
"Hem ... Aku rasa kau melakukan hal yang sia sia dengan tidur bersamanya. Apa kau tidak pernah paham jika Avan tidak akan pernah bisa kau dapatkan?"
Langkah Bella terhenti saat ia mendengar suara Laudya. Gadis itu sebenarnya sudah tidak memiliki selera untuk berdebat dengan siapapun, tapi ia akan meluangkan sedikit waktunya untuk mendengarkan omong kosong dari kekasih suaminya itu.
Posisi Laudya berjarak beberapa meter dari Bella, kini wanita itu melipat kedua tangannya di dada lalu berjalan dengan angkuh mendekat ke arah lawan bicaranya.
"Kau sangat tau Avan hanya mencintai aku seorang. Karena aku yang membuat dia bisa bernapas hingga hari ini!" tegas Laudya berusaha untuk membuat Bella semakin hancur.
Namun, Laudya salah, Bella justru menarik sudut bibirnya seolah mengejek ucapan yang baru saja dilontarkannya.
"Apa kau yakin? Kau yang membuat dia bernapas hingga hari ini?" cetus Bella.
"Lalu siapa lagi? Ya, aku mengaku jika aku menjual ginjalku. Tapi bagaimanapun aku tetap dianggap sebagai malaikatnya kan? Jadi berhentilah karena kau tidak akan mendapatkannya," ungkap Laudya.
Iya, wanita itu semalaman sudah berpikir untuk tidak takut lagi dengan ancaman Bella. Ia yakin ada yang disembunyikan Bella karena hingga detik ini gadis itu tidak memberitahu Avan akan fakta yang diketahuinya.
"Wah, sepertinya apa yang aku ucapkan tidak akan lagi membuatmu ketakutan. Dan aku yakin, kau juga wanita pintar hingga detik ini kau mampu melebarkan sayapmu. Tapi ketahuilah jika memang Avan Mahendra mencintaimu karena balas budi, kau harus bersiap untuk kehilangannya," Bella menatap Laudya penuh kebencian, jika beberapa waktu lalu ia akan melepaskan Avan dan memberikan sedikit pelajaran untuk Laudya, tapi sekarang hanya kebencian yang ada di matanya.
Meskipun Laudya merasa terintimidasi, tapi wanita itu tidak takut sama sekali baginya ia sudah cukup lama hidup dan banyak makan asam garam. Hanya gertakan seperti itu tidak akan membuatnya lemah, "Bukankah kau yang harus bersiap? Aku cukup yakin jika Avan tidak hanya mencintaiku karena salah satu organ tubuhku ada padanya, tapi karena memang hati dan perasaan Avan sudah terpatri dengan namaku, Laudya Margaretha."
"Kalau kau cukup yakin, kenapa kau harus kebakaran saat tau aku sudah tidur dengannya? Apa kau takut jika istri sah ini mampu menggantikan namamu?" sahut Bella.
Plak
Satu tamparan mendarat langsung di pipi Bella. Membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Jaga ucapanmu! Jika tidak, ini yang akan kau dapatkan!" ancam Laudya.
__ADS_1
Seandainya tubuh Bella tidak lemah, ia pasti membalas Laudya. Tapi saat ini ia tidak mampu untuk membalas semua itu. Sembari menahan rasa nyeri di pipi, gadis itu gegas masuk ke dalam kamar dan membiarkan Laudya mendapatkan kemenangan.
Di sisi lain, Avan baru saja tiba di perusahaan. Semua mata tertuju padanya karena pakaian lelaki itu tidak seperti biasanya.
"Sam, ke ruanganku," perintah Avan tanpa melihat ke wajah yang diperintah.
Samuel yang merasa mendapatkan perintah, ia sedikit bergidik ngeri apalagi melihat sang bos yang kacau. Namun, lelaki itu tetep melangkahkan kakinya menuju ruangan Avan.
"Kau memanggilku sebagai asisten atau sahabat?" tanya Samuel saat tubuhnya sudah berdiri tegap di hadapan Avan meskipun ada pembatas meja diantara mereka.
"Sam, apa yang harus aku lakukan?" tanya Avan dengan raut wajah sulit diartikan.
Samuel bingung harus menjawab apa. Namun, sesaat kemudian Avan menceritakan masalah yang kini ia hadapi dari awal hingga akhir.
"Jadi kau tidur dengan Bella?" ulang Samuel memastikan jika apa yang ia simpulkan tidak salah.
"Van, sebagai sesama lelaki, aku mengutuk sikapmu yang berengsek ini!" kecam Samuel merasa kesal dengan apa yang tengah diperbuat oleh Avan.
"Sam, aku menceritakan masalahku untuk mendapatkan solusi bukan caci maki!" Avan geram dengan sang sahabat.
"Bagaimana aku tidak mengatakan kalimat itu. Sesekali posisikan dirimu sebagai Bella, jangan kau pentingkan egomu dan Laudya. Seandainya kau tidak ingat aku mungkin bisa saja membelamu tapi ini, kau menikmati malam bersamanya." Samuel langsung mengusap wajahnya merasa Avan benar-benar lelaki yang perlu dikasih pelajaran. Seandainya Bella ada di situ dan meminta pertolongannya tentu saja Samuel sudah memberikan bogeman pada Avan.
"Lalu apa yang harus aku perbuat?" tanya Avan sedikit frustasi.
"Perbaiki hubunganmu dengan Bella dan lepaskan Laudya," usul Samuel.
Avan langsung mengepalkan tangannya, ia tidak mungkin melakukan itu, "Tidak, Sam!"
__ADS_1
"Lalu kau ingin keduanya?"
Samuel melihat Avan hanya terdiam membuat ia semakin kesal. Akhirnya lelaki itu pergi dari ruangan dengan suasana sedikit memanas.
***
Kelopak mata Bella perlahan-lahan mulai terbuka, ia tidak sadar jika sudah tertidur selama 8 jam. Gadis itu langsung beranjak dari ranjang menuju ke meja rias yang berada di dalam kamar.
Bella tersenyum masam, saat ia melihat wajahnya di depan cermin. Mata bengkak, pipi merah bekas tamparan, hingga pucuk hidung merah, ia langsung menyimpulkan jika sekarang dirinya seperti badut, sungguh mengenaskan.
"Sudah cukup, Bel. Kau harus bangkit," gumam Bella meyakinkan dirinya sendiri.
Beberapa jam yang lalu sebelum tidur, gadis itu mengizinkan dirinya untuk menangis sepuasnya. Namun, setelah itu ia harus bangkit dan melupakan semua luka yang telah tergores. Bella juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa melupakan lelaki yang bernama Avan Mahendra dan berusaha tidak peduli lagi dengan lelaki itu, singkat kata ia ingin menjadi Bella yang baru.
Sepintas Bella melirik gunting yang berada di dalam laci yang terbuka, lalu tangan gadis itu memegang beberapa helai rambut hitam panjang favoritnya. Iya, hal baru dengan penampilan baru bukankah lebih sempurna?
Bella langsung menuju kamar mandi dengan mambawa benda tajam itu, lalu di menit berikutnya Bella tanpa perasaan memangkas rambutnya menjadi sebahu. Dirasa sudah rapi ia langsung membersihkan diri.
Tidak memerlukan waktu lama Bella membersihkan diri di tengah guyuran air malam yang dingin. Kini gadis itu kembali menatap dirinya di pantulan cermin.
"Ya, kau Bella yang baru, kau hebat dan tak terkalahkan. Bukan Bella yang manja dari nona kecil keluarga Drajat," Bella memberikan persepsi di benaknya. Hal itu cukup mampu membuat gadis itu kini seperti orang baru, terlihat dengan jelas senyum tak lagi mudah tercetak di bibir tipisnya, padangan gadis itu juga terlihat begitu dingin, wajah imut dengan poni pun sudah tidak ada.
Bella cukup yakin dengan dirinya yang baru, ia langsung keluar dari kamar untuk mencari makanan guna mengisi perutnya yang kosong. Saat ia membuka pintu pandangan pertama yang ia lihat Laudya tengah berbaring nyaman di sofa dengan paha Avan menjadi tumpuannya.
"Bel," Laudya yang pertama kali menyadari kedatangan Bella, "gaya rambut baru? Cukup bagus," puji Laudya.
"Iya, terima kasih," jawab Bella tanpa menoleh dan berlalu begitu saja.
__ADS_1
Sementara Avan yang melihat Bella merasa jika gadis itu bukan hanya penampilannya yang berubah tapi sikapnya juga. Harusnya dengan sikap seperti ini Avan merasa tenang karena memang keduanya sepakat untuk saling melupakan, tapi nyatanya ia merasakan hantaman kesakitan seperti dirinya sekarang sudah dibuang oleh gadis itu.