
Suara tawa terbahak-bahak seorang wanita mampu membuat Bella memunculkan tanduknya.
"Liv, bisa diam!" bentak Bella mulai meradang.
"Gak! Ini terlalu lucu," sahut Livia.
Bagaimana tidak lucu, Avan yang notabenenya seorang lelaki matang dan dikenal sebagai lelaki dingin tiba-tiba berbicara lantang memberikan tawaran pada Bella agar tidur bersama. Iya, meskipun semua orang tahu jika keduanya adalah pasangan suami istri, tapi setidaknya masalah intim seperti itu tidak perlu diumbar kan? Belum lagi Bella yang katanya masih marah pada sang suami dengan polosnya langsung menganggukkan kepalanya.
"Jika kau tidak diam, akan aku pastikan Samuel tiba di sini dalam waktu sepuluh menit!" ancam Bella.
Tentu saja Livia langsung mengunci rapat mulutnya, ancaman yang sukses membuat dirinya tidak bisa berkutik.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Bella setelah keadaan hening beberapa saat.
"Em ... Aku pikir ini jalan untukmu dan Avan agar bisa menjalin hubungan dengan baik," ungkap Livia.
Hembusan napas berat keluar dari mulut Bella, "Liv, apa gunanya hubungan baik, tapi sampai sekarang Avan gak pernah bilang dia menyukaiku."
"Apa kalimat itu sangat penting? Aku rasa tidak terlalu penting, selagi jiwa dan raga Avan kini selalu memikirkan dirimu."
"Apa hubunganmu dengan Samuel juga seperti itu?" Bella melempar pertanyaan pada Livia tanpa memperdulikan pertanyaan dari sang sahabat.
Livia mengangkat tangannya langsung diletakkan di dekat mulut menunjukkan tanda jika ia mengunci rapat mulutnya.
"Hah, kau, nasib percintaanmu saja seperti ini," Bella mencibir Livia.
"Bel, masalah aku dan Samuel itu berbeda denganmu. Kalian sudah memiliki ikatan sebagai suami istri, sedangkan aku?" Livia menunjuk ke dirinya sendiri lalu melanjutkan kalimatnya, "hanya sebatas partner kerja."
Bella melihat ekspresi sendu dari wajah cantik milik sang sahabat. Senyum terbit dari bibir tipis yang kini dipoles dengan warna merah terang, tak lama kemudian jemari itu mengambil satu gelas air.
"Minum dulu." Bella langsung duduk di samping Livia setelah memberikan satu gelas air, "kenapa nasib percintaan kita seperti ini? Apa kita harus membuat virus agar bisa merusak otak para lelaki yang tak pernah ada pengertian?"
__ADS_1
Livia menenggak segelas air itu, "Kalau ada hal semacam itu banyak lelaki pengertian di dunia ini dan kau akan kesulitan untuk memilih mana yang terbaik."
Lagi dan lagi Bella menghembuskan napas beratnya. Sesekali ia membenarkan ucapan Livia sembari meminum air.
"Dibandingkan kau memikirkan hal semacam itu, bagaimana jika aku membantu dirimu mencari lingerie yang pas agar Avan bisa lebih tertarik padamu?" ucap Livia kembali dan langsung mendapatkan semburan air dari mulut Bella.
"Bella!"
Bella yang dipanggil justru tertawa lepas melihat Livia kesal padanya. Sepertinya apa yang dia lakukan adalah jawaban sepadan dari pertanyaan tadi.
"Liv, mau kemana?" teriak Bella saat Livia meninggalkan ruangannya yang tak dihiraukan sang asisten sekaligus sahabatnya itu.
***
Setelah memastikan jadwalnya kosong dan Livia juga tengah sibuk dengan pekerjaannya, Bella memutuskan untuk pergi ke salah satu toko furniture guna mengecek kondisi toko yang menjual produknya.
"Bagaimana penjualan produk di toko ini?" tanya Bella pada salah satu manager toko.
"Cacat?" ulang Bella seperti tidak percaya sebab pegawainya benar-benar teliti dalam pengecekan terlebih jika barang akan keluar dari gudang.
"Benar, ada sekitar dua puluh sofa yang cacat dan memenuhi gudang kami. Bahkan dari perusahaan belum mengambil barang yang kami retur," sahut Pak Pras.
Bella menganggukkan kepalanya, ia kini paham masalah perusahaan tidak hanya berkas yang dimanipulasi ternyata di lapangan pun juga demikian rupa. Beruntungnya ia mengingat ucapan Avan agar melihat ke lapangan dan tidak bergelut di dalam saja.
"Kalau begitu saya akan mengurusnya, Pak Pras siapkan saja barang barang yang diretur nanti pihak perusahaan dalam waktu setengah jam akan datang," perintah Bella.
Sembari menganggukkan kepala Pak Pras berkata, "Saya tidak menyangka Anda lebih cepat bergerak dibandingkan Kakak Anda. Awalnya saya tidak percaya dengan kemampuan Anda karena banyak yang meragukannya, tapi sekarang saya yakin Anda bisa mengelola perusahaan seperti almarhum ibu Anda."
Bella mendengar kalimat yang keluar dari mulut berwarna coklat itu hanya tersenyum tipis. Iya, naluri Bella mengatakan jika pujian itu hanyalah sebagai obat penenang sebelum serangan yang sesungguhnya datang. Untuk itu ia tidak ingin melambung ke udara lebih tinggi lagi.
"Terima kasih, jika begitu izinkan saya untuk melihat lihat lagi. Anda silahkan bekerja kembali, Pak." Bella mempersilahkan lelaki itu untuk bekerja kembali sedangkan dia mulai berjalan-jalan menelusuri setiap sudut toko dan melihat produk yang ditempat diberbagai sudut toko.
__ADS_1
Saat ekor mata Bella terus terfokus pada salah satu sofa yang menjadi produk unggulan dari perusahaan, tanpa sengaja tubuhnya kini menabrak seseorang.
"Maaf, maaf, maaf. Saya tidak sengaja," ucap Bella sembari menepuk-nepuk lengannya yang terasa nyeri. Namun, tak lama kemudian ia melihat beberapa lembar brosur jatuh dan segera membereskannya.
"Kau tidak apa apa?" Suara merdu lelaki yang cukup dikenal Bella mengalihkan atensinya.
"Kak Dika?"
"Bella?"
Kedua orang itu secara bersamaan memanggil nama masing-masing.
"Kau tidak apa apa?" Lagi-lagi kalimat yang sama keluar secara bersamaan membuat keduanya kini hanya dapat tersenyum canggung.
Beberapa menit berlalu Dika kini bersuara terlebih dahulu, "Maaf aku tidak sengaja. Kau tidak apa apakan? Apa ini sakit?"
Bella merasa tidak nyaman saat tangan kekar itu memang lengannya yang tadi terasa nyeri, "Aku tidak apa apa."
Dika merasa jika Bella tidak suka di pegang ia pun langsung berkata, "Tenanglah aku seorang dokter jadi wajar melakukan hal ini. Aku tidak ada niat yang lain."
"Bukan seperti itu maksud aku." Bella memberikan beberapa brosur yang sudah ia rapikan pada Dika, "aku hanya tidak ingin orang salah sangka."
Dika mengambil brosur yang baru saja diserahkan Bella, "Aku paham. Tapi sebagai dokter aku tidak mungkin membiarkan orang sakit begitu saja kan?"
Bella merasa jika berdebat dengan Dika tidak akan ada ujungnya terlebih apa yang ia katakan ada benarnya, ia pun langsung berkata, "Kakak ke sini ingin mencari barang apa? Biar aku bantu."
Lelaki itu tersenyum saat mendengar tawaran Bella, ia pun berkata, "Baiklah aku akan menerima bantuan darimu. Tapi setelah itu apa kau bisa menemaniku minum kopi? Sejak aku lulus sekolah kita tidak pernah bertemu."
"Tapi—"
"Ayolah, apa kau ingin Kakak kelasmu ini memohon?" Dika yang tak ingin mendengar alasan Bella, ia langsung memotong ucapan gadis itu.
__ADS_1
Bella sedikit tahu sifat Dika yang sama seperti dirinya, keras kepala. Dibandingkan terus menolak dan berakhir sia-sia akhirnya ia menyetujui permintaan Dika.