Menikah Dengan Nona Kecil

Menikah Dengan Nona Kecil
Tawaran


__ADS_3

"Mama," Mulut Avan terbuka sedikit saat memanggil nama wanita paru baya yang tak lain Rianti.


Namun, wanita itu tak menyahuti panggilan sang anak. Ia justru berkata, "Sam, kau bisa keluar dan tinggalkan kami berdua."


"Baik, Nyonya." Samuel langsung bangkit dari tempat duduk, membungkukkan badannya dan meninggalkan ruangan itu.


Beberapa menit berlalu Avan langsung memulai pembicaraan, "Mama kenapa ke sini?"


Rianti tanpa diminta langsung duduk di sofa yang berada di ruangan itu, "Mama tidak habis pikir, kau sudah tinggal satu rumah dengan Bella. Tapi hubungan kalian tidak ada perkembangan."


"Mama datang kesini hanya untuk membicarakan hal ini?" Avan menghampiri Rianti dan ikut duduk di sana.


"Kalau kau bisa menjaga hubunganmu dengan Bella, tentu Mama tidak akan repot repot kesini," ketus Rianti.


"Mama cukup tau kan hubunganku dengan Bella tidak semudah membalikkan telapak tangan? Kami membutuhkan waktu untuk bisa saling mengerti satu sama lain. Apalagi saat ini dia masih menomor satukan dendamnya pada keluarga," jelas Avan.


Rianti langsung menggelengkan kepala, sebelumnya harapan wanita paru baya itu begitu tinggi pada Avan agar bisa menjadi perisai untuk Bella, tapi melihat kondisi sekarang? Rasanya, sifat sang anak yang dulu dingin dan dapat diandalkan tidak lagi terlihat, justru saat ini sang anak menujukan sisi lemahnya.


"Mama tidak bisa banyak berkata kata lagi, Van. Tapi jika bisa kau harusnya membantu Bella. Kau tau gadis yatim itu sudah tidak memiliki seorang yang dapat melindungi dirinya. Dan untuk dendam, jika kau jadi Bella apa kau akan melupakan begitu saja? Aku rasa kau akan melakukan hal yang sama," papar Rianti.


"Aku tau Ma, tapi Bella masih terlalu lemah untuk bisa menghadapi keluarganya," ucap Avan.


"Karena itu kau harus membantunya."


"Avan bisa saja membantu Bella. Tapi Mama cukup tau gadis itu sangat keras kepala, apa yang menjadi titik pandangannya maka dia akan berjalan lurus ke sana," hembusan napas gusar ditunjukkan Avan.


"Mama tau itu. Tapi kau juga harus tau, dibalik keras kepala gadis itu menyimpan kelemahan yang harus mendapatkan dukungan dari luar."


"Aku paham," jawab Avan singkat. Lelaki itu tidak ingin banyak berdebat dengan sang ibu, lebih baik ia kini memikirkan cara agar bisa berdamai dengan Bella dan memenuhi harapan wanita yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan itu.


Rianti menarik tangan sang anak, sejak kejadian dimana dirinya mencegah perceraian sang anak dan sang menantu, ia belum pernah bertemu meskipun Rianti tahu kondisi perasaan sang anak sempat memburuk.

__ADS_1


"Van, Mama tau kau sejak dulu sangat menyukainya. Hanya saja karena kesalahpahaman kau menutup hatimu untuknya. Kejarlah dia dan jangan sampai lepas, jika itu terjadi kau akan sangat menyesal," tutur Rianti yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Avan.


***


Di perusahaan AD grup.


Bella yang sejak pagi hingga siang disibukkan dengan pertemuan bersama para klien, kini ia sedikit bisa bernapas lega saat kaki jenjangnya baru menginjak lobby perusahaan yang mungkin sebentar lagi akan ia pimpin. Di samping gadis itu juga ada Livia yang selalu menjadi partnernya.


"Liv, apa setelah ini aku masih ada pertemuan lagi?" tanya Bella mengehentikan langkahnya.


"Tidak ada. Kau bisa beristirahat," jawab Livia.


Namun, sayangnya jawaban Livia tidak mampu membuat gadis itu berleha-leha karena bisa beristirahat, sekali lagi permasalahan yang belum kelar sejak beberapa minggu yang lalu selalu menghantui pikirannya.


"Apa aku bisa beristirahat seperti apa yang kau katakan?" tanya Bella.


"Bel, kau sudah terlalu memforsir tenagamu. Ayolah, usiamu masih muda jika memang saat ini kau gagal kau bisa bangkit lagi. Ingat kesehatan itu hal yang utama," peringat Livia.


Bel, kita berteman gak cuma satu atau dua tahun. Aku sangat tau apa yang kau rasakan. Tapi akhir akhir ini aku justru sudah tidak bisa mengenali dirimu, batin Livia. Gadis itu sudah merasa kecewa pada sang sahabat yang berubah drastis hanya saja ia tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini.


"Sudahlah, ayo, jalan," ajak Bella saat Livia tak lagi bersuara dan hanya menatap dirinya.


Saat kaki jenjang kedua wanita itu ingin melangkah, suara lelaki yang sangat dikenal Bella terdengar di gendang telinganya.


"Bella," panggil dari Avan itu langsung membuat Bella dan Livia memutar tubuhnya.


Bola matanya kedua wanita itu membulat sempurna saat melihat Avan yang kini berjalan dengan gagah sembari membawa seikat bunga mawar merah, tentu saja kedua wanita itu terpesona bukan hanya kedua wanita itu tetapi beberapa karyawan yang melihat juga ikut merasa kagum.


"Haruskah aku pergi saat ini juga?" tanya Livia saat ia bisa menguasai dirinya.


"Tidak perlu." Bella terus melihat Avan yang kini mulai mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Kakak ke sini?" tanya Bella saat Avan hanya berada beberapa langkah darinya.


Avan langsung menyerahkan bunga yang ia bawa, "Untukmu, aku harap kau menyukainya."


"Apa ini sebuah sogokan?"


"Tentu saja tidak. Kau tau kan arti bunga mawar merah ini?" Avan menjeda kalimatnya beberapa menit lalu berkata kembali, "aku ingin meminta maaf."


Awalnya Bella berharap arti dari bunga mawar merah itu adalah ungkapan rasa cinta, tapi setelah mendengar kalimat Avan ia sedikit merasa kecewa.


"Oh. Liv, tolong ambil bunga itu lalu letakkan di ruanganku," perintah Bella yang ditunjukkan pada Livia.


"Tunggu. Kenapa Livia yang mengambil bunga ini?" cegah Avan saat Livia hampir meraih bunga yang ia bawa.


"Memangnya kenapa. Sama sajakan," ketus Bella.


"Tentu saja berbeda. Kau seharusnya memberikan jawaban atas permintaan maaf ku," ucap Avan dengan nada sedikit tinggi membuat beberapa karyawan kini langsung terfokus pada ketiga orang yang kini berada di tengah-tengah lobby.


Bella menggigit bibir dalamnya sembari melihat sekeliling, "Kakak bisa mengecilkan suara? Apa Kakak tidak malu?"


Saat itu juga Avan langsung melirik sekeliling. Sudah basah lebih baik mandi sekalian kan? Lelaki itu kini berbicara kembali, "Kenapa harus malu kita kan sudah sah suami istri. Kalau suami salah bukankah harus minta maaf?"


"Kakak!"


"Bella, istriku mau kan kau memaafkan suamimu ini?" tanya Avan lagi dengan menambahkan intonasi.


"Baiklah aku memaafkanmu lebih baik sekarang pulang dan kita bisa menyelesaikan masalah ini saat di rumah," ucap Bella dengan nada berbisik-bisik.


Setelah melihat Avan yang kini sudah sedikit tenang dan tidak seperti psikopat. Bella langsung mengambil bunga yang dibawa Avan, lalu melangkah pergi agar menghindari omongan dari para karyawannya.


Sementara Avan yang melihat Bella hampir saja berlalu darinya, lelaki itu langsung berteriak kembali, "Apa nanti malam kau mau tidur denganku?"

__ADS_1


Waktu seolah berhenti begitu saja, kaki Bella bergetar hebat mendengar pertanyaan fortal dari lelaki yang usianya sudah matang itu.


__ADS_2