Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Tuduhan


__ADS_3

Sejenak Bella terdiam memikirkan akibat dari jawabannya, tak lama kemudian ia pun mengeluarkan tawa tertahan.


"Kak Avan sangat tau aku kan? Jadi kalau aku jawab iya terus kenapa? Kalau tidak kenapa?" ucap Bella.


Avan langsung menggebrak meja tak terima dengan jawaban Bella yang seolah mempermainkan dirinya.


"Aku tanya sekali lagi, iya atau tidak?" Avan mempertegas ucapan sekaligus menuntut pengakuan dari Bella.


Namun, sayangnya Bella kini masih bersikap tenang sembari mengulang ucapannya, "Kalau iya, kenapa? Dan kalau tidak, kenapa?"


"Oke, aku simpulkan kau memang pelakunya. Aku menyesal dua kali ingin berdamai denganmu tapi sikapmu ternyata sebusuk ini, Bella!"


Avan bangkit dari tempat duduknya, sekali lagi ia menatap Bella dengan sengit sebelum pergi, "Kali ini aku tidak akan berbaik hati lagi padamu!"


Bella hanya tersenyum menanggapi ucapan Avan. Setelah lelaki itu tidak terlihat lagi ia baru menghembuskan napasnya dengan lega, tapi di menit berikutnya Bella langsung mengacak-acak rambutnya merasa frustasi dengan keadaan.


"Apa Kak Avan benar benar marah? Argh, Bella bodoh sekali kau, kenapa justru berkata seperti itu. Harusnya jika kau mau melindungi Mama Rianti kau tinggal bilang iya lalu bersujud untuk minta maaf," ucap Bella menyesali tindakan yang baru saja ia lakukan.


"Ah, sudahlah. Akan aku pikirkan caranya nanti agar bisa berbaikan dengannya." Bella kembali mengambil roti bakar dan melanjutkan sarapannya. Namun, baru sekali gigit ia sudah tidak berselera dan ia memutuskan untuk membuang semua makanan lalu pergi bekerja.


***


Avan baru saja tiba di perusahaan. Terlihat dengan jelas perusahaan itu masih sepi hanya ada beberapa OB yang berlalu lalang untuk membersihkan gedung yang teletak di lantai 20.


Iya, Avan memang masih menyewa gedung pencakar langit yang terletak di salah satu sudut ibu kota. Perusahaan online shop itu memang tidak membutuhkan lahan yang luas karena tidak memproduksi barang.


"Pagi Pak," sapa salah satu OB yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Avan.


Avan langsung berlalu begitu saja dari para OB menuju ruangannya. Saat dirinya membuka pintu di sana sudah ada Samuel yang baru saja bangun.


"Kau!" Avan mengacungkan jari telunjuk terkejut sekaligus tidak terima saat melihat Samuel di ruangannya.


"Aku semalaman mencari wanita yang kau mau itu bersama dengan tim IT, tapi sesuai dugaanku dia menutupi identitasnya dan hasilnya nihil. Karena lelah aku tidur di sini," jelas Samuel tanpa kebohongan.

__ADS_1


"Tidak perlu mencarinya lagi. Dia akan datang kesini dan akan membantu perusahaan." Avan berjalan dengan gagah menuju kursi kebesarannya tidak lupa dengan gaya khas lelaki itu yang selalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana.


"Kau yakin? Kenapa tidak bilang dari kemarin? Tau gitu aku tidak akan bekerja lembur tanpa gaji seperti ini." Samuel meregangkan otot-ototnya bernapas lega.


Avan memandang Samuel. Ia kini teringat dengan kejadian saat bersama dengan Bella.


Hem, jika aku menemukan bukti kesalahan Bella tentu saja aku bisa menjadikan itu sebagai alat untuk berpisah dengannya dan segera mengajukan gugatan perceraian, pikir Avan.


Kau yakin Avan? Hah, kau sendiri saja meskipun udah meluapkan emosimu sejujurnya kau tidak yakin Bella bersalah kan? Jadi kau ingin mencari bukti untuk berpisah dengannya atau untuk membersihkan namanya? Sebelah hati Avan seperti menentang dirinya.


Jemari Avan menangkup membetuk sebuah kepalan, ia saat ini sama sekali tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Di satu sisi setelah beberapa hari bersama dengan Bella meski seperti tom and jerry tapi ia merasa nyaman, tapi di satu sisi ia harus setia pada Laudya yang sudah memberikan kehidupan untuknya.


Sudahlah Van, nyaman memang awal mula alasan untuk bisa mendua dan kau harus menghilangkan rasa itu. Sekarang kau harus mencari bukti kesalahan Bella agar bisa kau gunakan untuk bercerai darinya tanpa harus menunggu selama enam bulan, batin Avan menyakinkan.


"Van, kau tidak apa apa? Kau kesambet ya? Perlu dukun?" cecar Samuel saat melihat Avan tersenyum sendirian.


"Ck, bicara apa kau? Kadang aku merasa kau tidak seperti asisten pribadi yang tegas dan dingin seperti yang dibayangkan orang orang di luar sana," ketus Avan menggelengkan kepalanya.


"Tentu saja tidak! Kau tahu sendiri jika aku memiliki hati yang baik, sebab ini usahaku yang terakhir agar aku tidak terus melajang," sahut Samuel dengan sikap puitisnya.


Avan nampak berpikir sejenak beberapa saat setelah ia menimbang-nimbang hingga membuat Samuel menunggu jawabannya, ia pun berkata, "Setelah aku pikir pikir kenapa kau tak kunjung menemukan jodohmu, itu karena—"


Samuel dibuat penasaran sebab Avan menggantungkan jawabannya, "Karena apa?"


"Karena jodohmu sudah keguguran saat dalam kandungan."


"Sial! Menyesal aku menunggu jawabanmu yang tak logis itu," umpat Samuel membuat Avan tertawa geli.


Samuel beranjak dari tempat duduknya bermaksud ingin meninggalkan ruangan Avan kembali ke meja kerjanya yang terletak di luar.


"Tunggu!" cegah Avan.


"Em ... Apa lagi?"

__ADS_1


"Kau sudah gagal dalam misimu, jadi aku akan memberikan misi baru," ucap Avan.


Samuel mendengus kesal, sejak kapan tugasnya menjadi asisten pribadi melobi sejumlah investor dan para pedagang kini menjadi seorang detektif yang memiliki sebuah misi?


Baru saja Samuel ingin membuka suara, tapi Avan menyela terlebih dahulu, "Ingat bonus akhir tahun, jika masih mau jangan menolak."


Samuel mengetatkan rahangnya, tak lupa jari telunjuknya mengatung ke udara tertuju pada Avan, "Van, kau—"


Ucapan Samuel menggantung begitu saja saat ada suara seorang wanita, "Permisi apa benar ini ruangan CEO ProMall?


Samuel langsung menelan ludahnya kembali saat ia menatap wanita muda dengan gaun selutut dipadukan dengan cardigan rajut yang hanya sampai sepinggang. Wajah berbentuk oval itu terlihat manis dengan rambut dikucir kuda.


"Kau siapa?" suara dingin Avan mampu menyadarkan Samuel dari kekagumannya.


"Aku, Livia!"


Avan melihat penampilan Livia, wanita mendominasi dan angkuh. Ia pun langsung berkata, "Kau bisa duduk? Aku akan membicarakan kerjasama denganmu."


Livia menyunggingkan senyumnya bejalan ke arah kursi melewati Samuel begitu saja, "Langsung saja. Aku tau kau mau mempekerjakan aku dengan gratis? Kau pikir hanya dengan kesalahan seperti itu aku akan mengikuti kemauanmu? Kalau bukan Bella yang memintaku kesini tidak akan pernah aku menginjakkan kakiku ke sini!"


"Jadi ini semua karena Bella? Cukup menarik," sahut Avan.


Livia menatap sengit ke arah Avan.


"Kau boleh menolaknya, tapi yang pasti aku tidak akan tinggal diam? Apalagi Bella, aku bisa memastikan dia akan menderita sendirian dan kau tidak akan bisa membantunya," ancam Avan. Dengan otak cerdasnya ia tentu bisa menemukan titik lemah gadis itu.


"Ternyata kau lumayan licik! Aku pastikan akan membuat bisnismu ini hilang untuk selamanya," Livia balik mengancam Avan.


"Dengan Virus Rootkit? Kau pikir kami tidak bisa mengatasinya? Saat Bella membasmi virus itu aku sudah merekam ke data digital, jadi kau tidak akan bisa menggunakannya lagi. Dan perlu kau tau aku juga sudah menambah sistem pengamanan jaringan jadi kau tidak perlu bersusah payah," papar Avan.


Livia kalah telak saat berdebat dengan Avan, kini gadis berusia 20 tahun itu hanya bisa terdiam.


"Sepertinya kau cukup pintar jadi aku sarankan kau bekerjasama denganku. Cukup mudah pekerjaannya." Avan menelisik wajah Livia sebelum ia melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Aku ingin kau dengan asistenku bekerjasama untuk menyelidiki kasus penculikan kekasihku, Laudya."


"Apa?" jawab Samuel dan Livia secara bersamaan. Membuat Avan menyeringai lebar.


__ADS_2