
Senyum Avan tak berhenti hingga detik ini. Lelaki itu mengucapkan ribuan kata syukur dalam hatinya saat Bella menyetujui permintaannya untuk bisa memulai dari nol.
"Em ... Apa yang harus aku lakukan saat ini ya?" gumam Avan menatap setiap sudut ruang.
Lelaki itu sedikit kebingungan sebab Bella berjanji padanya akan pulang ke rumah dan kembali tinggal bersama dengannya. Ia tidak mungkin membiarkan rumah itu masih sama seperti dulu saat dirinya bersama Laudya. Seketika itu Avan memiliki rencana untuk merubah desain setiap sudut ruangan.
Avan langsung meregangkan otot-ototnya bersiap untuk mengangkat barang-barang yang memang harus diletakkan di gudang dan diganti dengan yang baru. Beberapa kali lelaki itu telihat menyeka air yang keluar dari dahinya.
Hufff
"Demi Bella, semangat Avan!" Hampir saja Avan tidak percaya dengan dirinya sendiri jika kini tingkahnya seperti anak muda yang baru jatuh cinta terlebih saat dirinya membayangkan bagaimana nanti tinggal serumah lagi dengan gadis yang kini ia puja.
Saat Avan tengah menikmati suasana hatinya yang kian berbunga, ketukan pintu terpaksa membuat ia harus mengakhiri impian yang baru ia rajut.
"Apa itu Bella?" tanya Avan pada dirinya sendiri sembari melirik ke arah jam yang bertengger di dinding.
Tak ingin dibuat penasaran Avan pun langsung menuju ke arah pintu dan membukanya. Wajahnya langsung berubah masam saat melihat sosok sang mantan kekasih berdiri tegap dengan ekspresi sendu.
"Van," dulu suara itu langsung menyentuh hati Avan, tapi sekarang rasanya begitu menjijikkan.
"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan," ketus Avan tanpa melihat wajah Laudya.
"Itu tidak mungkin Van. Aku ke sini ingin memohon padamu agar kita bisa memulai dari awal. Aku sangat mencintaimu," jelas Laudya sembari melangkah mendekati Avan dan ingin memeluk lelaki itu. Namun, tangan kekar Avan langsung memberikan tanda untuk Laudya agar berhenti dan tetap di tempatnya.
__ADS_1
"Cinta? Benarkah? Lau, selama kita menjalin kasih apa pernah kau bersikap terbuka denganku? Tidak! Kau terlalu banyak menyimpan rahasia hingga aku terperdaya dengan kehidupanmu yang menyedihkan."
"Van, aku merahasiakan itu semua karena aku tidak ingin kehilanganmu. Percaya padaku sekali ini saja aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," pinta Laudya merengek seperti anak kecil.
"Stop Lau! Kau tau bagaimana aku kan? Lebih cepat kau pergi akan lebih baik!" perintah Avan dengan nada tegas.
Hal itu tentu saja tidak membuat Laudya gentar. Dia sudah cukup lama bersama dengan Avan, meskipun lelaki itu terlihat tegas dan dingin sesungguhnya ia adalah lelaki hangat dan penuh belas kasih.
Laudya langsung terisak-isak ia menolak untuk tidak pergi dari rumah itu, "Van kau ingat, rumah ini adalah rumah impian kita. Aku dan kau sudah sepakat untuk merajut mimpi bersama dengan anak anak yang cantik dan tampan. Kau ingatkan? Aku mohon sekali lagi beri aku kesempatan Van."
Avan langsung memasukkan kedua tangannya ke saku, menatap sinis pada Laudya, "Kau ingin rumah ini?"
Tanpa sadar Laudya menganggukkan kepalanya membuat Avan membulatkan bola matanya.
"Kali ini aku tidak tau apa yang harus aku katakan. Tapi ini semua cukup membuatku sadar jika kau hanya ingin harta bukan cinta!" Avan langsung memutar tubuhnya, "Untuk yang terakhir kali aku akan mentransfer uang untukmu anggap saja sebagai kompensasi selama kita menjalin kasih!"
"Avan! Avan Mahendra! Bukan itu maksudku, buka Van dengarkan penjelasanku!" Laudya terus menggedor-gedor pintu yang terbuat dari kayu jati. Namun, hingga tenaganya habis Avan sama sekali tidak mengindahkannya.
"Ah ... Sial! Lau bodoh sekali kau! Kenapa kau tidak bisa menahan diri!" ucap Laudya mengutuki kebodohannya.
Di sisi lain Bella yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Laudya yang nampak frustrasi karena Avan begitu saja menutup pintu. Gadis itu kini langsung berjalan menghampiri Laudya.
"Hem ... Bagaimana? Apa yang aku katakan tempo lalu sudah terbukti?" tanya Bella dengan nada ketus.
__ADS_1
Laudya langsung menoleh ke arah Bella saat gendang telinganya terasa geli mendengar ucapan yang membuat hatinya tambah memanas.
"Kau, dasar perebutan lelaki orang! Aku kira hatimu semulus wajahmu, tapi nyatanya tidak!" ucap Laudya dengan nada menggebu-gebu. Seandainya di sekeliling sana banyak orang tentu saja akan salah sangka pada Bella.
"Aku perebut lelaki orang? Kau tidak salah Kakak cantik? Aku rasa harga filter untuk bisa menyaring kata kata tidak terlalu mahal. Apa perlu aku pesankan?" cibir Bella.
Laudya sama sekali tidak terima dengan ucapan Bella. Tangan wanita itu langsung melayang ke udara, beruntung saja Bella sekarang bisa sigap dengan semua bahaya yang diberikan oleh lawannya. Tanpa aba-aba Bella langsung menangkis tangan Laudya.
"Saat itu kau bisa menamparku, tapi sekarang aku tidak akan mengizinkan siapapun menyentuh diriku meskipun hanya seujung rambutku!" kecam Bella sembari melepaskan tangan Laudya dengan kasar.
Napas Laudya kini tersengal-sengal, ia baru pertama kali melihat Bella dengan sikap seperti ini. Apa dulu aku salah dan terlalu meremehkan dia?
"Bel, kali ini aku bisa mengakui jika aku kalah. Tapi kau harus ingat aku akan datang kapan saja dan memberikan kau perhitungan. Aku tegaskan juga Avan milikku, hanya milikku!" seru Laudya mencoba sekali lagi memberikan peringatan pada Bella.
Bella mendekatkan wajahnya ke wajah Laudya lalu berkata, "Kau hanya dapat mengakui tapi apa kau bisa mendapatkannya? Aku juga ingin mempertegas aku tidak lagi mengejar Kak Avan tapi dia yang mengejarku."
"Jika kau tidak kegatelan dan tidur bersama dengannya, tentu saja dia tidak akan mengejarmu," sindir Laudya.
"Benarkah? Tapi bukankah wajar seorang istri tidur dengan suaminya? Kakak cantik jangan bermain silat lidah aku takut kau akan kesulitan untuk bisa menerimanya jika aku sudah membongkar semua kebusukanmu," Kali ini Bella sudah tidak bisa berbasa-basi lagi. Sudah cukup sejak tadi ia hanya membalas setiap kata yang keluar dari mulut Laudya.
"Baik, kau tunggu saja. Ingat aku tidak main main dengan ucapanku!" Setelah mengatakan kalimat itu Laudya menghentakkan kedua kakinya sebagai pelampiasan kekesalannya lalu pergi meninggalkan Bella yang masih berdiri sembari menatap dirinya.
Sementara jemari Bella kini memegang pinggang di mana adanya bekas operasi ginjal, gadis itu menatap sendu kepergian Laudya yang nampak kesal dengan dirinya.
__ADS_1
"Apa kau tidak merasakan jika salah satu organmu ada padaku? Haruskah kita saling bermusuhan hanya karena lelaki?" Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlontar begitu saja dari mulut Bella.
Setelah bola mata Bella tak lagi melihat Laudya kini gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Iya, keputusan itu ia buat begitu saja dengan harapan jika memang Avan adalah jodoh yang sudah digariskan oleh sang pencipta ia dapat menemukan kebahagiaan.