Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Janji


__ADS_3

Hari yang ditunggu Bella akhirnya tiba. Iya, weekend adalah hari di mana digunakan semua orang untuk beristirahat. Termasuk Bella, ia hari ini menerima ajakan Avan untuk jalan-jalan ke wahana aquarium yang terletak di salah satu sudut ibu kota.


"Bel, kau duluan saja ke sananya untuk memesan tiket. Nanti aku susul! Aku harus ke perusahaan, ada beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani terlebih dahulu," ucap Avan.


"Kakak gak ada niatan untuk ingkar janjikan?" tanya Bella sedikit kecewa sebab keinginannya untuk pergi bersama lalu pulang bersama nyatanya tidak kesampaian.


Avan mendekat lalu memegang pundak Bella yang kini sudah rapi dengan baju jalan khas gadis itu, cukup sederhana Bella hanya menggunakan celana jeans dan kaos berpadu dengan switer dan tas selempang, meskipun begitu gadis itu tetep cantik dan elegan, "Aku sudah janji tentu saja akan aku tepati."


"Oke. Aku akan menunggu sampai Kakak datang," sahut Bella dengan senyum mengembang di bibirnya.


Iya, sejak pemerintahan maaf Avan saat itu hubungan keduanya lebih baik bahkan mereka tidak ada pertengkaran yang berarti, jadi tidak heran hanya dengan sebuah kata manis dibalut dengan janji lelaki itu, Bella sangat percaya jika Avan akan selalu menempati kata-katanya.


"Aku akan memesan taksi untukmu bagaimana?" Avan menurunkan tangannya dari pundak Bella lalu mengambil ponselnya.


"Aku pesan sendiri saja Kak," sahut Bella menghentikan jamari Avan yang tadi sudah membuka kunci ponselnya.


"Kalau gitu aku pergi dulu. Biar cepat selesai pekerjaanku. Lalu kita bisa jalan jalan bersama," tutur Avan.


Avan melihat Bella mengangguk, ia pun langsung meninggalkan sang istri lalu masuk ke dalam mobil dan menginjak gas mobil itu.


Baru beberapa saat perjalanan ponsel lelaki itu berbunyi dan memperlihatkan nomor sang kekasih. Avan langsung menghela napas panjang, beberapa hari ini ia menghindari Laudya sebab karenanya ia memperlakukan Bella dengan buruk dan tidak hanya itu karena Avan tahu jika yang terjadi pada sang kekasih perbuatan sang ibu, ia yang tak mampu untuk berbuat apa-apa merasa tidak berguna.


Lama kelamaan ponsel Avan tidak berhenti berbunyi ia pun menekan egonya untuk mengangkat sambungan itu.


"Van, apa yang terjadi padamu kenapa kau tidak mengangkat telepon atau membalas pesanku. Apa kau sudah tidak menyukaiku lagi?" cecer Laudya dari seberang sana. Wanita itu kini meluapkan apa yang ada di dalam pikirannya.


Mendengar suara Laudya hati Avan seperti diremas, ia sebenarnya tidak tega mengabaikan Laudya, apalagi saat ini justru cintanya dipertanyakan.


"Aku minta maaf karena terlalu sibuk akhir akhir ini," sahut Avan.


"Apa kau sibuk mencari tau tentang penculikanku? Lalu bagaimana benarkan jika semua itu perbuatan Be—"

__ADS_1


"Lau, bukan Bella yang melakukan itu. Karena aku salah menuduh aku memperlakukan dia dengan buruk. Biar aku menebus kesalahanku padanya," Avan memotong ucapan Laudya.


"Apa maksudmu dengan menebus kesalahan? Apa kau bermaksud berdamai dengannya dan melanjutkan pernikahan kalian untuk selamanya." Napas Laudya di seberang sana sudah naik turun. Ia tidak terima jika apa yang ia tebak tadi benar adanya.


"Lau, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku hanya berjanji padanya untuk mengajak jalan jalan. Kau jangan berpikir terlalu jauh. Sudahlah aku lagi di jalan nanti aku telepon lagi," tanpa persetujuan Laudya, Avan mengakhiri sambungan itu.


Laudya yang berada di seberang tidak terima dengan perlakuan Avan. Wanita itu kini memikirkan bagaimana caranya Avan gagal pergi dengan Bella.


"Aku tidak akan membiarkan Bella mengukir kenangan dalam pernikahan yang hanya enam bulan itu. Karena di dalam pikiran Avan kenangan terindahnya hanya bersamaku," gumam Laudya.


***


Bella baru saja sampai di wahana aquarium. Gadis itu sudah tidak sabar untuk bermain di dalam sana dengan sang suami, melihat ikan atau berenang di dalam sana.


"Kak Avan," Bella menyebut nama sang suami penuh dengan cinta. Senyum gadis itu tak lepas dari bibirnya.


Bella terus melihat sekeliling memang banyak pengunjung, jadi tidak salah jika Avan meminta dirinya datang terlebih dahulu untuk memesan tiket. Beberapa saat mengantri akhirnya Bella mendapatkan tiket itu.


Sesekali Bella melihat jam tangannya berharap Avan akan segera datang.


"Sabar Bella, waktunya tidak untuk kau saja. Pekerjaan baginya adalah nomor satu, sudah untung kau mendapatkan kesempatan ini," ucap Bella meyakinkan diri.


Sementara itu, di perusahaan Avan sudah buru-buru menyelesaikan pekerjaannya.


"Aku sudah selesai memeriksa dan sudah aku tanda tangani, kau bisa langsung memasukkan proposal ini ke bank yang akan kita ajak kerjasama," perintah Avan pada Samuel.


Samuel terus memandang Avan yang hari ini nampak berbeda, "Apa bos sedang kasmaran? Rasanya sangat jarang kau bisa menyelesaikan pekerjaan hanya dalam waktu beberapa menit. Biasanya membutuhkan waktu berjam-jam karena banyak komplain."


"Jadi kau tidak suka?"


"Aku suka, kalau bisa setiap hari seperti ini," jawab Samuel.

__ADS_1


Avan mengabaikan ucapan Samuel. Lelaki itu kini beranjak dari kursi.


"Aku pergi dulu. Em, jika kau sudah selesai kau bisa pergi sama Livia. Sepertinya dia cocok denganmu," ucap Avan membuat Samuel hanya diam ditempatnya.


Melihat Samuel hanya diam Avan pun langsung melangkah keluar dari ruangan menuju basemen. Baru saja ia menyalakan mesin ponselnya berdering. Meskipun ragu-ragu karena nomor baru Avan tetep mengangkat sambungan itu.


"Hallo," sapa Avan setelah menggeser tombol hijau.


Setelah mendengar kabar dari seberang Avan tanpa banyak berpikir langsung menginjak gas mobilnya dan melaju dengan kecepatan maksimal.


***


Menunggu, satu kata paling horor yang dibenci semua orang termasuk Bella. Gadis itu kini seperti orang bodoh berdiri lalu duduk lagi dan semua itu ia lakukan berulang selama 5 jam lamanya.


"Kakak tidak masuk?" tanya seorang petugas yang sejak tadi memperhatikan Bella.


"Nanti saja, Kak. Aku masih menunggu suamiku," jawab Bella.


"Lebih baik suami Kakak ditelepon saja. Karena tiga jam lagi wahana akan tutup, Kak," saran dari petugas itu.


"Ah, iya. Kenapa aku bisa lupa ya. Benar, terima kasih atas sarannya Kak," ucap Bella yang langsung mendapatkan anggukan dari petugas itu.


Bella langsung mengambil ponselnya lalu mendeal nomor Avan yang sudah tersimpan di kontaknya. Namun, sayangnya yang terdengar jawaban dari operator.


"Kok gak aktif? Apa ponsel Kak Avan kehabisan daya?" tebak bella, "iya, pasti kehabisan daya jangan berpikir macam macam, Kak Avan pasti akan datang," ucap Bella kembali meyakinkan diri.


Sesekali Bella melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum pendek menunjuk ke angka 4 itu artinya wahana satu jam lagi akan tutup. Bella terus meyakinkan dirinya bahwa Avan pasti akan datang karena lelaki itu sudah berjanji padanya. Namun, sayangnya keyakinan Bella tidak lagi sama seperti beberapa jam yang lalu.


Bella mulai berpikir macam-macam karena sama sekali tidak bisa menghubungi sang suami. Di zaman modern seperti ini jika memang kehabisan daya tentunya Avan akan mencharger ponselnya melalui mobil kalaupun dia sedang dalam perjalanan, kalau sibuk di perusahaan tentunya ia bisa menghubungi dirinya bukan? Ingin rasanya Bella menghubungi Samuel hanya saja ia tidak ingin dibilang gadis manja yang tidak sabaran.


Bella terus menunggu meskipun wahana itu sudah tutup, untungnya satpam disana tidak mengusir dirinya yang kini duduk di anak tangga. Bella kini mendengarkan lagu kesukaannya—cinta tak bersyarat(element), agar mengurangi kegelisahan dalam dirinya.

__ADS_1


"Lebih baik aku pulang mungkin Kak Avan lupa dan dia sudah berada di rumah," putus Bella saat dirinya melihat jam yang kini sudah menunjuk ke angka 10 dan langit juga sudah menghitam. Tanpa Bella sadari di setiap langkah kakinya meninggalkan tempat itu air matanya mengalir tanpa permisi.


__ADS_2