
"Arghhh ... Dasar wanita apa sih maunya! Ini salah itu salah. Kau tau aku tidak bisa berpikir lagi bagaimana caranya agar bisa membuat Bella membuka hatinya untukku," celoteh Avan sembari menyesap segelas air dingin.
"Sama. Kau tau Livia juga seperti itu. Rasanya apa yang aku lakukan selama ini tidak ada yang masuk ke dalam hatinya." Samuel mengangkat gelas mengajak Avan untuk bersulang.
Keduanya langsung menenggak beberapa air dingin yang kini tersaji di meja, kelakuan kedua lelaki itu tak luput dari penglihatan para pelayan di sana. Bagaimana tidak, kafe itu terkenal dengan minum yang segar dan manis, tapi kedua lelaki itu hanya memesan air dingin yang hampir memenuhi meja mereka.
"Aku pikir mereka orang miskin. Jadi hanya memesan air dingin saja," cetus pelayan berwajah oval sengaja mengompori manager kafe yang juga ikut melihat kelakuan Avan dan Samuel.
"Mereka bukan orang miskin! Seandainya kedua ginjalmu dijual mereka sanggup membelinya tanpa berhutang," sahut sang manager membuat pelayanan itu langsung memegang pinggangnya. Sementara sang manager berjalan menghampiri Avan dan Samuel.
"Sudah selesai? Jika kalian hanya ingin minum air dingin tak perlu datang kemari," cetus sang manager bernama Aufan.
"Hai, Fan. Kau tau para lelaki yang hampir lajang seumur hidup ini nasibnya udah diujung tanduk. Kau masih tidak punya perasaan mengusir kami?" sahut Samuel.
"Lalu mau bagaimana lagi, kau membuat orang berpikir kafe ini untuk orang orang miskin macam kalian," cibir Aufan.
"Kau ingin dipecat dari sini?" Avan menyahuti ucap Aufan.
Aufan menelan ludahnya kasar, salah dia berurusan sama pemilik kafe ini, "Van, jangan begitulah. Lagian kalian ada masalah apa sih? Sampai kayak gini."
Avan dan Samuel langsung memandang Aufan, "Airmu sudah tidak terlalu dingin bisa diganti?"
Aufan berdecak sebal, kenapa dua lelaki itu berkata dengan kalimat yang sama secara serempak tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Aufan mengambil salah atau gelas, "Apa kalian tau kenapa air yang awalnya dingin bisa berubah menjadi hangat? Karena di diamkan. Begitu juga hati seorang wanita kadang saat kita genggam justru dia semakin dingin, tapi saat kita melepasnya akan menjadi hangat."
Avan dan Samuel menatap takjub pada Aufan, tidak heran sih Aufan berkata demikian dengan statusnya yang saat ini sudah berumah tangga selama bertahun-tahun dan sesudah memiliki seorang anak.
__ADS_1
"Apa kalian tau? Ada saatnya kita mundur kadang ada pula saatnya kita maju," sambung Aufan lagi.
"Jadi kau menyarankan kita untuk mundur? Tidak! Aku tidak mau, aku takut kehilangannya," jawab Avan tidak terima.
Aufan menenggak segelas air yang ia pegang tadi, "Mundur bukan berarti pergi. Kau sepertinya sudah salah jalan sejak lama. Gini saja kalimat terakhir apa yang di katakan istrimu?"
"Dia bilang kita membutuhkan waktu lebih banyak lagi. Sama satu lagi ingin dimengerti dan—"
"Jangan plin plan. Van bukankah itu kalimat yang diucapkan Bella untukku?" sahut Samuel memotong ucapan Avan.
"Kau kayak metromini saja main serobot, ia itu yang dia katakan saat kau meneleponnya tapi aku yakin itu juga untukku," jawab Avan.
"Kau seharusnya dari tadi bilang itu untukmu. Ck, aku bahkan sampai mikir ribuan kali untuk menyatakan cintaku pada Livia karena mencerna kalimat Bella. Aku yakin saat ini Livia menganggap aku pecundang," Samuel langsung menenggak air putih lagi dan lagi lalu meletakkan kepalanya di ujung meja.
"Ck, aku mana tau!"
"Hai, kau kira dirimu sudah benar. Livia saja menganggap kau pecundang!"
Aufan mengangkat kursi lalu menjatuhkan kursi itu hingga berbunyi seperti gebrakan agar dua lelaki yang hampir membuat kepalanya pening itu berhenti berdebat.
"Kalian lebih baik pergi dari sini. Lalu temui wanita kalian masing-masing. Wanita itu tidak butuh kata manis terlebih janji manis, yang mereka inginkan adalah kejujuran kalian. Kepalaku hampir pecah dan aku ingin menutup kafe ini."
Avan dan Samuel beranjak dari kursi masing-masing guna mengajar Aufan. Namun, lelaki itu gegas melarikan diri karena sudah tidak ingin mendengar keluhan Avan dan Samuel.
***
Avan baru saja tiba di rumah dua tingkat itu, saat ia membuka pintu dia melihat Bella masih sibuk dengan kerjaannya. Ia langsung menghampiri sang istri yang kini duduk di bawah diampit meja dan sofa.
__ADS_1
"Kau belum tidur?" tanya Avan namun tidak direspon Bella.
"Bel, apa kau berpikir aku terlalu kekanak-kanakan? Tapi tanpa kau berpikir seperti itu aku cukup sadar diri. Iya, tadi aku bertemu dengan Laudya." Avan melirik ke arah Bella yang kini mengehentikan aktivitasnya. Ia juga ikut duduk di samping Bella.
"Aku bertemu dengannya karena ia dikejar-kejar debkolektor. Karena salah satu ginjalnya ada padamu aku tidak tega membiarkan dia diperlakukan dengan buruk oleh orang-orang itu. Jujur aku—"
"Kalau Kakak tidak tega lebih baik jaga dia dengan baik. Aku tidak mempermasalahkan," jawab Bella memotong ucapan Avan. Hati gadis itu meringis kesakitan kenapa diantara banyaknya alasan Avan menggunakan kelamaan itu untuk membenarkan kesalahannya.
"Bel," panggil Avan namun gadis itu kini mulai fokus lagi pada lembar kertas dan pensil di tangannya.
"Kau pernah bilang jika kau bisa jadi dewasa, apa saat ini kau tidak bisa bersikap seperti itu? Aku sungguh-sungguh ingin memulai denganmu dari awal, maaf karena sudah menuduhmu yang bukan bukan," terang Avan kembali.
Avan melihat Bella yang tak lagi menggubrisnya dan kini justru menatap kesembarang arah, lelaki itu beranjak dari tempat duduknya lalu masuk kamar meninggalkan Bella sendirian.
Bella berdecak sebal, ia yang ditinggalkan Avan ingin fokus ke kertas yang sejak tadi ia gunakan untuk mengalihkan pikiran pada masalah rumah tangganya, tapi setelah Avan berkata seperti itu ia kini tidak bisa fokus lagi.
"Mulai dari awal?" Bibir Bella berdecak, "kau bahkan tidak memberitahuku alasan kenapa kau ingin memulainya. Kalau kau menyatakan perasaanmu mungkin aku bisa mempertimbangkan semuanya, tapi ini kau bahkan tidak mengatakan apapun. Aku saat ini takut jika alasan itu karena salah satu organ tubuhku ada padamu seperti kau mencintai Kak Laudya. Aku tidak ingin seperti itu."
Bella menggigit bibir bawahnya merasakan sensasi sakit yang ia timbulkan di sana. Benaknya kini sudah tidak fokus lagi untuk mengerjakan desain yang diimpikan almarhum sang ibu.
Bella bangkit dari tempat duduk, kakinya ingin melangkah ke kamar yang sudah ia tempati beberapa saat yang lalu, namun hatinya mengintruksikan agar melangkah ke kamar Avan.
"Baik, akan aku ikuti kata hatiku," gumam Bella. Ia langsung melangkah lebar-lebar ke kamar lelaki itu.
Pintu kamar yang tidak ditutup rapat membuat Bella bisa mengintip ke dalam. Bola matanya melihat sang suami kini duduk di atas ranjang dengan kepala ditekuk dan tangannya terus mengusap kulit kepala yang ditumbuhi rambut pendek, memperlihatkan bagaimana lelaki itu begitu frustasi.
"Haruskah aku menghampirinya?"
__ADS_1