Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Terancam


__ADS_3

Kaki Livia terhenti saat dirinya seperti orang bodoh mengikuti Samuel yang kini tengah berlari.


"Liv kenapa berhenti?" tanya Samuel masih dengan posisi menautkan tangannya dengan tangan gadis itu.


Livia seketika menarik tangannya agar tidak bertautan, gadis muda itu berkata, "Lalu kita mau kemana? Dan kenapa kita harus lari? Aku jadi seperti orang bodoh meninggalkan sahabatku di dalam!"


Samuel langsung berdiri tegak dan mengusap tengkuknya, benak lelaki itu berpikir, benar juga kenapa harus berlari?


"Em ... Apa kita perlu kembali ke dalam?" tanya Samuel seperti menawarkan diri.


Livia menatap Samuel. Sejak pertemuan pertama dengan lelaki itu rasanya sedikit aneh. Bukankah seorang Samuel Santoso, asisten pribadi Avan Mahendra terkenal dengan julukan tegas dan bisa diandalkan? Tapi ini? Seketika itu Livia menggelengkan kepalanya ia langsung memutar tubuhnya dan kembali ke ruangan Avan.


Samuel yang melihat Livia berjalan ke arah ruangan Avan ia berteriak, "Eh ... Tunggu! Aku yang di depan. Kalau terjadi apa apa aku bisa melindungi dirimu."


Namun, semua itu tidak dipedulikan sang gadis. Kini keduanya sampai di ruangan, suasana di dalam masih sama. Avan dan Bella terus menyelami sorot mata masing-masing seperti tidak mau melepaskan.


"Apa kalian akan terus begini? Jika ia akan aku siapkan obat mata!" seru Livia yang langsung menghentikan tatapan keduanya.


"Tidak perlu! Aku sudah mendapatkan jawaban. Kau akan keluar dari perusahaan ini," tegas Bella langsung berjalan ke arah Livia.


"Siapa bilang? Aku belum menyetujuinya."


"Memangnya Kakak memiliki pilihan lain?" tanya Bella.


Avan sedikit merenung, ia kesal kenapa selalu saja masalah perusahaan ini yang menjadi titik lemahnya? Kenapa dirinya tidak bisa melepaskan begitu saja?


"Aku akan mengizinkan Livia keluar dari perusahaan, tapi dia masih harus membantu program yang baru dibuat," putus Avan pada akhirnya.


"Apa Kakak bercanda? Bagiamana bisa satu orang bekerja di dua perusahaan?" Bella tidak terima dengan keputusan Avan.


"Anggap saja ini pekerjaan freelance, Samuel setiap weekend akan bertemu dengan Livia untuk membahasnya."


Bella dan Livia seketika menatap Samuel yang kini tersenyum.

__ADS_1


"Tidak bisa! Kak Samuel juga gak akan mau hari libur diganggu, ya kan?" tolak Bella, gadis itu melotot ke arah Samuel guna meminta dukungan.


"Kalau sudah perintah bos aku tidak mungkin bisa menolak," jawab Samuel sembari mengedipkan mata sebelah kanannya yang ia tunjukkan pada Avan.


"Aku tidak mau!" Kini giliran Livia menolak.


"Tidak masalah aku tinggal melaporkan kau ke polisi," ancam Avan sembari mengangkat kedua bahunya.


Kedua gadis itu kalah telak, mereka serentak menghentakkan kaki dan tanpa sepatah kata langsung pergi meninggalkan ruangan Avan.


***


Bella menghembuskan napas berat, waktu seakan cepat berlalu. Belum usai kekesalannya karena tidak bisa mengalahkan Avan kini ia harus pergi ke rumah orang tuanya.


"Apa yang Bunda rencanakan?" Benak Bella tiba-tiba terlintas pemikiran itu. Jika dulu ia menutup mata tentang kejahatan orang tuanya mau hidup di rumah itu selama bertahun-tahun ia tidak memiliki rasa khawatir, tapi sekarang ia dengan terang-terangan mengibarkan bendera peperangan.


"Apapun itu tidak perlu khawatir, Bella. Selama ini bukankah kau memiliki keberuntungan? Selalu selamat dari bahaya yang diciptakan oleh Bunda Mutia," gumam Bella sembari menatap wajahnya pada pantulan cermin.


Di menit berikutnya gadis itu keluar dari kamar dan ingin segera menuju pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara Laudya.


Mendengar ucapan Laudya, Bella langsung melangkahkan kaki menghampiri Laudya yang kini hanya berjarak beberapa meter darinya.


"Meskipun aku wanita malam, tapi aku bukan tipe wanita yang menggadaikan harga diri dan cinta hanya demi uang!" balas Bella dengan sikap tenangnya.


"Satu lagi aku rasa di luar sana ada yang sangat merindukan Kakak, jika Kak Laudya punya waktu berkunjunglah," imbuh Bella yang sukses membuat Laudya ketakutan.


"Kau, apa yang kau tau?" Laudya mengantungkan jari telunjuknya di depan wajah Bella.


"Aku masih kecil, Kak. Tentu saja tidak tahu apa apa." Bella menangkap jari telunjuk Laudya lalu berkata kembali, "Kakak jangan marah marah. Ingat, ginjal Kakak tinggal satu jangan sampai jantung Kakak tinggal separuh karena darah tinggi."


Laudya menarik jarinya, tangan wanita itu membentuk kepalan, rasa takut bercampur cemas begitu menguasai dirinya. Laudya bisa menebak jika Bella memang tahu segalanya lalu apa yang harus ia lakukan?


Gadis itu seperti bom yang siap meledak kapan saja, aku harus berhati-hati, batin Laudya.

__ADS_1


Seharusnya saat melihat Laudya cemas seperti ini bisa membuat Bella bahagia. Namun, ini justru sebaliknya. Tidak ada kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah gadis itu.


"Jadi aku bisa pergi sekarang juga?" tanya Bella dengan senyum yang dipaksakan.


"I—iya pergi sana," sahut Laudya.


Bella dengan sikap acuh tak acuh langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar. Namun, langkahnya sekali lagi terhenti karena suara Avan, meskipun begitu Bella sama sekali tidak ada niatan untuk membalikkan tubuhnya.


"Tunggu!" Avan berjalan menuruni anak tangga.


"Van, kau mau pergi juga?" tanya Laudya.


"Iya, maaf Lau. Kau bisa di rumah sendirian kan? Bundanya Bella meminta untuk makan malam, aku tidak bisa menolak itu," jawab Avan.


Mendengar ucapan Avan, Bella langsung membalikkan tubuhnya. Gadis itu tidak percaya melihat penampilan Avan saat ini. Lelaki yang biasa rapi dengan kemeja kerja berbalut jas saat pergi kemana-mana, kini bisa menggunakan baju santai, hanya menggunakan celana jens dan kaos berkerah sungguh terlihat sangat tampan. Bella sama sekali bisa berkedip melihatnya.


"Jadi kalian mau pergi berdua?" Laudya memastikan jika ia tidak salah menebak.


"Iya. Kau tidak marah kan?" tanya Avan takut-takut sang kekasih tidak terima.


Laudya mengingat jika Bella tahu semua rahasianya, ia kini memutuskan untuk mengalah kali ini. Setidaknya ia bisa memiliki waktu untuk bisa membuat rencana agar Bella tidak menjadikan kelemahannya ini sebagai senjata untuk melawannya.


"Tidak apa apa, Van. Kau pergi saja, pernikahan kalian baru seumur jagung jadi tidak baik kalau orang tua Bella melihat anak gadisnya pulang sendirian tanpa suaminya," tutur Laudya.


"Sungguh bijak sekali ibu negara ini!" sahut Bella tanpa ragu lagi gadis kecil itu langsung menarik tangan Avan, "baiklah suamiku yang tampan ayo kita jalan."


Avan senang dengan tingkah Bella saat ini, ia seperti seorang pangeran yang kini diajak kabur oleh sang putri.


"Lau aku pergi dulu," pamit Avan saat ia sadar tubuhnya hampir sampai pada pintu keluar.


Laudya hanya bisa melepaskan kepergian Avan dengan setengah hati. Seandainya Bella tidak tau rahasianya, mungkin ia akan berakting sekuat tenaga agar bisa mencegah keduanya pergi bersama.


Sementara itu, Avan dan Bella sudah sampai di garasi. Gadis itu langsung melepaskan tangan Avan, "Kak Avan bisa pergi kemana saja. Gak perlu ikut ke rumah."

__ADS_1


Bola mata Avan membelalak saat melihat tingkah Bella kembali acuh dan dingin. Apa itu artinya saat di dalam Bella hanya ingin memanasi Laudya? Tapi kenapa Laudya tidak melawan? Apa ada sesuatu diantara meraka?


__ADS_2