
Kendaraan roda empat itu berhenti tepat di depan lobi perusahaan AD grup, setelah Avan dan Samuel keluar dari mobil salah satu tim keamanan langsung mengambil alih kendaraan mereka.
"Sudah siap?" tanya Samuel.
"Apapun akan aku coba untuk bisa mendapatkan dia kembali," sahut Avan.
"Bagus ini yang aku tunggu sejak dulu," ucap Samuel langsung mengajak Avan melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan.
Baru beberapa langkah Avan berhenti ia pun bertanya, "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Samuel tersenyum ia pun memberitahu Avan, "Aku tadi sudah menelpon Livia dan katanya lima menit lagi meeting selesai. Kau bisa menunggunya di depan lift, anggap saja pertemuan tak terduga."
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Ah, aku tidak tau bagaimana dulu kau bisa dekat dengan mantan kekasihmu itu tapi sikapmu seperti orang yang baru mau punya pacar," ucap Samuel.
Avan langsung memegang pundak Samuel sembari berkata, "Aku juga ingin mempertanyakan hal itu padamu. Aku lihat kau tidak memiliki kekasih tapi kenapa kau mencoba memberikan saran seperti ini?"
"Apa ini penting?" Samuel langsung melangkah terlebih dahulu.
Avan tahu jika Samuel malu, mungkin cara-cara seperti itu ia gunakan untuk mendekati wanita yang selama ini ia incar.
"Aku tau kau pasti gagalkan menggunakan cara seperti itu," tebak Avan.
"Lalu apa kau bisa?"
Avan hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan Samuel. Hanya saja di benak lelaki itu kini membayangkan saat berada di dalam lift dan lift itu gangguan mungkin di sana nanti ia bisa membuat kenangan baru dengan Bella. Tanpa disadari lelaki itu kini ia sudah sampai di depan lift dan di jarak beberapa meter Bella berjalan dengan anggun.
Samuel yang pertama kali melihat Bella dan Livia ia pun mengambil langkah seribu meninggalkan Avan yang kini tersenyum sendirian di depan lift. Begitupun dengan Livia yang langsung mencari alasan untuk pergi dari sana.
Sementara Bella yang melihat Avan tersenyum sendirian merasa heran, apa ini akibat pesan yang tidak pernah ia balas hingga membuat lelaki yang dulu jarang tersenyum kini menjadi murah senyum?
__ADS_1
"Kak Avan," panggilan itu sontak saja membuat Avan jadi salah tingkah.
"Kak, ada apa kesini? Dan ada apa dengan lift itu?" tanya Bella lagi.
Avan yang memiliki kebiasaan memasukkan tangannya ke saku celana kini kedua tangan itu ia keluarkan, tidak banyak ide dalam benaknya untuk mencari alasan.
"Emm ... Aku baru saja belajar sulap Bel. Apa kau mau melihat?" tanya Avan.
"Sulap?"
"Iya, kau lihat lift itu?" Avan melihat Bella menganggukkan kepalanya ia pun langsung melanjutkan kalimatnya, "saat tanganku menjulur ke depan pasti pintu lift itu akan terbuka."
Bella menyempitkan kelopak matanya, dalam benak gadis itu masih terus berpikir kenapa lelaki itu kini justru bersikap konyol? Apa lelaki itu tidak tau jika pintu lift tidak mungkin terbuka begitu saja tanpa ada yang menekan tombol? Namun, Bella berpura-pura mengikuti tingkah Avan.
Avan yang sudah terlanjur berkata demikian kini ia langsung menjulurkan tangannya bertingkah seperti Harry Potter saat mengambil benda yang ia inginkan. Lelaki itu berharap banyak jika ada orang dengan suka rela menjadi penolongnya untuk memencet tombol itu. Namun, sayangnya setelah beberapa saat pintu itu sama sekali tidak terbuka.
"Bel, sepertinya tanganku kurang ajaib. Tapi kau tenang saja aku pasti bisa membukanya." Avan kembali lagi bertingkah seperti Harry Potter, tapi sekali lagi tidak ada yang berubah kecuali sudut bibir Bella yang kini terlihat sedikit tertarik ke atas.
Apa dengan kebodohan seperti ini bisa membuat kau tertawa? Jika ia aku akan melakukannya, batin Avan yang langsung melangkahkan kakinya dan menekan tombol.
"Anggap saja seperti itu," sahut Bella.
Kini keduanya langsung masuk ke dalam lift.
***
"Kakak ada apa kemari?" tanya Bella setelah keduanya kini berada di ruang kerja gadis itu.
Avan yang masih menanggung rasa malu ia pun mengusap tengkuknya sembari berkata, "Em ... Anu. Ah, Bel, aku dengar kau sedang kesulitan untuk meluncurkan produk yang menjadi impian almarhum ibu. Kalau boleh aku akan membantu."
Bella beranjak dari kursi, ia langsung menuju ke tempat dimana ia sering membuat kopi, "Aku dengar fitur baru yang ingin Kakak luncurkan masih ada masalah. Aku pikir Kakak konsentrasi ke pekerjaan Kakak saja."
__ADS_1
Avan mengunci rapat mulutnya. Dalam benak lelaki itu berpikir, baru juga ingin melangkah, tapi Bella sudah menutup rapat jalan untuk bisa mencapai tujuannya.
"Mau minum apa?" tawar Bella membuat Avan tersentak.
"Apa saja," Avan menjeda kalimatnya beberapa menit lalu melanjutkan kembali, "Bel, kau tau aku kan? Meskipun aku masih memiliki masalah di perusahaan aku masih bisa membantumu. Atau kita bisa saling kerjasama," Avan akhirnya menemukan kalimat yang tepat untuk bisa membuka jalan yang ditutup Bella.
Bella fokus pada minuman yang ingin ia buat untuk lelaki yang masih menjadi suaminya itu, setelah minuman jadi Bella langsung memberikan pada Avan tanpa sepatah kata yang terucap dari bibir dengan polesan zat kimia berwarna merah terang.
"Bel, aku yakin bisa membantu dirimu," ucap Avan kembali.
"Minum dulu Kak," perintah Bella dengan senyum tipis.
Avan membalas senyum itu lalu ia meminum secangkir kopi yang baru saja dibuat Bella.
"Enak?" tanya Bella.
Tentu saja rasa kopi itu sama sekali tidak enak, yang ada hanya rasa pahit karena tidak dikasih gula. Avan tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan Bella.
"Pahit rasanya?" tanya Bella lagi.
"Enggak Bel ini enak, hanya saja kau lupa memberikan gula," sahut Avan.
Bella langsung tersenyum kecut mendengar jawaban Avan. Lelaki itu masih sama tidak ada yang berubah sedikitpun.
"Benar. Aku juga berpikir seperti itu, tawaran Kakak untuk membantuku sangat bagus, tapi Kakak melupakan sesuatu," papar Bella.
Avan menarik napasnya dalam-dalam sungguh berhadapan dengan Bella saat ini benar-benar sulit. Sikap sang istri begitu mendominasi hingga ia tidak bisa berkutik.
"Bel, jika memang kita tidak bisa bekerjasama seperti pasangan suami istri. Aku harap kita bekerjasama dengan menghasilkan keuntungan antara perusahaan kita," ungkap Avan.
Bella menatap tajam ke arah bola mata Avan. Awalnya ia berpikir Avan mendatangi dirinya untuk bisa mengungkapkan perasaannya agar bisa bersama kembali, tapi ini justru membicarakan tentang kerjasama perusahaan. Apa sejak tadi ia salah menilai?
__ADS_1
Sementara Avan kini mengutuki kebodohannya, kenapa di situasi seperti ini justru mulutnya mengeluarkan kata-kata untuk berbisnis, tidak bisakah otak dan hatinya bisa saling kerjasama untuk bisa mendapatkan Bella kembali?
Saat keduanya bergelut dengan pemikirannya masing-masing, suara pintu terbuka dan ketukan high heels membuat keduanya langsung fokus pada sosok itu.