
Avan terus menatap Bella yang sibuk dengan ponsel di tangan kirinya, sementara tangan kanan sibuk menyuap makanan ke dalam mulut. Sesekali gadis itu juga menunjukkan senyum seolah dunianya ada dalam ponsel itu.
"Van, aku mau lauk itu. Tanganku gak sampai dan masih sakit," ucap Laudya membuat Avan mengalihkan pandangannya dan kini tertuju pada sang kekasih.
Terlihat dengan jelas raut wajah Avan kurang suka pada Laudya. Iya, sejak kejadian di dalam kamar tadi saat dirinya ingin sekali mencium aroma rambut Bella yang ia rindukan. Namun, terganggu dengan kedatangan Laudya.
Apa yang kau pikirkan, Van. Lihat ekspresi yang kau tunjukkan. Kau tidak suka saat Laudya mengganggu dirimu? Sebenarnya siapa yang kau sukai? batin Avan mempertanyakan perasaannya sendiri.
"Van," panggil Laudya pada lelaki yang kini justru hanya terdiam sembari memandangnya.
"Maaf aku tidak fokus," ucap Avan lalu mengambil lauk yang diinginkan Laudya.
"Tidak apa apa, terima kasih Sayang. Aku ingin disuapi," ucap Laudya dengan nada manja. Wanita itu ingin menunjukkan pada Bella jika Avan menyayangi dirinya, tapi ia justru melihat Bella tidak ada respon.
Sementara Avan mau tidak mau menuruti keinginan Laudya. Namun, dalam benak lelaki itu justru muncul ide untuk membuat Bella cemburu, ia ingat kata orang jika cemburu adalah tanda cinta.
"Sayang buka mulutmu yang lebar. Aaa ...," ucap Avan dengan nada sedikit tinggi agar Bella mendengar suaranya.
Avan kembali mengamati Bella yang duduk di depannya. Gadis itu benar-benar tidak peduli dengan kejadian barusan, apa itu artinya cinta Bella sudah hilang? Avan belum cukup yakin jika cinta Bella hilang begitu saja ia kembali menunjukkan keromantisannya dengan Laudya.
"Lau bibirmu ada minyaknya aku bersihkan." Avan langsung mengambil tissu lalu mengusap ke bibir Laudya dengan lembut.
Avan mengira Bella akan bertingkah seperti anak kecil saat mainnya diambil orang lain. Namun, ia salah, masih dengan ponselnya gadis itu justru tertawa terbahak-bahak.
"Bel, apa yang kau tertawakan!" suara Laudya masuk ke dalam gendang telinga Bella. Membuat gadis itu mau tidak mau mengalihkan perhatiannya.
"Ah, ini Kak, teman SMA aku lucu banget, masa ngirim pesan ke aku katanya suka sama aku sejak dulu, terus aku balas besok ke KUA aja, eh— lama balasnya sekali balas dia bilang habis pingsan," papar Bella.
"Oh, kau serius? Gak bercanda? Apa temanmu itu tahu jika kau sudah bersuami?" cecar Laudya merespon cerita Bella. Sekalian membuat Avan kesal.
"Aku tidak bercanda, ini lihat." Bella menunjukkan hasil chattingannya pada Laudya lalu berkata kembali, "katanya dia siap menunggu jandaku. Ah, aku kira jadi janda horor, tapi nyatanya gak. Apalagi aku masih muda kan."
__ADS_1
Tangan Avan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih saat mendengar celotehan Bella. Perasaan tidak terima sangat mendominasi hati lelaki itu meskipun sesekali ia mengingat nama Laudya yang sejak dulu menjadi benteng hatinya, tapi mendengar ada lelaki lain mengharapkan Bella nama itu sirna begitu saja.
"Simpan hapemu, segera habiskan makananmu!"
Bella mendengar suara dingin Avan sedang memerintah dirinya, ia pun bertanya-tanya apa masalahnya sekarang? Bukankah dirinya tidak menggangu? Meskipun demikian Bella langsung berucap, "Ok."
***
Setelah makan malam selesai, Bella langsung masuk ke dalam kamar. Tubuh ramping itu kini meringkuk di atas ranjang.
"Tidak apa apa, tidak masalah, tersenyumlah!"
Tiga kalimat itu terus diucapkan Bella untuk menghilangkan kegelisahan di dalam hatinya. Bayangan sang suami yang kini tidur bersama dengan wanita lain terus bergentayangan di benak Bella. Percayalah berpura-pura bahagia dan seolah merelakan orang yang dicintai pada orang lain amat sangat menyakitkan.
Bella bisa saja pergi begitu saja, tapi apa dengan pergi masalah dihatinya akan selesai? Tidak! Bagi Bella cinta pertama akan selalu meninggalkan kesan, jika ia pergi begitu saja itu sama halnya ia tidak bisa menjalani kehidupan ke depannya nanti.
Di saat gadis itu tengah menikmati rasa menyayat hati, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Bella melihat nama yang tertera di layar ponsel itu. Nama sang kakak kedua, Arga Drajat.
"De, lagi apa? Bagiamana kabarmu? Kakak dengar kau mau bekerja di perusahaan?" cecar sang Kakak.
Bella langsung duduk dengan kaki menyila, sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia tidak percaya sang kakak akan panik seperti ini saat mendengar dirinya akan bekerja di perusahaan.
Iya, perusahaan AD grup yang bergerak dalam bidang mabel terbesar di kota itu seharusnya sudah Bella pegang sejak usianya 17 tahun. Meskipun tidak bekerja ia tetap sebagai pemegang saham terbesar di sana. Namun, karena ia bertingkah seolah-olah tidak tahu apa-apa dan menunggu usianya mencapai 20 tahun nyatanya semua itu dimanfaatkan oleh sang ibu tiri dan sekarang perusahaan itu dikuasai oleh kedua kakak tirinya.
Beruntung dalam setiap keputusannya Bella selalu didukung Rianti, setelah ia mendapatkan informasi tentangnya saat itu. Bella langsung memutuskan akan menghadapi konspirasi keluarganya. Jadi ia meminta untuk bisa bekerja di perusahaan itu.
"Iya, aku ingin belajar menghasilkan uang sendiri. Dan aku juga ingin menciptakan produk yang selama bertahun-tahun tertunda," ucap Bella.
Di seberang sana Arga bisa menebak jika Bella kini sudah berubah. Bukan Bella nona kecil dari keluarga Drajat yang manja lagi. Untuk itu ia akan berhati-hati, "Baiklah, Kakak tunggu kedatanganmu dan Kakak akan mengajarimu."
"Terima kasih, Kak. Tapi sepertinya aku juga akan membawa teman untuk bisa jadi asistenku," ucap Bella.
__ADS_1
"Kau perlu itu?" tanya Arga.
"Tentu, karena aku akan menduduki posisi wakil direktur bukan seorang manager atau pekerja kecil."
"Apa?" Arga terkejut dengan informasi yang baru saja ia dapatkan.
"Iya, posisi wakil direktur. Aku sudah mengajukan itu pada Ayah dan Ayah setuju. Jadi aku—" Belum Bella selesai berbicara sambungan terputus begitu saja. Bella menatap layar ponselnya, gadis itu kembali melebarkan senyum seolah lupa dengan masalah hatinya.
***
Kediaman keluarga Drajat.
"Yah, kenapa kau membiarkan Bella menduduki posisi wakil direktur? Jika anak-anak tau mereka bisa murka! Selama ini mereka yang menjalankan perusahaan itu," omel Mutia yang tidak terima dengan keputusan sang suami.
Drajat masih terdiam di kursi kerja yang terdapat di rumahnya. Lelaki paru baya itu bersikap tenang sembari melihat beberapa berkas yang harus ia tanda tangani.
"Kau diam!"
"Bun, apa yang bisa aku lakukan? Kau sangat tau semua ini memang milik Bella. Jika aku tidak mengikuti keinginan Rianti, kita semua harus siap hidup di jalanan. Kau mau itu?" tanya Drajat pada sang istri.
"Jika tau seperti ini. Sejak dulu aku bunuh saja dia!"
"Bukankah kau sudah mencoba tapi semua sia sia?" cetus Drajat.
Mutia mendesah berat, ia sadar apa yang dilakukan selama ini untuk mencelakai Bella semuanya gagal. Dalam pikirannya yang buntu wanita paru baya itu kini ingat jika Bella sangat lemah dengan Avan.
"Jika membunuh dia tidak bisa. Aku masih bisa menggunakan cara lain," cetus Mutia menyeringai lebar.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Drajat penasaran
"Avan!"
__ADS_1