Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Sandiwara


__ADS_3

Sudut mata Bella menyempit saat mengetahui orang yang memanggil dirinya. Iya, orang itu adalah Mutia sosok wanita yang ia panggil dengan sebutan Bunda.


"Arabella, putri kecil Bunda." Mutia berhamburan memeluk Bella yang kini berjarak beberapa meter darinya.


Seandainya 5 tahun yang lalu Bella tidak mengetahui rahasia besar tentang wanita itu tentu saja ia akan bahagia saat mendapatkan perhatian seperti ini.


"Aku baik, Bun. Kenapa Bunda, Ayah dan Kakak ke sini?" tanya Bella melepaskan pelukannya.


"Yah, sepertinya anak kita sudah dewasa," ucap Mutia melirik ke arah sang suami.


Drajat lelaki paru baya dengan kedua anak lelakinya kini melangkah menuju ke arah Bella.


"Tentu saja kami merindukanmu, Sayang. Apalagi kemarin kau menelpon beberapa pelayan untuk membersihkan rumah barumu ini. Jadi kami ingin melihat juga seperti apa anak kami sekarang," ungkap Drajat sembari mengelus lembut pucuk kepala Bella.


"Cie, adikku yang cantik sudah bisa hidup berumahtangga jadi bagaimana apa kau sudah bisa memberikan ponakan untukku?" celetuk Arga Kakak kedua Bella.


"Arga, jangan seperti itu nanti adik kita jadi malu," imbuh Yudha kakak tertua Bella dengan sikap angkuh khas lelaki itu.


Bella hanya bisa melebarkan senyumnya saat diperhatikan seperti itu. Seperti biasa gadis itu akan bertingkah seperti anak kecil guna melengkapi akting dari keluarga besarnya.


"Tentu saja, Bella sudah dewasa." Bella kini bergantian memeluk tiga lelaki itu.


Rianti yang melihat kejadian itu, sangatlah tidak suka. Kenapa Bella sama sekali tidak bisa keluar dari belenggu keluarganya. Padahal gadis itu sangat tahu jika keluarga itu hanya memberikan kasih sayang semu padanya.


"Em ... Bel, Avan kemana kok Mama gak ngelihat?" tanya Rianti guna menyudahi drama tidak penting itu.


"Ada Ma. Ayo, masuk," ajak Bella.


Gadis itu yang masih berada di belakang menatap punggung seluruh keluarganya.


"Seandainya yang berada di sisi sang ayah bukan Bunda Mutia aku akan lebih bahagia," ucap Bella sembari mengepalkan kedua tangannya.


Sementara itu, Avan yang baru saja mengantar Laudya melalui pintu belakang melihat Bella nampak menahan emosi. Ia pun langsung mengejutkan sang istri.


"Heh, ngapain kau bengong?"


Bella sedang memusatkan pikirannya pada keluarganya tentu saja aksi Avan sama sekali tidak mendapatkan tanggapan darinya. Gadis itu justru menatap sengit pada Avan sembari berkata, "Apa Kakak memiliki racun terbaik di kota ini?"


Avan yang tidak paham situasi menganggap Bella hanya sedang bergurau. Seperti biasanya ia menyentil dahi yang tertutup poni itu.

__ADS_1


"Bangun, jangan berpikir untuk jadi mafia!" seru Avan lalu melangkah pergi untuk masuk ke dalam.


Baru beberapa langkah di depan, Bella langsung menarik tangan Avan membuat lelaki itu kini berdiri di sampingnya.


"Kakak mau main drama tidak?" tanya Bella dengan berbisik.


"Drama?"


"Iya, drama romantis keluarga bahagia," ucap Bella.


"Wah benar bener otakmu tidak bisa ditolong lagi, Bel."


"Aku serius, Kak. Di dalam ada keluargaku dan Mama. Ah, kalau Kakak gak mau juga gak masalah palingan mereka tidak akan pulang kalau ngelihat kita kayak tom and jerry," papar Bella.


Avan nampak menimbang-nimbang ucapan Bella. Lalu tak lama kemudian ia membenarkan semua perkataan Bella.


"Oke, kali ini aku setuju."


Bella menatap Avan sembari menunjukkan deretan giginya yang putih, tak lama kemudian gadis itu menggunakan kesempatan ini untuk bisa memeluk Avan.


Avan merasakan tubuh Bella menempel di tubuhnya membuat ia terkejut. Meskipun Avan sering melakukan pelukan seperti itu dengan Laudya entah mengapa rasanya sangat berbeda saat bersama dengan Bella, nyaman dan hangat. Namun, Avan sekali lagi menepis perasaan itu ia kembali mengingat Laudya.


"Sesekali tidak masalah." Bella mengedipkan mata sebelah kanannya.


Meskipun Avan ngedumel Bella sama sekali tidak peduli. Keduanya kini masuk ke dalam rumah.


"Ayo, kita pergi makan malam di luar," ucap Mutia saat melihat Avan dan Bella baru saja masuk dan menghampirinya.


Avan langsung menghentikan langkahnya menatap Bella yang masih menempel di sampingnya, "Kau menipuku?"


Bella seketika melepaskan pelukannya, ia menjadi salah tingkah karena memang tidak tahu rencana keluarganya datang ke rumah.


***


Salah satu restoran di sudut ibu kota terlihat ramai, begitupun salah satu ruangan private room yang sudah direservasi keluarga Drajat. Meja bulat yang luas sudah terhidang beberapa macam makan dan minuman. Tujuh orang itu juga sudah duduk di tempat masing-masing untuk segera menyantap hidangan.


Mutia mengambil beberapa lauk untuk diberikan pada sang anak, "Bel, makan yang banyak Sayang. Mama lihat kau kurusan."


"Biasa itu Jenk, kalau habis nikah kurusan kan Bella harus melayani suami siang dan malam," sahut Rianti sontak membuat Avan yang tadi minum air putih tersendak.

__ADS_1


Bella yang berada di samping Avan langsung menepuk-nepuk punggung sang suami.


"Pelan pelan Kak. Mama berbicara seperti itu karena sudah pengalaman," ucap Bella yang langsung dibalas senyuman dari Avan.


"Van, maaf Mama tidak bermaksud membuat kau malu seperti ini," imbuh Rianti.


"Tidak apa apa, Ma." Avan langsung berdehem guna mengembalikan ketenangannya.


Suasana tiba-tiba hening. Hal ini tidak membuat keluarga itu terkejut ataupun canggung. Semenjak Bella berharap akan menjadi istri dari Avan, keluar Drajat terutama Mutia memang tidak pernah ramah seperti dulu saat mereka menjalin kerjasama.


"Ah, Kak Yudha dan Kak Arga kapan kalian akan menikah? Jangan bilang kalian akan melajang seumur hidup? Bella punya temen wanita jika Kakak mau memulai suatu hubungan," ucap Bella tanpa jeda memecah keheningan.


"Kakakmu lagi sibuk mengurus perusahaan mungkin satu atau dua tahun lagi baru akan memikirkan pernikahan," sahut Drajat membuat Bella membulatkan bibirnya.


"Bunda dengar kau kerja di perusahaan Avan ya?" tanya Mutia agar Bella tak membahas lagi masalah pernikahan Kakaknya.


"Iya, Bun. Hari ini Bella baru mulai bekerja," jawab Bella.


"Sayang, lebih baik kau di rumah saja. Jangan mikirin pekerjaan, lagi pula apa yang tidak kau punya? Materi berkecukupan, keluarga juga sangat menyayangi dirimu, suamimu juga begitu menyayangimu. Kau seharusnya di rumah lalu memiliki seorang bayi yang lucu," ucap Mutia sembari mengelus rambut Bella yang kini tergerai.


Bella yang sejak tadi memegang sendok dan garpu langsung meletakkan kedua benda itu. Kedua tangannya langsung ditarik dan diletakkan di pahanya terlihat dengan jelas tangan itu seperti mengalami gejala termor.


Dalam benak Bella langsung muncul bayangan 5 tahun silam saat ia mendengar Mutia bertengkar dengan sang ayah, Drajat.


"Apa maumu? Semua yang kau inginkan sudah aku berikan. Harta, kesetiaan, tapi kenapa kau justru berkhianat?" seru Drajat yang tak terima saat ia mengetahui Mutia justru main belakang dengan supirnya.


"Iya, aku akui jika kau memberikan itu semua. Tapi tanya hatimu, seandainya aku tidak membuat Mawar, ibunya Bella meninggal saat persalinan apa kau masih akan setia padaku? Tidak Drajat, tidak!" sahut Mutia.


Bella yang masih berusia 14 tahun saat itu berada di belakang tembok. Ia sama sekali tidak menyangka jika dirinya bukanlah anak dari Mutia dan hal yang tak bisa ia terima saat itu Mutia mengatakan jika sang ibu adalah pelakor. Namun, setelah ia bertemu dengan Rianti yang tak lain adalah sahabat sang ibu, dia baru mengetahui fakta baru jika Mawar sang ibu ditipu habis-habisan oleh Drajat dan Mutia. Meskipun Drajat adalah ayah kandung, Bella masih tetap tidak menerima kenyataan itu apalagi sekarang semua harta peninggalan sang ibu dikuasai oleh kakaknya.


Kembali di situasi Bella saat ini, tangan yang kini bergetar mencoba meraih sesuatu untuk bisa ia jadikan pelampiasan. Saat Bella menemukan daging tebal yang tak lain paha Avan ia pun langsung mencengkeramnya kuat-kuat.


Avan seketika itu melihat Bella, ia ingin sekali memberontak. Namun, saat melihat tatapan Bella yang kosong ia mengurungkan niatnya tersebut.


"Sayang kau dengar Bunda kan?" tanya Mutia saat melihat Bella hanya terdiam.


Bella menarik sudut bibirnya masih dengan tatapan kosong bibirnya bergerak menyahuti ucapan Mutia, "Tentu, ah ... Bayi yang lucu. A—aku keluar dulu."


Bella sama sekali tidak bisa melanjutkan akting itu. Ia pun langsung beranjak dari tempat duduk meninggalkan ruang private room.

__ADS_1


Rianti yang sadar akan perubahan sikap Bella. Ia langsung meminta Avan agar segera menyusul Bella. Sementara dia langsung menatap tajam ke arah keluarga Drajat.


__ADS_2