Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Menghibur


__ADS_3

Tatapan tajam Rianti Mahendra mampu membuat Drajat sekeluarga terintimidasi. Mungkin dulu ia tidak mampu melakukan hal ini karena bukan siapa-siapa Bella. Namun, sekarang Bella adalah menantunya, anak yang baru saja ia dapatkan.


"Aku rasa kalian tidak perlu bersandiwara lagi. Dan stop memperlakukan Bella layaknya anak kecil. Jika kalian lupa aku akan mengingatkan kembali, enam bulan lagi Bella sudah berusia dua puluh tahun, itu artinya semua yang kalian akusisi harus segera berpindah tangan," ucap Rianti sembari melipat kedua tangannya ke dada.


"Apa maksudmu?" tanya Mutia.


"Maksudku? Ya, aku lupa. Perkenalkan namaku Sumita Rianti Putri."


Mutia dan Drajat seakan tidak percaya, wanita yang ia kenal sebagai Rianti Mahendra, rekan kerja selama bertahun-tahun, adalah orang yang mereka cari selama ini. Di mana wasiat yang ditinggalkan oleh Mawar menyertakan namanya sebagai saksi jika sang putri ketika berusia 20 tahun harus menerima semua harta pemberiannya.


"Hah, kau pikir aku percaya?" sahut Mutia menghilangkan rasa ketakutannya.


Rianti langsung beralih ke ponselnya guna mengambil beberapa bukti agar bisa meyakinkan sang besan.


"Kau bisa melihat video ini?" Rianti menyerahkan ponselnya.


Mutia langsung menerima ponsel itu dan memutar video yang sama sekali belum pernah ia lihat. Setelah menonton video berdurasi 5 menit dengan volume tinggi, Mutia langsung melempar ponsel Rianti.


"Apa aku akan percaya? Lihat lelaki itu, dia adalah suami Mawar hingga detik ini meskipun ia sudah meninggal. Dan seharusnya dia yang akan menjadi saksi dalam pembagian harta itu!" cetus Mutia yang terbawa emosi.


"Apa?" Yudha dan Agra terkejut dengan apa yang barusan dikatakan oleh sang ibu. Selama ini mereka hanya tahu jika keluarga bahagia itu memang benar-benar nyata dan kekayaan yang dimiliki sang ayah tentu akan jatuh ke tangan mereka, tapi nyatanya semua adalah milik Arabella.


"Kenapa? Kalian terkejut? Apa kedua orang tua kalian tidak memberitahu, jika apa yang kalian semua miliki saat ini adalah milik adik tiri kalian?" ungkap Rianti.


Seketika itu Drajat yang sejak tadi diam langsung menggebrak meja meluapkan kekesalannya karena Rianti sudah lancang berbicara.


"Berhenti berbicara omong kosong. Kau adalah Rianti Mahendra rekan kerja sekaligus besan kami. Jangan menggunakan metode apapun agar kau bisa menjadi yang utama!" ujar Drajat.


"Wah, kau berbicara seperti ini seolah olah aku yang ingin merebut harta itu." Rianti tertawa terbahak-bahak merasa lucu dengan apa yang dikatakan Drajat.


"Cukup Tante. Orang tuaku benar, kau tidak perlu banyak berbicara. Ayahku tidak mungkin memiliki istri lain dan Bella adalah adikku," ucap Arga ikut menimpali pembicaraan.


"Apa otakmu tidak dipakai? Kau baru saja mendengar ibumu yang baik hati ini mengatakan jika ayahmu memiliki istri lain. Ah, aku tidak bisa percaya nyatanya keluarga Drajat yang terkenal sebagai keluarga harmonis dan keluarga terpintar di negeri ini isinya hanya seorang badut," cibir Rianti. Wanita paru baya itu seolah tidak takut lagi untuk berbicara.


Rianti melihat bibir Mutia akan bergerak menyahuti ucapannya ia langsung mendahului, "Dan kau Nyonya Mutia Drajat, aku harap kau bisa mengganti ponselku yang sudah kau hancurkan. Ingat juga aku masih memiliki salinan dari video itu.

__ADS_1


"Satu lagi aku rasa Mawar bukan orang bodoh yang akan tergila gila dengan cinta suamimu itu. Buktinya di saat terakhir hidupnya ia bisa melakukan ini semua." Rianti sudah tidak ingin mendengar omong kosong dari keluarga Drajat, setelah mengatakan kalimat terakhirnya ia langsung meninggalkan ruang private room itu.


***


Bella terus menatap lampu jalanan di balik kaca mobil. Iya, Avan yang tadi mengejar Bella ia berhasil membawa sang istri untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya pulang. Sepanjang perjalanan Avan terus menatap Bella yang diam tak seperti biasanya.


Apa dia bersikap seperti ini karena tidak ingin memiliki anak? Tapi kenapa, harusnya dengan ambisi dia yang ingin segera menikah tentu memiliki anak jalan satu satunya agar tidak berpisah kan? Apa yang selama ini dia katakan jika aku hanya sebagai mainan dan saat bosan akan segera dibuang? Pikir Avan.


Avan tak ingin menebak-nebak ia memutuskan untuk bertanya, "Bel, apa yang sedang kau pikirkan?"


"Tidak ada."


Jawaban singkat Bella membuat Avan ragu bertanya pada titik masalah sesungguhnya.


"Aku lihat kau tadi belum makan. Apa kau ingin makan sebelum pulang?" tawar Avan.


"Tidak."


Avan geram dengan dua pertanyaannya yang hanya dijawab Bella dengan singkat. Lelaki itu mendadak menginjak rem membuat kepala Bella terbentur dasbor mobil.


"Kau kesal? Turunlah!" seru Avan.


Bella sembari mengusap dahinya yang tadi terbentur ia sama sekali tidak ingin menyahuti perkataan Avan, ia justru langsung bergerak mengikuti perintah Avan agar turun.


"Hah, dia turun beneran? Apa yang terjadi?" Avan bertanya-tanya.


Avan memandang sekeliling dan punggung Bella yang berjalan menjauh dari mobilnya tanpa sepatah kata. Beruntung saja mobil itu berhenti tepat di sebuah taman. Avan langsung ikut turun mengikuti Bella, karena sesungguhnya ia sama sekali tidak tega meninggalkan gadis itu sendirian.


Avan yang kini hanya berjarak beberapa meter langsung mendekat ke arah Bella dan menarik tangannya.


Saat Bella tahu siapa yang menarik tangannya, seketika itu ia menghempaskan tangan Avan. Ia benar-benar tidak ada tenaga untuk berdebat dengan sang suami dan satu hal yang ingin ia rasakan sekarang, sebuah ketenangan.


"Pergi Kak, aku hanya ingin sendiri. Aku hanya butuh ketenangan," ucap Bella dengan air mata berlinang.


Avan terkejut melihat sisi Bella saat ini. Iya, sisi rapuh Bella yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

__ADS_1


"Ikut aku," ajak Avan menarik tangan Bella.


Beberapa saat kaki itu melangkah kini sampai pada sebuah ayunan.


"Kakak pikir aku anak kecil? Aku sudah bilang jika aku sudah dewasa." Bella membalikkan tubuhnya dan ingin bergegas pergi dari tempat itu.


Avan kembali menarik tubuh Bella lalu mendudukkan pantat sang istri di salah satu ayunan rantai.


"Pegang kuat kuat aku akan mendorong," ucap Avan.


"Aku tidak mau Kak," tolak Bella. Namun, sayangnya Avan sudah mendorong ayunan itu. Mau tidak mau Bella hanya bisa pasrah.


"Bel, teriak yang kencang, keluarkan apa yang menjadi beban pikiranmu dan pegangan yang erat. Aku akan mendorong lebih kuat lagi," ucap Avan dengan intonasi tinggi agar Bella mendengar suaranya saat ayunan itu membawa Bella terbang.


Bella merasa adrenalin kini sedang perpacu. Ia mengikuti ucapan Avan.


"Aaaaa ... Aku ingin keadilan untuk Ibuku!"


"Aku ingin mereka semua dapat karma!"


"Aku ingin dewasa!"


Tiga kalimat itu diteriakkan Bella lalu terbawa angin begitu saja. Namun, hal itu justru membuat ia sedikit lega. Kini dengan napas memburu ia meminta Avan menghentikan dorongannya.


Avan langsung ikut mendudukkan pantatnya di ayunan sebelah Bella. Meskipun masih banyak yang tidak ia tahu dari Bella, tapi melihat gadis itu sudah tersenyum ia merasa cukup lega.


"Bagaimana perasaanmu? Banyak orang bilang salah satu untuk bisa meluapkan emosi yaitu dengan bermain ayunan. Berteriak lalu suara kita dibawa oleh angin seakan masalah itu juga ikut hilang," Avan menjelaskan filosofi yang selama ini ia anut.


"Kak, terima kasih," ucap Bella dengan tulus.


"Apa kau masih kesal? Kenapa hanya menanggapi ucapanku dengan kata terima kasih? Jarang jarang aku mau berkata seperti itu," ucap Avan.


Bella bangkit dari tempat duduknya lalu berdiri di depan Avan yang kini masih duduk. Dengan melipat tangannya ke dada Bella mengamati wajah Avan.


"Benar juga jarang jarang Kakak seperti ini? Apa tembok itu sudah runtuh? Kakak mau jadi suami Bella untuk selamanya?" cecer Bella.

__ADS_1


"Bella kau benar benar memanfaatkan situasi!" Avan langsung bangkit lalu mengalungkan tangannya di leher gadis itu. Dengan tinggi Avan yang mencapai 175cm dan Bella hanya 160cm membuat Avan dengan mudah membawa tubuh kecil itu terseret, "Akan aku jadikan rica rica kau angsa bodoh!"


__ADS_2