
Kediaman Drajat.
"Selamat datang Non Bella dan Den Avan," sapa seorang pelayan yang baru saja membuka pintu.
Sepintas Bella melirik ke arah Avan yang tersenyum menyambut sapaan dari pelayannya. Gadis itu ingat kejadian di mana Avan dengan sikap egois dan dinginnya memaksa untuk ikut pergi ke rumah. Namun, Bella bersyukur karena paksaan itu kini ia sedikit tenang saat berada di rumah. Setidaknya jika ia dalam bahaya ada orang yang bisa membantunya.
"Terima kasih, Bi. Bunda dan Ayah di mana?" tanya Bella berbasa-basi
"Mereka masih di kamar, Non. Kebetulan lagi ada dokter memeriksa kolestrol Tuan," sahutnya.
"Kalau gitu aku mau ketemu si jelly dulu." Bella hampir saja berlari ke belakang untuk menemui binatang kesayangannya itu. Namun, ia ingat dengan sang suami yang masih buta di rumah ini.
"Kakak mau ikut atau duduk di ruang tamu?" tanya Bella.
Avan yang sejak tadi mengamati sekeliling kini tersentak dengan pertanyaan Bella. Meskipun bukan pertama kali datang ke rumah itu, tapi Avan masih menyimpan rasa kagum dengan desain rumah keluarga Drajat, luas dan mewah seperti hotel bintang lima.
"Kemana?" tanya Avan.
"Ketemu si jelly, si ganteng imut."
Avan mengerutkan dahinya bertanya-tanya siapa si jelly, apa teman masa kecil Bella? Memangnya di dunia ini ada orang lain di mata Bella yang lebih ganteng darinya?
"Hemm ... Bel siapa yang kau bilang ganteng?" tanya Avan penasaran.
"Si jelly," ulang Bella dengan polosnya.
"Iya maksudnya aku jelly itu siapa?"
"Si ganteng imut!"
"Iya, itu siapa Bella!" tanya Avan mulai emosi. Benak Avan berpikir apa Bella benar-benar polos hingga ia tidak tahu maksud dari pertanyaannya?
"Kakak mau tau? Ayo, ikut Bella," Bella langsung menarik tangan Avan menuju ruang belakang di mana jelly berada di sana.
__ADS_1
"Jadi ini si ganteng imut?" tunjuk Avan pada sosok hewan kecil berbulu lebat berwarna coklat dan putih, marmot.
Bella langsung mengambil binatang itu lalu meletakkan di tangan kirinya sementara tangan kanan menggoda hewan kecil itu, tak lupa bibirnya juga menggoda seolah ingin mencium.
"Mau bermain dengan si ganteng?" tawar Bella setelah ia puas bermain.
Avan yang sejak tadi memandang Bella bermain dengan binatang itu, kini jadi salah tingkah, ia takut jika Bella sadar jika dirinya sejak tadi memperhatikannya.
"Hemm ... Kau tidak takut si ganteng ini akan tersaingi?" Avan ikut membelai bulu lebat marmot itu.
"Kakak aneh memang siapa juga yang mau bersaing dengan binatang!" Ucapan Bella sukses membuat Avan tertohok, benar juga kenapa harus merasa tersaingi dengan binatang.
Kini keduanya menikmati waktu dan tertawa bersama, seolah mengesampingkan masalah yang sejak awal menimpa keluarga kecil itu. Hingga suara wanita paru baya membuat mereka langsung memfokuskan pandangannya ke satu titik.
"Bella, Avan, kalian sudah datang?" Mutia langsung menghampiri anak dan menantunya.
"Iya, Bun. Kami baru sampai si Bella rindu katanya sama si jelly," sahut Avan saat Bella tak memberikan respon.
Hanya beberapa menit pelukan itu berlangsung kini sembari melepaskan pelukan Bella berkata, "Kata Bi Ina, Ayah sedang diperiksa dokter. Bagaimana keadaannya, Bun?"
"Ayahmu itu bandel banget, ya gitulah penyakit tua. Apalagi gak mau kontrol makanan. Makanya Bunda ngajak makan malam bersama biar kau bisa bilangin ayahmu itu. Ayo, kita ketemu Ayah." Mutia menggiring Bella dan Avan agar keluar dari ruangan kecil nan bau itu.
"Van, malam ini bisa kan menginap di sini?" tanya Mutia.
"Em ... Avan tergantung Bella saja, Bun. Mau atau tidak," jawab Avan pasrah.
"Tentu saja tidak bisa. Kan Kak Avan ada yang dipelihara di rumah. Kalau nginap nanti peliharaan itu kabur dari rumah atau terjadi apa apa padanya bagaimana?" sahut Bella.
"Memangnya Avan punya peliharaan apa?" Mutia yang penasaran tidak segan untuk bertanya.
"Em ... Itu seorang—"
"Hanya peliharaan kesayangan aja Bun," sahut Avan memotong kalimat Bella.
__ADS_1
Bella hanya bisa menarik napas dalam-dalam, gadis itu langsung membenarkan ucapan Avan. Iya, seorang wanita kesayangan, batinnya.
"Oh, gitu. Tapi hanya semalam tidak apa apa kan menginap. Biar Bunda kirim seseorang untuk menjaganya nanti," Mutia memberikan solusi, sebab bagaimanapun malam ini anak dan menantunya itu harus menginap agar rencananya berjalan lancar.
Bella dan Avan langsung saling melempar pandang. Meskipun Bella menginginkan Avan dan Laudya bisa bersama, tapi ia juga tidak mungkin membiarkan Mutia tahu tentang Laudya yang kini tinggal bersama, sebab sedikit celah mungkin saja akan dijadikan senjata oleh wanita paru baya itu untuk bisa melawan Rianti.
"Baiklah. Malam ini kita menginap. Dan Bunda tidak perlu mengirim orang," jawab Bella lalu menggandeng lengan tangan Avan agar terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Begitupun Avan dengan senang hati menyambut sang istri yang kini memegang tangannya. Hati lelaki itu melembut mengikuti tingkah Bella.
Mutia langsung tersenyum dan mengangguk menyetujui permintaan sang anak. Saat ketiganya kini sampai di ruang tamu Mutia melihat dokter yang memeriksa suaminya ia pun bertanya, "Dokter Dika apa sudah selesai?"
Dika, dokter muda yang kini bekerja sebagai dokter pribadi keluarga Drajat tersenyum lembut. Wajah tampan miliknya mampu membuat siapapun terpana. Namun, bola mata bermanik hitam pekat itu seperti mengenal sosok cantik yang kini berada di hadapannya. Tanpa ragu dokter itu menghampirinya lalu berucap, "Bella, kau Arabella kan?"
Memori Bella mengintruksikan untuk bisa mengingat sosok yang menyapanya, tak lama ingatan Bella kembali, ia pun langsung melepaskan pegangan tangan lalu mendekat ke arah sang dokter.
"Kak Dika? Astaga aku hampir tidak mengenali Kakak. Apa kabar?" Bella mengulurkan tangannya untuk bisa bersalaman dengan lelaki itu.
Jangan ditanya lagi bagaimana ekspresi Avan saat ini. Apalagi lelaki itu melihat sosok muda bertalenta sebagai dokter, membuat ia seperti mendapatkan saingan cinta.
Dika langsung menyambut uluran tangan Bella, "Aku baik dan bisa kau lihat sendiri aku sudah bisa menggapai mimpiku. Aku sama sekali tidak percaya bisa bekerja sebagai dokter pribadi di rumahmu. Apa boleh aku minta nomormu?"
"Kakak sama sekali tidak berubah selalu seperti ini. Baiklah sebentar aku keluar ponselku dan kita tukeran kode QR," Bella langsung mengeluarkan ponselnya membuka aplikasi masa kini dan mengarahkan ponsel itu pada Dika.
Namun, siapa sangka saat Dika ingin scan kode QR itu di atas ponsel Bella muncul satu ponsel lagi dan sukses memindahkan kode QR lain ke ponsel Dika.
"Jika nanti ada apa apa dengan Bella aku akan menghubungimu," ucap Avan dengan nada dingin.
Dika memandang sosok lelaki yang kini berada di tengah-tengahnya. Dika cukup tahu siapa lelaki itu hanya saja dia terlalu senang bertemu dengan cinta pertamanya, bahkan ia juga tidak menggubris pertanyaan dari istri pasiennya.
Dengan malu-malu sembari mengusap tengkuknya Dika berkata, "Maaf saya terlalu senang bertemu dengan Bella. Perkenalkan saya Dika."
Avan yang melihat Dika mengulurkan tangan ia langsung menyambut uluran itu lalu berkata, "Saya Avan, suami Arabella!"
__ADS_1