Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Membuat Sarapan


__ADS_3

Avan dan Bella baru saja sampai rumah. Keduanya pun bergantian membersihkan diri dan ingin mengistirahatkan tubuh mereka.


Saat Avan sudah selesai membersihkan diri dan ingin segera merebahkan tubuhnya yang lelah, ia justru melihat Bella nampak nyaman tidur di ranjang miliknya. Meskipun ia sudah berbaik hati menghibur sang istri, tapi untuk masalah ranjang ia belum bisa berbagi.


"Bel, bangun! Kau harus tidur di luar," perintah Avan.


Dengan kelopak mata tertutup dan sudah tidak kuat untuk membuka, Bella menjawab, "Malam ini saja aku tidur di sini Kak. Besok ranjang yang aku pesan akan datang. Dan itu kasur lantai yang semalam aku gunakan basah terkena air."


Avan berdecak sebal saat mendengar penjelasan Bella, "Kalau begitu tidur di sofa."


"Kakak kenapa ribut sekali. Kakak tau kan aku tidak ada niat untuk memiliki anak dari Kakak. Jadi Kak Avan tenang saja aku tidak akan menyerahkan keperawan ku pada Kakak," sahut Bella.


Avan melangkah mendekati Bella lalu menggelengkan kepalanya, lelaki itu tak percaya dengan kata-kata fulgar yang baru saja dikeluarkan Bella. Ingin rasanya Avan menarik lalu memindahkan tubuh kecil itu agar bisa menjauh dari ranjangnya. Namun, saat melihat Bella sudah terlelap ia sama sekali tidak tega.


"Meskipun kau tidur aku akan memperingatkan kau agar tidak melewati guling ini!" Avan meletakkan guling ditengah, "dan ingat juga untuk malam ini saja kau bisa tidur di sini jangan harap untuk malam malam selanjutnya. Satu lagi aku juga tidak tertarik dengan milikmu!"


Setelah mengatakan kalimat itu Avan langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Bella lalu terlelap.


Di sisi lain, Laudya yang sejak tadi menunggu kabar dari Avan sudah tidak sabaran lagi, sebab ia sama sekali tidak menerima kabar, jangankan telepon dikirimin pesan saja tidak.


Laudya menatap jarum jam yang kini menujukan pukul sebelas, ia berpikir acara dengan keluarga tentu saja sudah selesai. Wanita itu kini mengambil keputusan untuk menghubungi sang kekasih.


Decakan halus keluar dari bibir Laudya, tiga kali ia melakukan panggilan nyatanya tidak ada jawaban dari seberang sana.


"Kemana kau Avan? Sampai panggilan ini tidak kau angkat lihat saja aku pasti akan membuat kau menyesal," ucap Laudya sembari menekan tombol hijau.


Di seberang sana Bella merasa terganggu dengan bunyi ponsel yang entah miliknya atau milik Avan. Agar tidak berbunyi terus menerus dan takut itu telepon penting ia menggunakan tangannya guna meraih ponsel yang tergeletak di nakas. Dengan mata yang masih terpejam Bella dengan asal menggeser tombol lalu meletakkan di telinganya.


"Sayang, kau dari mana saja? Kenapa kau tidak memberikan kabar hingga jam segini? Kau mempermainkanku?" cecar Laudya saat panggilan itu tersambung.


Bella masih dalam keadaan setengah sadar saat mendengar suara Laudya, dengan asal dia berbicara, "Untuk apa mempermainkanmu, mainan di rumah sudah cukup bagus."


Mendengar ucapan Bella, sontak membuat Laudya menjadi kesal. Tidak! Lebih tepatnya ia kini terbakar api cemburu. Meskipun hubungannya dengan Avan seperti simbiosis mutualisme, tapi ia tidak ingin ada wanita lain yang bisa Avan sentuh selain dirinya.

__ADS_1


"Bella, mana Avan. Jangan macam macam kau! Sudah aku bilang jaga sikapmu," ucap Laudya dengan intonasi tinggi.


Bella merasa telinganya berdengung hebat langsung mengumpulkan kesadarannya, dengan mata mengerjap-ngerjapkan ia melihat ponsel itu dan nama yang ditunjukkan di layar ponsel, otak gadis kecil itu berpikir akan menggoda kekasih suaminya.


"Kak Avan ini sudah malam, besok aja ya Bella layani Kakak. Kata mama, Bella gak boleh kecapekan cukup satu ronde saja," ucap Bella sengaja memanasi Laudya.


"Aaahhh ... Apa? Bella jangan macam macam kau!" teriak Laudya yang tak terima.


Bella melirik ke arah Avan berharap lelaki itu tidak bangun agar ia bisa puas menggoda Laudya.


"Kakak, jangan di situ, geliii, yang bawah saja. Aku tidak kuat Kak! Kakak kuat sekali gak ada capeknya. Kak Ah ...Van a ... aaa." Bella langsung memutuskan sambungannya membuat Laudya di seberang sana langsung melemparkan ponselnya ke ranjang.


Laudya langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat ia tidak terima dengan semua ini. "Bella, kau pikir bisa begitu saja menguasai Avan. Aku pastikan besok kau akan mendapatkan kejutan."


***


Esok pagi menjelang, Bella yang sejak matahari malu-malu terbit dari ufuk timur ia sudah bangun, lalu berkutat di dapur.


Seperti biasanya ia mengganggu sang sahabat, Livia, agar bisa membantu dirinya membuat sarapan, dengan kemampuan memasak yang sama sekali belum iya dapatkan. Namun, karena ia sudah membulatkan tekad kini Bella bisa membuat menu roti panggang selai kacang dan segelas susu.


Tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki menuruni anak tangga, Bella bergegas menghampirinya.


"Pagi Kak, sarapan sudah siap," ucap Bella dengan bangga.


Avan yang sudah rapi dengan baju kerjanya menatap Bella dengan tatapan tak percaya.


"Sarapan sudah siap? Siapa yang memasak?" tanya Avan.


"Aku lah." Bella melihat Avan terus menatap tak percaya padanya lalu dengan gesit Bella menarik tangan Avan guna menuju ke meja makan, "aku belum pandai memasak hanya ini yang aku bisa. Dan itu juga berkat bantuan Livia."


"Livia hacker itu? Kau masih berhubungan dengannya setelah membuat kekacauan?" ucap Avan kini ingat masalah yang ditimbulkan Bella saat di perusahaan.


Bella tersenyum lalu berkata, "Untuk menebus kesalahanku, aku akan membuat sarapan untuk Kakak setiap pagi."

__ADS_1


"Kau berniat untuk menyogok? Itu sama sekali tidak bisa Bella. Jadi aku akan membuat sahabatmu itu menebus semua kesalahannya dengan bekerja di perusahaan dan tidak mendapatkan gaji sepeserpun," ungkap Avan.


"Karena itu Kakak meminta Kak Samuel mencarinya? Ah, tenang hari ini juga ia akan datang ke perusahaan," sahut Bella sembari mempersiapkan roti panggang ke piring kosong lalu meminta Avan untuk duduk.


"Dicoba dulu Kak. Dan jangan memikirkan Livia lagi," pinta Bella.


Avan mengembuskan napas panjang, ia pasrah dengan apa yang dilakukan Bella. Pagi ini lelaki itu tidak ingin banyak berdebat dengan Bella, justru dalam hatinya ia ingin menghargai jerih payah Bella yang sudah mempersiapkan sarapan untuknya, mungkin ini karena kejadian terakhir kali di mana Bella sudah berjuang untuk bisa membuat makanan hingga tangannya terluka. Kini dengan ragu-ragu Avan mulai mencicipi roti panggang itu, awal gigitan ia merasa sedikit aneh karena roti itu terlihat gosong. Namun, lama-kelamaan dia menikmati roti buatan Bella.


"Bagaimana enak?" tanya Bella.


Avan mengangguk lalu tersenyum.


Bella membalas senyuman Avan, terlihat dangan jelas raut wajah gadis itu kini begitu bahagia.


Terima Kak, aku tahu rasa roti itu tidak begitu enak tapi kau menghargai jerih payahku. Apa ini artinya kau ingin berdamai? Ah, semoga saja. Dan aku berdoa kau juga tidak menyadari apa yang aku lakukan pada Kak Laudya semalam, batin Bella.


Saat keduanya kini menikmati sarapan, ponsel Avan berbunyi. Di layar ponsel itu terlihat nama sang kekasih memanggilnya. Avan melebarkan senyum lalu mengangkat sambungan.


"Pagi," sapa Avan. Dahi Avan mengkerut saat Laudya tidak menjawab salam sapanya justru langsung berbicara tanpa jeda.


"Sayang, apa kau tahu ternyata selama kau menikah ada yang sengaja mengirim ku ke Paris agar tidak menggangu pernikahanmu. Sayang, ini semua sudah direncanakan. Apa kau tau siapa pelakunya?"


Wajah Avan langsung memerah saat mendengar kabar itu, "Lau, kau tenang akan aku periksa."


"Apa ini semua perbuatan Bella?" tuduh Laudya yang seketika membuat Avan melirik ke arah sang istri.


"Aku mengerti, aku tutup dulu." Avan langsung mengakhiri panggilan secara sepihak. Ia langsung menatap Bella dengan tatapan tajam.


"Kak Laudya ya Kak? Dia bicara apa?" tanya Bella. Gadis itu menebak jika Laudya menceritakan kejadian semalam karena ia melihat raut wajah Avan terlihat begitu dingin saat menatapnya.


"Bel, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Avan penuh selidik.


Bella menenggak segelas susu guna menyiapkan dirinya sebelum berbicara, "Kak semalam aku hanya iseng saja menggoda Kak Laudya, tidak ada niat apa apa. Jadi Kakak jangan marah ya."

__ADS_1


"Aku bisa memaafkan kesalahan untuk masalah itu. Tapi aku ingin kau jujur apa kau yang membuat Laudya pergi ke Paris saat acara pernikahan kita?"


Bella langsung menggigit bibir dalamnya, ia bingung harus menjawab. Haruskah ia jujur atau berbohong? Rasanya kini Bella bagai makan buah simalakama.


__ADS_2