
Dentingan jatuhnya sendok ke lantai membuat Avan kini langsung memfokuskan pandangannya ke arah Laudya. Raut ekspresi sang kekasih menunjukkan kesedihan, hal itu tentu saja tak mampu membuat Avan menujukan sikap egoisnya saat ini.
"Lau, maaf bukan maksudku untuk membuatmu sedih seperti ini," ungkap Avan penuh penyesalan.
Samar-samar Laudya menarik sudut bibirnya, tentu saja ekspresi yang ia tunjukkan ini hanyalah akting untuk bisa menarik simpati Avan.
Avan melihat Laudya justru mengeluarkan air mata ia semakin dibuat panik. Dengan sekuat tenaga Avan mencoba mengangkat tubuhnya lalu menarik kedua tangan Laudya.
"Jangan menangis lagi, maaf aku," ucap Avan kembali.
"Bagaimana aku tidak menangis, raga kekasihku ada di sini tapi jiwa dan pikirannya? Van, jika kau memang sudah tidak menginginkan aku lagi katakanlah, agar aku bisa mempersiapkan diri untuk tidak ada di sampingmu," Laudya dengan suara sesenggukan mengatakan kalimat itu.
Avan langsung meraih tubuh Laudya membawa ke dalam pelukannya. Lelaki itu tak mampu untuk menjawab perkataan sang kekasih, sebab ia merasakan hal yang sama, benar raganya ada di sini tapi jiwanya berlari menuju ke arah Bella.
Van kau tidak bisa seperti ini terus menerus. Jika Bella memang ingin pergi maka lepaskanlah dan kau harus membahagiakan wanita yang sudah menyelamatkan dirimu, batin Avan.
***
Beberapa saat berlalu, Avan sudah bertekad untuk melepaskan Bella. Ia juga berjanji pada Laudya untuk segera membawa hubungan itu kejenjang pernikahan.
Setelah termenung beberapa saat dalam kesendirian, kini Avan melirik ke arah ponselnya yang sejajak beberapa hari ia anggurkan. Jemari lelaki itu bergerak cepat mencari nomor wanita paru baya yang sudah melahirkan dirinya, Rianti.
"Hallo, Ma," sapa Avan saat panggilan itu tersambung.
"Ada apa? Sudah lelah bermain?" tanya Rianti. Ya, tentu saja hubungan anak dan ibu itu sedang tidak baik-baik saja, semenjak Avan tahu jika Rianti yang menyebabkan Laudya pergi saat pernikahannya mereka sudah tak lagi berkomunikasi, ditambah saat Bella memutuskan untuk pergi dari rumah Avan dan tinggal bersama dengannya.
__ADS_1
"Aku akan mengajukan surat perceraian untuk Bella," ucap Avan langsung pada intinya.
"Kau yakin? Kau tidak akan menyesal?" tanya Rianti memastikan.
Avan bukannya menjawab pertanyaan Rianti ia justru berkata, "Aku juga akan segera menikahi Laudya."
Di seberang sana Rianti yang kini sudah berada di lobi rumah sakit, ia langsung mengehentikan langkahnya. Wanita paru baya itu ingin menjenguk sang anak, meskipun hubungannya tidak baik tetap saja sebagai seorang ibu saat mendengar anaknya sakit tidak mungkin membiarkan saja.
Rianti tanpa banyak bicara lagi ia memutuskan sambungan. Helaan napas panjang keluar dari bibir berwarna merah terang itu.
"Bel, Mama minta maaf jika Mama tidak bisa lagi menjaga rahasia ini. Avan akan melepaskan dirimu dan Mama tidak mungkin diam saja," gumam Rinati lalu melangkahkan kakinya kembali.
Rianti ingat setelah malam itu dimana ia menceritakan semua rahasia besar tentang Bella dan Avan. Gadis itu meminta agar dirinya tidak memberitahu sang anak.
Rianti sudah cukup bersabar untuk tidak ikut campur masalah keluarga kecil yang baru dibangun Avan dan Bella, tapi karena Avan sudah membuat keputusan mau tidak mau ia akan ikut campur. Tanpa disadari kini kaki wanita paru baya itu sudah sampai di ruang rawat sang anak.
"Kau datang?"
Rianti langsung berjalan menuju sisi brangkar, ia meletakkan tas jinjing yang ia bawa lalu duduk di kursi.
"Kau pikir aku tidak akan luluh jika kau sakit? Meskipun aku keras kepala tetap saja aku seorang ibu," sahut Rinati.
Avan tersenyum kecut, rasanya perhatian yang sejak lama hilang kembali lagi, tapi ia merasa itu bukan sebagai perhatian seorang ibu tapi rasa kasian.
"Bagaimana luka bekas operasi ini? Apa masih sakit?" Rianti menunjuk ke pinggang sang anak membuat Avan mengerutkan dahinya. Ia dirawat di rumah sakit karena lambungnya terinfeksi bukan masalah bekas operasi.
__ADS_1
"Ck, kau bahkan tidak tau apa penyebab aku dirawat di rumah sakit, tapi kau dengan bangga berkata tentang seorang ibu," cibir Avan.
"Apa yang tidak aku ketahui? Awalnya kau merasa bersalah pada seorang, lalu merasa harus membalas budi. Ya, akibatnya lambung mu terinfeksi," Rianti masih dengan tenang menjawab cibiran sang anak.
"Van, sampai kapan kau jadi lelaki bodoh? Sampai kapan anak yang aku lahir kan menjadi anak pecundang?" Rianti melakukan penyerangan saat Avan hanya diam.
"Kau tidak perlu berkata seperti itu. Semenjak kau mendapatkan anak perempuan itu, apa yang aku lakukan kau selalu menganggap aku pecundang," sahut Avan tanpa melihat wajah sang ibu.
"Tapi kau memang pecundang. Kau pikir bisa hidup sampai sekarang siapa yang membantumu? Kau bisa mencapai kejayaan bisnismu berkat siapa?" tanya Rianti.
Avan tidak mengerti apa yang dikatakan sang ibu. Bukankah sudah jelas dua pertanyaan itu sudah ada jawabannya?
"Jangan berbicara berbelit-belit, aku tidak punya banya tenaga untuk mendengarkannya."
"Bella," Rianti langsung melontarkan nama itu membuat Avan tak bisa membendung tawanya. Lelaki itu merasa jika sang ibu tentu akan melakukan segala cara agar perceraiannya dengan Bella tidak akan terjadi.
"Jika ingin membanggakannya tidak perlu meluangkan waktumu untuk datang ke sini," ujar Avan.
Rinati selama ini menjadi wanita kuat dan tidak pernah meluruhkan air bening di depan sang anak. Tapi entah mengapa saat ia ingin membuka suara menceritakan tentang Bella ia tidak bisa membendung air matanya. Rianti merasa apa yang dirasakan Bella ia juga merasakannya.
"Aku tidak membanggakan dia, aku justru kasian padanya. Apa kau tau? Gadis itu masih berusia lima belas tahun tapi dia berani menarik seorang pedagang besar untuk mempercayai sebuah perusahaan yang mungkin tidak akan pernah bisa mencapai kejayaan. Apa kau tau? Gadis itu masih belum cukup mencapai usia tujuh belas tahun, tapi dia sangat berani masuk ruang operasi mempertaruhkan nyawa hanya untuk lelaki yang tidak pernah mencintainya bahkan tidak pernah melihatnya. Apa kau tau nyawa gadis itu pernah berada di ujung tanduk? Apa kau tau, bahkan diantara kesakitannya menghadapi keluarganya ia masih memikirkan lelaki yang justru memilih wanita lain?"
Avan menelan ludahnya kasar, sungguh apa yang dikatakan sang ibu membuat ia kebingungan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama ini? Terlebih ingatannya terbuka kembali pada kejadian bertahun-tahun yang lalu. Di mana masalah pedagang yang menolaknya tiba-tiba saja menyetujui kerjasama, lalu masalah operasi saat ia berhubungan dengan Bella malam itu ia juga melihat bekas luka ada di tubuhnya.
"Apa Mama sedang mengarang cerita?" tanya Avan pada akhirnya memanggil Rianti dengan sebutan Mama.
__ADS_1
"Jika Mama bisa mungkin Mama akan menjadi pendongeng untuk tetap bisa membuatmu tidur dengan nyaman. Tapi Mama tidak bisa." Rianti mengusap sisa-sisa air matanya, ia kembali berusaha untuk tegar lalu berkata kembali, "semua ada ditanganmu kau boleh percaya boleh juga tidak. Dan untuk perceraian jika kau sudah yakin biarlah gadis itu yang mengajukannya duluan agar dia tidak terluka terlalu dalam."
Avan langsung meraup wajahnya kasar. Perasaannya menyatakan untuk mempercayai ucapan sang ibu, tapi logikanya menyatakan apa yang dikatakan oleh sang ibu hanya sebuah kebohongan meskipun dibeberapa kejadian kebetulan benar.