
Sinar mentari kembali menyapa, kehidupan kembali berjalan di bawah langit yang cerah. Namun, Bella sama sekali tidak ada niatan untuk bangun dari ranjang empuk itu.
Semalaman gadis itu menunggu sang suami pulang sembari memikirkan kehidupan kedepannya nanti. Hanya saja hingga waktu menunjukkan sepertiga malam sang suami tidak pulang dan ia langsung memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Rubella!" Avan mencoba memanggil nama Bella sembari menggoyangkan kaki gadis itu dengan kakinya yang kini tidur dengan posisi tengkurap.
Bella mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, saat sadar jika kini kaki Avan menyentuh kakinya ia kembali pura-pura tidur.
"Bella, jika kau tidak bangun aku pastikan ranjang ini penuh dengan air got!" ancam Avan.
Saraf pusat Bella langsung bekerja seperti memberikan sinyal bahaya. Air got? Tidak mungkin tubuhnya yang terawat akan mandi dengan air berwarna hitam dan banyak kuman, bakteri kan? Seketika itu Bella langsung bangkit dan berdiri tepat di depan Avan.
"Bella sudah bangun Kak, jadi simpan tenaga Kakak untuk mengambil air itu ya," ucap Bella sembari menepuk-nepuk kecil bahu Avan.
Avan mendengus, awalnya ia membangunkan Bella karena ia tidak suka Bella tidur di ranjangnya. Namun, kini ia justru menemukan jika Bella takut dengan sesuatu yang kotor. Timbul niat dalam benak lelaki itu untuk mengerjai Bella.
"Singkirkan tanganmu itu!" perintah Avan sembari menepuk tangan Bella.
Bella langsung memanyunkan bibir dan mengusap punggung tangannya.
"Jangan seperti anak kecil." Avan melotot membuat Bella menunduk.
Beberapa saat kemudian kepala Bella terangkat saat mendengar suara Avan.
"Hari ini seharusnya kau menjalankan tugasmu sebagai istri kan?"
"Kak Avan mau apa? Mau Bella mandiin?" jawab Bella dengan semangat empat lima.
"Benar-benar otak mesum. Aku ingin membuat peraturan."
"Peraturan?" ulang Bella.
"Iya, kau tahu kan kita hanya tinggal berdua saja di sini. Jadi kau sebagai istri harus membersihkan rumah ini dan memasak untukku. Dan tidak ada pembantu yang akan membantu dirimu. Ingat, aku ingin kita hidup dari nol dan tidak memiliki apapun, jadi intinya kita hidup dalam kemiskinan." Avan menakan suara pada setiap kata-katanya.
Seketika itu Bella tertawa terbahak-bahak.
"Kau tertawa?"
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak tertawa. Kak, mana ada orang miskin hidup di rumah dua tingkat? Udah gitu punya mobil dan barang-barang mewah pula," cetus Bella lalu melanjutkan kembali tawanya.
"Jadi kau tidak mau melakukan peraturan yang aku buat? Ah, tidak masalah kau tinggal tanda tangan surat perceraian, kau tau kan tempatnya," sahut Avan membuat Bella menghentikan tawanya.
Sembari berdehem Bella perlahan-lahan duduk di sisi ranjang. Dia nampak berpikir sejenak sebelum ia membalas ucapan Avan.
"Kak, kalau aku melakukan apa yang Kakak inginkan apa Kakak tidak takut jika rumah ini justru menjadi kapal pecah? Belum lagi masalah dapur jika aku kesana apa Kakak tidak takut jika rumah ini kebakaran? Dan lagi nanti aku bisa gatel gatel terus kulitku merah merah," papar Bella memberikan alasan yang logis dengan wajah dibuat-buat sok imut.
"Tidak apa-apa aku bisa membangun rumah lagi. Dan jika kulitmu gatal gatal apa lagi merah merah itu bukan urusan Saya, Bella. Satu lagi jika kamu mau melakukan apa yang aku inginkan jangan ada yang membantu dirimu, ingat itu. Jika ada berarti kau melanggar peraturan yang aku buat dan kau wajib untuk membayar denda sesuai keinginanku. Tapi jika kau tidak mau aku juga tidak masalah dan tentunya kau harus tanda tangan surat cerai kita," balas Avan seolah tidak perduli apa yang baru saja dikatakan Bella.
Bella hanya bisa mengangguk, mungkin ini adalah hari tersial dia saat bangun tidur dan kini Bella paham alasan Avan membawa dia pindah rumah yang tentunya akan membuat dirinya menyesal.
Akan aku buktikan jika aku bisa melakukan semua yang Kakak inginkan. Aku pastikan tidak akan kalah dalam permainan ini, batin Bella.
"Aku akan kembali saat jam makan siang. Ingat harus sudah ada makanan untukku," ucap Avan lalu melangkah pergi meninggalkan Bella yang kini tersenyum padanya.
***
Bella hanya bisa berdiri menatap bingung sekelilingnya. Jujur saja ia sama sekali tidak paham dengan pekerjaan rumah tangga, sejak kecil hidupnya sudah enak meskipun dalam tekanan batin.
"Aku harus mulai dari mana?" gumamnya.
Bella tersenyum ia sepertinya tahu pada siapa ia harus minta tolong. Lalu ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi salah satu kontak dalam ponsel itu. Cukup membutuhkan waktu lama untuk orang di seberang sana mengangkat panggilannya.
"Ck, lama banget sih. Kau ngapain saja?" omel Bella setelah panggilan itu terhubung.
"Kenapa? Kau mau cerita jika kau sudah tidak pera*an lagi?" sahut gadis muda berusia dua puluh tahun.
"Kau sedang mengejekku?"
"Hah, dari ucapanmu sepertinya Avan sama sekali tidak menyentuhmu. Sudah aku bilang lelaki itu breng—"
"Livia Saputri, jangan menjelekkan suamiku. Meskipun aku dibilang angsa bodoh dan Rubella, aku tidak pernah membalas ejekannya karena aku ingin namanya selalu Avan Mahendra," ucap Bella memotong ucapan wanita yang bernama Livia.
"Dasar kau kelewat bucin. Sudahlah apa yang aku katakan tidak akan mengubah pandanganmu tentang Avan, bagimu dia adalah kumbang emas. Kembali ke topik kenapa kau menghubungiku?"
Bella tanpa basa-basi lagi langsung menceritakan masalah yang ia hadapi.
__ADS_1
"Kau yakin mau melakukan hal itu? Heh, kau tidak boleh kecapekan ingat kau hanya punya satu ginjal!" Larang Livia.
"Lalu aku harus bagaimana? Memangnya pekerjaan itu benar-benar berat kah?" tanya Bella dengan polosnya.
Di seberang sana Livia Saputri sahabat baik Bella hanya dapat mendengus kesal. Sebenarnya pekerjaan membersihkan rumah dan masak tidak akan berat jika dilakukan oleh orang-orang yang sudah terbiasa, tapi ini Arabella gadis yang selalu dimanja sejak kecil tanpa melakukan apapun.
"Bagaimana jika kau ke dapur saja untuk masak? Soal membersihkan rumah biar orang orang dari keluargamu yang mengerjakan," saran Livia.
"Tapi Kak Avan melarang ku."
"Dia sedang tidak berada di rumah kan? Tenang saja biarkan CCTV aku restart jadi kau akan aman." Livia diusia mudanya yang sudah memiliki pengalaman sebagai hacker tentu saja akan dengan mudah melakukan apa yang dikatakannya tadi.
Bella akhirnya menyerah dan menyetujui ide dari sahabatnya. Ini ia lakukan demi kesehatannya juga selain ia tidak bisa membersihkan rumah, lain kali ia berjanji akan belajar agar bisa memenuhi semua harapan Avan tentang dirinya.
Livia langsung membimbing Bella saat gadis itu berada di dapur. Karena di dapur hanya ada telur dan beberapa sayuran Livia memberikan saran agar Bella memasak omlet saja. Namun, siapa sangka saat Bella memasukkan bahan-bahan yang sudah ia racik ke dalam penggorengan justru minyak itu meletup-letup dan mengenai kulit mulus Bella.
"Ternyata menjadi istri idaman sangat susah," keluh Bella.
"Lagian siapa suruh. Avan orang kaya dia tidak akan menjadikan dirimu pembantu seperti ini jika kau berkata jujur padanya," sahut Livia gemas pada sang sahabat.
"Kau tahu dengan pasti alasanku. Aku tidak ingin kak Avan mencintaiku karena balas budi. Sudahlah aku minta orang orang rumah saja mengerjakan semua ini. Ingat kau restart CCTV di rumah ini," putus Bella pada akhirnya.
Waktu terus berputar sesuai porosnya dan jam makan siang sudah tiba. Bella segera memerintahkan pada orang-orang yang ia suruh membersihkan rumah untuk segera pergi takut-takut jika Avan akan datang.
Benar saja tak lama setelah para pembantu dari rumahnya yang ia pekerjaan pergi Avan datang.
"Kakak sudah pulang? Ayo, kita ke meja makan semua sudah siap," sambut Bella.
Avan tidak menggubris sambutan itu, bola matanya menatap setiap sudut rumah yang telihat sangat bersih bahkan saat ia memeriksa meja tidak ada debu yang menempel. Ia pun langsung menuju ke meja makan.
"Kau yang melakukan ini semua?" tanya Avan sembari melihat menu yang kini berada di meja makan.
"Tentu saja. Aku kan istri idaman," sahut Bella dengan bangga.
Avan tersenyum lalu duduk di kursi begitupun dengan Bella mengikuti sang suami untuk duduk.
"Kakak suka dengan menu ini? Pasti suka aku membuat ini semua dengan penuh cinta."
__ADS_1
Brakk