Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Minta maaf


__ADS_3

"Bella."


Bella tersentak setelah beberapa kali Avan memanggil dirinya. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk bersikap acuh tak acuh.


"Ada apa?" tanya Bella tanpa mengalihkan pandangannya pada kertas putih yang sejak tadi ia geluti.


Avan yang tadinya berdiri di ambang pintu, ia langsung menyeret kedua kakinya untuk mendekat ke arah Bella. Jarak keduanya kini hanya beberapa jengkal, Avan berdiri tegap di samping kursi di mana Bella duduk. Perlahan-lahan kedua kaki lelaki itu menekuk hingga lututnya menyentuh lantai.


Bella yang melihat itu semua langsung refleks menggeser kursi yang ia duduki, lalu berdiri menjulang tinggi sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Apa Kakak tidak ada kerjaan?" ucap Bella dengan nada ketus meskipun detak jantungnya berdetak kencang.


"Bel, apa aku masih pantas untukmu?" tanya Avan tak peduli dengan pertanyaan Bella.


"Pantas atau gak nya bukan aku yang menentukan, tapi dirimu sendiri, Kak," sahut Bella.


Avan sejenak menutup kedua matanya, sebagai lelaki bodoh bertahun-tahun dan tidak bisa melihat wanita sebaik Bella apa pantas bertanya seperti itu? Ibarat kata jika dulu ia merasa seperti rembulan kini ia terjatuh sebagai burung malam yang hanya bisa melihat sinar rembulan itu.


"Kakak bisa bangun? Aku tidak ingin dianggap wanita keji memperlakukan orang sakit seperti ini," perintah Bella saat Avan hanya diam.


Secara tidak langsung Avan kini bisa merasa jika Bella memang sudah berubah, dulu gadis itu penuh kasih sayang, tapi sekarang hanya ada rasa belas kasian.


"Bel, dulu aku beranggapan jika kau hanya gadis kecil manja dan aku lelaki dewasa. Tapi sekarang aku sadar jika aku yang berumur lebih tua delapan tahun darimu ini justru seperti anak kecil. Kau bukan wanita keji, akulah yang ingin seperti ini. Bel, tidak banyak kata yang bisa aku ucapkan dan jelaskan, tapi aku ingin memohon maaf padamu atas semua yang sudah aku lakukan," jelas Avan panjang lebar.

__ADS_1


Bella melepaskan lipatan tangannya, kedua tangan itu kembali menyatu dan seperti biasa kuku ibu jari dan jempol ia mainkan. Sungguh Bella tidak bisa membohongi perasaannya saat melihat Avan seperti itu hatinya perlahan-lahan tersentuh. Namun, luka yang beberapa saat lalu ditorehkan Avan mampu membuat Bella membangun kembali tembok untuk tidak mudah ditembus Avan.


"Jika Kakak ingin minta maaf. Aku sudah dari dulu memaafkan, tapi untuk bisa seperti dulu aku tidak bisa. Hiduplah bahagia bersamanya, aku akan segera menandatangani surat perceraian jika Kakak mengajukan surat itu," sahut Bella sembari mengubah posisinya membelakangi Avan.


"Bel, aku sudah dengar semua dari Mama Rianti, jika kau yang sudah memberikan kehidupan untukku. Aku tidak mungkin memberikan surat itu untukmu, karena aku—"


"Karena Kakak ingin membalas budi?" Bella memotong kalimat Avan, sejenak ia menarik napasnya dalam-dalam agar tidak terbawa perasaan lalu ia berkata kembali, "sejak usiaku tiga belas tahun dan bertemu dengan Kakak, aku merasa jika memang Kakak sudah menjadi takdirku. Aku selalu berusaha untuk bisa dekat denganmu meskipun aku selalu ditolak. Hingga akhirnya aku menjadikan Kakak sebagai obsesi ku yang harus bagaimanapun caranya aku miliki, tapi aku sekarang sadar jika itu bukan takdir tapi itu adalah sisi psikopat yang aku miliki. Jadi jangan jadikan apa yang sudah aku berikan sebuah beban untuk membalas budi."


"Tapi Bel—"


"Kak, usiaku hampir mencapai dua puluh tahun. Aku hanya ingin mendapatkan lelaki yang benar-benar mencintaiku, bukan lelaki yang ingin bersamaku dengan banyak alasan," sahut Bella kembali.


Avan tidak bisa berkata-kata lagi, jika dipikir-pikir dirinyalah yang sekarang tidak paham tentang arti cinta dan arti sebuah hubungan. Sejak beberapa saat lalu sang ibu menceritakan fakta tentang siapa yang sudah menjadi malaikat dalam hidupnya ia langsung merubah cara berpikirnya untuk bisa hidup dan membalas budi semua yang sudah dilakukan Bella.


Bella yang tidak lagi mendengar suara Avan ia langsung membalikkan tubuhnya. Bola mata gadis itu melihat Avan masih dengan posisi yang sama hanya saja kepala lelaki itu kini menunduk. Bella langsung mendekat ke arah Avan lalu berjongkok di depan Avan.


Avan langsung mengangkat kepalanya, dengan kata lain apa arti ucapan Bella itu tidak menginginkan dirinya lagi meskipun suatu saat cinta itu benar-benar datang?


"Bel, jika kau ingin lelaki yang bisa mencintaimu apa aku tidak bisa menjadi kandidatnya? Aku tidak tau, apa yang aku rasakan itu cinta atau bukan, tapi yang pasti aku tidak ingin kehilanganmu," papar Avan.


Bella hanya menarik tipis sudut bibirnya dan tidak ingin menjawab pertanyaan Avan.


***

__ADS_1


Di sisi lain, Laudya menatap wanita paru baya yang 2 tahun lalu memberikan dia banyak uang, yang tak disangka mungkin sebentar lagi wanita itu akan menjadi mertuanya.


"Ma—Mama," suara itu lolos begitu saja dari mulut Laudya. Ya, meskipun belum ada ikatan, tapi Avan baru saja berjanji padanya untuk membawa ia kejenjang pernikahan jadi tidak ada salahnya mulai saat ini ia membiasakan diri memanggil Rianti dengan sebutan Mama.


Rianti hanya tersenyum saat Laudya memanggil dirinya dengan sebutan itu, "Ada yang ingin aku bicarakan. Apa aku bisa masuk?"


"Ah, i—iya Ma masuk saja. Aku sebentar lagi ingin ke rumah sakit menemani Avan," ucap Laudya mencoba untuk mencari perhatian.


Hati ibu mana yang tidak akan luluh jika calon istri anaknya benar-benar memberikan perhatian pada anak semata wayangnya kan?


"Aku rasa kau tidak perlu ke sana," cetus Rianti yang kini sudah mendaratkan pantatnya di sofa.


"Em ... Mama jangan bicara seperti itu. Aku pasti menjaga Avan dengan baik, Ma."


"Aku tidak tau jika wanita jaman sekarang tidak punya urat malu. Kau tau Avan sudah memiliki istri, tapi kau menempel seperti benalu dalam keluarga kecil itu," cibir Rianti yang tak bisa lagi menahan diri untuk tidak melontarkan kata-kata itu.


Mendengar kalimat Rianti, Laudya langsung mendengus, ia sejak awal sudah tau jika ibu Avan tidak pernah menyukainya, tapi ia masih ingin berusaha untuk terlihat memiliki sikap sopan.


"Avan sendiri yang bilang akan menceraikan Bella. Jadi aku bukan benalu, sebelum Avan menikah dengan Bella, akulah kekasihnya. Jadi cibiran itu seharusnya untuk Bella bukan untukku," ujar Laudya.


"Kau pikir mana yang lebih penting, ikatan suami istri atau ikatan sepasang kekasih? Jika kau pikir sebuah pernikahan masih akan ada perceraian lalu bagaimana dengan hubungan yang hanya berlandaskan sebuah omong kosong belaka?"


"Sepertinya Mama masih menggunakan metode jaman kuno dalam setiap hubungan. Mama ingat, hubungan itu diawali dengan saling mencintai sebagai sepasang kekasih lalu baru menuju ke jenjang pernikahan. Jika seperti itu tentu landasan untuk membangun rumah tangga akan kokoh," ungkap Laudya dengan percaya diri guna mematahkan argumen Rianti.

__ADS_1


Namun, siapa sangka justru Rianti menyerang Laudya kembali, "Kau salah, landasan yang benar adalah kepercayaan. Tapi aku rasa kau tidak memiliki itu semua."


Laudya langsung menggigit bibir dalamnya terlebih saat Rianti berkata kembali, "Jika tentang cinta, apa kau memilikinya? Menyerahlah, karena Avan bukan untukmu!"


__ADS_2