
Suara tepuk tangan menjadi penyambutan kedatangan Bella, membuat gadis itu mengerutkan dahinya.
"Aku tidak menyangka istriku bisa main belakang!" suara bariton Avan membuat Bella hanya bisa diam menantikan kalimat selanjutnya.
"Kau diam? Berarti apa yang aku tuduhkan benar?" cecar Avan.
Bella melipat tangannya di dada, menatap sinis pada Avan yang kini seperti mengintrogasi dirinya. Bukankah seharusnya dirinya yang berbicara seperti itu?
"Masalah apa yang sebenarnya Kakak hadapi hingga membuat statement seperti itu? Jika Kakak sendiri pergi dengan sang mantan kenapa harus menuduhku?" Bella menyerang balik.
Avan terdiam, dalam benak lelaki itu berpikir siapa yang pergi dengan mantan? Apa sebenarnya Bella tadi melihat dirinya bersama dengan Laudya? Jika itu benar bukankah sebagai seorang istri dia harus menghampirinya, karena apa yang kini ia lakukan juga demi dirinya.
"Jadi kau melihatku bersama dengan Laudya?" tanya Avan.
"Apa Kakak sekarang ingin mengatakan jika memang Kakak masih memiliki hubungan dengannya? Aku rasa ucapan Kakak tempo lalu yang ingin memulai dari awal hanya omong kosong belaka," cetus Bella dengan nada sinis.
Avan menyugarkan rambut pendeknya ke belakang, merasa frustasi dengan kalimat yang baru saja dilontarkan Bella.
"Aku pikir kita sama sama membutuhkan waktu lebih banyak untuk bisa memahami diri masing masing," ucap Bella kembali saat Avan tak bersuara.
"Apa maksudmu?"
"Kakak sangat tau apa yang aku maksudkan, dibandingkan menuduhku main belakang seharusnya Kakak tanyakan pada hati Kakak siapa sebenarnya wanita yang benar benar Kakak inginkan," jelas Bella yang langsung melenggang pergi tanpa ingin mendengar jawaban dari Avan.
Sesampainya di kamar Bella langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, gadis itu bermaksud mencari kenyamanan untuk bisa menjernihkan pikirannya yang kini mulai bercabang. Namun, tak selang beberapa menit ponselnya berbunyi. Bella memutar bola matanya malas saat melihat orang yang menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Bella saat dirinya memutuskan untuk mengangkat sambungan.
"Kau sepertinya sedang tidak bersemangat. Apa aku mengganggumu?" sahut seorang lelaki dari seberang sana.
"Tentu, apalagi kau yang menghubungiku. Satu lagi sepertinya kita tidak pernah saling akrab seperti ini," timpal Bella.
Samuel yang kini berdiri di depan pintu rumah Livia hanya bisa tertawa kecil, "Ayolah, Bel. Dulu aku sering membantu dirimu untuk dekat dengan Avan, bisakah kau sekarang membalas budi?"
"Tentu saja bisa, tapi Kakak tau sendiri kan harus ada—"
"Kau ingin meminta uang sogokan? Seperti yang aku lakukan dulu?" Samuel memotong ucapan Bella.
__ADS_1
"Tenang Kak, aku tidak sejahat itu. Aku tidak butuh uang, tapi aku butuh transferan rupiah."
"Sama aja Arabella!" pekik Samuel kesal.
Bella langsung tertawa lepas saat mendengar ucapan Samuel. Rasanya ada hiburan tersendiri saat bisa membuat lelaki itu kesal padanya. Tanpa ia sadari sejak tadi Avan melihat dirinya.
Hem ...
Bella langsung menoleh ke sumber suara, tapi ia bersikap masa bodoh meskipun Avan berjalan mendekatinya.
"Wanita itu sangat sensitif sebenarnya, tapi dia juga tidak ingin banyak salah paham dan berharap lebih. Apalagi lelaki yang tidak memberikan kepastian dan plin plan," cetus Bella memberikan nasehat pada Samuel, lebih tepatnya pada Avan juga.
Avan yang mendengar ucapan Bella, ia langsung ikut duduk di kasur tepat dibelakang Bella.
Sementara Samuel yang berada di seberang sana kembali berkata, "Bel, aku bukan tidak memberikan kepastian. Kau cukup tau sikap sahabatmu itukan."
"Harusnya Kakak bisa lebih peka lagi kan? Sudahlah urus saja masalah Kakak, aku tidak ingin ikut campur," ucap Bella menolak untuk memberikan bantuan ataupun saran. Bagi gadis itu rasanya percuma bicara panjang lebar toh semua akan disangkal oleh lelaki yang bernama Samuel.
"Bel, bel," panggil Samuel, tapi tidak lagi ada suara dari benda pintarnya.
***
Samuel terus mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Berharap gadis pujaannya mau membukakan pintu untuknya.
"Liv, buka pintunya. Aku ingin berbicara penting denganmu," teriak Samuel.
Tidak ada jawaban dari dalam, Samuel kembali mengulangi ucapannya hingga beberapa kali. Saat lelaki itu ingin menyerah, terdengar suara pintu terbuka.
"Jika kau hanya ingin bicara hal yang tidak penting lebih baik segera pergi dari sini!" ketus Livia. Bukan apa-apa gara-gara suara Samuel yang terus berteriak ia mendapat telepon dari tetangganya.
"Em—" Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lelaki itu bingung harus berbicara apa.
"Kau diam? Kau mempermainkan aku lagi? Apa kau tidak tau gara gara suaramu itu aku ditelepon tetangga!" ucap Livia.
"Tidak, tidak. Em ... Aku tidak mempermainkan dirimu, Liv. Ah, iya restoran depan baru buka aku ingin mengajak makan. Apa kau mau?" tanya Samuel dengan nada canggung.
Bagaimana tidak! Biasanya dia datang membicarakan tentang kerjasama perusahaan ProMall, tapi saat ini progam yang dirancang sudah selesai dan mengakibatkan ia kebingungan guna mencari alasan agar bisa bertemu dengan Livia.
__ADS_1
Livia samar-samar meniup udara ke atas, "TIDAK!"
"Yah, Liv, mumpung promosi. Ayolah pergi bersamaku," ajak Samuel dengan muka memelas.
"Kau, apa kau tuli? Aku tidak mau, sudahlah sekarang waktuku istirahat. Segera pergi dan jangan ganggu aku kecuali urusan penting!" ujar Livia.
Melihat Samuel tak memberikan tanggapan gadis itu langsung menutup pintunya. Namun, hal yang tak disangka pintu itu sama sekali tidak tertutup karena kaki Samuel menahannya.
"Kau!"
"Liv." Samuel diam beberapa menit setelah itu ia langsung berekspresi kesakit, "aduh, kakiku. Aaa ... Sakit!"
"Jangan bercanda," ucap Livia sembari melipat tangannya di dada menandakan ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang kini dikeluhkan Samuel.
Samuel perlahan-lahan membuka pintu yang tadi hampir saja menutup, lalu saat Livia lengah ia langsung masuk ke dalam dengan kaki pincang, "Ini benar benar sakit. Sepertinya kakiku bengkak karena pintumu itu."
Dahi Livia mengkerut, benarkah yang dikatakan Samuel jika kakinya bengkak karena perbuatannya menutup pintu tadi? Jika ia dirinya harus bertanggung jawab. Livia langsung mendekati Samuel yang kini duduk di sofa, ia melihat lelaki itu membuka sepatu yang sejak tadi membalut kakinya.
Ekor mata Livia terus melihat kaki itu yang nampak biasa saja dan tidak ada luka atau bengkak seperti yang dikatakan Samuel.
"Mana yang bengkak?" tanya Livia dengan nada ketus.
"Itu didekat jempol," sahut Samuel masih dengan ekspresi menahan rasa sakit.
Livia langsung berlutut memandang dengan teliti tempat yang diucapkan Samuel, barangkali matanya yang sudah minus tidak bisa melihat dengan jelas jika tidak dari dekat. Namun, sayangnya tidak ada yang bengkak atau terluka pada bagian itu, kini Livia mulai sadar jika Samuel telah menipu dirinya.
"Aku tau bagaimana caranya agar kakimu bisa lebih cepat sembuh," ucap Livia.
"Bagaimana caranya?" tanya Samuel.
Rasanya lelaki itu sangat senang ternyata wanita yang ia puja kini bisa memberikan perhatian padanya meskipun apa yang ia lakukan saat ini adalah sebuah kebohongan.
"Tunggu sebentar." Livia langsung bangkit dan masuk ke dalam kamar. Beberapa menit berlalu gadis itu kembali lagi dengan membawa alat suntikan dan jarum besar, "dengan ini bagaimana?"
Samuel langsung menelan ludahnya kasar, haruskah kakinya yang putih mulus ditusuk-tusuk dengan jarum? Seketika itu Samuel langsung memasang kembali sepatunya, "Liv, aku lupa kalau Avan tadi memintaku untuk menemaninya. Dan kakiku sudah sembuh, aku pergi dulu."
Livia tersenyum lebar saat melihat Samuel pergi tergesa-gesa sembari bergumam, "Pecundang!"
__ADS_1