Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Membela


__ADS_3

Bibir dengan polesan zat kimia berwarna merah bata itu tertarik ke atas memperlihatkan ekspresi sinis saat melihat Bella dan Avan menatap dirinya.


"Aku kira ruangan ini menjadi tempat kerja sesungguhnya, rupanya tidak!"


Mendengar kalimat yang baru terucap dari seorang ibu yang sejak dulu merawatnya, Bella langsung merubah ekspresinya menjadi dingin, sorot mata gadis itu juga memperlihatkan keangkuhan apalagi ditambah tangannya yang kini terlipat di dada.


"Nyonya Mutia ada masalah apa Anda datang ke sini?"


Sejak kejadian dimana dirinya dijebak hingga menghabiskan satu malam dengan Avan. Bella sudah tidak menganggap Mutia sebagai seorang ibu. Bella juga tidak segan-segan untuk memprovokasi wanita paru baya itu agar membalas perbuatannya.


Mutia yang tadi berada beberapa meter dari Bella, kini kaki jenjang wanita itu melangkah mendekat, "Jangan pura pura tidak tau kau. Sebagai seorang anak mana baktimu? Sejak kau kecil aku sudah membesarkan dirimu dengan penuh kasih sayang, tapi sekarang kau membalas ku seperti ini?"


Bella bangun dari kursi berjalan mendekat ke arah Mutia, begitupun Avan yang sejak tadi masih melihat situa ikut berdiri di samping Bella.


"Kasih sayang mana yang ingin kau tunjukkan Nyonya Mutia?" tanya Bella dengan ekspresi menantang.


"Ah, kasih sayang menjadikan aku putri tidur atau nona kecil dari keluarga Drajat, apa membunuhku saat usiaku tiga belas tahun?" ungkap Bella.


Wajah Mutia menjadi pucat pasi setelah mendengar kalimat Bella. Dalam benak wanita itu berpikir, jadi selama ini Bella tahu semua perbuatannya?


Namun, Mutia tidak mungkin mengakui apa yang sudah ia perbuat. Wanita itu masih dengan sikap berapi-api berkata, "Apa kau bilang? Aku melakukan itu semua? Apa kau gila? Kau masih bernapas hingga saat ini memang karena siapa? Tuduhanmu tidak ada dasarnya Arabella."


"Kau bisa tenang Nyonya Mutia? Jika apa yang aku tuduhkan tidak ada dasarnya kenapa kau harus marah? Bibir ini bisa berucap apa saja sesuai yang aku inginkan, jadi tidak bisakah kau memahaminya?" tutur Bella sembari menyeringai lebar.


"Aku rasa semenjak kau bekerja di perusahaan ini kau menjadi wanita aneh dan tidak berperasaan!" cibir Mutia.


Bella terdiam saat mendengar cibiran itu. Rasanya ia ingin memberontak tapi mengapa hatinya tidak sejalan? Padahal sejak awal ia bisa menebak akan ada kejadian seperti ini, tapi kenapa? Ia sama sekali tidak bisa meluapkan emosinya?

__ADS_1


Sementara Avan yang juga mendengar cibiran itu lalu berkata, "Tapi aku suka dengan sikap istriku saat ini."


Ucapan Avan tentu saja membuat hati Bella melemah, gadis itu sama sekali tidak bisa memungkiri jika selama ini ia tidak memiliki seseorang yang melindungi dirinya kecuali sang mertua, tapi sekarang ia melihat Avan seperti malaikat yang dikirim oleh sang pencipta.


Mutia yang tadi fokus pada Bella kini langsung memfokuskan pandangannya ke arah Avan yang berdiri di samping kanan Bella, "Apa sekarang hobimu ikut campur masalah anak dan ibu? Aku pikir kau lebih baik diam dan jangan pernah ikut campur."


"Setahuku ketika seorang gadis sudah menikah, dia adalah tanggung jawab suaminya. Meskipun kau ibunya, ah ... Maaf lebih tepatnya ibu tiri, kau tidak perlu banyak berkomentar tentang sikap istriku karena apapun yang ada dalam dirinya sekarang adalah tanggung jawabku!" jelas Avan panjang lebar.


Mutia bukan tersentuh dengan ucapan Avan, ia justru tertawa sumbang, "Suami? Tanggung jawab? Sejak kapan?"


Mutia maju satu langkah mendekat ke arah Avan, "Sejak kau tidur dengannya atau sejak kekasihmu sudah tidak tinggal di rumah itu lagi?"


Avan memasukkan kedua tangannya ke saku lalu menatap wajah tua yang kini berada di hadapannya.


"Untuk masalah itu, bukankah Anda berhutang maaf padaku?" cetus Avan.


Avan tidak ingin melanjutkan perdebatan tak bermutu itu, ia pun langsung beralih ke Bella dan berkata, "Bel saat nanti umurmu sudah tua ingat, tanah beserta liang sudah melambai-lambai untuk segera dikunjungi. Jadi jangan bersikap arogan."


"Apa!" seru Mutia hampir tidak percaya dengan ucapan sang menantu.


Namun, berbeda dengan Bella gadis itu tersenyum geli dan tidak menyangka jika Avan akan mengatakan kalimat seperti itu untuk menghadapi sang ibu tiri.


"Em ... Aku bisa mengulanginya jika Nyonya Mutia tidak mendengar," sahut Bella.


Mutia langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia sudah tidak sabar lagi untuk memberikan pelajaran untuk sang anak. Padahal niat awalnya tadi ia hanya ingin komplain masalah kartu kredit yang dengan seenaknya diblokir oleh Bella, tapi sekarang sang anak justru membalas dengan ucapan seperti mendoakan dirinya cepat pergi dari semester ini.


Tangan dengan kulit tak lagi kencang itu langsung melayang ke udara menuju pipi Bella. Namun, sayangnya tangan itu tidak sampai ditujuannya. Bola mata Mutia langsung mengarah pada tangan kekar yang kini menghalangi dirinya.

__ADS_1


"Lepaskan!"


"Aku akan melepaskan tangan Anda jika Anda berjanji tidak akan berbuat kasar lagi!" sahut Avan.


Mutia melorotkan bola matanya, meskipun ia tidak terima dengan ucapan Avan demi menyelamatkan tangannya dari genggaman Avan, ia terpaksa menganggukkan kepalanya.


Setelah tangan tua itu terlepas Mutia mengusap-usap agar nyeri yang ditinggalkan sedikit menghilang sembari berkata, "Bel, aku peringatkan padamu segera buka kartu kreditku yang kau blokir. Jika tidak kau akan menanggung akibatnya."


"Itu tergantung pengeluaran Nyonya. Perusahaan sedang pailit karena anak anak Anda terlalu boros. Jika bukan Nyonya yang puasa untuk membeli barang branded lalu siapa lagi," sahut Bella.


Mutia seperti kehabisan kata-kata untuk meminta pada Bella. Tidak mungkin kan dia harus bersujud agar Bella mengabulkan permintaannya? Dengan hati kesal wanita paru baya itu langsung pergi tanpa seucap kata lagi.


Sementara Avan dan Bella terus melihat kepergian Mutia yang ditutup dentuman pintu.


Beberapa menit berlalu agar suasana tidak terlalu canggung Bella pun membuka suara, "Sejak kapan Kakak tau jika Mutia adalah ibu tiriku?"


"Sejak seminggu yang lalu, maaf aku mencari tau informasi tentangmu. Bel, aku sungguh sungguh untuk bisa mencalonkan diri sebagai kandidat cintamu dan kita bisa membangun rumah tangga dari nol," ucap Avan pada akhirnya bisa mengeluarkan keinginannya.


"Kakak yakin? Lalu masalah Kak Laudya?"


"Maaf sekali lagi bukan aku lelaki plin plan, aku mengaku jika aku menyukai Laudya karena ia telah menyelamatkan hidupku. Tapi nyatanya bukan, dan aku memutuskan hubunganku dengannya. Dan untuk perasaanku padamu itu timbul begitu saja Bel, sejak kau hadir menjadi istriku," papar Avan.


Perasaan Bella kali ini antara yakin dan tidak, hanya saja ucapan Avan saat ini membawa ia terbang hingga ke langit.


"Bel, kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan?" Avan meraih tangan kanan Bella yang kini masih berdiri di sampingnya, "Kita bisa mencobanya, aku janji jika memang hatimu tidak bisa terbuka aku akan mundur dengan sendirinya. Perasaanku kali ini tulus bukan sekedar untuk membalas budi dan sekali lagi aku mohon maaf karena aku telat menyadarinya."


Bella menarik napasnya dalam-dalam, sungguh ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Jujur saja ucapan Avan sekali lagi terlalu indah untuk ia dengar.

__ADS_1


__ADS_2