintah Avan.
"Tidak perlu, Van. Kau sudah menolongku, a—aku akan ke rumah sakit sendirian, kau pasti sibuk," tolak Laudya.
"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit," tegas Avan yang tak ingin ditolak.
__ADS_1
Tentu saja Laudya kali ini tidak menolak ajakan Avan, dalam hati wanita itu berpikir Avan masih ada hati untuknya. Saat keduanya sampai di tempat parkiran Laudya berkata, "Van, bukankah itu istrimu, Bella?"