
Hembusan napas berbau mint khas seorang lelaki langsung menyadarkan Bella. Gadis itu refleks bangkit dari tubuh Avan, namun sayangnya saat tubuh itu hampir saja berdiri sempurna tangan kekar Avan langsung menarik tangan mungil milik Bella.
Bella yang tidak memiliki keseimbangan tentu saja langsung jatuh tepat di atas tubuh Avan kembali.
"Lima menit saja," ucap Avan saat merasakan Bella memberontak ingin melepaskan diri dari pelukannya.
"Ini sama sekali tidak nyaman, Kak." Bella terus bergerak agar bisa lepas dari tangan Avan yang melingkari pinggangnya.
"Kau tidak suka?" tanya Avan.
Bella menghentikan gerakannya, bohong saja jika ia tidak suka dengan apa yang dilakukan Avan saat ini. Hanya saja ia belum siap terlebih jiwanya yang sejak dulu mendamba berada di peluk Avan selalu meronta-ronta.
Sementara Avan yang melihat Bella hanya diam, ia langsung merubah posisi menjadi di atas tubuh ramping itu. Senyum terbit dari bibir Avan saat bola mata Bella menatap dalam ke arahnya.
"Em ... Kau tidak masalah dengan ini?" tanya Avan.
"Jika aku mengatakan iya, bukankah Kakak akan tetap kekeh? Lalu apa yang ingin Kakak lakukan?" Sebuah pertanyaan bodoh yang terlontar dari bibir tipis itu. Dalam hati Bella ia mengutuki pertanyaannya.
Bel, bukankah ini sama saja kau pasrah jika Kak Avan melakukan apapun padamu? batin Bella.
Avan melihat wajah Bella bersemu merah, sekali lagi timbul ide untuk mengerjai sang istri yang kini terlihat sangat imut.
"Kalau aku ingin bibir itu bagaimana?" Avan menaik turunkan alisnya guna menggoda Bella.
Melihat Avan bertingkah seperti itu Bella langsung berpikir jika Avan sedang mengerjai dirinya, ia pun tidak ingin terperangkap dan segera membalas perbuatan Avan.
"Yakin hanya ini saja yang Kakak inginkan?" Bella menunjuk ke bibirnya, "gak ada yang lain?"
Avan menautkan alisnya, dirinya hampir lupa jika sejak dulu Bella memiliki pemikiran konyol, kenapa dirinya harus iseng seperti ini? Belum Avan selesai dengan pikirannya Bella tiba-tiba saja melingkarkan tangannya ke leher lelaki itu.
Rasanya detak jantung Avan berhenti di detik itu juga, apalagi bibir Bella kini mendekat ke arahnya. Avan tidak bisa berpikir panjang lagi ia pun langsung memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Bella.
Namun, di detik berikutnya kelopak mata Avan terbuka saat mendengar ucapan Bella tepat di daun telinganya, "Kak, lapar."
Avan langsung melepaskan tangan Bella kemudian ia bangun dari atas tubuh itu dan mendudukkan pantatnya. Sungguh memalukan, dirinya yang mempunyai niat untuk mengerjai Bella tapi kini justru situasi menjadi sebaliknya.
Bella sendiri langsung tertawa geli saat melihat ekspresi Avan.
__ADS_1
"Kakak kenapa? Aku lihat wajah Kakak memerah?" Tangan Bella langsung menepuk-nepuk wajah Avan sembari berekspresi seimut mungkin.
"Aku tau kau sengaja melakukan ini! Sudahlah ayo, kita makan," putus Avan yang gak ingin mati gaya. Lelaki itu juga langsung bangkit menuju ke meja makan.
Bella langsung mengejar Avan, "Kakak marah?"
"Tidak!"
"Masa?"
"Iya." Avan menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Bella untuk duduk di sana.
"Terima kasih." Bola mata Bella melihat beberapa jenis menu makanan yang tersaji di atas meja bibirnya pun bergerak kembali," Kakak yang memasak ini semua?"
"Hem ... Dulu ada yang bilang agar memasak dengan penuh cinta. Jadi sekarang aku lakukan itu semua, barang kali cinta De Bella akan tumbuh untuk Kakak Avan yang tampan ini."
Bibir Bella langsung terbuka beberapa senti saat mendengar kalimat Avan. Gadis itu seperti baru menemukan sisi lain dari lelaki yang sejak dulu ia puja.
"Kenapa, kau terpesona dengan ucapanku? Aku bisa mengatakan lebih banyak lagi jika kau suka." Tangan Avan bergerak mengambil nasi lalu dilekatkan ke piring Bella yang kosong, "cukup?"
Bella masih terperangah dengan sikap Avan hingga pertanyaan lelaki itu sama sekali tidak ia pedulikan.
"Ah ... Iya."
"Cukup?" ulang Avan lagi.
Bola mata Bella langsung melirik ke arah piring, "I ... Iya cukup."
"Mau lauk apa?" tanya Avan.
"Apa saja," jawab Bella singkat.
Avan mengangguk paham. Ia pun langsung mengambil beberapa lauk yang sudah ia siapkan tak lupa ia juga menuangkan minuman sebelum duduk di kursi berhadapan dengan Bella.
"Bel, weekend kau sibuk?" tanya Avan guna memecah keheningan setelah hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.
Bella menelan makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya, "Aku mungkin di rumah aja. Karena harus menyelesaikan desain produk baru yang harus segera diluncurkan."
__ADS_1
"Apa kau sudah memiliki ide?"
"Sejak kemarin sudah ada hanya saja terkendala dengan harga. Aku pikir harus mencari desain agak simple agar tidak banyak mengeluarkan anggaran untuk produksinya. Harapan Ibu saat ia masih hidup ia ingin menciptakan desain agar semua kalangan bisa membelinya," terang Bella berusaha untuk terbuka dengan Avan.
"Aku rasa jika kau hanya berimajinasi tanpa melihat ke lapangan, kau tidak akan bisa mendapatkan solusi," cetus Avan.
Bella terdiam sebentar, apa yang dikatakan Avan ada benarnya juga. Selama ini ia terlalu fokus pada perusahaan dan niat balas dendamnya, "Lalu menurut Kakak aku harus bagaimana?"
Avan meletakkan sendok dan garpunya lalu berkata, "Bagaimana jika weekend nanti kita pergi ke pameran. Di sana banyak pameran berbagai macam jenis furniture."
"Kakak yakin mau mengajakku?" tanya Bella meyakinkan, gadis itu ingat terakhir kali saat Avan membuat janji tapi tidak ditepati.
Avan paham kemana arah pembicaraan Bella. Lelaki itu sungguh menyesal atas perbuatannya dulu yang lebih mementingkan Laudya dibandingkan dengan janji yang sudah ia buat, "Kali ini aku berjanji Bel. Dan aku akan menepatinya."
"Baiklah," putus Bella. Gadis itu kini kembali memakan makanan yang belum selesai ia habiskan.
Avan tersenyum puas, ia berharap dengan cara seperti ini bisa membuat Bella menyukai dan jatuh cinta lagi padanya. Rasanya lelaki itu ingin segera menyatakan cintanya untuk sang gadis, hanya saja menyatakan cinta sedini ini belum tentu perasaannya akan dianggap sebagai ketulusan oleh Bella.
Saat keduanya kini sedang menikmati makan malam bersama, ketukan pintu mau tidak mau menghentikan aktivitas mereka.
Avan berdecak sebal, di momen seperti ini siapa yang berani mengganggu?
"Kak, biar aku saja yang buka," tawar Bella yang langsung mendapatkan anggukan dari Avan.
Bella langsung bangkit dari kursi lalu menuju pintu masuk, wajah berseri dan senyum lebar ia tampilkan guna menyambut tamu yang datang. Namun, saat pintu terbuka senyum itu langsung memudar.
"Kak Yudha, ada apa?" tanya Bella dengan sikap ketus. Jarang-jarang lelaki yang hobi bercanda itu berkunjung menemui dirinya.
"Tidak ada apa apa. Kakak hanya merindukanmu," jawab Yudha.
Kelopak mata Bella menyempit mencari tahu kebenaran dari ucapan sang kakak.
"Kau tidak percaya?" tanya Yudha seolah bisa membaca pikiran Bella.
"Menurut Kakak?"
"Bel, aku tau kau sedang mengibarkan bendera peperangan. Tapi aku tidak ingin ikut campur masalah itu, dan kau juga sangat tau aku tidak suka terlibat. Bel, kasih sayang yang aku berikan selama ini benar benar tulus untukmu," Yudha berusaha meyakinkan Bella.
__ADS_1
Bella nampak berpikir sejak, benar apa yang dikatakan Yudha. Lelaki itu dari dulu selalu melepaskan diri dan tidak ingin terlalu ikut campur masalah harta, bahkan kasih sayang yang diberikan padanya benar-benar tulus seperti kakak sendiri. Lalu apa selama ini ia salah karena sudah menganggap semua keturunan Drajat dan Mutia adalah musuhnya?