Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Cinta dan benci beda tipis


__ADS_3

Laudya tersenyum lalu melepaskan tangannya yang tadi menggenggam pergelangan tangan Bella.


Lihat Bella sandiwara akan segera dimulai, batin Laudya.


Laudya hampir saja membuka mulutnya. Namun, sebelum itu terjadi Bella menyela.


"Kak Laudya pipi Kakak halus sekali. Kakak perawatan di mana? Kalau boleh aku minta rekomendasi." Bella mengelus lembut pipi Laudya membuat sang empunya tercengang.


Jujur saja Bella ingin tertawa saat melihat ekspresi Laudya saat ini, gadis itu langsung mendekat dan mengikis jarak keduanya, "Kakak mau bermain drama? Aku akan menunjukkan drama dengan artis terbaik tahun ini."


Bella menyeringai lebar saat dirinya fokus pada ancaman Laudya beberapa saat yang lalu, gendang telinganya seperti mendengar langkah kaki Avan tidak hanya itu indra penciuman gadis itu juga cukup tajam jadi tak heran saat Avan sampai di ambang pintu masuk, ia sudah menyadari keberadaannya. Apalagi kelakuan Laudya yang tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya.


"Maaf aku terlalu dekat. Aku lihat ada kotoran dekat mata Kakak," ucap Bella kembali menegakkan tubuhnya dan menarik tangan yang tadi berada di pipi Laudya.


Gadis itu kini berpura-pura menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu dengan ekspresi terkejut ia melihat Avan.


"Ka—Kak Avan," panggil Bella terbata-bata.


Avan langsung berjalan ke arah ranjang dan mendekati dua wanita itu.


"Kau baik-baik saja?" tanya Avan yang ditunjukkan pada Laudya.


Bella mendesah berat, saat Avan mengkhawatirkan Laudya. Sementara dirinya yang pergi selama dua hari tidak ada rasa cemas di hati lelaki itu.


Sementara Laudya mengangguk ia belum berani bertindak, ia masih menunggu Bella bertingkah agar ia juga tidak salah langkah.


"Kau kenapa di sini?" tanya Avan yang kini ditunjukkan pada Bella.


Sembari menundukkan kepala gadis itu menjawab, "Kak, dua hari ini aku sudah banyak introspeksi. Aku sudah salah pada Kak Laudya, jadi aku menemuinya. Dan aku dengar hari ini dia sudah boleh pulang. Em ... Bagaimana selama pemulihan Kak Laudya tinggal di rumah bersama kita?"


Avan menajamkan pendengarannya, apa gendang telinganya salah dengar?


"Kak Avan gak setuju?" tanya Bella yang sukses membuat Avan sadar jika gendang telinganya tidak salah dengar.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Avan yang tak bisa mempercayai Bella. Tentu saja ada udang dibalik batu kan?


"Tidak ada. Aku hanya ingin Kakak kembali ke rumah, agar Mama tidak curiga. Selain itu jika Kak Laudya tinggal bersama kita ia tidak akan kesepian kan, dan aku juga berjanji akan menjaganya," ucap Bella meyakinkan.


Rasanya keputusan beberapa saat yang lalu adalah keputusan yang tepat, Bella akan merelakan Avan untuk Laudya. Meskipun cinta itu terus membara di hati Bella, kalau Avan sendiri terus membentengi diri dan tidak pernah percaya padanya bukankah itu akan sia-sia?


Sejak Bella berada di rumah Livia gadis itu terus mencoba menyadarkan diri untuk bisa berhenti.


"Bel—"


"Kak, aku akui kalau aku memang nakal dan suka iseng. Tapi selama ini aku belum pernah mencelakai orang," ucap Bella meyakinkan. Gadis itu sekilas juga menatap ke arah Laudya, meskipun ia memutuskan untuk merelakan Avan padanya, tapi ia juga ingin berperang agar bisa membuat wanita itu sadar, jika apa yang telah ia lakukan selama ini adalah salah.


Avan membenarkan ucapan Bella. Memang selama ini gadis itu tidak pernah berbuat jahat dan alasan Bella juga masuk akal.


Avan langsung menoleh ke arah Laudya, "Lau apa kau mau?"


Laudya tanpa berpikir panjang ia langsung menyetujui pertanyaan Avan. Jujur saja ia masih penasaran dengan Bella, jika ia bisa dekat dan berada satu atap akan lebih mudah memantaunya.


Bella langsung memeluk Laudya, namun pelukan itu tentu saja bukan pelukan mengungkapkan kasih sayang.


"Aku pikir akting ini belum semuanya. Tapi aku ingin bilang ini pada Kakak dari hatiku yang paling dalam, terima kasih! Dan mari kita tunjukkan siapa artis terbaik. Sang putri atau sang pelayan!"


Laudya langsung melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Bella, tangan dengan otot tua itu mengerat sebagai tanda ia siap untuk memulai permainan.


***


Ketiganya kini sudah sampai di rumah dua tingkat itu. Laudya menggandeng tangan Avan, sementara Bella kini berada di belakang mereka.


"Van, aku tidur di kamar utama ya?" pinta Laudya merengek.


Avan sekilas menoleh ke arah Bella yang berada di belakang. Entah mengapa lelaki itu berharap jika Bella akan bersikap seperti anak kecil yang tidak akan menyetujui permintaan Laudya. Jujur saja hati Avan menghangat saat melihat Bella berada di rumah sakit, ia seperti mendapatkan sesuatu yang sudah menghilang. Namun, karena ego ia terus bersikap biasa saja.


"Setujui aja Kak, lagi pula kamar utama itu kan kamar Kak Avan. Aku akan pindah ke kamar tamu, lagi pula ranjang yang aku pesan beberapa hari yang lalu sudah datang. Lagian percuma juga kalau kita satu kamar tapi gak nyaman." Bella langsung membawa beberapa barang Laudya lalu berjalan terlebih dahulu memasuki rumah.

__ADS_1


Kedua alis Avan bertautan, baru kali ini ia melihat sikap Bella dingin dan tak perduli. Apa ini semua karena perkataanku saat itu?


"Van, kenapa kok bengong. Apa kau merasa ada yang aneh dengan Bella?" tanya Laudya menyadarkan Avan.


"Aneh?"


"Iya, dia hilang selama dua hari lalu kembali dengan sikap seperti itu. Apa ia merencanakan sesuatu?" ucap Laudya mencoba untuk menyalakan rasa curiga di hati Avan.


Namun, Avan yang berpikir jika perubahan Bella akibat dari ucapannya ia tidak terpancing dengan ucapan Laudya.


"Perasaanmu saja. Selama delapan tahun aku mengenalnya dia memang gadis yang baik meskipun sedikit nakal." Tanpa Avan sadari sudut bibirnya tertarik ucapannya secara tidak langsung memuji Bella.


Laudya mengepalkan tangannya ia tidak bisa menerima ungkapan Avan barusan.


"Sudahlah, ayo masuk. Aku lelah dan ingin beristirahat," ucap Laudya ia berjalan terlebih dahulu menyusul Bella yang sudah membuka pintu.


***


Bella merasa lucu pada dirinya sendiri sembari mengamati kamar yang sebentar lagi akan ia berikan pada Laudya. Dia istri sah tapi seperti istri simpanan.


"Bagus Bel, mungkin dengan begini kebencian dalam hatimu padanya bisa bertambah lalu bisa melupakan rasa cinta itu. Bukankah cinta dan benci itu beda tipis? Kau cukup bertahan sebentar saja maka semua akan berakhir," ucap Bella meyakinkan dirinya sendiri.


Bella menarik napasnya dalam-dalam lalu tersenyum penuh kepalsuan saat membereskan beberapa barang yang masih tersisa di dalam kamar itu.


"Apa perlu aku bantu?" tanya Avan yang kini berada di belakang Bella.


Bella memejamkan matanya sebentar, nada suara itu begitu lembut ia seperti bernostalgia saat suara itu pertama kali terdengar di gendang telinganya.


Aku mohon, jangan goyah kau sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk bisa melepaskannya, batin Bella.


"Tidak perlu Kak. Barangku hanya sedikit, sebagian ada di rumah Livia. Aku akan secepatnya menyelesaikan ini agar Kak Avan dan Kak Laudya bisa beristirahat," sahut Bella tanpa menoleh ke Avan.


Avan mendekat ke arah Bella dan berdiri tepat di belakang gadis itu, lalu tangan kanannya terulur untuk mengambil beberapa baju yang terletak di lemari paling atas.

__ADS_1


Bella merasakan gesekan tubuh Avan, karena tidak nyaman ia langsung menggeser tubuhnya ke kiri. Hal itu sontak membuat Avan sedikit kecewa.


Apa dia sekarang menghindariku?


__ADS_2