Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Bertemu Laudya


__ADS_3

Hal yang banyak dibenci seseorang adalah ketika mereka melakukan sebuah kejahatan. Begitupun dengan Avan, ia benar-benar membenci Bella saat ini.


Rasanya gendang telinga lelaki itu belum bisa menghilangkan beberapa kata yang baru saja ia dengar. Liv, terima kasih karena virus itu membuat aku bisa masuk di tim IT dan itu artinya aku akan selangkah lebih dekat dengan Kak Avan.


"Hah, jadi semua sudah kau rencanakan? Aku sama sekali tidak menyangka kau akan melakukan hal seperti ini Bella," ucap Avan saat Bella sudah mengakhiri panggilannya.


Bola mata Bella membulat sempurna, ia sama sekali tidak menyangka jika Avan mendengar obrolannya dengan sang sahabat. Bella kini mendekat ke arah Avan lalu berkata, "Kak, aku min ... minta maaf. A—aku tidak bermaksud—"


"Sejak awal aku sudah curiga padamu Bella. Tidak mungkin kau bisa begitu saja menghancurkan virus itu. Ah, aku sekarang menyesal kenapa aku tadi berpikir ingin berdamai denganmu," sahut Avan memotong ucapan Bella.


Deg


Rasanya Bella kini mendapatkan karmanya, seharusnya ia tidak melakukan hal itu. Tapi karena ia sama sekali tidak terima dan ingin cepat bisa dekat dengan Avan, ia melakukan hal yang tidak semestinya ia lakukan.


"Kak, aku min—"


Avan tidak memberikan Bella kesempatan untuk bisa membela diri atau sekedar hanya ingin mengatakan kalimat minta maaf. Lelaki itu sekali lagi memotong ucapan Bella dengan kalimatnya, "Kau sungguh mengecewakan!"


Setelah mengatakan kalimat itu Avan bergegas meninggalkan Bella yang kini menundukkan kepalanya.


Tidak membutuhkan waktu lama Avan kini berada di ruangannya. Saat lelaki itu masuk ia membanting pintu hingga membuat Samuel yang masih berada di ruangan itu terkejut.


"Apa yang terjadi? Dia tidak mau memaafkanmu?" tanya Samuel.


"Aku tidak akan pernah menekan egoku hanya untuk meminta maaf padanya. Dan kau Sam jangan pernah mendukungnya. Satu lagi segera cari tahu wanita yang bernama Livia sahabat Bella!" perintah Avan.


Samuel menggaruk kepalanya, bagaimana bisa ia mencari seseorang yang hanya tahu namanya saja.


"Kau mau bilang tidak akan menemukan wanita yang bernama Livia? Jika ia lupakan bonus akhir tahunmu!" ancam Avan.


Jika sudah begini tentu saja Samuel tidak akan bisa menolak. Meskipun mereka sahabat baik, tapi untuk urusan keuangan tentu akan berbeda cerita.


***

__ADS_1


Bella kembali memasuki ruangan tim IT setelah beberapa saat merenungi kesalahannya. Saat ia baru saja tiba di ruangan, di sana sudah ada Samuel tentu saja Bella tahu maksud dari asisten pribadi sang suami itu.


"Kak, aku akan berusaha meminta maaf padanya," ucap Bella dengan nada sendu.


"Sekarang masalah bukan hanya sekedar minta maaf Bella. Kau tau suamimu ingin aku mencari sahabatmu yang bernama Livia," ucap Samuel tanpa ada kebohongan. Mungkin hanya dengan jujur tentang masalah yang ia hadapi akan membuat bonus akhir tahunnya selamat. Selain itu tentu saja ia tidak akan mudah menemukan wanita itu jika memang benar dia seorang hacker.


"Apa?" sahut Bella tak percaya. Kali ini dia dalam masalah besar karena sudah melibatkan sang sahabat.


"Iya, jadi tolong beritahu aku di mana dia berada, ini semua demi bonus akhir tahunku," ucap Samuel.


Bella langsung mendekat ke arah Samuel yang kini duduk di kursi. Ia sama sekali tidak percaya dengan sikap asisten yang dikenal dingin dan serba bisa.


"Kak, dalam novel yang aku baca seorang asisten itu bisa melakukan segala hal yang diminta atasannya. Tapi aku sama sekali tidak menduga jika Kakak akan meminta bantuan padaku yang justru membuat masalah ini terjadi," ungkap Bella sembari tertawa geli.


"Masalahnya sahabatmu itu seorang hacker dia bisa saja merubah datanya. Dari pada aku membuang tenaga yang berakhir sia sia lebih baik aku meminta pertolonganmu, selama ini aku juga sering membantumu jadi tolonglah kali ini saja," ucap Samuel dengan penuh percaya diri jika Bella akan mengabulkan permohonannya.


"Tapi aku tidak mau. Aku masih sayang sama sahabatku. Jadi, jika Kakak takut bila bonus akhir tahun tidak bisa Kakak dapatkan, jangan ragu hubungi aku, Arabella. Aku pastikan akan mentransfer dua kali lipat dari bonus yang akan Kakak dapatkan dari perusahaan ini," sahut Bella sembari melebarkan senyumnya.


Masih dengan senyum melekat di bibirnya, Bella menganggukkan kepala menanggapi ucapan Samuel, tentu saja jika dia bisa melindungi sahabatnya maka apapun akan ia lakukan.


"Sudahlah, Kak. Aku harus pulang, aku tahu Kak Avan sudah pulang kan? Aku akan meminta maaf padanya di rumah, jadi tolong doakan aku agar semuanya berjalan lancar, supaya Kakak tidak perlu khawatir tentang bonus dan sahabat aku juga akan selamat." Setelah mengungkapkan kalimat itu Bella mengambil tasnya lalu bergegas untuk pulang dan kebetulan waktu sudah jam pulang kerja.


Samuel baru menyadari jika kini Bella sudah tidak ada di hadapannya, gadis itu sudah pergi meninggalkan dirinya yang masih duduk di kursi. Samuel kini menggelengkan kepalanya, dia sadar bagaimana susahnya Avan mengatasi Bella jadi wajar saja kalau Avan kini menjadi uring-uringan tidak jelas karena sudah menikahi Arabella.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh Bella kini sudah sampai di rumah yang ditinggalinya bersama dengan Avan. Gadis itu menghirup udara sebanyak mungkin agar bisa menghadapi Avan dengan tenang.


"Kakak, aku pulang," teriak Bella sembari membuka pintu rumah. Namun, bola mata gadis itu membulat sempurna saat dia melihat sosok Laudya yang kini sudah duduk di sofa berdampingan dengan Avan di sana.


Bella kini meniup poninya yang sedikit menghalangi bulu matanya lalu berjalan mendekati sang suami yang kini bersama dengan sang kekasih.


"Aku rasa tidak perlu mengenalkan dia kembali dan tidak ada alasan agar kau mengizinkan dia untuk datang ke sini," ucap Avan membuka suaranya terlebih dahulu.

__ADS_1


Rasanya hari sangat panjang bagi Bella, dalam satu hari ini ia mendapatkan cobaan menghadapi sang suami. Bella mencoba untuk bisa bersikap biasa saja saat Avan dengan terang-terangan membawa sang kekasih.


Senyum manis langsung terbit di bibir Bella sembari berkata, "Tentu saja tidak apa apa. Kakak sendiri kan yang mau? Baiklah, aku akan masuk ke dalam jika butuh apa apa Kakak bisa memanggilku."


"Selain membuat kekacauan apa yang bisa kau lakukan? Tenang aku tidak akan membutuhkanmu karena di sini sudah ada kekasihku, Laudya. Dia sudah mengerti aku, apa yang aku butuhkan dia sudah mengetahuinya." Avan merangkul pundak sang kekasih menujukan pada Bella jika dirinya sangat menyayangi Laudya.


Bella mengangguk-angguk paham lalu melangkah dan meninggalkan ruangan itu. Namun, sayangnya langkah Bella terhenti saat Laudya memanggil namanya, Bella langsung membalikkan tubuhnya dan menatap sepasang kekasih itu.


"Kau, Bella kan? Aku harap kau bisa menjaga sikapmu, aku sudah tahu jika pernikahan kalian hanya berlangsung selama enam bulan saja," ucap Laudya yang kini justru menunjukkan kemesraan.


Bella tersenyum penuh kepalsuan, dirinya kini ingat bagaimana caranya menghadapi seorang pelakor, lalu tanpa terpancing emosi Bella berkata, "Benar aku Arabella, istri sah dari Avan Mahendra."


Laudya mengepalkan tangannya. Wanita itu tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Bella. Ia pun bangkit dari tempat duduknya lalu mendekat dan menjabat tangan Bella.


"Ralat, istri kontrak!"


Bella langsung memiringkan tubuhnya melihat Avan yang tadinya tertutup oleh tubuh Laudya, sembari mengedipkan mata sebelah kanannya ia berkata kembali, "Benar aku hanya istri kontrak, tapi apa Kakak tahu jika aku sudah melihat tubuh Kak Avan dari luar dan dalam. Termasuk, em ... apa ya? Bentuk perutnya yang kotak kotak, lalu saat Kak Avan hanya memakai celana segitiga. Em ... Rasanya aku seperti melihat surga dunia."


"Arabella!"


Dua suara lelaki dan perempuan yang memanggil namanya membuat Bella terkekeh.


"Aku hanya bercanda tapi sejujurnya memang benar aku udah pernah melihatnya," ucap Bella kembali membuat wajah Laudya berubah warna merah lalu melepaskan tautan tangannya.


"Bella lebih baik kau masuk!" perintah Avan yang tahu saat ini kekasihnya sedang tersulut api emosi.


"Oke, Kakak." Bella menyatukan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf O.


Namun, sebelum benar-benar pergi Bella berkata kembali yang ditunjukkan pada Laudya, "Kalau Kakak mau aku bisa ceritain yang lebih dalam lagi, bagaimana?"


"Cukup Bella!" bentak Avan.


Bella langsung membalikkan tubuhnya dan tersenyum saat meninggalkan sepasang kekasih itu, rasanya dia kini mendapatkan kemenangannya. Sementara Avan kini ditatap tajam oleh sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2