
Rianti melihat dengan jelas tatapan tak percaya dari sudut mata sang anak. Ia pun langsung mengambil map yang berada di dalam tas jinjingnya lalu memberikan map itu pada Avan.
"Apa ini?" tanya Avan.
"Sejak Bella menanyakan tentang operasi, Mama langsung mempersiapkan dokumen itu."
Perlahan-lahan Avan membuka map yang baru ia terima lalu mengambil beberapa lembar kertas berwarna putih dengan bumbu tinta hitam di sana. Bola mata bermanik hitam pekat itu terbuka lebar saat melihat nama Arabella yang menjadi pendonor ginjal untuknya.
"Mama bercanda? Aku sudah mengumpulkan semua informasi tentang pendonor ku dan Laudya pendonornya. Ma, cukup bermain-main dengan semua ini!" ucap Avan mulai geram.
"Mama sudah bilang kau boleh percaya dan tidak, itu semua adalah keputusanmu. Mama hanya ingin kau mengetahui apa yang tidak kau ketahui," papar Rianti.
Avan terdiam, sejujurnya banyak pertanyaan yang kini menjejali benaknya, tapi ia bingung harus darimana untuk meluruskan kesalahpahaman itu. Namun, yang lebih jelas saat semua terbongkar ia pasti akan menemukan dirinya sebagai lelaki pecundang.
"Jujur Bella yang malarang Mama untuk tidak mengatakan semua ini. Karena ia ingin menjaga hubunganmu dengan Laudya," Rianti bersuara kembali.
"Kenapa?"
"Karena apa yang kau lakukan untuk Laudya saat ini juga dilakukan oleh Bella. Gadis itu sedikit syok saat ia tau jika ia bisa hidup sampai sekarang karena ginjal Laudya." Rianti terdiam sejenak mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan situasi Laudya, "sejujurnya apa yang kau temukan di rumah sakit tentang data pendonor itu adalah perbuatan Mama."
"Ma, kau tidak perlu berbelit-belit untuk menceritakan semua ini. Kau cukup tau jika aku pecundang," sahut Avan.
"Baik. Sekali lagi Mama akan mengatakan kau boleh percaya dan boleh tidak. Aku tau kau cukup pintar dan kompeten, kau bisa menyelidikinya sendiri seperti sebelumnya," setelah mengatakan kalimat itu Rianti menarik napasnya dalam-dalam, ia berusaha untuk bisa menceritakan sedetail mungkin setiap kejadian antara sang anak, Bella dan Laudya.
"Biarkan aku memikirkan ini semua!" seru Avan setelah Rianti menyelesaikan ceritanya.
"Van," panggilan dari sang ibu tidak Avan hiraukan. Dia lelaki dewasa tapi mengapa ia tidak pernah bisa sadar jika anak kecil seperti Bella justru melindungi dirinya?
"Di mana dia sekarang?" tanya Avan dengan tatapan dingin, ekspresi lelaki itu sulit untuk dijelaskan.
__ADS_1
"Perusahaan AD grup."
Seketika itu Avan langsung melepas infusan yang melekat di tangannya. Ia sama sekali tidak peduli saat tangan itu mengeluarkan darah yang ia inginkan saat ini adalah bertemu dengan Bella.
***
Perusahaan AD grup.
Bella beranjak dari kursi yang sejak tadi menopang tubuhnya. Gadis itu membawa secangkir kopi menuju ke pinggir ruangan.
"Sudah malam ternyata," gumam Bella menatap lekat pemandangan di luar sana. Gedung berlantai 20 itu identik dengan kaca jadi tidak heran saat malam seperti ini Bella bisa melihat pemandangan di luar sana.
Sepintas Bella menatap langit hitam tanpa ada rembulan atau pun bintang yang menghiasinya. Jika dipikir-pikir langit di atas sangat menggambarkan suasana hatinya yang kian sepi. Seandainya Bella bisa memutar kembali waktu, tentu ia tidak ingin menjalani kehidupan seperti ini.
"Bu, apa Ibu bahagia di atas sana? Kenapa kau tidak membawaku? Apa kau tau aku di sini kesepian meskipun kau meninggalkan banyak harta untukku? Aku butuh sandaran dan pelukan, Bu," celoteh Bella mengungkapkan sisi rapuhnya.
"Ah, tentu kau bahagia karena kau tidak akan merasakan sakit lagi," ucap Bella menebak apa yang kini dirasakan oleh almarhum sang ibu di atas sana.
"Masuk."
"Bel, sudah malam. Ayo, kita pulang," ucap Livia saat tubuhnya sudah berada di dalam ruangan. Alis gadis itu bertautan saat ia melihat Bella dengan secangkir kopi, "kau minum kopi lagi? Bagaimana jika asam lambungmu naik?"
Bella tertawa renyah saat melihat sahabatnya panik dengan apa yang ia perbuat, "Jika kau seperti itu, aku bisa menahan mu agar tidak memiliki kekasih, Liv."
"Heh, kau jangan seperti itu. Bagaimana bisa kau menahan dia? Apa kau tidak tau bagaimana aku memperjuangkan dia dan sampai saat ini belum juga meluluhkan hatinya?" protes sosok lelaki yang kini tiba-tiba masuk tanpa permisi.
"Bisakah kau diam? Aku memintamu untuk menunggu di luar," sahut Livia, bodohnya ia tadi kenapa tidak menutup pintu hingga membuat lelaki itu masuk begitu saja dan membuat tawa yang jarang ia lihat menghilang begitu saja.
"Liv, aku minta maaf," ucap Samuel penuh penyesalan.
__ADS_1
Bella berjalan mendekat ke arah Samuel dan Livia sebelum kedua orang itu bertengkar, "Aku pikir kalian harus segera pergi. Aku tidak ingin ruanganku yang damai ini terkontaminasi dengan kalian."
"Bel—"
Bella meletakkan jari telunjuknya di bibir menandakan pada Livia agar diam, "Aku masih ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan. Kalian pergi saja dulu."
"Tapi—"
"Kak Sam bisa urus temanku satu itu?" Bella memotong kembali ucapan Livia.
"Tentu." Samuel langsung meraih tangan Livia, tapi sebelum lelaki itu benar-benar pergi ia berkata, "Dia menunggumu tidak bisakah kau menemuinya?"
Livia melihat raut wajah Bella berubah sendu ia langsung berkata pada Samuel, "Kau jadi pergi tidak. Kalau tidak aku pulang sendiri."
"Liv, tunggu aku," teriak Samuel saat Livia sudah mendahuluinya dan semua itu tak luput dari penglihatan Bella.
Bella kembali berjalan ke sisi pinggir ruangan, ia kembali menatap langit hitam di atas sana, "Avan Mahendra, apa kau seorang lelaki? Kau menungguku?"
Bella tersenyum kecut, mengapa dari dulu ia yang harus datang? Berbicara kata menunggu, apa cinta itu harus ditunggu saja bukankah cinta itu harus diperjuangkan?
Bella selama tiga minggu ini terus menahan dan tidak perduli dengan lelaki itu, tapi entah mengapa orang-orang disekelilingnya seolah-olah tidak ingin ia lepas begitu saja. Kadang ia berpikir apa pilihannya untuk melupakan lelaki itu tidak mendapatkan dukungan orang terdekat?
Hembusan napas panjang lolos begitu saja dari mulutnya. Tak lama kemudian ia kembali menyesap kopi yang masih tersisa, lalu kembali duduk di kursi kebesarannya dan mengerjakan desain sofa.
Hufff ...
Bella nampak frustrasi saat kembali bergulat dengan desain itu. Kepala gadis itu pening seketika saat ia tidak bisa menyelesaikan desain dengan mudah, terkadang ia bertanya-tanya kenapa almarhum sang ibu menginginkan produk itu padahal semua orang sudah menentangnya.
Saat Bella fokus pada gambar di depannya, terdengar suara pintu terbuka.
__ADS_1
"Bella."
Bola mata Bella membulat sempurna saat melihat lelaki dengan pakaian rumah sakit berdiri di ambang pintu. Perasaan Bella kini bercampur aduk, namun satu pertanyaan yang terlintas di benak gadis itu, haruskah hatinya goyah kembali?