Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Nona Kecil melawan tuan suami dingin


__ADS_3

Bella duduk melamun di sebuah kafe sembari mengaduk-aduk secangkir kopi.


"Minum jus ini. Jangan minum kopi!" seru Livia yang baru datang dan membawa segelas jus untuknya.


"Kau pengertian sekali. Sayang kau wanita coba kalau lelaki udah aku ajak nikah," cetus Bella menatap sang sahabat yang kini mendudukkan pantatnya di bangku.


"Maksudmu seperti chat konyol ini?" Livia menunjukkan hasil chattingannya semalam dengan Bella.


Bella hanya bisa tersenyum bodoh. Ya, gadis itu semalam hanya bisa berakting chattingan dengan Livia agar tidak terlalu fokus pada Avan dan Laudya.


"Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku sudah memberikan surat pengunduran diri ke Kak Avan dan besok mungkin sudah masuk ke perusahaan AD grup. Kau siap siap juga," ucap Bella.


"Bel, kau yakin mau melakukan ini semua? Tapi percuma juga aku berbicara, nasibnya akan sama seperti tindakanmu saat ini."


Bella menghembuskan napas berat. Sebentar lagi dirinya akan berusia 20 tahun meskipun ia tidak menggangu keluarga Drajat tetap saja nyawanya dalam bahaya. Sebelum itu terjadi ia ingin mewujudkan keinginan sang ibu untuk bisa menciptakan produk mebel impian wanita yang kini telah menyandang status almarhum.


"Maaf, aku juga tidak bisa mengendalikan diriku. Aku hanya bisa menjalani semua ini seperti air mengalir dan sesuai naluriku," jawab Bella dengan nada sendu.


Livia menyesap jus yang baru saja ia bawa, jika sang sahabat sudah berkata demikian tentu saja ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mendukungnya.


"Baiklah. Setelah kau selesai merenung ayo, antarkan aku ke perusahaan ProMall. Aku juga harus mengundurkan diri," pinta Livia.


"Kau sendiri saja. Aku tidak ingin bertemu dengannya."


"Kau sangat tau, suamimu itu tidak akan melepaskan aku jika pawangnya tidak kesana," Livia menatap Bella yang nampak lesu saat mendengar ucapannya.


"Suami apanya!" Bella memukul bangku dengan kedua tangannya lalu bangkit dari bangku itu, "baiklah, ayo, kita temui dia!"


Livia dibuat melongo dengan tingkah Bella. Setelah menampilkan ekspresi lesu hanya beberapa menit langsung semangat 45 dan kini kembali lagi lesu sembari berkata, "Kalau aku tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menatapnya bagaimana?"


"Ck, ratu drama! Kau datang kesana hanya perlu bilang, temanku Livia Saputri mengundurkan diri! Kenapa kau ingin menatapnya? Masalah ini timbul karena perbuatanmu jadi kau harus menyelesaikannya jika ingin aku ikut bekerja di perusahaan AD grup."


Bella meniup poninya lalu bermain dengan kuku ibu jari dan jari telunjuk, gadis itu terlihat sangat ragu.


"Sudahlah, ayo, jangan banyak berpikir." Livia langsung menarik tangan Bella kemudian menaiki taxi menuju perusahaan ProMall.


***


Avan duduk termenung di kursi kebesarannya sembari menyangga dagu dengan kedua tangannya, pemikiran lelaki itu seperti menerawang jauh kedepan sana. Iya, Avan memikirkan bagaimana caranya agar bisa membuat Bella bersikap seperti dulu dan ia juga bisa mengikuti permainan gadis itu.

__ADS_1


"Van, bagaimana ini? Jika Bella mengundurkan diri kita harus membuat program itu dari nol. Apa waktunya cukup?" tanya Samuel meminta pendapat dari bosnya itu. Namun, beberapa saat menunggu nyatanya sang bos tidak memberikan respon.


Samuel langsung melambaikan tangannya di depan wajah Avan.


"Avan."


"Hallo, apa nyawamu masih di sini?"


"Avan, hai, Avan!" Samuel yang tak sabaran langsung menggebrak meja.


"Sial!" umpat Avan yang terkejut.


Samuel langsung menghela napas panjang dan bersiap untuk mendapatkan amukan dari lelaki lebih muda darinya itu.


Namun, bukan amukan yang ia dapatkan. Avan justru bertanya, "Sam, apa yang harus kau lakukan jika orang yang awalnya menyukaimu justru bersikap dingin?"


Samuel langsung terpancing dengan pertanyaan Avan, ia pun bertanya, "Kenapa? Ini masalah Bella atau Laudya? Jika Bella, apa jangan jangan kau mulai menyukainya?"


Avan langsung berdehem sembari pura-pura membetulkan kemejanya.


"Wah, ini pasti Bella," tebak Samuel saat Avan menjadi salah tingkah.


Samuel langsung menaik turunkan kedua alisnya dan mendekatkan wajah berbentuk oval itu pada Avan, ia sebenarnya tidak percaya dengan alasan sang bos, tapi karena penasaran ia mengikuti arah pembicaraan Avan.


"Em ... sahabatmu apa dulu pernah berbuat kesalahan hingga wanita itu berubah?" tanya Samuel.


"Dia hanya berkata apa adanya."


"Kau yang jelas! Berkata apa adanya itu seperti apa?" cecar Samuel.


"Iya, dia bilang jika wanita itu harus segera mencari dokter jiwa dan mencari lelaki yang bisa menghilangkan obsesinya padaku, ah—ralat pada lelaki itu," ucap Avan dengan nada penuh penyesalan.


Samuel langsung bertepuk tangan membuat Avan kebingungan.


"Kenapa kau justru bertepuk tangan?"


"Aku hanya ingin merayakan kesuksesan temanmu jika sekarang misinya berhasil membuat si wanita menghilangkan obsesinya. Dan tentunya temanmu akan kehilangan wanita itu selamanya," ungkap Samuel.


"Masalahnya aku, ah—maksudnya temanku itu sekarang tidak ingin kehilangannya. Jadi apa kau ada saran agar wanita itu bisa kembali?" tanya Avan penuh harap.

__ADS_1


"Tidak ada. Karena memang tidak ada harapan lagi. Coba kau berpikir realistis, wanita mana yang tak sakit hatinya jika orang yang ia kejar bertahun-tahun meminta ia untuk mundur, udah gitu meminta untuk mencari dokter jiwa, belum lagi tekanan yang berikan temanmu saat ada wanita lain di sisinya. Saran ku lepaskan wanita itu agar dia bahagia. Kecuali—" Samuel menggantungkan ucapannya.


"Kecuali apa?"


"Kecuali temanmu itu mau berkomitmen untuk merajut masa depan dengan si wanitanya, dan tentu tidak ada orang ketiga lagi," jawab Samuel membuat Avan hanya bisa menghembuskan napas frustasi.


"Dan itu hal yang tidak mungkin," jawab Avan dengan nada pelan.


"Kau bilang apa?" tanya Samuel.


"Em ... Tidak, saranmu cukup bagus. Jadi laporan apa yang kau bawa? Bagaimana dengan program baru yang dirancang tim IT? Jika Bella," Avan menjeda kalimatnya saat pintu yang terbuat dari kaca itu terbuka dan menampilkan gadis yang sejak tadi menjadi beban pikirannya.


Avan langsung menyenderkan punggungnya di kursi menatap Bella dan Livia yang kini berjalan ke arahnya. Lelaki itu cukup percaya diri jika Bella ingin memohon padanya untuk tidak merespon surat pengunduran diri.


"Kau datang kemari untuk menarik keputusan pengunduran dirimu? Aku tidak akan mempersulit itu dan kau bisa bekerja sekarang juga," ucap Avan.


Bella maju hingga sampai di pinggiran meja batas antara dirinya dan Avan, gadis itu tersenyum sinis sembari berkata, "Aku ke sini untuk mengatakan jika Livia mengundurkan diri dan ia akan bersama denganku!"


Avan langsung menegakkan tubuhnya menatap tajam ke arah Bella, "Tidak bisa! Sejak awal Livia bekerja di sini untuk menebus kesalahannya! Jadi dia tetap di sini!"


"Jika aku sudah meminta siapa yang bisa mencegahnya? Kakak sudah baca surat pengalihanan investasi? Jika belum aku akan mengatakannya, pasal tiga ayat satu pihak pertama berhak mengajukan permintaan apapun dan pihak kedua harus mengabulkannya," papar Bella.


"Kau ingin bermain main?"


"Tidak!"


"Bel, aku belum menyetujui surat itu jadi atas dasar apa kau mau menuntutku?" tanya Avan mulai geram.


"Kebetulan sekali jika Kakak belum menyetujui berarti investor perusahaan ini masih atas namaku dan aku berhak melakukan apapun, termasuk MENJUALNYA!"


Seketika itu Avan bangkit dari tempat duduk, tangannya memukul meja, bibirnya bergerak menyebut nama gadis di depannya, "ARABELLA!"


Suasana mulai memanas saat keduanya bersitatap seakan saling mengibarkan bendera perang.


Sementara Samuel yang kini berdiri di samping Livia ia pun berbisik, "Apa plot cerita ini sudah berubah? Dari menikah dengan nona kecil menjadi nona kecil melawan tuan suami dingin?"


"Bisakah bapak diam? Lebih baik Bapak segera melerai mereka dan mencari jalan tengah," ucap Livia.


Samuel yang ingin terlihat keren di mata Livia ia pun memberanikan diri untuk memecah perseteruan di antara Bella dan Avan. "Bel, Van," panggilnya.

__ADS_1


"DIAM!" ucap dua orang berlawanan jenis itu. Nada tajam dan dingin membuat Samuel bergidik ngeri ia pun langsung menarik Livia agar segera pergi dari ruangan itu.


__ADS_2