
Rumah sakit Medika.
Laudya tersenyum puas saat melihat Avan kini menemani dirinya. Tak hanya itu, wanita bermata sipit itu merasa mendapatkan kemenangan sebab rencana Avan yang ingin jalan-jalan dengan Bella akhirnya batal.
Beberapa saat yang lalu setelah Laudya mendapatkan informasi dari Avan jika sang kekasih ingin menebus kesalahan, ia langsung membuat rencana mencelakai dirinya sendiri, dengan mengendarai mobil. Akhirnya Laudya menabrakkan mobil itu di salah satu pohon agar terlihat seperti kecelakaan.
Laudya mengamati tangannya yang kini diperban, "Apa ini yang dinamakan bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian?"
"Avan, aku pertegas, kau hanya milikku! Aku mengatakan jika Bella yang bersalah dalam kasusku agar kau membenci dia, tapi kau justru tidak mempercayaiku dan mencari bukti. Meskipun aku tidak tau siapa pelakunya tapi aku sangat yakin jika ini semua perbuatan ibumu," gumam Laudya sembari menatap Avan yang kini terlelap di sampingnya dengan posisi duduk di kursi.
Pandangan Laudya kini beralih pada ponsel Avan yang sejak tadi ia matikan. Wanita itu bersyukur sepertinya semesta mendukung rencananya, terbukti saat tadi Avan panik ia menjatuhkan ponselnya lalu sampai sekarang lelaki itu seperti lupa dengan barang yang hampir seperti belahan jiwanya.
"Aku pikir ini saatnya memberitahu nona kecil dari keluarga Drajat itu," gumam Laudya lalu meraih ponsel Avan setelah aktif Laudya mengambil nomor Bella.
Jemari lentik itu bergerak cepat mengetik kalimat lalu mengirim foto ke Bella.
Di sisi lain, Bella baru saja sampai rumah. Ia langsung membuka pintu berharap Avan berada di dalam rumah dan menunggu dirinya. Namun, saat tubuh itu sampai di dalam suasana rumah gelap gulita, pertanda belum ada orang yang datang.
"Jadi Kak Avan belum pulang? Lalu kemana dia? Apa terjadi sesuatu padanya?" Bella bertanya-tanya sembari mencari saklar lampu.
Belum ia menemukan saklar itu. Ponselnya memberikan tanda notifikasi, saraf Bella menginstruksikan untuk segera membuka notifikasi itu yang ia pikir dari Avan.
Baru saja Bella membaca pesan, ia seperti mendapatkan serangan yang sukses membuat jantungnya berhenti berdetak.
[Bagaimana, liburannya menyenangkan? Tapi aku ikut berduka nyatanya sang putri harus kembali lagi pada kenyataan dimana sang pangeran harus kembali ke sisi sang pelayan.]
[Ini hadiah dariku]
Gambar
Bola mata Bella langsung memanas saat melihat foto Avan dan Laudya. Ia juga bisa menebak jika foto itu berada di rumah sakit.
Meskipun suasana hati Bella kini bergemuruh ia tidak ingin seketika terpancing emosi. Gadis itu menguatkan jemarinya yang bergetar untuk membalas pesan Laudya.
__ADS_1
[Apa Kak Laudya sakit? Jika iya, tidak apa apa Kak Avan berada di sana menemani Kakak. Jika Kak Laudya nanti sudah tidak membutuhkan bantuan dari SUAMI SAYA harap Kakak dengan ikhlas membiarkan Kak Avan pulang.]
"Hah, kau sudah seperti istri yang siap dipoligami, Bel." Bella meruntuki dirinya sendiri setelah mengirim pesan itu.
Hanya beberapa menit setelah Bella mengirim pesan, kini ponsel Bella mendapatkan notifikasi balasan.
[SUAMI? Suami apanya? Apa kau tau meskipun aku pura pura sakit selama satu tahun pun Avan akan tetep berada di sisiku. Dia tidak akan memperdulikanmu.]
Bella mendengus kesal. Gadis itu mulai berpikir apa kekasih suaminya ini hanya berpura-pura sakit agar bisa dekat dengan sang suami dan menggagalkan rencana liburannya?
"Jika kau hanya berpura pura aku tidak akan memaafkanmu Laudya."
Bella tidak memperdulikan apapun lagi, meskipun ia belum lihai mengendarai mobil dan belum mendapatkan SIM, gadis itu nekad mengeluarkan mobil dalam bagasi guna menuju rumah sakit.
***
Bella menghembuskan napas lega meskipun banyak kekacauan yang ia timbulkan di jalan akhir dalam waktu 1 jam ia bisa sampai rumah sakit.
Berkata bantuan Livia, Bella tahu dimana Laudya dirawat dan berada di kamar mana, jadi ia tidak perlu bertanya pada resepsionis lagi. Lagi pula keadaan juga sudah malam jika ia bilang berkunjung tentu saja tidak akan dibiarkan masuk.
Tanpa mengetuk pintu Bella langsung masuk ke dalam. Pemandangan pertama yang dilihat Bella saat ini, Avan masih tertidur dan Laudya kini sedang bermain ponsel sedang berfoto-foto.
"Kau datang?" ucap Laudya tanpa bersuara hanya bibirnya saja yang bergerak namun terbaca dengan jelas oleh Bella.
Bella tidak menggubris ucapan Laudya. Ia langsung menepuk-nepuk pundak Avan agar lelaki itu bangun. Benar saja tidak lama Avan mengerjap-ngerjapkan matanya lalu melihat ke arah Bella.
"Bella, kau di sini?" tanya Avan.
"Iya, aku mau jemput Kakak dan pulang bersama. Ayo, Kak, kita pulang," ajak Bella sembari mencetak senyum manis di bibirnya.
"Bel, maaf aku tidak bisa pulang. Kau lihat Laudya sedang sakit dan dia tidak punya saudara yang menjaganya," tolak Avan dengan alasan logis.
Mendengar penolakan Avan senyum Bella perlahan memudar. Sebenarnya ia sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi gadis itu mencoba mempertaruhkan harga dirinya di depan kekasih sang suami, untuk bisa memperlihatkan bahwa dirinya yang berhak atas Avan. Namun, Bella kini tertampar kenyataan bahwa kedekatan beberapa hari ini serta ciuman yang ia dapat dari Avan sama sekali tidak ada arti.
__ADS_1
"Van, tidak apa apa jika kau ingin pulang. Aku bisa sendirian di sini, lagipula aku sudah membuat kau seharian di sini," ucap Laudya dengan nada sendu.
Mendengar ucapan Laudya kini Avan baru sadar jika ia melupakan sesuatu, iya janjinya pada Bella.
"Lau, aku akan berbicara sebentar dengan Bella. Kau tidak masalah aku tinggal sebentar," ucap Avan dengan lembut.
"Tidak apa apa jika kau mau pulang juga," jawab Laudya sembari menundukkan kepalanya.
"Hei, tenang saja aku tidak akan pulang aku akan menjagamu."
Bella sungguh muak melihat adegan seperti ini. Tanpa berucap kata ia langsung keluar dari ruangan Laudya, tapi sebelum Bella keluar ia sekilas melihat sudut bibir Laudya tertarik ke atas menandakan jika dirinya sudah kalah telak.
Avan yang kini sudah mendapatkan izin dari Laudya langsung menghampiri Bella.
"Jadi Kak Avan tidak mau pulang?" Bella mengeluarkan suaranya terlebih dahulu.
"Bel, aku sungguh minta maaf. Aku sudah melupakan janjiku dan aku juga tidak bisa ikut pulang bersamamu," ucap Avan.
Bella melipat kedua tangannya di dada memandang Avan dari ujung rambut hingga kaki yang kini terlihat begitu berantakan.
"Kenapa? Kenapa Kakak mempertaruhkan diri Kakak hanya untuknya?"
"Bel, dia kekasihku! Dan kau juga tau itu. Lalu kenapa kau bersikap seolah aku ini milikmu? Aku melakukan apapun padanya itu urusanku jangan ikut campur," ungkap Avan yang tak suka dengan pertanyaan Bella.
Ah, kekasih? Kekasih yang Kakak hidupi layaknya istri? Ya, aku seharusnya tidak ikut campur. Tapi, aku tidak bisa Kak, aku tidak bisa menerima semua ini, batin Bella menangis meronta-ronta.
Avan melihat Bella yang kini terdiam sembari melihat dirinya, juga ikut diam. Ia tidak ingin jika bertengkar dengan Bella akan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas apalagi ini di ruang umum.
"Beri satu alasan, apa yang tidak aku miliki dimiliki Kak Laudya?" tanya Bella sekali lagi.
"Kau tentu sangat tau kenapa aku sangat mencintainya dan rela berkorban apapun untuknya. Karena dia sudah berkorban untukku memberikan salah satu organnya hingga sampai hari ini aku masih bisa hidup. Dan itu tidak pernah kau miliki, apalagi disaat aku hampir diambang kematian kau justru pergi," papar Avan.
"Jadi itu alasan Kakak membenciku selama ini selain keluarga kita adalah kolega bisnis?" Bella langsung mendapatkan jawaban dari Avan saat lelaki itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Di menit berikutnya Avan membalikkan tubuhnya, ia merasa sudah tidak ada lagi yang perlu ia katakan pada Bella. Namun, baru beberapa langkah ia mendengar suara Bella yang terdengar aneh di telinganya.
"Kau ingin tahu kemana aku saat itu!"