
Keadaan terlihat hening mana kala Yudha, Bella dan Avan kini sedang duduk di sofa.
Yudha yang notabennya lelaki yang hobi bercanda, suasana hening membuatnya tak tahan. Ia pun memulai pembicaraan, "Kakak lihat sekarang kalian hidup bahagia? Apa menikah seenak itu?"
"Sebenarnya apa yang ingin Kakak katakan?" sahut Bella meskipun gadis itu kini membesarkan hatinya agar bisa menerima Yudha, tapi tetap saja ia belum seutuhnya bisa mempercayai lelaki itu.
"Tidak ada Sayang. Kakak jadi ingat pertanyaan kau tempo lalu, dimana kau meminta Kakak agar memikirkan pernikahan. Ah ... Melihat kalian akur seperti ini sepertinya Kakak harus benar benar memikirkannya," jelas Yudha.
Sekilas Yudha terus melirik ke arah Avan yang tengah melipat tangannya di dada, sebagai seorang lelaki ia juga menyadari jika sekarang Avan sudah seperti anjing peliharaan yang terus melindungi majikannya. Jika seperti itu terus menerus apa bisa rencananya untuk bisa membuat Bella lenyap terlaksana?
"Aku pikir itu lebih baik, jadi Kakak ada mengurusi," sahut Bella.
"Kau benar, tapi lelaki seperti aku ini mana ada yang mau Bel," jawab Yudha menampilkan ekspresi sendu.
Bella bangkit dari tempat duduk yang awalnya di samping Avan kini pindah ke Yudha. Jemari kecil gadis itu terulur lalu menyentuh pundak sang kakak, "Kakak yakin saja setiap orang diciptakan untuk saling berpasangan. Jika sekarang belum dapat mungkin ini waktunya Kakak untuk memantaskan diri."
"Kau benar," sahut Yudha. Lelaki itu kini melirik ke Avan kembali yang hanya sebagai pendengar setia, "Van menurutmu bagaimana adikku ini? Cukup dewasa kan?"
Avan menarik sudut bibirnya, "Iya, dewasa bahkan aku yang sudah berumur kalah dengan cara berpikirnya."
"Kak Avan," Bella tersenyum malu-malu mendengar ucapan Avan.
"Maaf aku terlalu menyukai sikapmu saat ini. Jadi bibir ini tidak bisa menahannya," jawab Avan.
Yudha merasa seperti obat nyamuk saat ini. Ah, niatnya untuk datang agar bisa dekat dengan sang adik kini justru mendapati kemesraan antara suami istri itu, sungguh sial!
"Baiklah, baiklah, bisakah kalian tidak mengumbar kemesraan? Kasian aku yang masih berstatus angka satu," sahut Yudha.
Bella kembali duduk di samping Avan, keduanya kini tersenyum bersama. Bella berandai-andai, seandainya dari bibir Avan sejak awal menyatakan kalimat mencintainya dengan tulus mungkin sekarang tidak akan ada keraguan lagi di sana.
__ADS_1
"Kalian tersenyum? Wah, aku tidak menyangka. Kalian bersenang senang di atas penderitaan kaum jomblo," ucap Yudha kembali.
"Maaf, Kak," sahut Bella sembari tersenyum kecil, "aku rasa Kakak datang kesini tidak hanya ingin berkunjung saja. Ada apa?"
"Apa terlalu kelihatan?" tanya Yudha.
"Tidak, aku hanya menebak saja."
"Weekend aku ingin mengajak kalian untuk berlibur bersama. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bertiga kan, siapa tau dengan kembali bersama masalah di keluarga kita akan segera mencair. Kakak rindu dengan suasana keluarga kita yang dulu," beber Yudha dengan ekspresi sendu dan serius.
"Bertiga, maksudnya?" tanya Avan.
"Maaf Van, maksud aku bertiga ya, aku, Bella, dan Arga."
Dahi Avan mengkerut, rasanya ada yang aneh dengan ajakan Yudha. Kenapa hanya bertiga saja? Meskipun ketiganya saudara tapi kini hubungan mereka renggang, bukankah terlihat sedikit aneh di saat seperti ini Yudha mengajak menghabiskan waktu bersama.
Namun, belum Avan mengungkapkan pemikirannya Bella berkata, "Baiklah kita akan menghabiskan waktu bersama. Tapi sebelum itu aku dan Kak Avan ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu."
"Kenapa? Apa kau mencurigaiku?" Yudha langsung menunjukkan muka masamnya.
"Bella sekarang adalah tanggung jawabku dan aku sekarang sudah menjadi keluarga kalian kan, jadi kenapa hanya bertiga saja jika ingin menghabiskan waktu bersama? Aku tidak pernah curiga padamu, tapi jika kau merasa demikian silahkan saja berarti tanpa aku berkata apapun kau sudah menunjukkan niatmu itu," jelas Avan dengan nada setenang mungkin.
Akan tetapi hal itu justru ditanggapi Bella dengan nada tidak suka, "Kau berkata apa Kak? Jangan berlebihan!"
"Benar, kau terlalu posesif pada Bella," sahut Yudha merasa senang.
Merasa terpojokkan Avan kini tidak banyak berucap kata. Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Bella dan Yudha dengan ekspresi penuh kekesalan.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Arga bersama dengan Laudya masih dengan cemas menunggu kabar dari Yudha. Sesekali kedua orang itu melempar pandangan ke arah luar melalui kaca mobil guna mengamati apakah Yudha sudah keluar dari rumah Bella atau belum.
"Sepertinya aku terlalu mempercayai dirimu, hingga mempertaruhkan Kak Yudha masuk ke kandang singa. Jika terjadi sesuatu padanya kau harus bertanggung jawab," ucap Arga tanpa melihat ke arah Laudya.
"Kau bisa tenang? Kau pikir seburuk apa adik tirimu itu, hingga kau menganggap rumahnya kandang singa?" sahut Laudya tak kalah kesal.
"Dulu dia gadis polos tapi untuk sekarang kau tentu tau sendiri. Dia juga bukan gadis bodoh yang akan langsung percaya begitu saja, terlebih orang yang mendekatinya sudah masuk dalam daftar musuh!"
Laudya nampak mencerna semua perkataan yang dilontarkan Arga. Benar juga, apa langkahnya memasukkan Yudha untuk mendekati Bella adalah kesalahan besar? Tapi bagaimanapun seorang saudara tidak mungkin kan terang-terangan menyerang dan saling membunuh?
"Sudahlah kita tunggu beberapa menit lagi, jika memang Yudha tidak keluar terpaksa aku atau kau harus masuk ke dalam sana," Laudya mengungkapkan pendapatnya.
"Hal ini lebih gila lagi. Rasanya aku benar benar salah langkah mempercayai dirimu," sekali lagi Arga mengungkapkan penyesalannya karena begitu mudah mempercayai Laudya.
"Bisakah kau menjaga mulutmu itu? Hah! Kita sekarang berada dalam kapal yang sama, jika kapal itu bocor kita juga akan tenggelam bersama. Kenapa kau justru bertingkah seolah aku adalah penyebab kapal itu mengalami kebocoran!" geram Laudya yang tak terima.
Arga langsung menoleh ke arah Laudya yang kini memasang ekspresi masam di wajahnya yang cantik. Sesekali lelaki itu juga menarik napasnya agar ia tidak melanjutkan perdebatan yang kurang berfaedah itu. Pada intinya hal yang ia inginkan ketika terjadi kesalahan ada yang bisa ia jadikan kambing hitam agar harga dirinya tidak jatuh.
"Oke, kali ini aku akan mempercayai kau sekali lagi! Jika memang Kak Yudha tidak keluar dari rumah Bella, kau harus masuk ke sana!" perintah Yudha.
Laudya mendengus kesal, ia sama sekali tidak percaya jika di dunia ini masih ada lelaki seperti Arga yang mementingkan ego dan mengandalkan kaum hawa.
"Oke!"
Setelah perdebatan itu, Arga dan Laudya terus menunggu Yudha keluar dari rumah Bella. Hingga dari waktu yang ditentukan lelaki itu tak kunjung keluar.
"Bersiaplah!" Perintah Arga.
Tanpa banyak berkata-kata lagi Laudya langsung keluar dari mobil Arga, kaki jenjang itu melangkah hingga sampai ke depan pintu rumah Bella. Pada saat bersamaan saat Laudya ingin mengetuk pintu, Bella dan Yudha juga membuka pintu itu.
__ADS_1
"Kau?" ucap Bella.
Laudya terkejut, ia sama sekali tidak bisa berkata-kata lagi, awalnya ia ingin menyelamatkan lelaki yang dicemaskan tapi justru kini depannya lelaki itu sedang bercanda gurau dengan Bella.