
Kaki jenjang Bella sama sekali tidak bisa berhenti. Perasaannya semakin kacau saat melihat Avan dengan mudah mengembalikan mood sang kekasih.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Bella sembari menggigit kuku jari tengahnya.
"Aku tidak mungkin membiarkan mereka terus bersama di rumah ini. Tapi jika aku terus terangan mengusir wanita itu pasti semakin susah mendapatkan maaf dari Kak Avan."
"Bella, ayo berpikir. Jangan sampai suamimu diambil wanita itu!" Bella mengalihkan tangannya ke kepala lalu menarik rambutnya guna mengintruksikan isi kepalanya agar berpikir.
Tak lama kemudian tersirat satu ide dari kepala itu. "Iya, Mama Rianti pasti bisa membantuku."
Bella langsung mengambil benda pintar guna menghubungi Rianti yang berada di sebrang sana. Tidak membutuhkan waktu lama panggilan itu lalu tersambung.
"Sayang ada apa?" tanya Rianti yang langsung terdengar di gendang telinga Bella.
"Ma, Bella ingin makan rujak deket kompleks. Em ... Apa Bella harus ke sana untuk membelinya?" ucap Bella dengan nada manja.
Rianti yang berada di seberang terkekeh geli mendengar keinginan anak menantunya itu. Rianti paham jika Bella sebenarnya ingin bertemu dengannya bukan sekedar ingin makan rujak.
"Tunggu Mama, dua puluh menit Mama sampai," ucap Rianti membuat Bella langsung melebarkan senyumnya.
"Mama serius? Aku merasa jadi menantu durhaka," ujar Bella.
"Kau bicara apa? Sudahlah matikan sambungan ini Mama akan segera ke rumah."
Mendapatkan perintah seperti itu Bella langsung mematikan sambungan. Gadis itu kini membuang napas lega. Nyatanya masih banyak jalan menuju roma.
"Pelakor, hus ... huss pergi jauh," ucap Bella bersikap seperti istri seutuhnya.
***
Di sisi lain, Avan masih terus meyakinkan Laudya jika apa yang dikatakan Bella adalah kejadian tanpa disengaja. Meskipun sang kekasih sudah bisa memaafkan dirinya, tapi dengan sikap diam Laudya, Avan paham jika sang kekasih belum memaafkan sepenuh hati.
"Lau, kau masih marah?" tanya Avan menarik tangan Laudya lalu digenggam erat.
"Tidak!"
"Jika tidak kau pasti tidak akan bersikap seperti ini. Aku janji tidak akan terulang kembali kejadian itu dan tidak akan membiarkan Bella melakukan apapun terhadapku, kau percaya kan?" ucap Avan guna meyakinkan Laudya. Sungguh sikap lelaki itu berbanding terbalik saat bersama dengan sang kekasih yang biasanya dingin dan tegas kini menjadi berhati barbie.
__ADS_1
Laudya langsung mengembangkan senyumnya. Ia sama sekali tidak boleh lama-lama bersikap seperti ini, jika itu terjadi tentu Avan akan menganggap dirinya anak kecil. Laudya kini sedikit mengingat kenangan bersama dengan Avan dan sudah sejak satu minggu ia tidak pernah melakukan ciuman dengan sang kekasih. Wanita itu yang kini menginjak usia 25 tahun langsung menunjuk ke arah bibir.
"Kau merindukannya?" tanya Avan yang paham dengan kode yang baru saja diberikan Laudya.
"Kita sudah tidak melakukan itu selama beberapa hari. Jika boleh aku akan meminta lebih," ungkap Laudya.
Avan hanya membeku di tempat, sungguh selama menjalin kasih dengan Laudya ia tidak pernah melakukan hubungan lebih intim, karena bagi Avan hubungan seperti itu akan ia lakukan saat sudah mengikrarkan janji suci pernikahan.
"Lau—"
"Iya, aku tahu kau tidak akan melakukan itu kecuali sudah mengantongi kata sah," sahut Laudya memotong ucapan Avan.
Di menit berikutnya Laudya langsung mengalungkan tangannya pada leher Avan. Hal yang selalu ia lakukan ketika hendak berciuman.
Avan melebarkan senyumnya, menyambut bibir Laudya yang kini hampir mendekat dengan bibirnya. Hanya tinggal berjarak beberapa senti bibir itu akan menyatu. Namun, belum bibir itu menempel sepasang kekasih itu mendengar suara tepukan.
"Bella?"
Avan dan Laudya langsung mengakhiri keinginan mereka, tatapan keempat bola mata itu langsung tertuju ke arah Bella yang sedang mengantungkan kedua tangannya yang menyatu ke udara.
Seketika itu Bella langsung menjadi salah tingkah. Memang benar dia keluar dari kamar ingin mengganggu sepasang kekasih itu, tapi ia sama sekali tidak menduga mata perawan miliknya justru melihat adegan dewasa.
Avan langsung berdiri menghampiri Bella, rasanya ia ingin menggantung sang istri menggunakan hanger lalu dijemur dan tidak akan diangkat-angkat.
"Bella, kau ingin melanggar janjimu?" ungkap Avan saat tubuhnya sudah berhadapan dengan Bella.
"Sama sekali tidak. Aku hanya ingin memberitahu Kakak jika sebentar lagi Mama akan datang," jawab Bella.
Avan menyunggingkan senyumnya ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bella, "Sejak di perusahaan kau sudah membohongiku lalu apa kau pikir sekarang aku akan percaya?"
Bella menggidikkan kedua bahunya, "Ya sudah kalau tidak percaya. Setidaknya aku sudah memberitahu Kakak."
"Kau masuk jangan ganggu aku dengan Laudya!" perintah Avan dengan tegas.
"Sayang," ucap Laudya yang tak suka melihat Avan berinteraksi dengan Bella.
Avan langsung menoleh ke arah Laudya memberikan kode agar Laudya bisa sabar. Setelah sang kekasih mengangguk Avan beralih kembali ke arah Bella.
__ADS_1
"Masuk!" ulang Avan kini dengan intonasi tinggi.
Laudya yang mendengar suara Avan ia langsung tersenyum seperti mengejek Bella.
Bella masih mengembangkan senyumnya meskipun ia tahu jika Laudya senang saat dirinya diperlukan seperti ini.
"Aku akan mengambil minum dulu. Ah, iya lima menit lagi Mama akan datang." Bella melangkahkan kakinya guna menuju dapur.
"Sudah aku bilang, aku tidak percaya!" sahut Avan mengehentikan langkah Bella.
Baru saja Bella ingin menyahuti ucapan Avan bel rumah berbunyi.
"Mau aku yang buka atau Kakak, siapa tau Kakak gak percaya," ucap Bella.
Avan mengembuskan napas gusar ia langsung berjalan ke arah jendela memastikan siapa tamu yang datang. Bola mata lelaki itu membulat sempurna saat melihat sosok wanita paru baya, Rianti.
Avan langsung berlari ke arah Laudya sembari berkata, "Lau, sepertinya kau harus segera pergi dari sini."
"Avan apa apaan kau ini!" ucap Laudya yang tak terima.
"Di depan ada Mama aku tidak ingin kau terkena masalah. Aku mohon kau pergi, ya!" ucap Avan panik lalu menarik tangan Laudya agar berdiri dari tempat duduknya.
"Avan!"
Avan tak ingin banyak berdebat dengan sang kekasih, ia pun langsung membawa Laudya ke pintu belakang agar pergi dari rumah itu.
"Kau urus Mama," ucap Avan sebelum benar-benar pergi mengantar Laudya.
Bella langsung mengangkat tangan kanannya dan diletakkan di pelipis guna menjawab perintah Avan jika dirinya siap membantu.
"Mama," sapa Bella setelah membuka pintu.
"Lama sekali membuka pintunya?"
"Maaf tadi Bella sedang di kamar, ini pesananku?" tanya Bella langsung meraih barang yang ditenteng Rianti.
"Rujak Mang Ujang kesukaanmu," jawab Rianti menyerahkan barang bawaannya.
__ADS_1
Bella menerima dengan senyum kebahagiaan. Lebih tepatnya ia bahagia karena sudah berhasil mengusir Laudya dan tetep menjaga istananya dari calon ratu lain yang ingin mencoba merebut tahtanya.
"Terima kasih, Ma. Ayo, masuk." Bella langsung merangkul Rianti seperti ibunya sendiri. Baru kaki keduanya melangkah masuk dari belakang ada yang memanggil namanya.