
Bella yang kini menggunakan pakaian kerja berdiri di sebuah ruangan lalu menatap tak percaya. Sejak di rumah tadi ia sudah membayangkan jika dirinya akan ditempatkan disalah satu divisi yang akan selangkah lebih dekat dengan Avan. Namun, nyatanya ia justru ditempatkan di bagian office girl.
Avan Mahendra. Aku tidak percaya kau akan melakukan hal ini, batin Bella.
Bella langsung menatap lelaki di sampingnya yang gak lain adalah Samuel. Lelaki yang sejak tadi mengantarkan dirinya ke ruangan itu.
"Kak Sam serius Bella ditempatkan di sini?" tanya Bella dengan wajah seimut mungkin berharap agar Samuel bisa membantu dirinya.
Samuel membungkuk guna meminta maaf pada istri bosnya itu.
"Kak Sam. Aku tidak mau di bagian ini. Lihatlah para karyawan yang kini sedang membicarakan aku," ungkap Bella.
"Bel, kau tau kan apa yang sudah diputuskan manusia sedingin es itu tidak akan bisa diganggu gugat. Apalagi ini kawasannya," ucap Samuel yang kini berbicara sembari berbisik.
Bella dan Samuel memiliki hubungan yang bisa dibilang cukup dekat. Selama ini yang membantu Bella untuk bisa mendapatkan informasi tentang jadwal Avan adalah Samuel. Hanya saja saat ini Samuel ingin bersikap layaknya atasan dan bawahan.
Bella membalas ucapan Samuel dengan berbisik juga, "Tapi Kakak orang yang dekat dengannya bisa ya Kak?"
Samuel langsung berdiri tegap sembari menggelengkan kepalanya membuat Bella kini hanya dapat meniup poninya.
"Aku hanya bisa menyarankan lakukan hal yang bisa membuat kau dilihat oleh para karyawan terutama di bidang IT. Jika itu terjadi kau tentu akan dipindahkan kebagian itu," bisik Samuel kembali.
Bella nampak berpikir sejenak sembari memegang dagunya ia membatin, melakukan hal yang dapat dilihat?
Tanpa mereka sadari dari arah belakang Avan berjalan dengan gagah dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana menghampiri Bella dan Samuel.
"Hemm."
"Tapi Kak aku masih tidak paham dengan ucapan Kakak," bisik Bella mengutarakan ketidakpahamannya. Mengabaikan suara deheman yang tidak tahu siapa pelakunya.
Samuel kembali mendekati telinga Bella lalu berbisik kembali, "Aku tahu kau sangat ahli dalam hal ini jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu."
"Hemm." Kali ini Avan tidak hanya mengeluarkan suara dehem ia juga memegang pundak Samuel. Namun, siap sangka Samuel langsung menghempas tangan Avan.
__ADS_1
"Sam, kau ingin mati!" Suara bernada dingin itu sontak membuat Samuel dan Bella langsung membalikkan tubuhnya.
Samuel hanya bisa tertawa kikuk lalu pindah tempat yang semula di samping Bella menjadi di samping Avan dengan jarak satu langkah ke belakang.
"Ah, ya. Kakak serius mau menempatkan istri Kakak di bagian ini?" tanya Bella guna memecahkan kecanggungan.
"Kau ingat, di rumah kau memang istriku tapi saat di perusahaan kau adalah karyawan. Dengan ijazah hanya lulusan menengah atas kau berharap di bagian apa, Bella?" jawab Avan lalu melangkah pergi meninggalkan Bella tanpa ingin mendengar jawaban Bella.
Bella mengepalkan kedua tangannya sembari melihat Samuel memberikan semangat padanya dengan mengangkat tangan kanan seperti para pahlawan.
Tak lama kemudian Bella seperti mendapatkan ide gila, gadis kecil itu teringat kembali dengan Livia.
"Iya, pasti dia bisa membantuku," gumam Bella lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Livia.
Bella mengatur suaranya sebentar saat panggilan di seberang sana diterima.
"Liv, bisakah kau kirim anak anakmu?" tanya Bella.
"Akan sangat tidak bagus jika aku menyebut virus virus mu kan? Sudahlah lakukan apa yang aku perintahkan," ucap Bella.
Di seberang sana Livia sama sekali tidak bisa menolak keinginan Bella. Iya, tentu saja karena Livia sudah berjanji pada dirinya sendiri selain menjadi sahabat Bella ia juga akan selalu menolong Bella saat dalam kesusahan tanpa berpikir panjang sebab semua ia lakukan karena kebaikan Bella padanya.
***
Beberapa jam berlalu kini perusahaan itu menjadi ricuh. Lampu keamanan sistem berbunyi nyaring menandakan jika ada serangan.
Selain tim IT yang sibuk membuat pertahanan dari serangan virus. Tim customer servis juga sedang sibuk menangani komplain dari pelanggan.
Hai, CS ProMall apa otak kalian mesum semua? Kenapa di toko kalian hanya menjual barang barang seperti ini?
CS ProMall apa pemimpin kalian otaknya hanya sebatas membuat anak?
CS ProMall saya akan melaporkan toko ini agar segera di tutup.
__ADS_1
Akan segera kami perbaiki. Mohon menunggu.
Avan yang baru saja keluar dari ruangannya seketika mengepalkan tangannya. Baru kali ini bisnis yang ia jalankan mendapatkan serangan virus dan merugikan perusahaan.
"Apa saja yang kalian perbuat hingga ada virus seperti ini!" bentak Avan tidak terima.
Tim IT yang mendengar suara Avan meninggi kini menjadi tidak bisa konsentrasi. Belum lagi layar monitor mereka memperlihatkan banyak produk dalam mall menjual beberapa alat-alat untuk orang dewasa sebagai bentuk pemuas na*su.
"Maaf Pak. Kami akan segera menyelesaikan masalah ini," jawab ketua Tim IT.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan? Segera kerjakan!" bentak Avan kembali.
Sungguh hanya beberapa virus langsung membuat perusahaan itu kini dalam tekanan, bisa jadi setelah ini pemasukan dan kepercayaan masyarakat pada perusahaannya akan hilang.
Beberapa saat menunggu tim IT belum bisa menangani virus itu. Layaknya jamur semakin dibasmi jika belum sampai ke akar akan muncul kembali. Avan langsung mengambil alih pusat komputer lalu jemarinya bergerak memencet tombol-tombol agar bisa menghentikan virus itu. Namun, sayangnya ia yang dari lulusan IT ternama sama sekali tidak bisa mengendalikan virus itu.
"Pak, apa perlu kita mencari hacker di luar sana untuk bisa segera menghilangkan virus ini?" usul Samuel saat melihat Avan frustasi.
Avan sekali lagi melihat ke sekeliling ruangan di mana para CS nya sibuk menangani komplain dari pelanggan, tim IT sibuk mencari cara agar bisa menghilangkan virus yang entah dari mana bisa menyerang jaringan IT nya, dan Tim bagian keuangan sibuk mengontrol saham tiba-tiba anjlok.
"Lakukan. Jika ada yang bisa, dia akan menggantikan Aldo sebagai ketua tim IT."
Nama Aldo yang disebut hanya bisa memasang muka kecewa, tapi mau bagaimana lagi ketidak pecusan dirinya menangani masalah memang seharusnya ia segera mengundurkan diri.
Di saat suasana genting Bella langsung mengambil kesempatan untuk masuk ke bagian perannya. Gadis itu dengan anggun membawa nampan berisikan beberapa minuman.
"Kopi, teh, susu. Ada yang mau?" teriak Bella yang langsung membuat hening suasana ruangan.
Samuel yang tadi hampir menghubungi salah satu teman hackernya ia langsung bergumam, "Kali ini aku tidak bisa membantumu Bella. Tamat sudah riwayatmu."
Avan mengetatkan rahangnya, bisa-bisanya sang istri bersikap seperti itu. Ya, meskipun ia tahu jika sang istri adalah gadis kecil dengan sifat manja, tapi bukankah gadis itu bisa melihat situasi?
"Arabella!"
__ADS_1