Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Selamat malam istriku


__ADS_3

Beberapa menit sebelum Avan masuk ke dalam rumah.


Avan baru saja sampai, saat di luar ia melihat beberapa grombolan ibu-ibu dan satu lelaki keluar dari rumahnya. Ia juga melihat orang-orang itu masuk ke dalam mobil dan ia sangat tahu plat nomor yang hanya ada dua angka itu milik keluarga Drajat.


Senyum Avan terus mengembang saat ia melangkah ke halaman rumah, bola mata Avan melihat bak sampah yang berisikan beberapa bungkus makanan dari restoran ternama, dan kini lelaki itu akan berakting seperti suami yang sudah dibohongi oleh sang istri.


Jadi tidak heran saat Bella mengutarakan jika masakan yang ia buat penuh dengan cinta langsung membuat Avan menggebrak meja.


"Kau bilang apa? Kau membuat masakan ini dengan penuh cinta? Yang ada kau menggunakan uang untuk melakukan apa yang aku perintahkan. Jadi hanya sebatas ini cintamu?" ungkap Avan.


Senyum Bella langsung pudar dan ia segera menarik tangannya lalu di letakkan di atas paha. Selama ini tidak ada yang memarahi dirinya. Dalam keluarga Drajat meskipun kasih sayang mereka semua palsu ia diperlakukan seperti anak emas.


"Kenapa, terkejut? Inilah aku." Avan mendengus sungguh berhadapan dengan bocah ingusan dan labil akan membuat ia seperti orang jahat. Namun, Avan kini berpikir masa bodoh, ia akan melanjutkan rencananya agar membuat Bella menyesal.


"Jadi kau pikir aku orang bodoh yang akan langsung percaya dengan semua kesempurnaan yang kau berikan? Tidak Bella. Aku kenal kau selama delapan tahun dan kau hanya gadis kecil manja yang gak tahu apa-apa. Ingin jadi istri idaman? Kau hanya bermimpi. Tapi aku suka saat kau melakukan kesalahan seperti ini jadi kau harus membayar denda," ucap Avan panjang lebar yang kini tertuju pada inti masalah yang sudah ia buat.


Bella masih diam dan ia menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Avan.


"Aku ingin kau membatalkan syarat poin nomor dua dan aku bisa membawa kekasihku, Laudya. Untuk datang ke rumah ini sesuka hatinya."


Bagaikan kilat petir yang menyambar, tubuh Bella seakan terbakar. Meskipun ia dianggap sebagai anak kecil, tapi ia tahu tidak ada wanita di dunia ini yang ingin istananya dimasuki ratu lain.


Seketika itu Bella berdiri dengan emosi yang memuncak.


"Jika aku bilang aku benar benar memasak hingga membuat tanganku terluka apa Kakak akan percaya? Jika aku bilang bahwa aku mencintai Kakak sepenuh hatiku apa Kakak percaya? Tentu saja tidak kan. Lakukan apa yang Kakak inginkan! Toh, Kakak sengaja melakukan hal ini agar bisa membawa kekasih Kakak masuk ke rumah?" ungkap Bella langsung meninggalkan Avan yang kini terdiam.


Avan baru pertama kali melihat Bella semarah ini kini menjadi bimbang. Padahal gadis itu selalu tersenyum dan berekspresi imut meskipun ia selalu berkata pahit, tapi ini? Demi mencegah Bella agar tidak langsung masuk ke dalam kamar ia pun berkata.


"Bel, aku tidak main main akan aku bawa Laudya ke rumah. Dan kau, kau jika tidak setuju aku akan menikah dengannya. Ingat aku akan menikah dengannya," ucap Avan.

__ADS_1


Bella langsung mengehentikan langkahnya.


"Sudah aku bilang lakukan saja apa yang Kakak inginkan!" Bella melanjutkan langkahnya.


"Hai, kau harus makan dulu," ucap Avan yang tak dihiraukan lagi oleh Bella.


***


Bella masuk ke dalam kamar. Air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi. Mungkin beberapa hari yang lalu keputusannya untuk menikah dengan Avan adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Gadis itu kini duduk di pojokan sisi ranjang, lengannya meringkuk memegang bantal meletakkan kepalanya di atas bantal sembari menangis sesenggukan. Tanpa ia sadari jika air mata itu kini membasahi luka di tangannya saat terkena letupan minyak goreng.


Bella mengangkat kepalanya lalu merasakan nyeri di tangan itu. Sudut bibirnya terangkat sembari mencibir diri sendiri, "Luka di tangan bisa kau rasakan. Apa kau bodoh? Kenapa luka di hatimu tidak kau rasakan, harusnya kau bisa melupakan lelaki yang baru saja membuat kau menangis, tapi apa? Cintamu justru semakin tumbuh."


Bella langsung melirik ke arah plastik di mana tadi salah satu pembantunya membawakan ia obat. Namun, karena sibuk memberikan saran dan mengamati para pelayannya bekerja ia tak sempat mengobati lukanya.


"Tidak apa apa Bella, mungkin ini yang sering orang bilang jika cinta itu deritanya tiada akhir. Tidak apa apa, tidak masalah, tersenyumlah."


Saat Bella tertidur Avan yang sejak tadi merasa bersalah bercampur dengan kesal karena diabaikan, ia langsung masuk ke dalam kamar.


"Dia tidur?" Avan mengamati Bella yang kini terlelap dengan sisa-sisa air mata membasahi pipi gadis itu. Namun, Avan bersikap tidak peduli.


Kini lelaki itu beralih ke tangan Bella. Bola mata lelaki itu melihat tangan Bella melepuh, "Dia benar terluka? Apa dia mencoba untuk memasak?"


"Apa dia benar benar bodoh?" gumam Avan saat melihat plastik dengan tulisan nama salah satu apotik. Ia langsung membuka plastik itu lalu mengoleskan salep itu ke tangan Bella.


Untuk sejenak Avan terus menatap wajah Bella yang nampak tenang saat tertidur, jantungnya berdebar kencang lalu bibirnya juga melebarkan senyum.


"Apa kau gila Avan, kau mengaguminya?" rutuk Avan saat dia sadar. Lelaki itu buru-buru pergi meninggalkan kamar dan membiarkan Bella beristirahat.

__ADS_1


***


"Kau sudah bangun?" tanya Avan saat melihat Bella baru saja keluar dari kamar.


Bella sendiri tidak tahu apa yang harus ia ucapkan, ia masih kesal dengan sang suami. Namun, saat bangun ia melihat jika tangannya sudah diobati seketika itu hatinya luluh.


"Makanlah," perintah Avan.


Bella masih diam ia hanya melangkahkan kakinya untuk menuju meja makan.


"Besok kau sudah bisa masuk kerja," ucap Avan.


Bella yang tadi diam ia langsung bersemangat, ini adalah pengalaman pertamanya untuk bekerja di perusahaan sang suami meskipun ia belum tahu posisi apa yang akan ia dapatkan, Bella berjanji akan bekerja sebaik mungkin dan akan membuat Avan kagum dengan keterampilan yang ia miliki.


"Kakak serius? Kalau begitu aku akan mempersiapkan diri," ucap Bella penuh semangat.


"Iya, aku serius. Kau makan yang banyak lalu tidur. Malam ini aku akan tidur di apartemen Samuel kau di rumah saja. Jangan lupa besok kau berangkat tepat waktu," ucap Avan.


"Kenapa Kakak tidak tidur di rumah saja?"


"Ranjangku sudah kau gunakan. Kecuali kau mau tidur di lantai kayak di rumah Mama akan aku pertimbangkan," jawab Avan. Iya, lelaki itu sengaja menghindari satu ranjang dengan Bella. Mungkin ia bisa mencegah dirinya agar tidak menyentuh sang istri. Namun, Bella belum tentu bisa mencegah diri kan, untuk itu Avan berpikir tidur terpisah lebih baik.


Dasar pelit, masa beli ranjang lagi tidak mampu. Alasan saja tidur di apartemen Kak Samuel padahal mau tidur di rumah Kak Laudya, batin Bella.


"Baiklah aku akan tidur di lantai jadi Kakak di rumah saja," putus Bella sembari mengunyah makanan.


Avan langsung berdiri melangkah ke dalam kamar, tak lama kemudian ia mengeluarkan kasus lantai dan satu bantal beserta selimut.


"Oke, kau tidur di luar dan ini bisa kau gunakan. Selamat malam istriku."

__ADS_1


"Avan Mahendra!" teriak Bella sembari menggigit sendok guna meluapkan emosinya.


__ADS_2