
Di salah satu ruang meeting terpancar suasana menegangkan. Bos yang terkenal dingin sedang memimpin rapat rencana kerja untuk program baru guna memajukan perusahaan ProMall.
"Lalu apa rencana kalian?" tanya Avan menatap satu persatu anak buahnya. Terakhir tatapan itu tertuju pada Bella, hanya beberapa detik Avan langsung memalingkan wajahnya.
"Kami dari divisi keuangan ingin menyarankan agar memberikan pinjaman pada pelanggan. Dengan begitu pelanggan akan setia dan juga menambah penggunaan baru. Hal ini tentu saja memerlukan divisi pemasaran untuk bisa mempromosikan program ini," ucap ketua divisi keuangan, Marlin.
"Jika kita memberikan pinjaman tentu saja harus menambah sumber daya manusia. Sebab kita mungkin akan menagih pengguna jika pembayaran tidak tepat waktu. Apa divisi keuangan masih ada dana yang tersisa setelah pembayaran bonus akhir tahun?" sahut bagian manajemen personalia.
"Dengan uang kas yang kita miliki saat ini bisa untuk menambah sumber daya manusia satu atau dua orang. Untuk selanjutnya jika rencana ini sukses cukup membutuhkan waktu satu bulan saja menggaji karyawan dengan uang kas," sahut ketua Marlin.
"Tapi kita harus memikirkan kemungkinan yang akan terjadi untuk kedepannya. Jika hanya dengan persiapan seperti ini saya rasa kurang matang dan akan menimbulkan masalah baru," sahut divisi pemasaran.
"Sebenarnya ide yang diberikan Ibu Marlin cukup bagus, dan benar kita perlu SDM dan perencanaan yang matang. Lalu apa ada ide lain?" tanya Samuel dan sebagian ucapannya mewakili pertanyaan Avan.
Suasana hening menandakan jika tidak ada ide lagi. Avan kembali menatap satu persatu karyawan yang ikut meeting berjumlah enam orang itu.
Sementara Bella yang sejak tadi diam kini tangannya terangkat guna menyuarakan pendapatnya. Namun, sebelum Bella berbicara Avan menyela terlebih dahulu, "Saya kira meeting ini cukup sampai di sini. Saya akan mencari solusi untuk ide Ibu Marlin."
Bella langsung menurunkan tangannya lalu menunduk saat semua mata tertuju padanya. Di menit berikutnya semua orang kini sudah meninggalkan ruang meeting sembari membicarakan dirinya. Bella sendiri masih dengan posisi duduk ia mengepalkan tangannya lalu meninju ke udara guna melampiaskan kekesalannya.
"Avan Mahendra! Baiklah jika kau ingin seperti ini," gumam Bella meyakinkan dirinya untuk mengikuti permainan Avan yang ingin saling bersikap acuh.
Namun, sesaat kemudian gadis itu menghembuskan napas panjang, lagi dan lagi kalimat tadi hanya bisa terucap di bibir saja, untuk hatinya? Tentu saja menolak mentah-mentah.
"Tidak! Aku harus menemuinya," putusnya lalu berjalan meninggalkan ruang meeting menuju ke ruangan Avan.
Bella mengetuk pintu yang terbuat dari kaca itu. Setelah dari dalam terdengar suara Avan yang mempersilahkan tamunya masuk Bella langsung mendorong pintu.
"Kak Avan," Bella tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi dan sikap malu-malunya. Meskipun demikian Avan hanya bisa berdecak sebal lalu memalingkan wajahnya kembali ke layar monitor.
"Kakak mau makan siang? Bella beliin makanan ya?" tanya Bella berusaha untuk membujuk sang suami. Konon, orang bilang cara meluluhkan hati lelaki adalah dengan memberikan makanan, walaupun Bella tidak bisa memasak ia bisa menggunakan tenaganya untuk mencari makanan yang diinginkan Avan, dengan begitu Bella berharap Avan akan melihat ketulusannya.
"Keluar!" perintah Avan masih dengan nada rendah. Berharap Bella akan mengikuti perintahnya dan tidak memancing emosinya yang sejak pagi sudah tersulut.
"Iya, Kak. Bella akan keluar, jadi Kakak mau makan apa?"
"Keluar!" ucap Avan kembali dengan sedikit menaikkan intonasinya.
"Kak, meskipun pekerjaan banyak tapi Kakak harus makan. Jadi Bella beliin makanan ya," bujuk Bella lagi.
Habis sudah kesabaran Avan. Lelaki dengan tatapan tajam itu langsung menggebrak meja dan sialnya lagi pintu ruangan itu tidak ditutup sehingga memancing para telinga karyawan untuk bisa mendengar pertengkaran suami istri itu.
"Apa kau tuli? Apa kau bodoh? Bahkan an-jing diluar sana saat diperintah akan langsung menuruti majikannya. Tapi kau? Kau lebih bodoh dari an-jing itu!" cibir Avan.
Air mata Bella mengalir dengan deras, baginya tidak masalah jika memang Avan marah atau mengancam dirinya, tapi ini ucapan Avan sudah kelewatan. Seketika itu Bella membalikkan tubuhnya bergegas pergi dari perusahaan dan tidak memperdulikan para karyawan yang menatapnya dengan macam-macam ekspresi.
***
Di sisi lain, Samuel setelah selesai ikut meeting bersama kini ia langsung menemui Livia yang berada di salah satu ruangan tersembunyi. Di mana keduanya berencana ingin melihat data penerbangan yang mengatasnamakan Laudya Margaretha.
__ADS_1
Samuel takjub saat melihat jemari mungil Livia yang bergerak lincah pada mouse dan keyboard. Bola mata itu tak berkedip meskipun sudah panas, satu julukan yang kini disematkan Samuel pada Livia, programmer imut.
"Berkediplah jika tidak matamu akan terlepas, lalu dibawa tikus," suara Livia langsung membuat Samuel berdehem guna menetralkan degup jantungnya.
"A—apa k—kau sudah menemukannya," tanya Samuel dengan gugup guna mengalihkan perhatian Livia.
"Aku masih butuh beberapa menit lagi karena sistem jaringan airport itu benar benar terjaga," jawab Livia tanpa memandang Samuel.
"Kau yakin? Tapi menurutku kau akan kesulitan membobolnya. Bagaimana jika kita ke bandara saja, sekalian kita bisa jalan jalan ke Singapore atau Paris?" usul Samuel.
Livia hanya diam saat mendengar usulan itu. Beberapa menit berlalu ia langsung berkata, "Kau hanya menghabiskan uang perusahaan untuk hal tidak penting."
"Sekarang bisa kau cek siapa yang membuat si ulet bulu itu terbang ke Paris," imbuh Livia lalu memundurkan kursi agar Samuel bisa memeriksa hasil kerjanya.
Samuel meneliti data yang baru saja ia dapatkan. Kelopak mata lelaki itu menyempit saat mengetahui pelaku dari hilangnya Laudya saat pernikahan Avan dan Bella.
"Ck, seharusnya kau beritahu bosmu itu agar tidak perlu mencari tahu informasi seperti ini. Karena akan semakin terluka, tapi dari semua itu aku yakin Bella yang lebih terluka," cetus Livia.
"Apa maksudmu?"
Livia mengangkat kedua bahunya, lalu bersikap acuh tak acuh.
"Aku tahu kau pasti tidak rela kan jika Avan bersama dengan wanita, apa tadi? Ah, iya, si ulet bulu. Sama aku juga, tapi namanya cinta tidak bisa dipaksa," terang Samuel.
"Cinta karena kesalahpahaman untuk apa? Sudahlah di sini memang Bella yang bodoh, demi cinta ia rela melakukan apapun termasuk mengorbankan dirinya meskipun tidak dianggap."
Otak Samuel mencerna kalimat Livia, sepertinya ada hal besar yang diketahui gadis itu.
Livia berjalan anggun, guna menghampiri Bella. Ia bermaksud ingin mengajak Bella makan siang di tempat favorit mereka sembari menceritakan apa yang sudah diperintahkan Avan padanya. Namun, saat perjalanannya ia justru mendengar beberapa ucapan kejadian buruk yang baru saja menimpa sahabatnya. Tanpa berpikir panjang Livia langsung mendorong pintu ruangan Avan.
"Kau, apa yang sudah kau lakukan!" seru Livia.
Avan melipat tangannya menatap gadis ingusan yang sudah bersikap tidak sopan.
"Apapun yang aku lakukan tidak ada hubungannya denganmu!" sahut Avan.
"Jadi apa yang aku dengar diluar tadi benar? Kau mengatainya!"
"Memang dia bodoh!" cetus Avan tak peduli jika Livia akan mengamuk padanya.
"Kau, asal kau tahu, Bella sama sekali tidak terlibat dalam kasus kekasihmu itu. Sejak dia bangun tadi pagi ia sudah berusaha untuk bisa menjadi istri terbaik dengan kekurangannya, hanya demi kau tidak marah dia rela memohon padaku agar datang kesini sementara dia putri keluarga terhormat, tapi apa yang kau lakukan? Aku rasa kau yang bodoh menyia-nyiakannya," jelas Livia mengeluarkan isi hatinya yang terpendam selama ini.
Sejujurnya sudah sejak lama Livia ingin memaki Avan tapi Bella selalu mencegahnya. Seandainya satu rahasia yang selama ini dipendam Bella bisa ia katakan, Livia yakin saat ini juga Avan akan menyesali perbuatannya.
"Sudah selesai? Kau boleh keluar!" perintah Avan dengan nada dingin seolah apa yang dikatakan Livia sama sekali tidak berarti untuknya.
Livia yang diperlakukan seperti itu hanya bisa mengepalkan tangannya, seandainya Avan bukan orang berada dan tidak ada hukum melarang membunuh seseorang mungkin sudah Livia lakukan sejak tadi. Akhirnya Livia hanya bisa mendengus kesal lalu meninggalkan ruang Avan.
Sementara Samuel melihat Livia pergi dengan wajah memerah, ia langsung masuk ke ruangan Avan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Samuel penasaran.
"Jika kau datang hanya untuk berbicara tidak penting lebih baik kau kembali ke mejamu," perintah Avan.
Kedua alis Samuel hampir menyatu mendengar perintah Avan. Namun, lelaki itu pergi setelah meletakkan map yang berisikan informasi yang sudah didapatkan.
Awalnya Avan terlihat tidak peduli dengan map itu. Namun, setelah banyak pertimbangan ia membuka isi map.
"Apa? Jadi Mama yang melakukan ini semua?" Avan memijit pelipisnya yang kini berdenyut nyeri, "astaga, apa yang sudah kau lakukan barusan, Van?"
Jemari Avan langsung meraih kunci mobil untuk mencari Bella dan ingin meminta maaf.
***
Avan melihat langit kini berubah warna menjadi hitam, itu tanda malam tengah menjelang. Namun, ia belum menemukan keberadaan Bella. Awalnya Avan menyangka jika Bella berada di rumah, tapi nyatanya tidak ada. Bahkan dirinya sudah mencari ke rumah orang tua Bella dan rumah sang ibu, tapi hasilnya nihil.
"Apa aku harus menelpon Livia?" tanya Avan pada dirinya sendiri, namun setelah itu ia menggelengkan kepalanya sebab ia tidak memiliki nomor Livia.
"Bodoh kau Avan. Kenapa harus terbawa emosi saat memiliki masalah dengan Bella. Lihatlah apa yang kau lakukan sekarang," maki Avan pada dirinya sendiri.
Sejauh ini Avan sama sekali tidak tahu tempat favorit atau tempat di mana Bella saat menenangkan diri. Namun, mobil Avan justru berhenti pada taman yang kemarin malam ia kunjungi bersama Bella.
Perasaan Avan menjadi tenang saat bola matanya melihat gadis berambut sepinggang itu duduk sembari mengayunkan ayunan dengan pelan. Tanpa ragu Avan langsung menghampirinya.
"Bella," panggil Avan membuat Bella langsung menoleh ke arah sumber suara. Namun, Bella langsung kembali menatap lurus setelah ia melihat Avan.
Avan memegang tali ayunan yang terbuat dari besi agar Bella menghentikan ayunannya. Lelaki itu kini berjongkok di depan Bella sembari berkata, "Bel, aku tau kau pasti marah karena aku sudah berbicara kasar. Bel, aku sungguh ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan."
Bella hanya diam, namun bola matanya menatap bola mata Avan untuk mencari tahu keseriusan lelaki itu.
Avan langsung meraih tangan Bella dan menggenggam erat, "Aku bodoh, aku labil, karena bersikap seperti anak kecil. Kau benar umur tidak menjamin sikap dewasa seseorang. Dan di umurku saat ini aku justru bersikap seperti anak kecil."
Bella menelan ludahnya kasar ia tidak percaya jika lelaki di hadapannya akan bersikap manis seperti ini. Meskipun dirinya marah dan benci pada Avan, namun sayangnya semua itu langsung sirna. Apalagi saat ini Avan menggenggam tangan dan tanpa ia sadari Avan juga mendaratkan mencium di dahinya. Air mata Bella kembali mengalir jika tadi siang air mata kesedihan saat ini air mata bahagia.
"Kenapa kau menangis?" tanya Avan sembari mengusap air mata Bella.
Bella melepaskan tangan yang digenggam Avan, lalu ia membersihkan sisa-sisa air bening itu. Ia tidak mungkin berkata bahagia di depan Avan, lelaki yang ia puja karena memberikan ciuman padanya setelah 8 tahun lamanya.
"Aku menangis karena aku tidak tahu jalan pulang. Aku juga takut kalau Kakak masih marah," ucap Bella membuat Avan terkekeh.
"Ya sudah, ayo, pulang." Avan mengulurkan tangannya untuk mengajak Bella pulang.
Bella menyambut uluran tangan Avan. Lalu berdiri di samping Avan dan melangkahkan kakinya. Namun, setelah mendapatkan beberapa langkah Bella berhenti begitupun Avan.
"Em, tapi tunggu tadi Kakak sedang meminta maaf padaku kan? Untuk itu aku ada permintaan."
"Apa?"
"Ajak aku jalan jalan," sahut Bella.
__ADS_1
"Oke."
Jawaban singkat itu diterima Bella dengan senang hati. Keduanya kini pulang bersama dan melupakan masalah yang sudah terjadi.