Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Senjata makan tuan


__ADS_3

Sejak matahari malu-malu terbit dari ufuk timur, Bella sudah bangun dan ia menyibukkan diri di dapur. Gadis kecil itu ingin membuat sarapan untuk dirinya sendiri.


"Akhirnya selesai juga," ucap Bella tersenyum lebar sembari menatap sepiring nasi goreng di tangannya.


Dua hari di rumah Livia gadis itu sering menghabiskan waktunya di dapur, jadi tidak heran jika sekarang ia bisa memasak ala kadarnya.


"Kelihatannya enak." Laudya yang baru saja turun dari tangga langsung menyambar piring yang di pegang Bella.


Bola mata Bella menyempit, ini bukan karena piring yang diambil Laudya. Namun, karena melihat penampilan wanita berumur di depannya yang hanya menggunakan kaos oblong kedodoran dengan rambut basah.


"Kenapa? Kau marah? Aku mengambil makananmu?" Laudya mengembalikan makanan Bella setelah sesuap nasi itu masuk ke dalam mulut lalu dikeluarkan kembali dan disemburkan ke piring.


Jika ditanya apa Bella marah? Tentu saja ia marah, hasil jerih payahnya kini terlihat menjijikkan bahkan ia juga tidak bisa menikmati masakannya sendiri. Namun, gadis itu harus tetap sabar dan tidak boleh terpancing emosi. Jika sang musuh mencari masalah bukankah ia harus menyelesaikan masalah?


Bella langsung melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Laudya. Lalu gadis itu memanggil sang suami, "Kak Avan."


Laudya tercengang dengan tingkah Bella. Benak wanita itu terus bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Bella. Tanpa ia sadari kini Avan sudah berada di belakang Laudya dengan baju kerjanya.


"Ada apa?" tanya Avan dengan nada datar.


"Kak, tadi aku sudah membuat sarapan. Kata Kak Laudya ingin memakannya karena tangannya masih sakit ia ingin di suapi. Tapi perutku mulas bisakah Kakak membantu? Ini demi kesehatan Kak Laudya," ucap Bella memohon.


Avan sekilas melirik ke arah Laudya di bibir sang kekasih terlihat ada sebutir nasi jadi ia berpikir apa yang dikatakan Bella benar adanya.


"Aku bantu suapin," putus Avan membuat Laudya tidak berkutik.


Sebelum pergi, Bella langsung menyerahkan sepiring nasi itu pada Avan sembari berkata, "Selamat menikmati."


Laudya menatap sepiring nasi goreng itu dengan tatapan horor. Tadi ia memang merasakan rasa masakan itu cukup enak, tapi setelah Bella memuntahkan nasi itu ke dalam piring sungguh membuat perutnya mual. Haruskah ia memakannya? Padahal niat awalnya tadi ia ingin mengerjai Bella, tapi kini kenapa seperti kata pepatah senjata makan tuan?


"Ayo, Lau, buka mulutmu," Avan menyodorkan satu sendok nasi itu di depan mulut Laudya.


Laudya segera mencari alasan agar ia tidak memakan nasi itu, "Van, sepertinya aku juga merasakan apa yang dirasakan Bella, perutku mulas. Kau taruh saja nasi itu nanti akan aku makan. Kau berangkat kerja saja."


Avan melihat Laudya terus memegang perutnya ia pun berkata, "Kau yakin? Kau tidak apa apa?"


"Iya, aku tidak apa apa. Kau pergi saja."


Bella yang sejak tadi berada di balik pintu ia terus mendengar percakapan Avan dan Laudya, gadis itu tertawa geli sembari berkata, "Bella dilawan!"

__ADS_1


***


Avan yang sejak tadi sudah keluar dari rumah nyatanya ia belum melajukan mobilnya menuju perusahaan. Lelaki itu masih menunggu Bella dan berniat untuk berangkat kerja bersama.


"Sungguh konyol, kau Van. Mau bertemu dengan istrimu sendiri tapi seperti kau ingin bertemu selingkuhan," gumam Avan sembari menatap gerbang rumah miliknya terbuka lalu berharap sosok yang ia tunggu keluar dari sana.


Beberapa saat menunggu, akhirnya Avan melihat Bella keluar dari rumah. Gadis itu terlihat cantik dan anggun dengan setelan baju kerja khasnya, celana panjang dengan tengtop dibalut kemeja panjang berwarna abu-abu. Rambut panjang dikucir kuda dengan poni tertata rapi di dahinya, terlihat dewasa tapi juga imut.


Kadang Avan berpikir apakah ia harus melepaskan gadis itu suatu saat nanti? Seandainya ia bisa melawan takdir dan kebencian di hatinya pada gadis itu hilang begitu saja, mungkin ia akan berlari ke arah Bella.


******* berat keluar dari mulut Avan, lama memandang Bella kini ia langsung nekan klaskson agar Bella menghampirinya. Namun, Avan salah gadis itu hanya diam ditempat dan sesekali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sial! Apa dia sok jual mahal? Apa dia tidak ingat bagaimana menggodaku selama bertahun-tahun?" gumam Avan. Lelaki itu mengalah lalu menjalankan mobilnya mendekat ke arah Bella.


Sementara Bella menahan tawa saat mobil itu menuju ke arahnya. Ekspresi dingin dan acuh tak acuh kini ia perlihatkan saat Avan menurunkan kaca mobil.


"Masuk!" perintah Avan.


"Tidak perlu. Aku sudah memesan taxi," tolak Bella.


"Ini jam kerja kalau kau menunggu taxi bisa terlambat," ucap Avan menakut-nakuti.


"Tidak masalah. Siapa yang berani memarahiku jika terlambat," sahut Bella.


"Benar kita satu tujuan. Tapi kita berdua seperti kereta api. Dan kakak tahu kan kereta api tidak mungkin akan jalan secara bersamaan," ungkap Bella.


Habis sudah kesabaran Avan. Lelaki itu turun dari mobil lalu memasukkan Bella ke dalam dengan paksa.


"Apa apaan sih Kak!"


"Itu salahmu karena tidak menuruti perintahku. Jadi jangan salahkan aku!" ujar Avan.


"Atas dasar apa?"


"Tentu saja karena aku suamimu!" celetuk Avan seketika membuat Bella mengeluarkan tawa tertahan.


"Hah, suami? Bahkan aku lupa jika aku memiliki suami, yang aku tau sebentar lagi aku menjadi janda. Bahkan semalam pun aku sudah menjadi janda saat Kakak tidur dengannya," papar Bella.


Dahi Avan mengkerut, seandainya Bella tahu jika semalam dirinya tidur di kasur lantai hingga membuat ia kedinginan dan badanya remuk redam.

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, lagi pula belum menjadi jandakan?"


Bella tidak menjawab ucapan Avan gadis itu langsung melipat tangannya ke dada lalu meniup poninya. Membiarkan Avan menjalankan mobil itu.


Baru beberapa kilometer mobil itu berjalan ponsel Avan berdering. Layar ponsel itu menampilkan kontak nama Bunda Mutia membuat Avan mengerutkan dahinya.


"Hallo, Bun," sapa Avan.


Bella langsung melirik ke arah Avan saat sang suami memanggil orang di seberang sana Bun, Bella bisa menebak jika itu adalah Bunda Mutia.


Sementara di seberang sana Mutia berkata, "Hallo, Van. Apa kau sibuk malam ini?"


"Tidak, Bun. Ada apa?"


"Datang kerumah bersama dengan Bella. Bunda ingin makan malam bersama. Mengingat kejadian terakhir kali rasanya Bella masih marah dengan Bunda," ucap Mutia.


"Makan malam?"


"Iya, sekalian Bunda mau menyemangati Bella agar dia melakukan pekerjaannya dengan baik saat besok menjalankan perusahaan."


Avan langsung menoleh ke arah Bella. Sorot mata lelaki itu seperti menuntut penjelasan sekaligus tidak suka.


"Baik Bun. Aku akan bicara dengan Bella. Aku masih di jalan nanti aku kabari lagi," mendengar persetujuan dari seberang Avan langsung memutuskan sambungan. Mobil yang tadinya berjalan di tengah Avan perlahan-lahan meminggirkan mobil itu lalu berhenti.


"Kok berhenti?" tanya Bella.


"Kau ingin bekerja di dua tempat? Wah, sungguh wanita luar biasa kau!"


Bella menatap pandangannya ke depan lalu menjawab, "Siapa bilang aku akan bekerja di dua tempat? Hari ini aku datang ke perusahaan Kakak untuk menyerahkan surat regsain."


"Kau bercanda? Tidak ada sebulan kau bekerja dan sekarang ingin regsain?"


"Kenapa? Bukankah Kakak bilang di sana taman bermain? Jadi aku berhak mengacak acak taman itu lalu pergi. Tenang saja aku akan membayarnya." Bella langsung mengeluarkan map yang sudah ia simpan di dalam tas jinjing miliknya.


"Ini surat pengalihanan investasi dan surat pengunduran diri." Bella menyerahkan map itu.


Avan masih terdiam ditempatnya mencerna maksud ucapan Bella, jemarinya perlahan-lahan mengambil map itu.


"Bunda ingin makan malam. Jika Kakak sibuk tidak perlu datang, aku akan datang sendiri dan menginap di sana." Setelah mengatakan kalimat itu Bella membuka pintu mobil lalu keluar.

__ADS_1


Avan seperti orang bodoh ia membiarkan Bella pergi begitu saja. Namun, saat gadis itu sudah mendapatkan taxi ia baru sadar lalu memukul stang bundarnya.


"Kau ingin bermain main Bella? Akan aku layani!"


__ADS_2