Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Tidak peduli


__ADS_3

Hari terus berganti, tak terasa kini sudah tiga minggu lamanya sejak Bella memutuskan untuk merubah diri, gadis itu benar-benar konsisten untuk mewujudkan keinginannya melupakan lelaki yang bernama Avan Mahendra. Iya, salah satu cara yang Bella gunakan adalah dengan menyibukkan dirinya bekerja di perusahaan dan membangun impian almarhum sang ibu untuk menciptakan produk mebel yang bertahun-tahun telah tertunda.


"Bella! Apa maksudnya ini?"


Wajah tegas gadis cantik yang kini duduk di kursi kebesarannya, melirik ke arah lelaki yang tiba-tiba saja masuk tanpa permisi melemparkan kertas di mejanya.


"Kau bisa baca sendiri!" seru Bella tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku sudah menyusun proposal pengajuan dana itu dua bulan yang lalu dan tidak ada masalah. Kenapa kau dengan seenak hati menolaknya?" protes Arga yang tidak terima dengan keputusan Bella.


Bella langsung menghentikan aktivitas yang sejak tadi bergelut dengan lembaran kertas putih, tanpa ada rasa bersalah gadis itu menyenderkan punggungnya di kursi lalu dengan tenang menatap Arga yang kini berdiri menjulang tinggi di depannya.


"Halaman enam, pada poin anggaran. Di sana ada dana lain lain dan jumlahnya terlalu besar. Sebagai wakil pimpinan perusahaan wajar saja aku menolak!" jelas Bella.


"Aku hanya membutuhkan lima puluh juta pada dana lain lain, karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Promosi mebel itu banyak mengudang pihak ketiga," Arga tidak ingin menyerah kali ini ia ingin berhasil dalam promosi produk dan menambah laba pendapatan untuk perusahaan dengan harapan ia bisa naik jabatan.


Bella terdiam sejenak seperti memikirkan ucapan Arga membuat lelaki itu kini sedikit memiliki harapan. Namun, nyatanya ia salah Bella justru berkata, "Bapak Arga yang terhormat, alasan Anda tidak masuk akal. Jika Anda masih ingin mendapatkan dana itu segera revisi. Mungkin aku bisa berbaik hati untuk menyetujuinya."


"Aku tidak menyangka kau sungguh kekanakan. Percuma saja penampilan berubah tapi kau tetap Bella anak manja. Kau pikir pekerjaan dan urusan pribadi bisa dicampur? Tidak! Jika kau seperti ini terus menerus aku yakin semua pemegang saham akan mengeluarkan kau dari posisi ini!"


Bella berdecak sebal, "Lalu siapa sekarang yang mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan?"


"Kau mau memutar balikkan fakta?"


"Bapak Arga, saya menolak proposal Anda berdasarkan uang kas yang kita miliki, Anda tahu sendiri lima puluh juta itu bukanlah uang sangat sedikit dan hanya untuk kebutuhan anggaran lain lain. Jika Anda ingin menggunakan pihak ketiga carilah yang membawa keuntungan bukan menimbun kerugian!" jelas Bella panjang lebar.


"Bella kau—" Arga mencondongkan tubuhnya lalu mengacungkan jari telunjuk di depan wajah Bella.


Belum Arga selesai berbicara Bella memotong ucapan lelaki itu, "Jaga sikapmu! Jika tidak ada urusan lagi kau bisa pergi. Aku cukup sibuk dengan urusan perusahaan."


Arga langsung menurunkan jari yang mengatung saat melihat Bella tanpa gentar menghadapinya, bahkan lelaki itu bisa melihat tatap dingin dari mata sang adik.


"Aku akan merevisi!" ucap Arga sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara Bella.


"Lain kali jika tidak ingin mencapurkan urusan pribadi dengan pekerjaan bersikaplah sopan saat masuk ruangan ini!"


Bella melihat Arga mengepalkan tangannya, tapi gadis itu bersikap acuh tak acuh. Sebab itu semua tidak seberapa dibandingkan dengan kejadian tiga minggu yang lalu, di mana dirinya yang tidak mendapatkan dukungan dari siapapun saat menjabat sebagai wakil direktur, selain dirinya masih muda ia juga hanya lulusan sekolah menengah atas. Beruntung saja ia memiliki dukungan terkuat dari sang mertu dan bisa mendapatkan kesempatan hingga saat ini.

__ADS_1


Mungkin waktu tiga minggu bisa dibilang waktu tercepat yang bisa digunakan Bella untuk belajar masalah perusahaan di bawah bimbingan Rianti. Iya, sudah tiga minggu juga Bella tinggal di rumah Rianti dan membiarkan Avan tinggal bersama dengan Laudya. Bukan tanpa alasan karena sekarang Rianti yang menjadi walinya. Terdengar sangat tidak masuk akal bukan? Mertua menjadi wali sedangkan sang suami bersama dengan sang kekasih.


Ketukan pintu menyadarkan Bella dari lamunannya.


"Bu Bella, ini desain yang sudah aku buat," Livia yang kini menjadi asisten pribadi gadis itu langsung menyerahkan kertas putih yang berisikan beberapa gambar sofa.


Bella mengecek beberapa lembar kertas itu lalu berkata, "Apa gambar ini sudah lulus dari tim desain?"


"Iya, dan semua rinciannya juga sudah ada diketerangan itu."


Bella menyempitkan kelopak matanya, saat ia melihat keterangan yang tercantum di kertas itu.


"Bahan yang digunakan untuk membuat sofa keluarga ini terlalu mahal. Aku memang menginginkan desain elegan dan bahan yang bagus, tapi jika kita mengeluarkan prodak ini tentu saja kalangan kelas menengah tidak akan mampu membelinya," Bella memijat pelipisnya.


Ya, selain masalah perusahaan ia juga bertanggung jawab atas prodak baru, dan masalah yang sejak beberapa minggu ia hadapi belum terpecahkan membuat kepala gadis itu berdenyut nyeri.


"Aku akan bicarakan lagi dengan tim desain dan produksi untuk bisa memecahkan masalah ini."


"Berikan mereka waktu dulu. Lagi pula besok sudah weekend, aku akan mencari solusi dengan Mama. Dan kau juga harus menyelesaikan masalah perusahaan ProMall," sahut Bella.


"Bel, kau tidak ingin bertemu dengannya?" cetus Livia pada akhirnya mungkin dengan begitu Bella bisa lebih tenang dan tidak memvorsir tenaganya.


"Apa kau mau membuatku menoleh ke belakang? Aku sudah siap untuk menandatangani surat perceraian, kenapa harus bertemu?" ucap Bella.


"Aku dengar dia sedang sakit."


"Sudah ada wanita di sampingnya yang mengurus!"


"Bel—"


"Liv, aku sudah pusing dengan pekerjaan dan mungkin saja sebentar lagi ada gerombolan yang tidak suka padaku melakukan penyerang. Haruskah aku menghabiskan waktuku untuk memikirkan orang yang akan aku lupakan?" sahut Bella memotong ucapan Livia.


Livia terdiam, sunggu sahabatnya kini sudah berubah 180 derajat. Jika dulu Avan yang selalu menjadi prioritasnya kini gadis itu menjadikan perusahaan dan balas dendam sebagai jalan untuk memperpanjang hidupnya.


***


Di rumah sakit.

__ADS_1


"Van, kau tidak ingin sembuh?" Samuel frustasi dengan sahabatnya itu. Sudah tiga hari lelaki itu dirawat di rumah sakit namun ia selalu menolak diberikan obat kecuali infusan yang melekat di tangannya.


"Apa dia tidak bermaksud untuk mengunjungiku?" tanya Avan.


"Kau pikir? Jika kau merasa kehilangan harusnya kau menemuinya bukan menunggu. Kau pikir Bella gadis murahan?" ujar Samuel.


"Bukannya dulu dia begitu?"


"Iya itu dulu sebelum kau menjadi lelaki bereng—"


Avan yang tahu Samuel pasti akan mengatai dirinya, ia langsung memotong ucapan Samuel, "Keluarlah aku ingin istirahat, sebentar lagi Laudya akan datang."


Meskipun Samuel kesal dengan tingkah sahabatnya itu, ia tetap mengikuti perintah Avan. Saat dirinya keluar dari ruang rawat Avan, Samuel bertemu dengan Laudya.


"Lau, jika Avan benar mencintaimu tolong segera perintahkan dia untuk sembuh. Perusahaan membutuhkan pemimpin," ucap Samuel seperti memberitahu Laudya jika cinta Avan saat ini bukan untuknya.


Laudya tahu maksud Samuel, ia juga merasa semenjak kepergian Bella lelaki itu berubah total, jarang ada waktu untuknya dan sering beralasan perusahaan sedang banyak masalah hingga dirinya menemukan fakta bahwa Avan sering melupakan waktu makan lalu berefek pada kesehatannya.


Namun, Laudya tetaplah Laudya ia tidak akan melepaskan Avan meskipun lelaki itu tidak mencintainya lagi.


"Aku tau, kau tenang saja aku pasti bisa membuat ia kembali sehat," jawab Laudya.


"Aku serahkan semua padamu," ucap Samuel kembali yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Laudya.


Di menit berikutnya Laudya memasuki ruang rawat Avan setelah Samuel pamit pergi.


"Van," panggil Laudya sembari berjalan mendekat ke sisi brangkar rumah sakit.


Avan yang tadi memejamkan mata langsung tersadar saat Laudya memanggilnya. Bibir pucat lelaki itu juga tertarik lebar menyambut kedatangan sang kekasih.


"Ayo, makan aku membawa bubur yang sudah aku buat dengan penuh cinta," ucap Laudya menyiapkan bubur yang ia bawa.


"Lau, mulutku pahit. Aku sama sekali tidak memiliki nafsu makan," jawab Avan.


"Sedikit saja, biar perutmu ada isinya," bujuk Laudya.


Laudya bukan tipikal wanita sabar, raut wanita itu langsung berubah saat melihat Avan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2